Kehamilan Yang Tidak Aku Inginkan

Kehamilan Yang Tidak Aku Inginkan
Part 9


__ADS_3

(Kring.... Kring....)


Suara ponselku berdering.


Kulihat layar ponselku Bi Narti memanggil.


"Assalamu'alaikum." Suaranya memberi salam dari seberang sana.


"Waalaikumsallam Bi." Aku menjawab salamnya.


"Ardan ada?"


"Masih di sawah Bi. Ada apa?" Tanyaku penasaran.


"Bibi mau kasih tau kalian ini Kakak mu Darwin sudah mau kawin."


"Syukurlah Bi. Akhirnya..." Aku bergeming senang mendengar kabar dari Bi Narti.


"Sampaikan kepada Ardan nanti ya, untuk bisa bantu mempersiapkan acaranya. Acaranya dilaksanakan tanggal 10 November nanti." Jelas Bi Narti kepadaku.


"Baik Bi." Jawabku.


Perasaanku sekarang menjadi senang dan khawatir.


Disatu sisi aku senang Kak Darwin sudah mau nikah. Disisi lainnya aku khawatir kalau nanti aku menghadiri acaranya semua orang akan tahu aku hamil.


"Mas tadi Bi Narti telpon, katanya Kak Darwin sudah mau nikah. Acaranya dilangsungkan tanggal 10 November." Jelas Ku menyampaikan pesan Bi Narti kepada Mas Ardan


"Syukurlah. Bujang lapuk akhirnya kawin juga." Mas Ardan tersenyum mendengar kabarnya.


"Nanti kalau ada kegiatan di rumah Bi Narti Mas pergi sendiri aja. Biar aku pergi pas acaranya aja." Pintah ku kepada Mas Ardan.


"Kan kamu yang sepupunya Darwin. Nanti keluargamu kumpul semua disana masa kamu enggak datang." Dia melirikku heran.


***


Tiga hari menjelang acara pernikahan kak Darwin semua keluarga mempersiapkan acara pernikahannya.


Ku suruh Mas Darwin yang kesana sementara aku hanya berdiam diri dirumah.


"Mas tadi apa aja kegiatan dirumah Bi Narti?" Tanyaku penasaran.


"Tuh sepupu-sepupumu semua kumpul disana mereka bikin kue. Mereka semua menanyakan mu Dara." Tegas Mas Ardan.

__ADS_1


"Kak Dania sudah datang Mas?" Aku menanyakan sepupuku yang dari luar kota itu.


Aku sangat dekat dengan Kak Dania.


"Ada. Sudah ku bilang hanya kamu saja yang tidak ada disana."


"Mas. Siapa aja yang tau aku hamil?" Selidik ku penasaran.


"Kamu pertanyaannya aneh. Kamu sendiri yang menyembunyikan kehamilanmu. Kalau kamu enggak kasih tau orang ya mana tau mereka kalau kamu hamil."


Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan saat ini. Aku tidak mau nanti orang tau aku hamil saat aku menghadiri acara pernikahannya Kak Darwin. Hanya ada satu cara yang terlintas di pikiranku.


Malam ini aku ajak Mas Ardan mengunjungi klinik.


"Mas malam ini kita ke klinik ya..." Ajak ku merayu Mas Ardan.


"Tumben...? Dari dulu aku ajak periksa enggak pernah mau." Tanyanya heran.


"Makanya nanti malam kita pergi ya mas." Aku meyakinkannya.


***


Aku memberhentikan Mas Ardan di depan sebuah klinik.


"Kenapa enggak di klinik yang satunya? Memangnya disini sering ada orang yang periksa. Kliniknya aja sepi." Tanya Mas Ardan heran.


"Iya disini aja Mas. Aku malu pergi ke klinik kalau kliniknya ramai." Jelasku kepada Mas Ardan.


"Mama mau ngapain disini." Tanya Dilan yang ku ajak serta pergi bersama kita.


"Kamu tunggu disini dulu sama Ayah." Aku tidak menjawab pertanyaannya.


Aku memasuki klinik itu dengan perasaan yang sangat takut.


"Ibu Bidannya ada?" Tanyaku kepada seorang perawat yang sedang jaga di klinik itu.


"Mau periksa Bu. Mari silahkan." Dia mempersilahkanku untuk memasuki sebuah kamar.


"Saya mau diperiksa sama Ibu Bidannya langsung."


"Kalau mau periksa sama saya aja Bu. Ibu Bidan sedang ada acara."


"Tolong dipanggil sebentar. Sebentar saja mbak." Aku memaksa.

__ADS_1


Perawat itu berlalu meninggalkanku dan memanggil Bu Bidan.


"Ada apa ini?" Tanya Bu Bidan.


"Saya mau menggugurkan kandungan Bu." Tanpa beban sedikitpun aku mengeluarkan kata-kata yang sangat keji itu.


"Astagfirullahhalazim, naik tempat tidur biar saya cek." Kulihat ibu bidan menghela nafasnya dalam-dalam.


"Ibu tolong bantu saya, saya tidak mau hamil Bu. Kasihan anak saya yang pertama masih kecil." Aku mulai terisak menangis.


"Jangan. Saya tidak akan melakukan apa-apa. Kehamilan kamu ini sudah masuk usia tujuh bulan loh. Sebentar lagi dia siap lahir ke dunia ini." Jelas Bu Bidan


"Bu. Bantu saya. Saya belum siap dengan ini semua." Aku sangat memohon kepadanya.


"Mbak panggil suami ibu ini menemui saya." Pintah Bu bidan kepada perawat.


"Pak kehamilan istri ibu sudah memasuki usia 7 bulan pak. Tolong istri dan anaknya dijaga Pak. Kehamilan itu merupakan anugerah terindah dari Allah. Besok temui saya di Puskesmas untuk ambil buku KIA" Dia menjelaskan kepada Mas Ardan.


Mas Ardan melirik aku yang masih menangis.


"Hebat ya kamu Dara. Alasan kamu pergi ke klinik mau periksa. Nyatanya kamu pergi dengan niat lain." Mas Ardan meninggikan suaranya dengan sangat emosi.


"Maaf Mas. Aku bingung." Aku terus saja menangis menyesali apa yang hendak aku lakukan tadi.


"Aku lebih bingung Dara. Aku bingung dengan semua sikapmu. Tambah lagi kamu buat aku malu di depan Bidan tadi. Apa yang sebenarnya ada di pikiran kamu Dara?" Mas Ardan semakin marah.


Aku hanya bisa menunduk dan menangis sejadi-jadinya. Aku tidak akan bisa menatap wajah Mas Ardan.


Di Keheningan malam aku terbangun. Aku ambil air wudhu. Aku mendirikan sholat tahajud.


Aku mulai sadar dengan semua yang ku lakukan selama ini.


"Ya Allah, Maafkan hambaMu ini yang penuh khilaf dan dosa.


Aku sadar apa yang aku lakukan selama ini salah.


Bila engkau menghendaki apa yang terjadi kepadaku maka aku tidak bisa memungkirinya. Hanya satu pintah ku Ya Allah, berikan kesehatan dan kesempurnaan kepada anakku.


Karena aku tidak akan sanggup bila nanti anakku lahir dengan suatu kekurangan akibat kesalahanku.


Amiin Ya Robbal Al-Amin."


Aku memanjatkan Do'a dan terisak tangis dalam Do'a.

__ADS_1


__ADS_2