
"Maaf pak, saya bener bener minta maaf." ucap ku lirih sembari menundukan kepala tak enak hati.
Selain sungkan tak enak hati, aku juga takut jika harus kehilangan kesempatan mendapatkan pekerjaan ini. Tiga juta perbulan bukan angka kecil bagi ku yang hidup di desa, di kota ku bahkan buruh pabrik satu hari ada yang hanya mendatkan upah tiga puluh sampai tiga puluh lima ribu perharinya. Sedangkan jika penjaga stand minuman atau makanan di pinggir jalan hanya mendapat upah lima ratus sampai tujuh ratus ribu setiap bulannya, tentu sangat sedikit di banding dengan gaji umk Surabaya yang menginjak angka empat lebih. Toh gaji trening tiga juta itu hanya berlaku satu bulan saja dari penjalasan CEO gila ini yang ku dengar jelas tadi, jadi sangat beruntung sekali jika aku dan Ervi bisa mendapatkan pekerjaan ini dengan gaji lumayan besar menurut ku. Meskipun hanya cleaning servus, toh pekerjaan ini halal dan aku tak malu maupun gengsi selagi pekerjaan itu halal.
"Ngapain tadi kamu injek kaki saya?" ucap laki laki yang duduk di depan ku ini dengan sorot mata yang tajam, tatapannya penuh dengan tatapan mengintimidasi.
Sungguh membuat ku tak nyaman, ada perasaan takut di marahi, cemas tak bisa di terima bekerja, tak enak hati dan grogi parah karena sudah menginjak kakinya.
Jantung ku berdebar debar kencang, padahal aku tak ada maksud jelek apa apa.
Aku ingin menginjak kaki Ervi juga karena berniat untuk mengkode kegilaan Ervi yang langsung mengiyakan tawaran CEO gila ini untuk langsung bekerja hari ini jika lolos intervew dan di terima bekerja, aku hanya bermaksud agar Ervi tidak mengiyakan dan meninta waktu dulu agar aku dan dia bisa pulang ke rumah dulu berpamitan pada orang tua kita masing masing kemudian membawa baju baju kita lalu mencari kos dulu di area sini. Sungguh hanya itu saja maksud ku!
"Maaf pak, saya bener bener gak ada maksud buat injak kaki bapak." ucap ku tulus.
"Tidak ada niat buat injak kaki saya, tapi ada niat injak kaki teman saya pak. Begitu maksud kamu?" ucap laki laki ini sembari menyipitkan mata serta mengangkat satu alisnya penasaran.
Mampus aku! Bisa bisanya CEO gila ini mengerti maksud ku ingin memberi isyarat pada Ervi.
Ku lirik, Ervi sedang mematung sembari menatap ku tanpa kedip.
"Stop stop! Kamu jangan noleh lagi ke arah temen kamu ini! Kamu itu pake kode kose terus ke temen kamu, bawa pengaruh buruk saja kamu ini!" ucapnya sembari menjulurkan tangan kirinya di tengah tengah antara aku dan Ervi, mungkin maksudnya agar aku bisa lagi melihat ke arah teman sebangku ku itu.
Huuuuffttt... Aku benar benar di buat jengkel pada laki laki yang menjabat sebagai CEO ini, tampan tapi tak berperasaan!
"Iya iya pak, saya minta maaf. Saya ngaku, tadi saya gak sengaja nginjek kaki bapak." ucap ku pelan karena takut singa di depan ku ini akan marah dan langsung mengusir ku dari sini.
"Gak sengaja nginjek kaki saya, apa sengaja nginjek kaki temen kamu tapi kenanya ke saya?" ucap pak Bara lagi dengan mata menyipit.
"Iya pak, iya... Saya minta maaf, saya emang sengaja nginjek kaki temen saya tapi kenanya bapak." ucap ku lirih sembari menundukan wajah ku karena takut.
"Terus?" tanyanya lagi.
__ADS_1
"Ya terus apa pak?" ucap ku mendongak menatap wajah pak Bara.
Deg!!
Pandangan kami menyatu, saat aku mendongak menatap pak Bara ternyata CEO gila ini juga sedang menatap ku. Membuat ku salah tingkah yang langsung menunduk lagi, sedangkan pak Bara langsung meraih bolpoin yang tergeletak di atas meja depan kami kemudian mengetuk ngetukan bolpoin hitam itu ke atas meja.
"Udah udah gak usah di bahas lagi! Sekarang gimana? Kalo kalian saya terima kerja sebagai office girl seperti yang ada di selembaran lowongan kerja yang di tempel pak Imam tadi pada gerbang, apa kalian bersedia langsung bekerja hari ini? Soalnya saya butuh cleaning service cepat ini." ucap pak Bara menatap ku dan Ervi secara bergantian.
