KECANTOL CEO DUDA

KECANTOL CEO DUDA
Chapter 16


__ADS_3

"Jika kalian di terima kerja hari ini, apa kalian bisa langsung kerja langsung sekarang juga?" ucap laki laki tampan yang duduk menghadap ke arah ku dan juga Ervi.


Ervi langsung menatap ke arah ku, begitu juga dengan aku. Ada perasaan senang karena tak sia sia perjalanan ku sejak tadi pagi bersama Ervi, namun jika untuk langsung bekerja sekarang sepertinya aku belum bisa karena harus berpamitan pada ayah juga terlebih aku dan Ervi tak membawa pakaian sama sekali kecuali baju yang sedang kami kenakan sekarang.


"Mohon maaf pak sebelumnya, untuk sistem kerja dan gajinya bagaimana ya pak?" tanya Ervi belum menjawab pertanyaan dari CEO ini, tapi justru menanyakan perihal gaji.


"Kalian akan bekerja di bawah tekanan selama delapan jam kerja perhari, mulai dari pukul setengah delapan pagi sampai setengah empat sore itu juga jika tidak lembur tapi tenang saja jika lembur kalian akan mendapat gaji hitungan lenbur. Siang di jam dua belas sampai jam satu kalian bisa istirahat seperti anak anak karyawan yang lainnya, untuk masalah gaji di masa trening selama tiga bulan pertama biasanya HRD akan memberi kalian gaji tiga juta perbulan. Setelah itu kalian akan mendapatkan gaji umk di sini, namun itu jika kalian rajin. Tapi saya melihat profil kalian dari kota yang cukup jaih dari sini, saya rasa tentu memerlukan uang untuk kos bukan? Jadi kalian cukup melakukan masa trenning selama satu bulan saja, dua bulan sisanya sudah bisa ikut gaji umk. Karena di dalam kantor ini ruang mes karyawan hanya boleh di tempati oleh karyawan laki laki, untuk mengantisipasi dna berjaga jaga agar tidak ada hal hal yang tidak di inginkan terjadi." jelas laki laki iki sembari memainkan bolpoin di jemari tangan kanannya.


"Bisa pak." ucap Ervi dengan cepat.


Aku menoleh setelah medengarkan jawaban Ervi, siku tangan kanan ku sepontan menyenggol sikunya kuat.


Benar benar anak gila! Bisa bisanya ia langsung memberi jawaban iya atas pertanyaan kerja langsung untuk hari ini, padahal aku dan dia tidak membawa pakaian satupun dari rumah juga belum mendapatkan tempat kos untuk tempat tinggal kita selanjutnya.


Ervi langsung menoleh menatap ke arah ku, ke dua alisnya terangkat mengartikan isyarat bertanya ada apa.


Jangan heran jika aku paham dengan berbagai macam isyarat isyarat yang hanya ia jelaskan dengan bahasa wajah saja.


"Kamu wis gila yo?" ucap ku sepontan saat Ervi menanyakan maksud ku melalui kode ke dua alisnya.


Mendengar ucapan iku keluar dari mulut ku, sekita ke dua bola mata Ervi melolot seakan ingin keluar.


"Ehhem!!" Laki laki yang duduk di hadapan ku dan Ervi ini berdehem memberi kode juga.


Sontak aku dan Ervi juga langsung menoleh menatap CEO gila ini.


"Ma maaf pak." ucap ku kikuk.


"Kenapa kamu ngasih kode kode ke dia?" tanya laki laki ini mengerutkan daginya.

__ADS_1


"Ha??"


Gila.. Dia paham betul jika aku menyenggol siku Ervi sebagai bentuk kode isyarat, itu tentu membuat ku cukup gelagapan di buatnya.


"Ha apanya? Kamu itu ngapain barusan kode kode pake sikut kamu nyenggol nyenggol sikut temen kamu ini?" ucapnya dengan santai merenggangkan tubuhnya di kursi memutar yang mewah.


"Oh.. Anu pak, maaf. Saya gak ngode kok, tadi saya cuman gak sengaja nyenggol doang." ucap ku beralasan sembari meringis menampakan ke dua gigi gingsul ku.


