Kehamilan Yang Tidak Aku Inginkan

Kehamilan Yang Tidak Aku Inginkan
part 20


__ADS_3

Siang hari terdengar suara motor berhenti didepan rumah Bi Rita.


"Bi Rita, apa Dara dan anak-anak ada disini?" Terdengar suara Mas Ardan menanyakan keberadaan kami kepada Bi Rita.


"Ada. Mereka lagi tidur didepan TV." Kata Bi Rita menjawabnya.


Bi Rita sedang duduk santai di beranda rumahnya.


Perlahan langkah kaki Mas Ardan menuju ke arah kami.


"Dara, pulang yuk." Dia berbisik sembari mengelus lembut rambutku.


Aku yang sedari tadi sudah menyadari kedatangannya pura-pura berusaha membuka mata seolah baru bangun. Kulihat dia mencium silih berganti Dilan dan Dion.


"Dilan... Dilan... Ikut Ayah pulang nak." Dia berusaha membangunkan Dilan.


"Ngapain diganggu anaknya masih tidur." Kataku ketus.


"Ayo pulang." Ajaknya kepadaku.


"Pulang kemana." Aku menatapnya sinis.


"Kerumah. Memangnya kemana lagi." Dia mengerenyitkan dahinya.


"Ngapain kita pulang kalau kamu enggak ada dirumah."


"Makanya aku ajak pulang. Aku janji enggak akan ninggalin rumah lagi." Dia memegang erat tanganku berusaha meyakinkan ku.


"Enggak. Aku mau disini aja." Aku mau tetap dirumah Bi Rita.


"Udah Dara. Kamu pulang dulu. Kamu juga Ardan apa kamu enggak kasihan sama anak dan istrimu yang membutuhkan perhatianmu. Bisa-bisanya kamu seperti itu." Bi Rita menghampiri kami dan memberi nasihat kepada Mas Ardan.


"Maaf Bi. Aku menyesal." Ucapnya lirih menundukkan kepalanya.


"Ayah...." Dilan bersorak gembira melihat ayahnya.


"Iya Nak. Kita pulang ya." Mas Ardan memeluk dan menggendong Dilan


"Iya. Ayah jangan pelgi lama-lama lagi. Ian mau main sama Ayah."


Akhirnya kami ikut pulang dengan Mas Ardan karena dia berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.

__ADS_1


Aku melihat motor orang lain yang dibawa Mas Ardan. Sementara kemana motornya dia.


"Motor siapa ini?" Tanyaku heran melihat motor yang dibawa olehnya.


"Motor Dani, tadi aku pinjam."


"Terus motor Mas kemana?" Tanyaku penasaran.


"Masuk bengkel, turun mesin gara-gara aku lupa ganti oli."


Aku tidak bisa mempercayai alasannya. Karena selama ini dia sangat rajin melakukan perawatan kepada motornya. Tidak pernah sekalipun motornya mogok selama ini dipakai.


Aku khawatir motornya sudah di gadai atau dijual. Nanti akan ku selidiki dimana motor itu berada.


***


Malam hari ketika anak-anak sudah tidur tibalah saatnya waktu untuk kita berdua.


"Sayang, maafkan aku sudah menyakiti hatimu." Dia membisikkan kalimat maaf di telingaku sambil memeluk erat tubuhku.


"Sudahlah. Aku tidak mau dengar permintaan maafmu. Aku hanya mau kamu sadar dengan perbuatan mu dan berusaha untuk memperbaiki diri." Kataku menasehatinya.


"Sayang, apa aku sudah bisa menyentuhmu?" Nafasnya sudah memburu di telingaku.


Malam ini Mas Ardan memintah jatahnya dari setelah aku melahirkan. Sudah tiga bulan lamanya, aku rasa sekarang vag**na dan rahimku ku sudah sembuh. Sudah waktunya Mas Ardan mendapatkan hadiahnya.


Belum sempat aku memberinya jawaban.