"Bersedia pak."
"Tidak pak!"
Ucap ku dan Ervi secara serentak, kemudian Ervi dan CEO gila yang sedang duduk di depan ku ini serentak menoleh ke arah ku.
Aku menoleh ke arah pak Bara dan moleh ke arah Ervi secara bergantian, apa ada yang salah dengan jawaban ku. Bukannya CEO yang duduk di depan ku ini bertanya tentang kesiapan calon pekerjanya?
Aku tentu belum siap, jika rumah ku dekat tentu saja aku langsung menjawab bersedia seperti jawaban Ervi barusan.
"Huuuuuffftt... Ada masalah apa lagi kamu? Gak niat cari kerja ya kamu?" ucap pak Bara menatap ku.
"Maaf pak, bukan saya gak niat. Tapi saya dan Ervi belum membawa pakaian sama sekali, hanya baju yang kami kenakan ini saja." ucap ku.
"Tapi temen kamu jawab bersedia kok." ucap pak Bara.
Ah! Bagaimana cara ku menjelaskan pada laki laki ini, aku harus izin juga pada emak dan apoh agar emak bisa membantu ku untuk memantau keadaan ayah. Tidak meninggalkan ayah begitu saja, ayah saja saat masa kecil ku rela pulang pergi mengayuh sepeda sejauh empat puluh kilo meter setiap harinya karena aku harus bersekolah.
"Maaf pak, ayah saya di rumah sakit sakitan. Saya harus izin dulu pada ayah, juga berbicara dulu pada bibi dan paman saya untuk menitipkan ayah agar bisa sering sering memantau keadaan ayah jika saya bekerja jauh dari rumah." ucap ku jujur.
"Kenapa kamu jadi bercerita masalah hidup kamu? Apa kamu pikir ini tempat ibadah dan tempat kamu mengadu pada Tuhan Mu?" ucapnya meledek.
Benar benar laki laki gila tak punya hati!
__ADS_1
"Maaf pak, ya sudah pak kalo saya gak bisa masuk sekarang dan bapak tidak menerima saya bekerja di kantor bapak juga tidak apa apa pak." ucap ku melemah.
Sekarang aku benar benar sudah pasrah, terserah jika aku tidak lolos dan hanya Ervi yang tsrterima bekerja di sini aku tak apa toh jika rejeki ku di tempat ini aku percaya pasti aku akan di terima.
"Tik..." ucap Ervi lirih sembari tangan kirinya menyentuh tangan kanan ku.
"Gak apa apa Vi, aku gak tega sama ayah kalo gak bilang ke emak sama apoh buat nitipin ayah dulu." jawab ku jujur tak perduli lagi dengan laki laki yang menjabat sebagi CEO di kantaor ini, toh aku juga tidak akan di terima bekerja di sini. Jadi untuk apa juga aku tak enak hati padanya?
"Huuufftt... Ya sudah, kapan kalian bisa mulai bekerja di sini?" ucapnya laki laki yang ada di depan ku ini seperti sebuah keajaiban yang baru saja ku dengarkan.
Aku dan Ervi sektika menoleh ke arah CEO ini secara bersamaan.
"Alhamdulillah..." guman Ervi lirih, tapi masih terdengar oleh telinga ku.
"Bapak serius, pak??" tanya ku dengan hati yang bemar benar senang tak karuan.
"Hemm..."
Hanya jawaban itu yang keluar dari mulutnya.
Sepontan aku langsung berdiri dan meraih tangan kanannya lalu menggenggam erat dengan ke dua tangan ku sebagai tanda ucapan terima kasih.
"Terima kasih pak, terima kasih banyak!" ucap ku sembari dengan hati berbunga bunga sampai tak sadar jika tangan kanan ku kotor berminyak karena pisang goreng yang ku makan tadi.
Pak Bara yang menyadari tangannya terkena minyak dari tangan ku pun segera melepaskan paksa tangan kanannya dari genggaman ke dua tangan ku, lalu menatap telapak dan punggung anak tangannya yang sudah berminyak.
Ervi menggigit jarinyanya takut jika aku terkena semprot.
"Ma maaf pak." ucap ku meringis sembari menggigit bibir bawah ku karena takut.
"Huuuufftt... Minyak apa lagi ini?" ucap pak Bara langsung menoleh menatap ke arah ku tajam.
__ADS_1
"Pisang goreng pak." ucap ku meringis hingga dua gigi gingsul ku terlihat semua.