
Pertemuan ke dua ku dengan ibu tak berlangsung lama, hanya berkisar kurang lebih sekitar sepuluh sampai lima belas menit saja. Tidak banyak kata yang di ucapkan ibu, ia hanya ingin membawakan aku beberapa barang untuk keperluan sekolah ku saja seperti beberapa lusin buku tulis, dua kotak pensil, dua kotak bolpoin, beberapa biji setipo atau biasa di sebut tip ex, satu setel seragam biru putih, satu setel sragam pramuka, satu boneka berukuran sedang, dan satu box nasi beserta satu box penuh lauk ayam bumbu kecap karena tadi ibu sempat membukanya.
Sebelum ibu pulang, ia juga memasukan uang ke dalam saku seragam sekolah ku yang berwarna putih, setelah sampai di kelas ku lihat ibu memberi ku uang tiga lembar pecahan seratus ribu berwarna merah yang terdapat gambar presiden pertama indonesia beserta wakilnya.
Ah, lumayan bisa untuk uang saku selama satu bulan lebih! Pikir ku.
Setelah selesai semua mata pelajaran, bel sekolahpun berbunyi.
Teeeettt... Teeeeeett.... Teeeeeett....
Suara bel terdengar dari spiker yang ada di pojok ruang kelas, menandakan semua kegiatan belajar mengajar telah selesai dan waktunya pulang.
Aku sedikit santai, tak terburu buru untuk menuju ke parkiran. Pasalnya aku menitipkan barang barang ku pemberian dari ibu tadi ke pada ibu pemilik parkiran di samping sekolah ku, jadi aku tidak ingin membuat teman teman ku banyak bertanya mengintrogasi asal usul barang barang yang ku titipkan tadi.
Ku lihat area sekolah sudah tampak sepi, ada beberapa anak yang masih di kelas mereka masing masing untuk mengerjakan tugas kelompok dan ada juga yang sedang menunggu jemputan dari orang tua mereka.
Aku berjalan santai menuju ke arah parkiran, di area parkiran sudah terlihat kosong hanya tinggal beberapa sepedah saja yang masih terparkir di sana.
Aku memasukan uang pecehan seribu rupiah ke dalam ember yang ada di atas meja tempat parkir, memang tempat parkir ini berbayar karena bukan milik sekolahan melainkan milik perorangan.
"Bu, maaf... Saya mau ambil barang yang saya titipkan ke ibu tadi pagi." ucap ku tersenyum.
__ADS_1
"Oh, yang kresek besar warna merah tadi ya dek sama boneka?" tanya ibu parkir beranjak dari duduknya.
"Enggih bu, betul." jawab ku menganggukan kepala mantap.
"Oh iya, tunggu sebenatar ya!" ucap bu parkir kemudian segera masuk ke dalam rumahnya.
"Ini dek." ucap bu parkir sembari meletakkan bungkusan kresek besar berwarna merah itu di samping sepedah ontel milik ku.
"Terima kasih ya bu." ucap ku tersenyum.
"Iya, sama sama dik." jawabnya kemudian kembali ke tempat duduknya.
Aku melepaskan ransel yang ada di gendongan ku, lalu membuka resleting bagian utama kemudian memasukan beberapa lusin buku dan dua setel seragam yang ada di kresek merah itu ke dalam tas agar kresek itu bisa ku masukan ke dalam keranjang sepeda ku.
Tapi aku tidak pernah sedikitpun iri ke pada mereka, melihat ayah ku tertidur saja aku sering menangis karena memiliki nasib yang begitu sulit bahkan untuk sekedar mengganjal perut saja harus berjualan jauh dengan mengayuh sepedah yang berjarak dua puluh kilo meter dari rumah dan jika di total jarak pulang pergi adalah empat puluh kilo meter.
Ya Tuhan... Ayah ku benar benar Super Hero di dalam cerita hidup ku!
Hal yang selalu membuat ku tetap bersyukur adalah aku masih memiliki ayah, terkadang sering kali aku melihat seorang anak kecil yang memulung botol dan gelas plastik bekas di area pasar. Memang bisa saja mereka membantu orang tuanya sepulang sekolah, tapi tidak semua dari mereka bisa bersekolah juga.
Ku kayuh sepeda ontel ku sedikit kencang karena menaiki jembatan yang tinggi, terik matahari cukup menyengat di saat jam dua belas lebih seperti ini.
__ADS_1
Ku tatap boneka pink pemberian ibu yang ada di keranjang sepedah ku, aku tersenyum mengingat ayah tidak pernah membelikan aku boneka seperti ini.
Ya, ayah ku laki laki. Ia tidak pandai dalam hal mengungkapkan ekspresi sayangnya pada ku, yang ayah lakukan selalu membelikan aku baju di saat memeiliki rejeki lebih. Maupun mengajak ku jalan jalan ke kota naik len atau bus, meski hanya sekedar jalan jalan saja tidak membeli apa apa.
Tiba tiba senyum ku pudar, saat mengingat kejadian beberapa tahun silam saat aku masih bersekolah di bangku Taman Kanak Kanak.
Saat itu, ayah sedang tidak berjualan karena sakit. Aku dan teman teman seusiaku bermain bersama, tiba tiba salah satu dari teman ku mengajak kita semua untuk membeli permen sunduk berbentuk telapak kaki warna merah dengan bungkus biru dan ada gambar kepala pada luar bungkusnya.
Aku segera pulang ke rumah berniat untuk meminta uang pada ayah, tapi ku lihat ayah sedang tidur lelap dengan dua koyok cabai yang menempel pada pelipis kiri dan kanan kepalanya.
Sungguh... Aku benar benar tak tega melihatnya, sampai akhirnya aku kembali lagi ke tempat teman teman ku membeli permen berbentuk kaki itu di warung tetangga ku.
Aku hanya bisa diam di atas sepeda kecil ku, memperhatikan teman teman ku sedang berebut membuka bungkus permen seharga lima puluh rupiah pada saat itu tapi aku tidak mampu untuk membelinya.
Sungguh, sampai detik ini (di usia saya sebagai penulis cerita ini yang ke 23 tahun, saya masih ingat betul kejadian ini).
Aku menahan air mata ku agar tidak jatuh dan menangis di depan teman teman ku, bagimanapun pada saat itu aku hanyalah anak kecil yang masih berusia lima atau 6 tahunan yang masih ingin membeli jajan seperti yang di beli teman teman ku.
"Kenapa ibu baru memberi ku boneka sekarang, bu? Andai ibu tau jika masa kecil ku sekedar membeki permen seperti teman teman ku saja tak mampu, apa ibu akan setega ini pergi meninggalkan aku dan ayah? Atau karena kehidupan kami kekurangan, makanya ibu memilih hidup bersama laki laki lain yang lebih bisa memberi ibu tempat yang nyaman dan makan yang enak?" batin ku terus bertanya tanya.
Tak terasa mengingat kejadian masa kecil itu membuat kayuhan sepedah ini sudah hampir sampai, tinggal beberapa meter lagi untuk menuju ke rumah.
__ADS_1
Aku tak sadar air mata ku menetes, sesegera mungkin aku mengusapnya agar ayah tidak melihat ku menangis hanya karena sebuah permen!