Dia sudah melepas bajuku, tanpa tersisa sehelai benangpun. Begitu juga dengannya.


Mas Ardan mencium kening, pipi, dan bibirku penuh gairah. Kita melakukan hubungan intim dan bergelut didalam permainan panas yang telah lama tidak kita lakukan.


Apalagi aku mengingat perlakuan Mas Ardan selama ini, membuat rasa marahku aku tumpahkan saat ini sehingga menambah gairah dan nafsuku.


Mas Ardan mengakhiri permainannya dengan mencium lembut bibirku. Kita berdua terkulai lemas, karena terlalu bergairah.


Aku berharap setelah Mas Ardan mendapatkan hadiahnya benar-benar bisa sadar dan berubah seperti sediakala. Aku berfikir, mungkin karena dia jenuh, makanya melampiaskan kejenuhannya di luar rumah.


"Terimakasih sayang." Nafasnya terpenggal mengucapkan kalimat itu.


***

__ADS_1


Aku masih penasaran dengan keberadaan motor Mas Ardan. Hanya Irfan yang bisa membantuku sekarang.


"Halo, fan, bisa minta tolong?" Aku menghubunginya via telepon.


"Ada apa Dara?"


"Aku tidak melihat motornya Mas Ardan. Dia bilang ke aku motornya dibengkel. Tapi aku tidak percaya. Aku curiga kalau motor itu sudah dijual atau digadai." Jelasku kepada Irfan.


"Baiklah. Nanti kalau aku dapat informasi aku kabari." Kata Irfan yang bersedia membantu Dara.


Irfan berusaha mendapat informasi mengenai keberadaan motor Ardan. Dia berhasil menggali informasi dari seorang pemuda yang sering bermain judi dengan Ardan. Motor Ardan telah digadai senilai 5 juta karena kalah judi dari pemuda itu.


"Ardan... Ardan... Dimana pikiranmu, gadai motor karena kalah judi. Tidak memikirkan nasib istri dan anakmu." Irfan bicara sendiri setelah mengetahui informasinya.


Dia tidak habis pikir dengan tingkah sahabatnya yang selama ini dikenal pekerja keras dan sayang terhadap keluarganya.


Irfan menyampaikan informasi yang didapatnya kepada Dara. Betapa kagetnya Dara setelah mengetahui hal itu. Sementara selama ini dia dan anaknya kesusahan dengan keuangan. Ardan tidak pernah memberi Dara sepeser uang pun. Apalagi uang dari hasil gadai motor itu hanya dia nikmati sendiri.


"Kenapa motornya enggak diambil di bengkel. Masa sudah satu Minggu belum selesai diperbaiki." Aku yang sudah tahu yang sebenarnya, sengaja menanyakannya.


"Tau tuh. Bengkel itu lama sekali kerjanya." Alasannya kepadaku.


"Benar motornya dibengkel?" Aku menyelidik Mas Ardan.


"Iya." Jawabnya singkat.


"Bukannya sudah digadai." Kataku menyindir Mas Ardan.


"Sok tau. Tau dari mana kamu?"


"Nggak usah bohong, jujur Mas. Aku enggak mau sakit hati lagi."


"Iya aku gadai." Dengan santainya dia menjawab.


"Terus uangnya kemana?"


"Aaaarrgh... Jangan tanya lagi. Aku pusing." Jawabnya kemudian berlalu meninggalkanku keluar rumah.


Itulah akibat dari judi, bukannya semakin kaya malah apa yang sudah kita punya habis terjual karena sudah ketagihan. Ujung-ujungnya jadi pusing dan stres. Syukur enggak gila karena uang yang kita punya raib begitu saja dalam waktu yang sekejap.


Sekarang Mas Ardan tetap keluar malam, tapi sudah tidak pernah pulang sampai pagi. Terkadang jam 11 malam sudah pulang. Paling telat pulang jam 12 malam. Karena kami sudah berjanji sekali saja dia enggak pulang maka aku dan anak-anak akan pergi meninggalkannya.

__ADS_1


__ADS_2