Kehamilan Yang Tidak Aku Inginkan

Kehamilan Yang Tidak Aku Inginkan
part 18


__ADS_3

Genap 40 hari setelah aku melahirkan dan ini saatnya kunjungan ketiga.


Pada saat kunjungan ini perawat akan memasang alat kontrasepsi kepadaku.


Seperti biasa semalaman suamiku tidak pulang kerumah.


"Pagi Bu." Sapa perawat yang mengunjungi ku.


"Pagi juga, mari masuk." Ajakku kepada mereka.


"Dion masih tidur. Iiih... Gemes." Kata salah satu dari mereka yang melihat Dion tertidur pulas dengan pipi menyembul.


"Alatnya KBnya dipasang sekarang aja, selagi anaknya tidur." Timpal perawat itu sembari menyiapkan peralatannya.


"Baiklah. Apa rasanya tidak sakit?" Tanyaku mengerenyitkan dahi.


"Tidak. Disuntik anastesi dulu baru alatnya dipasang." Dia menjelaskan sembari memegang tanganku dan menyuntikkan anastesi.


"Aaaduuuh..." Aku meringis menahan rasa sakit karena rasa suntik.


"Tidak apa-apa Bu. Seperti digigit semut kan rasa nya." Perawat itu menenangkan ku.


"Bantu aku pegang, dorong... Ya, terus." Aku mendengar mereka berbicara satu sama lain.


Entah apa yang mereka masukkan kedalam lenganku aku tidak mau melihat. Tetap saja aku memejamkan mata karena merasa takut.


"Sudah Bu, coba dipegang lengannya." Pintanya sembari menuntun tanganku yang satunya untuk memegang lenganku.


"Enggak usah. Yang penting aku sudah tahu alatnya sudah terpasang di lenganku." Buru-buru aku menarik tanganku dari genggaman perawat itu.


"Tangannya jangan diajak aktifitas yang berat-berat dulu. Nanti bisa biru dan bengkak." Perawat itu memberi saran.


"Berapa lama tangan saya bisa pulih?" Tanyaku.


"Sekitar satu Minggu."


"Syukurlah dari tadi Dion tidurnya nyenyak banget, jadi kita terganggu." Kata ku sembari menatap Dion di tempat tidurnya.


Tidak kurang dari waktu 20 menit mereka sudah selesai memasang alat itu di lenganku.

__ADS_1


"Sekarang tinggal Dion yang kita cek." Mereka meletakkan tubuh Dion diatas timbangan elektrik.


"4.8 kg. Bagus. Berat badannya bertambah signifikan." Kata perawat itu sambil melihat angka di timbangan elektrik.


"Ini Akta kelahiran Dion sudah jadi. Beserta KIA(Kartu Identitas Anak)." Sembari dia menyerahkan secarik kertas, dan sebuah kartu identitas.


"Terimakasih." Ucapku.


"Sama-sama. Kita pamit dulu. Kalau ada keluhan silahkan hubungi kami."


Setelah kepergian dua perawat itu. Mas Ardan akhirnya pulang ke rumah.


"Ngapain tadi mereka?" Tanyanya penasaran.


"Nih." Aku menunjukkan tanganku yang dibalut perban.


"Kenapa itu.?" Tanyanya lagi.


"Kamu enggak usah tanya-tanya. Makanya diam dirumah biar tahu apa yang terjadi sama anak dan istrimu." Aku benci sekali dengan Mas Ardan yang selalu pulang pagi kerumah.


"Kamu kerjaannya marah-marah saja." Katanya ketus.


"Aaah. Kamu aja yang terlalu manja." Dengan santai dia menjawab ku.


"Terlalu manja kamu bilang. Oke Mas kalau kamu masih saja sibuk dengan judi mu, tunggu saja Dion sudah cukup besar maka kami akan pergi meninggalkanmu." Aku mengancam Mas Ardan.


Seperti biasanya dia tidak pernah menggubris ucapanku. Dia hanya akan berlalu tidur jika sudah mendengarku mengomelinya panjang lebar.


"Mama... Ian sakit perut." Dilan merengek kepadaku yang masih emosi untuk minta ditemani ke WC.


"Sudah sana. Kamu pergi sendiri. Apa-apa harus ditemani sama mama." Aku tersulut emosi. Aku melampiaskan kemarahan ku kepada Dilan


"Hiks... Hiks..." Dia mulai menangis.


"Apa kamu nangis-nangis. Sana pergi sendiri." Aku membuka celananya dengan kasar dan kupukul pantatnya dengan tanganku.


Aku melihat kaki kecilnya berlari meninggalkanku dengan penuh ketakutan.


Dilan berlari sambil terus menangis.

__ADS_1


Hatiku terasa sangat terpukul melihatnya seperti itu.


Kenapa denganku. Apa salah Dilan yang hanya memintaku untuk menemaninya ke WC.


Aku tidak sadar telah berlaku kasar kepada anakku.


***


"Mas Ardan... Bangun dulu. Jaga Dion." Kataku ketus.


"Emmm." Dia hanya bergumam dan berusaha membuka matanya.


Aku tinggalkan mereka berdua. Aku dan Dilan segera mandi. Selesai mandi aku mencuci pakaian. Aku berusaha mencuci pelan-pelan karena takut tanganku akan menjadi bengkak.


Belum selesai aku mencuci pakaian, aku sudah mendengar tangisan Dion.


Tangisannya sangat kencang hingga terdengar ke kamar mandi.


"Memangnya Mas Ardan enggak bangun apa," kataku yang terus saja meneruskan mencuci baju.


"Mas Ardan... Mas Ardan." Tidak ada jawaban darinya, sementara tangisan Dion semakin nyaring.


Segera aku meninggalkan kamar mandi dan melihat Dion.


"Astagfirullahhalazim." Aku mengucap dzikir sambil menggelengkan kepalaku yang heran dengan sikap Mas Ardan.


"Mas Bangun. Kamu tidur apa mat*." Aku berteriak kencang sembari mengguncang tubuh Mas Ardan.


"Emmm." Dia berusaha bangun.


"Anak nangis kencang dari tadi masa tidak kedengaran."


"Nangis apanya. Itu kan dia diam." Sambil melirik Dion yang sedang aku susui.


"Iya. Sekarang diam karena ada aku. Coba saja aku tinggal kalian pergi jauh. Entah siapa yang akan melihat Dion." Kataku yang masih saja marah.


"Kan kamu ibunya." Dia berlalu meninggalkan aku.


Benar-benar Ardan sudah tidak punya perasaan.

__ADS_1


Apa yang telah mempengaruhi dia, sehingga sikap dia berubah kepada keluarganya.


__ADS_2