
"Kamu belum dapet kartu ujian kan Tik?" tanya bu Sinta yang sedang duduk di depan ku.
"Iya bu." Aku mengangguk membenarkan ucapan guru bimbingan konseling itu.
Aku memang belum mendapatkan kartu Ujian Nasional yang akan di adakan dua haru lagi, tepatnya di hari senin. Pasalnya ada beberapa bulan pembayaran SPP ku masih menunggak, dan juga pembayaran uang gedung 1 tahun terakhir ini belum terbayarkan.
Sebelumnya, dua hari lalu guru wali kelas masing masing memang sudah memberi tahu para siswanya untuk melakukan pelunasan pembayaran SPP maupun uang gedung yang masih menunggak. Namun jika para orang tua siswa belum bisa membayarnya, maka orang tua siswa harus datang ke sekolah menemui staf Tata Usaha untuk melakukan perjanjian kapan mereka bisa melunasi tunggakan sekolah putra putrinya sehingga bisa mendapatkan nomor kartu ujian yang akan di adakan di hari senin.
Benar aku sudah tau, tapi ayah ku sakit. Siapa lagi yang akan datang ke sekolah untuk mengambilkan kertas ujian itu untuk ku? Jadi aku memutuskan untuk diam tanpa memberi tahu ayah, aku tak ingin ayah terbebani fikirannya karena aku.
"Kemarin bukannya sudah di kasih tau sama guru wali kelas kamu ya Tik? Kalo hari ini terakhir para orang tua mengambil nomor kartu ujian." ucap bu Sinta menatap ku.
"Benar bu, tapi ayah saya sakit. Maaf bu, saya benar benar belum ada uang untuk bisa bayar tunggakan tunggakan SPP maupun tunggakan uang gedung. Ibu juga tau saya sering telat bangun kesiangan karena setiap hari sepulang sekolah harus membantu jualan emak saya, tapi jika tidak bisa mendapat kartu untuk ujian saya nggak apa apa kok bu kalo ngga bisa ikut ujian. ucap ku jujur apa adanya, bukan aku ingin memelas dan minta di kasihani tapi memang aku belum ada uang juga tidak ada orang tua yang bisa datang ke sekolah untuk mengambilkan kartu nomor ujian ku.
Setiap hari emak selalu memberi ku uang dua puluh lima ribu rupiah dan satu liter bensin, tapi jarak tempat jualan emak ke rumah itu terbilang jauh. Aku juga harus membeli bensin untuk ke sekolah, sehingga uangku hanya tersisa lima belas ribu. Untuk makan ku dan ayah memang setiap hari aku membawa nasi dan lauk dari stand jualan emak, emak tidak pernah pulang ke rumah dan tidur di bawah meja stand jualan. Emak selalu memasak nasi di mejikom pada pukul sembilan malam agar nasi yang ku bawa pulang tidak busuk bisa di makan esok harinya, tak lupa emak juga memberi ku lauk.
Ku lihat bu Sinta menoleh ke arah pak Adi, begitu juga dengan pak Adi yang menganggukan kepala sebagai isyarat apa aku juga tidak paham.
"Ya udah kalo gitu, nanti biar bu Sinta dan pak Adi yang bantu kamu buat bilang ke staff Tata Usaha. Kamu kembali ke kelas saja sekarang!" ucap bu Sinta menatap wajah ku yang menunduk.
"Baik bu, kalo begitu saya permisi dulu." ucap ku mengangguk, lalu beranjak dari tempat duduk.
__ADS_1
"Tik!" ucap pak Adi.
Aku menoleh mendengar guru yang duduk di samping bu Sinta itu memanggil ku.
"Iya pak, ada apa?" ucap ku menatap guru laki laki yang masih muda itu, usianya mungkin sekitar dua puluh lima tahun.
"Hari senin jangan lupa berangkat agak pagi ya, setengah jam lebih awal dari temen temen kamu buat ambil nomor kartu ujian kamu ke sini lagi. Nanti nemuin bu Sinta atau saya juga gak apa apa." ucap pak Adi menatap ku.
"Baik pak, kalo kalo begitu saya permisi dulu." ucap ku yang di angguki oleh bu Sinta dan pak Adi, lalu aku segera keluar dari pintu ruangan ini.
Aku berjalan menuju ke kelas ku, sebelum sampai di kelas aku ingat jika Ervi meminta ku untuk membelikan siomay yang ada di luar gerbang sekolah.
Di tempat sekolah kami, para pedagang yang berjualan di larang masuk ke area sekolah kecuali pasukan ibu dan bapak kantin yang memang berjualan di dalam kantin sekolah. Jadi anak anak jika ingin membeli jajanan seperti siomay, pentol, es doger, kue leker, dan masih banyak jajanan lainnya di depan gerbang sekolah, mereka cukup membeli lewat sela sela gerbang saja.
"Pak, dua bungkus ya lima ribuan. Yang satu pedes yang satu enggak!" ucap ku mengulurkan uang pecahan sepuluh ribu melalui celah celah gerbang.
"Oke, siap." jawab bapak penjual siomay.
"Tik, tadi ngapain kamu di ruang bimbingan konseling?" tanya Tini, salah satu teman ku pada saat kelas satu SMA dulu. Kami sempat satu kelas pada saat itu sebelum akhirnya di acak kembali pada kelas dua, hanya saja untuk kelas tiga tetap sama satu kelas tidak di acak lagi.
"Kok kamu tau aku dari ruang Bimbingan Konseling?" ucap ku mengangkat ke dua alis ku.
__ADS_1
"Ya tau lah, orang tadi aku abis panggil wali kelas ku kok. Pak, siomay satu bungkus gak pake kubis ya!" ucap Tini.
"Oh... Iya tadi emang bu Sinta manggil aku ke sana." jawab ku apa adanya.
"Ngapain bu Sinta manggil kamu? Emang kamu punya masalah?" tanya Tini menatap ke arah ku.
Aku menatap Tini, bingung ingin menjawab apa.
"Mbak, ini siomaynya udah jadi." ucap pak siomay yang tiba tiba mengulurkan kantung pastik kecil berwarna hitam.
"Oh, iya pak. Makasih ya pak!" ucap ku tersenyum sembari mengambil plastik itu.
"Iya sama sama."
"Enggak ada kok Tin, aku balik ke kelas ku dulu ya?" ucap ku menepuk pundak Tini.
Tini hanya mengangguk tanpa menjawab ucapan ku.
Sesampainya di kelas, ku lihat anak anak sudah banyak membicarakan tentang universitas universitas yang mereka inginkan sembari memegang brosur pilihan universitas di tangan mereka.
Sebenarnya aku juga punya brosur itu, hanya saja aku tidak minat untuk membukanya. Toh aku tidak akan bersekolah lagi, untuk apa juga aku melihatnya.
__ADS_1
Untuk saku sekolah inibsaja benar benar membutuhkan perjuangan, apa lagi jika harus untuk kuliah?
Sebenarnya emak melarang ku untuk datang ke stand jualannya, emak melarang ku untuk membantunya dan menyuruh ku agar fokus saja ke sekolah. Tapi aku tidak mau, aku tidak enak sudah menyusahkan emak dan ayah sedari kecil hingga saat ini. Itu sebabnya aku membantu emak berjualan hingga larut malam, karena hanya ini lah yang bisa aku lakukan untuk membalas kebaikan emak.