KECANTOL CEO DUDA

KECANTOL CEO DUDA
Chapter 6


__ADS_3

Hari hari berlalu, bulan berganti bulan, tahun juga berganti tahun.


Kini usia ku hampir di umur delapan belas kurang, lima tahun lagi tepat ulang tahun ku ke delapan belas tahun. Aku juga sudah duduk di bangku kelas dua Sekolah Menengah Atas, mengambil jurusan Geografi Ilmu Pengetahuan Sosial.


Ayah juga sudah tidak berjualan martabak lagi karena sakit, jadi aku harus membantu adik dari mbah ku yang biasa ku panggil emak untuk berjualan martabak dan gorengan seperti ayah di sore hari setiap sepulang sekolah.


SMA tempat ku bersekolah menerapkan sistem kurikulum dua ribu tuga belas yang masuk sekolah hanya lima hari kerja di mulai dari pukul tujuh pagi sampai pukul lima belas lebih tiga puluh menit atau jam setengah empat sore, sedangkan untuk hari sabtu dan minggu libur. Cukup lama dari tahun kemarin, tahun kemarin masih pulang pada pukul dua siang. Hal itu membuat semua teman teman satu kelas ku membawa bekal makanan, mungkin tujuan dari orang tua mereka supaya putra putrinya tidak kelaparan di sekolah. Tapi tidak berlaku untuk aku, aku tidak pernah membawa bekal karena sejak ayah sakit tidak ada lagi yang memasak dan aku juga tidak pernah sarapan di waktu pagi sebelum berangkat ke sekolah.


"Tik, kamu di panggil bu Sinta ke ruang Bimbingan Konseling." ucap teman satu bangku ku yang bernama Ervi.


Aku mengernyitkan dahi, kenapa aku di panggil ke ruang bimbingan konseling padahal aku juga tidak telat pikir ku.


"Emang ada apa Sar? tanya ku pada Sari.

__ADS_1


"Aku juga nggak tau, tadi pagi kamu telat kali." ucap Ervi karena biasanya memang aku sering telat masuk ke sekolah karena kantuk dan lelah akibat berjualan sampai larut malam, setiap hari aku baru sampai di rumah setiap pukul dua belas malam kadang juga pukul setengah satu pagi karena stand jualan emak jauh dari rumah.


"Enggak kok Sar, hari ini aku nggak telat kok. Kamu kan yang telat tadi?" ucap ku.


"Iya emang aku telat, makanya aku habis dari ruang bimbingan konseling. Tapi pas balik ke sini malah di suruh panggil kamu tuh sama bu sinta." jawab Ervi sembari menjatuhkan pantatnya pada kursi kayu di sebelah ku.


Bangku kami berdua berada di belakang pojok kiri, tepat di tembok bawah meja kami terdapat stop kontak yang biasa kami gunakan untuk mengecas ponsel.


Aku segera bangkit dari duduk ku.


"Yooo ii... Jangan lupa beliin siomay dulu, nitip lima rebu aje!" teriak Ervi sesampainya aku di pintu kelas untuk memakai sepatu ku.


"Pedes?" teriak ku.

__ADS_1


"Iyaa, kasih cabe kaya biasanya!" ucap Ervi yang sedang duduk bersandar pada tembok menghadap ke tembok bagian selatan.


Aku tak menjawab lagi ucapan Ervi, langkah kaki ku segera melangkah ke ruangan bu Sinta.


Tok Tok Tok Tok...


Suara ketuk pintu ruang bimbingan konseling yang sedang ku ketuk.


"Iya Tik, masuk!" ucap bu Sinta dan guru laki laki yang duduk di sampingnya bernama pak Adi.


"Permisi bu, kata Ervi njenengan panggil saya nggih?" ucap ku yang mulai masuk ke dalam ruangan yang tak terlalu besar itu mungkin hanya berukuran tiga kali lima setengah meter persegi, entah lah aku juga belum mengukurnya secara langsung itu hanya perkiraan ku saja.


"Iya Tik, bener kok. Saya sama pak Adi emang nyuruh Ervi buat panggil kamu, kamu duduk dulu sini!" ucap bu Sinta menunjuk kursi sofa seperti kursi ruang tamu pada umumnya yang terdapat meja di tengah kursi itu.

__ADS_1


"Baik bu." ucap ku mengangguk lalu duduk mengikuti intruksi bu Sinta yang menyuruh duduk di kursi depannya.


__ADS_2