Kehamilan Yang Tidak Aku Inginkan

Kehamilan Yang Tidak Aku Inginkan
part 6


__ADS_3

Aku menunggu reaksi dari sakit perutku.


Sekitar 30 menit Mas Ardan memijat punggungku. Perutku sudah merasa membaik.


Aku tidur dengan sangat pulas.


Seperti biasa aku bangun untuk sholat subuh.


Aku bergegas menuju kamar mandi.


Aku mengecek daerah kewanitaan ku.


Tidak ada darah di sana.


"Aku tidak keguguran. Tapi kenapa rasa sakit perut tadi sangat dahsyat, terasa panas di perutku. Apa itu reaksi ramuan yang ku minum." Pikirku penasaran.


***


Sekarang kalau aku beraktifitas di luar rumah selalu menggunakan baju yang gombrong.


Paling aku keluar kalau ada keperluan yang sangat mendesak.


Kalau ada keperluan di warung aku minta tolong Mas Ardan yang beli.


Kalau mau belanja sayur aku tunggu sepi dulu, biar tinggal aku sendiri yang belanja.


"Dara sekarang jarang keluar ya?" Tanya bu Ida kepada Dewi.


"Iya buk. Mungkin dia lagi enggak enak badan. Dia sekarang jarang ngobrol sama aku." Kata Dewi.


Aku mendengar percakapan mereka yang sedang belanja sayur.


Aku menunggu mereka berlalu, karena aku ingin membeli tape singkong.


"Bang ada tape?" Tanyaku.


"Ada. Mau berapa?"


"Duapuluh ribu bang." Aku buru-buru membayarnya.


"Dara... Dara... Duduk sini dulu." Aku dengar teriakan Bu Ida yang masih duduk di depan rumah Dewi.

__ADS_1


"Mau masak dulu buk." Buru-buru aku memasuki pekarangan rumah.


Ahh... Aku lupa melihat situasi di depan rumah Dewi sebelum aku keluar belanja.


"Dara kenapa, seperti menghindar gitu." Selidik Bu Ida penasaran.


"Mungkin dia lagi sibuk." Timpal Dewi.


Aku mengintip mereka lewat jendela samping rumah. Karena rumahku tepat bersebelahan dengan rumah Dewi.


***


(Tok... Tok... Tok) terdengar suara ketukan pintu.


Siapa ya yang bertamu siang bolong begini.


"Eh Dewi." Aku kaget setelah membuka pintu.


"Ini Dar, tadi aku bikin es buah. Lumayan untuk menyegarkan tenggorokan. Cuacanya sangat panas." Dewi menyodorkan semangkuk es buah.


"Terimakasih Dewi. Masuk dulu biar aku ganti mangkuk nya." Aku mempersilahkan Dewi masuk rumah.


"Nanti aja antar mangkuknya. Sekalian nih Dar, nanti sore kita kumpul didepan rumah ya ada demo peragaan Alat masak. Ini undangannya." Dia memberi ku sehelai undangan.


Apa nanti aku pura-pura sakit.


***


Di rumah Dewi sudah terdengar suara ibu-ibu ramai menghadiri demo peragaan Alat masak.


Aku masih saja dengan perasaan bingung antara menghadiri atau pura-pura sakit di rumah.


"Dara... Kita tinggal tunggu kamu aja nih." Teriak Dewi dari rumahnya.


"Ngapain juga tunggu aku. Memangnya aku mau beli apa nanti." Kesalku ngedumel sendiri.


"Dara... Ayok dong." Dewi terus saja memanggil.


Kalau bisa sudah kulempar mulutnya pakai sandal.


"Iya. Tunggu dulu. Ini aku lagi masak ikan." Aku berbohong. Aku mengukur waktu. Supaya waktu ku hanya sebentar nanti dirumahnya.

__ADS_1


Aku sibuk membenahi penampilan.


Mulai aku ikat perutku menggunakan selendang.


Lalu aku pakai baju gombrang.


Baiklah, aku sudah siap pergi.


"Kok lama sih Dara. Kamu enggak lihat Masnya tadi masak kue enggak nyampai sepuluh menit loh." Kata Nina terkesima dengan alat masak yang sedang di promosikan.


"Iya." Aku tersenyum menanggapinya.


Aku menghemat bicaraku karena aku sedang berusaha menahan perutku biar tidak kelihatan.


"Kamu beli ya Dara, biar nanti kalau kita bikin kue pinjamnya sama kamu." Dewi merayuku.


"Enggak ah. Alat yang lainnya aja enggak kepakai dirumah." Aku memang sering beli alat masak kalau ada yang sedang promosi seperti ini, tapi jarang prakteknya dirumah.


"Ini lain dari yang kamu beli kemarin. Kata Masnya ini produk keluaran terbaru." Dewi masih saja berusaha membujuk.


"Enggak deh. Lagi enggak selera." Pungkasku.


"Nah ibu-ibu yang lain ada yang berminat. Mumpung harga promo Buk." Dewi menawari ibu-ibu lain.


"Kalau sekarang, jangankan beli alat ini, beli sabun cuci aja. Susahnya." Keluh ibu Masita.


"Dewi promosinya luar biasa. Apa dia dapat persen dari Masnya." Gumamku di dalam hati.


Sementara disisi lain aku melihat ibu Ida memperhatikan ku dengan seksama.


Aku melihat dia senyum-senyum sendiri.


Apa dia tahu apa yang sedang terjadi kepadaku.


Aku mulai menjadi salah tingkah.


"Ibu-ibu aku pulang dulu ya." Aku berpamitan kepada semuanya.


"Loh kok buru-buru. Dilan kan enggak ada." Nina berusaha menghalangiku.


"Iya Dilan enggak ada. Tapi bapaknya mesti kita urus juga." Alasanku. Aku sudah merasa tidak nyaman dengan tatapan ibu Ida yang sedari tadi memperhatikan aku.

__ADS_1


"Aduuh.. Istri Solehah." Teriak Dewi menggodaku.


__ADS_2