
Part 1
Aku baru saja menyapih anakku yang baru berumur satu tahun delapan bulan.
Sebenarnya yang dianjurkan Dokter proses menyapih seharusnya dilakukan ketika anak sudah berumur dua tahun. Pikir ku, lebih cepat lebih baik sih.
"Mas, Dilan udah gede loh,..! Dia juga jarang kan sama kita, kalau dia punyak Adik gimana ya...?
Candaku kepada mas Ardan.
"Emm... Iya Ara.. sedikasihnya aja."
Jawab Mas Ardan yang mungkin hanya mengiyakan perkataan ku.
Memang anakku sering diajak nginap sama Kakek Neneknya, karena dia cucu pertama dari orangtuaku. Itulah alasan aku menyapih anakku sebelum usia yang dianjurkan.
Kadang satu Minggu baru aku bertemu dengannya.
itu aja kalau aku pergi jemput pasti kakeknya ngedumel.
Sore hari aku berkunjung ke rumah orangtuaku yang hanya bersebelahan desa.
Aku mendapati Dilan sedang asyik bermain didepan rumah kakeknya.
"Dilan,... Mamak kangen." Teriakku sembari berlari lalu memeluk dan menciumnya.
"Ngapain juga anaknya ditengok, udah asyik" dia main disini." Ocehan bapak kemudian menggendong Dilan dari tempat bermainnya.
"Bapak, Dara kan Kangen sama Dilan." Aku menampakkan raut wajah sedih.
"Dilan pulang yuk..!" Ajak Ku sambil memegang tangannya yang masih berada di gendongan kakeknya.
"Ian mau main sama Kakek mah."
Kata-kata yang membuatku kecewa.
"Pulang dulu ya anak sayang, mama dirumah gak ada teman main, gak ada dengar celotehan mu yang cerewet ini. Mama kangen Loh..!" Aku merayunya dengan lembut.
"Emmm Mama." Dilan meringis tandanya enggak mau ikut.
"Nanti kalau nggak mau pulang Dilan punyak Adik loh.." Aku berusaha membujuknya.
"Ade... Iye.. Ian puna Ade...!" Serunya kegirangan.
Omongannya yang masih belepotan itu yang membuat Dara sangat rindu ketika anaknya lagi enggak ada dirumah.
__ADS_1
****
"Dara kamu enak banget iya, anaknya jarang dirumah. Jadi bebas santai-santai." Kata Dewi tetanggaku yang anaknya seumuran Dilan.
"Mau gimana lagi, nanti kalau sudah musim panen padi baru kita sibuk ada kerjaan. Nah kalau Dilan sama kakeknya kan enak, kita bisa fokus kerja." Aku menjelaskan.
"Iya juga. Kapan tuh dia punya adik. Dilan kan anaknya anteng,. Dia sama siapa aja mau, jarang juga cari kamu." Timpalnya, menyelidik ku penasaran.
"Aduh... Anak ku masih kecil,. Nanti-nantilah." Sembari ku senyum memaksa.
***
Tibalah musim panen padi..
Musim yang membahagiakan untuk kita semua, karena mayoritas di desa petani.
Dilan sudah nyaman dirumah kakeknya, aku dan ayahnya pun fokus di sawah.
Kita memilih untuk nginap di sawah supaya pekerjaan cepat selesai.
Sebenarnya suamiku kurang setuju kalau Dilan terus dibawa kakeknya, karena enggak enak sama istrinya Bapak.. iya istrinya Bapak. Dia menjadi ibu sambung ku semenjak delapan tahun lalu, semenjak perceraian orangtuaku.
Mas Ardan juga melarang ku untuk pergi ke sawah karena ada teman-temannya yang bisa bantu di sawah. Tapi aku enggak enak hati, aku melakukan pekerjaan yang ringan-ringan saja. Tau kan kalau jadi petani itu kerjaan nya berat ditengah terik matahari pula.
"Aku kangen sama Dilan." gumam Bang Ardan disela peristirahatan kita beraktifitas.
Sudah satu Minggu kita menginap di sawah.
Pekerjaan sudah selesai. Hasil panen padi sebagiannya sudah kita jual.
***
Mas Ardan yang sudah terlalu rindu dengan Dilan langsung pergi menjemputnya.
Sementara aku membersihkan rumah yang sudah lama kita tinggal.
"Uh... Anak Mama...!" Sambutku seraya memeluk Dilan.
"Mama... Mama, kemarin Ian pelgi mancing sama tatek dapat itan banak." Ceritanya ngos-ngosan karena bicaranya yang belum jelas.
"Hebat anak Ayah udah gede, bisa pergi mancing. Nanti sore kita ajak Mama jalan-jalan ke kota ya.."
"Benelan iya Ayah?" Tanyanya kegirangan.
"Iya sayang."
__ADS_1
Setiap selesai panen kita selalu menyisihkan pendapatan dari hasil penjualan padi untuk menghibur diri.
"Di sini aja ya Ara, tuh banyak permainan yang bisa Dilan nikmati." Mas Ardan berhenti disalah satu taman hiburan di kota.
"Mas temani Dilan naik odong-odong dulu deh. Aku mau istirahat dan pesan makanan dulu." Aku bergegas menuju salah satu tempat tongkrongan di Taman itu.
Aku memesan sosis bakar kesukaan Dilan dan dua gelas jus alpukat untukku dan Mas Ardan.
"Kenapa kepala ku pusing sekali, mungkin karena aku terlalu kecapaian." Gumamku.
"Mama..." Teriakan Dilan menghentikan lamunan ku.
"Anak Mama sudah selesai mainnya?"
"Udah mah."
"Asyik ya nak..?
"Iya mah."
"Dilan mau makan sosis bakar gak?" Ku tawari makanan kesukaannya.
"Mau... Mau Mah...!! Serunya kegirangan.
Dilan memakan makanan kesukaannya dengan sangat lahap. Aku hanya menyeruput jus alpukat favoritku.
Tapi ada rasa aneh di lidahku, yang membuatku merasa eneg. Apa jusnya memang enggak enak.
"Hwaakkk...!!" Rasanya tak tertahankan lagi. Aku merasa mual.
"Sayang kenapa?" Tanya Mas Ardan khawatir,
"Kayaknya jus ini enggak enak. Mas coba deh."
Seraya ku menyodorkan jusnya di depan Mas Ardan.
"Enggak kok. Rasanya seperti biasanya." Dia mengerutkan dahi terlihat keheranan.
"Mungkin aku masuk angin ya..?" Aku bertanya sendiri.
"Iya udah kita enggak usah lama-lama, kalau Dilan udah selesai makannya kita pulang." Ajak Mas Ardan.
"Iya Mas." Aku menurut.
Di perjalanan pulang aku tak henti-hentinya berfikir. Rasa mual ini semakin menjadi-jadi.
__ADS_1
"Atau jangan-jangan...?? Ah gak mungkin.. gak mungkin." Aku mengusap mukaku menyadarkan diri dari lamunan.