
Harapan ku pupus sudah menunggu haid yang tidak kunjung datang.
Aku merasa aku benar-benar hamil.
Akan tetapi aku tidak mau melakukan testpack, tidak mau juga ke klinik.
"Dara makin bagus ya badannya, segitu aja udah bagus." Lirik Dewi saat kita sedang duduk menunggu Abang sayur di depan rumah.
"Emm... Iya." Jawabku canggung. Aku juga merasa kalau berat badanku mengalami kenaikan.
"Biasanya kalau anak udah selesai ***** emang gitu sih Buk, badan kita jadi lebih berisi." Tambah Buk Ida.
"Udah Dara kamu hamil lagi aja, mumpung Dilan betah sama kakeknya." Timpal Dewi kepadaku.
"Emm. Iya." Aku hanya bisa mengiyakan dari tadi.
"Nah. Apa kamu benar udah hamil." Dewi semakin menyelidik ku penasaran.
"Iiihh.. Dewi. Masa iya aku hamil anak masih kecil." Aku menjadi salah tingkah. Apa Dewi tahu aku hamil. Aku berusaha menahan perut ku keras-keras supaya tidak kelihatan.
"Itu kan tadi jawab iya." Katanya.
"Emang salah. Dari tadi aku hanya mengiyakan perkataan mu." Jawabku mulai kesal kepada
Dewi.
"Santai Dar, enggak usah emosi."
"Enggak kok. Biasa aja." Jawabku sinis.
"Sayuurrr...." Suara Abang sayur menghentikan perdebatan kita.
"Beli kangkung 2 ikat, sama tomat setengah kilo bang."
"Ok. Tambah nanasnya lagi buk,? Masih segar nanasnya."
"Itu aja dulu bang." Sebenarnya aku mau beli nanasnya, tapi malu di lihat ibu-ibu yang lain. Takut di goda.
"Tambah kerupuk deh lima ribu."
Siang ini aku berencana bikin pelecing kangkung yang sangat pedas, pikirku kalau dicocol kerupuk pasti tambah enak.
***
__ADS_1
Aku bergegas menuju dapur. Siang ini aku mau makan pelcing kangkung yang sangat pedes. Pelecingnya belum masak aja liurku udah ngeces.
"Mmm.. pelecing kangkungnya sudah jadi." Gumamku sambil mencium aromanya yang menusuk hidung karena cabai yang sangat banyak aku gunakan untuk bumbu.
"Huah... Huah... Pedas." Aku kepedasan. Air mataku menetes dengan sendirinya.
"Yang penting hasratku terpenuhi." Senyumku sinis.
Pelecing kangkung itu ludes aku makan sendiri.
***
Ketika aku hamil Dilan aku tidak merasakan ngidam seperti yang orang-orang bilang.
Sama juga seperti kehamilan yang sekarang, aku dengan mudahnya beraktifitas, tidak merasa mual ataupun pusing yang berat, seakan aku merasa tidak seperti hamil.
Selesai sholat subuh aku menyelesaikan semua pekerjaan rumah. Ketika matahari bersinar tepat mengenai halaman rumah pintu aku tutup, lalu aku tidur lagi.
Aku merasa sangat ngantuk pagi-pagi.
Trik ini juga aku gunakan supaya orang-orang tidak melihatku beraktifitas.
"Ara, aku berangkat ke sawah dulu." Mas Ardan membuka sedikit pintu kamar mengintip ku pelan.
"Kemana Dan? Tanya Dewi menyapa Mas Ardan.
"Biasa, ke sawah."
"Dara mana? Enggak kelihatan dari tadi? Tanya Dewi tetangga kepo ku.
"Ada, tadi aku tinggal tidur kayaknya enggak enak badan." Terdengar suara Mas Ardan menjawab Dewi.
***
Sehari-hari aku sering curhat dengan Dewi.
Kita banyak berbagi pengalaman tentang anak, karena anak kita hampir seumuran.
Masalah rumahtangga kita pun sering menjadi obrolan kita.
Tapi sekarang aku memilih menghindarinya, aku merasa dia terlalu ingin tahu tentangku.
Aku takut nanti dia ngomong kemana-mana kalau tahu aku hamil.
__ADS_1
Aku malu hamil disaat usia anakku masih kecil.
Aku belum siap menerima kehamilan ini.
Aku merasa bersalah kepada Dilan.
Dilan masih sangat membutuhkan kasih sayangku.
Belum lagi aku kepikiran orang-orang akan bergunjing tentangku.
(Anak masih kecil, kok sudah hamil aja.)
Sepertinya omongan itu terngiang di benakku.
***
Sebelum tidur aku meminum ramuan ragi tape yang dicampur ketumbar. Setelah itu aku mengikat perutku kencang-kencang menggunakan selendang.
Aku Pun tertidur dengan sangat pulas.
Tengah malam aku terbangun dengan perut yang terasa sangat sakit.
Perutku terasa panas dan melilit.
Mungkinkah ini rasanya keguguran.
"Ya Allah, kalau sesakit ini rasanya keguguran aku tidak tahan." Aku meringis sambil menahan rasa sakit. Aku takut Mas Ardan terbangun.
"Arghh...." Rasa sakitnya semakin menjadi-jadi. Aku kelepasan berteriak.
Buru-buru aku melepas ikatan selendang di perutku.
"Kamu kenapa?" Mas Ardan terbangun.
"Perutku sakit Mas." Belum selesai aku melepaskan selendang di perutku.
"Sakit kenapa. Apa kamu salah makan tadi." Tanyanya heran.
"Enggak kok mas." Jawabku pelan sambil menahan rasa sakit.
"Sini aku pijit punggungnya, mungkin itu karena kamu banyak cuci baju tadi." Ma Ardan lalu menggosok dan memijit punggungku menggunakan minyak kayu putih.
Aku kalau biasanya sakit perut selalu meminta Mas Ardan untuk memijat punggung ku. Setelah di pijit beberapa menit langsung merasa baikan.
__ADS_1
Tapi sakit perut sekarang beda rasanya dari sakit perut yang biasa aku alami.