
Herman lewat didepan rumah ku pagi ini, dia hendak berbelanja ke warung. Aku menghentikan langkah kakinya.
"Herman mau kemana?"
"Beli rokok."
"Mampir dulu."
Herman menghampiriku lalu aku meminta sisa uang hasil kerja Mas Ardan kepadanya.
"Gini Man, aku mau minta sisa uang Mas Ardan." Sebenarnya aku tidak mau menagih dia, tapi dari pada nanti dia lupa pikirku.
"Uang apa?" Tanyanya heran.
"Yang kemarin Mas Ardan angkut padi sama kamu." Kataku meyakinkannya.
"Kan sudah ku kasih semua 200 ribu." Katanya mengernyitkan dahinya.
"Oh, ya udah Man."
Betapa malunya aku kepada Herman. Kenapa Mas Ardan harus membohongiku, berarti dia kerja selama ini yang sisa uangnya belum dikasih itu semua hanya kebohongannya dia.
***
Aku menunggu Mas Ardan bangun untuk meminta penjelasannya. Dion terus saja menangis hari ini. Apa dia tidak mendengar aku yang kerepotan. Belum lagi perutku keroncongan jam 10 belum bisa sarapan.
"Mas... Bangun.!!! Jaga Dion dulu". Aku membangunkan dia sembari mengguncang keras tubuhnya.
"Emmm." Dia hanya bergumam ditempat tidur.
"Cepat Mas." Kataku kesal.
"Iya... Iya. Sini." Nampaknya dia belum sepenuhnya sadar saat mengambil Dion dariku.
Dion terus menangis diatas pangkuan ayahnya mengulurkan tangan meminta gendong kepadaku. Sementara Dilan menarik baju ku meminta aku segera memberinya sarapan.
"Sabar dulu nak." Kataku menenangkan Dilan.
"Nih," dia menyerahkan Dion kepadaku. "Biar aku saja yang ajak Dilan sarapan." Katanya sambil menarik tangan Dilan.
"Iiihh... Dia enak-enak bangun langsung sarapan." Kesalku di dalam hati.
__ADS_1
"Dion kamu kenapa Nak? Enggak enak badan ya Dion?" Aku memegang keningnya, tidak terasa suhu badannya hangat.
Mas Ardan dan Dilan sudah selesai sarapan. Mas Ardan berusaha menenangkan Dion dan mengajaknya main.
Dion terus menangis, biarlah yang penting perutku terisi dulu.
Setelah sarapan, aku menyusui Dion. Lalu dia tertidur dengan sangat pulas, karena kelelahan menangis.
Ini kesempatanku untuk mengintrogasi Mas Ardan.
"Mas. Tega ya kamu bohong terus sama aku." Kata ku marah menatap wajah Mas Ardan.
"Bohong kenapa?" Mukanya terlihat heran.
"Selama ini kamu kasih aku uang hanya sebagian. Kamu bilang sisanya masih di orang." Kataku menyolot.
"Kamu ini. Kamu tanya sama orangnya tadi? Bikin malu saja. Aku juga ada keperluan lain." Dia memberikan alasannya.
"Keperluan apa. Palingan untuk kamu judi. Setidaknya kamu sudah memperlihatkan aku semua hasil kerja mu, entah kamu ambil sebagian, semuanya, terserah. Yang penting kamu sudah jujur." Aku terus saja memarahinya.
"Ahh... Kamu ini bisanya ngomel aja." Protesnya kemudian pergi dari rumah.
"Kemana kamu? selalu saja pergi kalau lagi dibilangin." Aku menyusulnya kepintu dan dia berlalu entah kemana.
Aku pernah menanyakan kenapa dia selalu pergi saat aku marah. Mas Ardan bilang, aku lebih baik pergi dari pada nanti kalau aku menngubrismu masalahnya jadi panjang.
Dia tidak pernah kasar ataupun main tangan kepadaku yang cerewet ini.
Sore hari dia sudah pulang kerumah. Aku diam dan tidak menyapa dia. Aku masih marah karena dia berbohong.
"Nih uang belanjamu." Dia memberiku uang 400 ribu.
"Hah..." Aku menjadi salah tingkah dan senyumku pun tidak bisa ku tahan ketika menerima uang itu. Aku tidak menanyakan uangnya dari mana.
Memang Mas Ardan ini tahu cara menyenangkan hatiku.
Sampai pada malam hari Mas Ardan minta ijin keluar untuk ngopi bersama teman-temannya.
"Dara aku keluar sebentar sudah janji tadi mau ngopi ke rumahnya Herman." Katanya sambil menyisir rambutnya bersiap-siap keluar rumah.
"Ingat pulangnya jangan lama-lama. Dion sering nakal malam, kalau kamu enggak ada dirumah." Kataku memberinya ijin.
__ADS_1
Jam 11 malam Dion bangun, dia menangis. Aku susui tidak mau. Aku ajak dia bangun dan menenangkannya. Akhirnya setelah 30 menit aku menggendongnya dia tertidur, lalu aku meletakkan dia di kasur. Aku menelepon Mas Ardan, tapi telepon nya tidak dijawab.
Belum sampai 2 menit tidur dikasur, Dion bangun lagi dan menangis.
"Memang benar-benar sial ya kamu, nangis-nangis terus. Dari kamu dalam perut sampai sekarang aku dapat banyak masalah." Kataku mengumpat dan memelototi dia yang sedang menangis di kasur.
Aku memukul pantat Dion dengan keras, karena tidak tahan lagi dengan tangisannya.
Tidak lagi terdengar suaranya menangis, nafasnya seperti tidak keluar, aku melihat mukanya memerah.
"Dion... Dion." Bergegas aku mengendong dia.
Setelah dia digendoganku baru terdengar suara tangisannya yang keras, dia nangis sampai muntah. Sepertinya dia panik dengan perlakuanku.
"Maafkan ibu mu nak, ibu khilaf." Suara ku lirih dan mencium kepala Dion berulang kali.
Jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari, Mas Ardan belum kunjung pulang. Aku berusaha menghubunginya tetap saja tidak ada jawaban darinya.
Pagi menjelang, Mas Ardan belum pulang. Hati ku sangat sakit karena dia melanggar janjinya.
Aku menunggu kepulangannya sembari duduk tenang di atas sofa diruang tamu.
Aku melihat dia dari kejauhan. Aku tidak akan marah kepadanya. Aku yakin dengan keputusanku kali ini. Aku dan anak-anak benar-benar akan pergi meninggalkan dia.
Aku sudah bersiap-siap dengan Tas yang berisi pakaian ku dan pakaian anak-anak.
"Dara... Dara. Maaf aku ketiduran semalam." Dia merasa khawatir dan berusaha menjelaskan kepadaku.
"Ayo nak, sudah saat nya kita pergi." Aku menggendong Dion dan meletakkan Ransel dipunggungku.
"Dara. Tolong maafkan aku." Dia berusaha keras menahan ku.
Tak ada guna lagi, aku sudah keluar dari rumah meninggalkan Mas Ardan. Ibu aku benar-benar rindu dengan dirimu saat ini.
Hanya sosok ibu ku yang terbayangkan saat aku kalut seperti ini. Tapi aku tidak mau pergi ke tempat dia, tidak mau juga ke rumah bapak.
Aku tidak mau membuat mereka khawatir.
Entah kemana aku akan melangkah. Aku teringat dengan Bi Rita.
Aku lalu menuju rumah Bi Rita.
__ADS_1
Di sepanjang perjalanan, aku merasa goyah.
Apakah aku sudah benar dengan keputusanku.