"Terus pertanyaan kamu wis gila barusan buat apa? Padahal temen kamu sama sekali gak ngajak ngomong kamu deh kayanya." ucapnya terus mencecar ku dengan berbagai pertanyaan sepele hanya karena kode sikut.


Apa iya sesi interview hanya di isi dengan pertanyaan konyol tentang kode kode persikutan?


Aku menginjak kaki Ervi untuk membuat isyarat permintaan tolong agar dia bisa membantu ku menemukan alasan supaya bos gila ini tak terus bertanya.


"Aw!!" pekik laki laki yang ada di depan ku ini.


Namun kaki Ervi langsung berpindah cepat dari bawah injakan kaki ku bebarengan dengan suara sedikit berteriak dari laki laki di depan ku ini, laki laki ini langsung menoleh ke bawah kursinya.


"Cepet bantu jawab!" ucap ku berbisik cepat.


Ervi mengerutkan dahinya, mungkin merasa heran dengan maksud ku sedangkan bos di depan ku ini merasa kesakitan.


Deg!


Melihat wajah Ervi yang merasa bingung dengan bisikan ku, hati ku langsung berdebar debar kencang.


Aku bukan sedang jatuh cinta, tapi tiba tiba merasa tak karuan takut bercampur gugup karena mungkin yang ku injak tadi adalah kaki laki laki CEO yang sedang duduk di hadapan ku ini.


Astaga... Mampus aku! Bisa tamat riwayat ku sekarang, pupus sudah harapan ku untuk pulang dengan gelar seorang office girl.

__ADS_1


"Bapak kenapa, pak? Bapak nggak apa apa kan?" tanya Ervi panik.


Aku memutar bola mata ku malas, lebay sekali dua muda mudi yang ada di depan dan di samping kanan ku ini. Hanya karena pijakan kaki ku saja yang laki laki bisa kesakitan, sedangkan yang perempuan berpura pura panik.


"Huuuufftt..."


Pak Bara menegakan tubuhnya kembali seperti posisi duduknya semula sembari melepaskan nafasnya panjang, sudah seperti orang orang yang punya penyakit sesak nafas saja.


Tika... Kenapa kamu bisa sebodoh ini?


Batin ku terus bergulat karena takut dan cemas.


Bolpoin hitam yang ada di tangan kanannya juga langsung di letakan kasar di atas meja depannya, matanya tiba tiba menyorot tajam ke arah ku sedangkan aku langsung menunduk tak enak dengan perasaan takut bercampur aduk menjadi satu.


Huuuuuaaaa ayaaaahh... Anakmu ini sedang dalam mara bahaya seperti masuk ke dalam kandang macan.


"Pak? Bapak tidak apa apa kan?" ucap Ervi membuat laki laki ini mengalihkan tatapan tajamnya pada ku kemudian mengarah pada Ervi.


"Huuuufftt... Apa teman kamu ini memiliki kelainan atau sedikit tidak full seratus persen pada otaknya?" ucap laki laki yang akrab di panggil pak Bara ini ke pada Ervi.


Ervi langsung menoleh menatap ku dengan alis terangkat dan dahi berkerut, mungkin dia benar benar bingung dengan pertanyaan CEO gila di depannya itu.


Ingin sekali rasanya aku meremas bibir lemesnya yang sudah seperti ibu ibu tetangga ku yang suka bergosip itu.


"Maaf pak, maksud bapak bagaimana ya pak? Saya benar benar nggak paham pak." ucap Ervi menatap pak Bara dengan senyum kaku.


"Temen kamu ini kayanya otaknya sedikit geser atau kurang full seratus persen." ucapnya sembari menatap ke arah ku.


Nyali ku langsung di ciut dengan tatapan tajamnya, meskipun di hati ku terus terusan mencaci makinya tapi aku sadar aku ini hanya remahan rengginan yang tak akan bisa mencai maki orang seperti dia terlebih dengan pangkat seorang CEO sekaligus pemilik dari kantor yang sedang aku lamar ini.

__ADS_1


Setelah mendengar ucapan dari laki laki yang bernama Bara ini, sepertinya Ervi sudah mulai faham dengan maksud CEO gila ini. Karena kaki Ervi yang mengenakan sepatu pantofel itu menyenggol kaki ku pelan, jadi aku tau maksud Ervi.


__ADS_2