KECANTOL CEO DUDA

KECANTOL CEO DUDA
Chapter 20


__ADS_3

Setelah dari warung soto semangkuk tiga puluh lima ribu rupiah, aku dan Ervi langsung berjalan menuju lorong pemberhentian bus yang terdapat plakat nomor tiga belas di bagian atas.


"Eh Vi, itu udah ada bus harap*n jaya yang ekonomi tuh!" ucap ksembari menepuk pundak Ervi.


"Eh, iyo Tik. Ayo cepetan, biar kita bisa dapet tempat duduk. Dari pada harus berdiri tiga jam!" ucap Ervi menggandeng tangan ku mengajak untuk berlari kecil.


Bus berwarna putih yang sudah tidak asing lagi di jalanan sekitar kediri itu sudah terparkir menunggu penumpang yang sudah mulai banyak terisi orang, aku dan Ervi segera berlari kecil agar mendapat kursi untuk duduk.


Ya, memang bus ekonomi sangat banyak peminatnya mungkin karena harganya terjangkau bahkan lebih murah separonya dari bus non ekonomi. Hanya saja ke kurangan jika menaiki bus ekonomi ini adalah harus siap berdiri dan berdesak desakan di kala pagi hari maupun sore hari, atau di hari sabtu minggu jangan harap akan mendapatkan duduk jika tak datang lebih awal karena banyak orang yang pulang ke rumah pada hari sabtu sore dan berangkat lagi pada hari minggu malam.


"Alhamdulillah... Untung dapet kursi." bisik ku pada telinga Ervi.


"Yo kalo kita sampek gak dapet kursi berati emang kita lagi kena yang nama ne hari apes!" ucap Ervi.


"Helleh... Itu bukan apes, kita ae toh seng bodoh. Udah tau di terminal, malah kamu ngajak makan." sahut ku menyandarkan kepala di kursi ku.


"La wong nama ne juga orang lagi laper, mana sempet mikir sampek sejauh itu." ucap Ervi mencari pembenaran.


"Hemm.. Aku mau tidur dulu Vi." ucap ku sembari memejamkan mata.


"Iyo tidur o nanti tak bangunin." jawab Ervi yang sedang sibuk bermain dengab ponselnya.

__ADS_1


Aku ingin waktu tiga jam ku di bus ini tak sia sia dengan tak mendengar hiruk pikuk suara orang orang yang ada di dalam bus sedangkan Ervi lebih memilih memain kan benda pipih berbentuk persegi empat yang ia miliki alias ponselnya, belum lagi suara pengamen yang silih berganti untuk menyanyi.


....


"Heh, Tik. Bangun! Kita udah hampir sampai pasar iki loh, heh Tik bangun o dulu to!" ucap Ervi mengguncang pundak kiri ku.


Mendengar suara Ervi, perlahan lahan ku buka ke dua mata ku lalu menguceknya pelan.


"Kenapa to Vi kamu i?" tanya ku dengan rasa tanpa bersalah.


"Kenapa pie to? Kita iku udah hampir sampai, masih ae ngorok." ucap Ervi sembari memasukan ponselnya ke dalam saku celananya.


"Halah gituuuu terus ae alesan mu i, gak sekolah gak udah lulus tetep ae alesan gak bisa tidur."


"Emang ga bisa tidur Vi, kayak e aku kena insomnia gara gara kebanyakan beban." jawab ku.


"Beban opo?" ucap Ervi yang langsung menoleh ke arah ku sembari menyipitkan ke dua matanya.


"Beban hidup qhi qhi qhi qhi..." ucap ku cengengesan.


"Nga..."

__ADS_1


"Pasar Selepan pasar Selepan." teriak kernet bus yang membuat Ervi tak jadi melanjutkan ucapannya.


"Eh Tik, ayo cepetan maju ke depan. Itu udah mau sampe kita." ucap Ervi sedikit gegabah.


Aku segera berjalan maju ke depan secara perlahan sembari berpegangan kursi bagian kiri dan kanan agar tak jatuh oleng karena laju bus yang cepat.


"Selepan pak." ucap ku pada pak sopir.


"Oke, silahkan turun. Ayo siapa lagi yang turun pasar Selepan pasar Selepan!" ucap sang kernet berteriak sembari membuka pintu bus bagian depan.


Aku dan Ervi segera turun dari bus ini.


"Alhamdulillah, Ya Allah... Akhirnya kita sampek juga di rumah." ucap ku.


"Di rumah opo ne toh? Kita masih di pasar lo ini." sahut Ervi yang berjalan di samping kanan ku.


"Vi, diem o Vi. Diem o! Dari pada buat emosi ae." sahut ku.


"Kamu itu lo yang aneh i, orang masih sampek pasar kok bilang nyampek rumah. Rumah mu di pasar, opo?" ledek Ervi.


Aku segera mengambil kartu nomor parkiran yang ku selipkan di dalam dompet ku, takut saja jika jatuh di jalan malah tidak bisa mengambil motor matic kesayangan teman ku ini.

__ADS_1


__ADS_2