Kehamilan Yang Tidak Aku Inginkan

Kehamilan Yang Tidak Aku Inginkan
part 19


__ADS_3

"Ardan... Ardan...!!!" Terdengar teriakkan Irfan memanggil mas Ardan.


"Pelan Irfan. Dion sedang tidur." Aku menghampiri Irfan supaya bisa memelankan suaranya?


"Mana Ardan?" Tanya Irfan.


"Bukannya dia dirumah kamu?" Tanya ku heran.


"Enggak, tadi malam dia hanya ngopi sebentar. Langsung pulang katanya."


"Dia sering enggak pulang, sampai sekarang juga dia belum pulang." Aku menjelaskan kepada Irfan.


"Serius kamu Dara?" Irfan kaget mendengar ceritaku.


"Serius. Aku kira kamu sama dia main judi."


"Enggak. Aku tidak mau melakukan perbuatan yang merugikan seperti berjudi." Irfan tidak tau menahu perihal Ardan yang sering berjudi dan jarang pulang kerumah.


"Ah... Tega si Ardan." Terlihat raut wajah Irfan kesal, kecewa dengan sikap temannya.


Irfan berlalu meninggalkan rumah Dara. Irfan yang selama ini selalu saling membantu dengan Ardan setiap ada pekerjaan, menjadi heran dengan perubahan Ardan yang sudah jarang menemuinya.


Sementara di tempat lain siang malam Ardan hanya berjudi. Entah dari mana dia mendapatkan uang. Ardan hanya pulang untuk ganti baju ke rumahnya.


Nampaknya dia sudah salah pilih teman dalam bergaul. Ardan bergaul dengan anak-anak muda yang belum mempunyai tanggung jawab seperti dirinya.


***


Umur Dion sudah memasuki usia 3 bulan.


Dia sangat rewel, tidak ada pekerjaan yang bisa dilakukan Dara sebelum Dion tidur. Bahkan untuk makan saja Dara merasa kesulitan. Belum lagi harus mengurus Dilan.


Ardan tidak membantu sama sekali. Ardan tidak tahu seperti apa kesulitan yang dialami Dara dirumah.


"Dion, kamu kenapa Nak, jangan nangis terus ya." Dara berusaha menenangkan Dion yang masih terus menangis.


Semakin Dara berusaha menenangkannya, semakin keras Dion menangis.


Ditambah lagi rengekan Dilan minta dibelikan jajan secara bersamaan.

__ADS_1


Membuat kepala Dara serasa mau pecah.


"Haaahhh.... Diam... Diam... Lihat saja kalian. Aku bu**h kalian." Seketika aku emosi, darah panas serasa mengalir di tubuhku. Aku menghentakkan tubuh Dion di atas kasur.


Tubuh Dilan juga ku dorong dengan keras hingga dia jatuh tersungkur.


Dilan yang tadinya hanya merengek menjadi menangis sangat kencang.


Aku lihat muka Dion memerah seperti menangis tapi tidak mengeluarkan suara.


Tampaknya Dion kaget dengan perlakuanku.


Aku sontak kaget melihatnya. Lalu aku menggendong Dion.


"Dion... Dion... Ini mama nak." Tidak terasa air mata mengalir di pipiku.


"Hwwwaaaaaw... Hwaaaa..." Akhirnya dia mengeluarkan suara tangisan yang sangat kencang.


"Dion maaf kan mama nak. Maaf sayang." Suaraku lirih memeluknya.


"Maaf sayang. Maaf." Aku juga merangkul Dilan, dan memeluk mereka erat-erat.


Aku sudah tidak bisa sabar lagi menghadapi perlakuan Ardan. Aku mendengar kabar dia sering menginap disebuah rumah bujang.


Aku susul dia kesana.


Aku sampai didepan rumah bujang itu. Tidak lupa juga aku membawa kedua anakku. Entah apa yang akan aku lakukan disana.


Ada banyak sandal didepan rumah itu, berarti ada banyak orang di dalam. Aku memastikan Mas Ardan ada didalam rumah itu.


Aku memperhatikan sandal itu satu persatu, aku lihat sandal Mas Ardan.


"Ardan... Ardan..." Teriakku dengan sangat marah.


"Dan... Dan.. bangun, ada Dara didepan." Terdengar seseorang dari mereka membangunkan Mas Ardan.


Cekrek...


Terdengar suara pintu dibuka. Mas Ardan yang membuka pintu itu.

__ADS_1


"Tega kamu sama aku...!!!" Emosiku tidak terbendung lagi. Aku berteriak kencang dan menangis. Aku menghujamkan pukulan dibadannya dengan satu tanganku. Sementara tangan kiri ku menggendong Dion.


"Sudah... Sudah. Kasihan anak kalian harus melihat kalian seperti ini." Seorang yang melihat kita disitu meleraiku.


Mas Ardan tidak melakukan perlawanan sedikitpun.


"Sadar kamu Ardan, sadar." Aku mengguncangkan tubuhnya.


"Sudah Dara aku antar pulang, nanti Ardan biar aku yang urus." Kata orang yang meleraiku tadi.


Aku pulang dengan kedua anakku. Tapi aku tidak pulang kerumah. Aku menuju rumah Bi Rita.


Sesampai disana aku menangis sejadi-jadinya.


Menceritakan semua kejadian kepada Bi Rita.


"Bibi... Hiks... Hiks..." Belum bisa aku bercerita, aku menangis sesegukkan.


"Kenapa Dara?" Tanyanya heran.


"Mama..." Dilan menangis dan sedih melihatku seperti ini.


"Sudah Dara tenang dulu, nanti Dion rewel kalau kamu sedih kasihan dia masih kecil." Bibi Rita terus berusaha menenangkanku.


"Selama ini Mas Ardan sering tidak pulang kerumah. Dia sering berjudi." Aku bercerita kepada Bi Rita.


"Kenapa lama sekali kamu cerita, bisa-bisanya kamu memendam ini semua sendiri."


"Aku enggak tahu harus bagaimana, aku malu kalau aku harus cerita. Tadi aku menyusul dia ke rumah bujang tempat biasa dia menginap. Aku membuat keributan disana." Aku menjelaskan kejadian yang baru terjadi kepada Bi Rita.


"Apa kamu sudah kasih tahu mertuamu?" Tanya Bi Rita menyelidikku.


"Enggak. Aku baru cerita sama Bi Rita."


"Coba kamu kasih tahu Orangtua Ardan. Biar mereka bisa menasehati Ardan." Bi Rita memberikan saran kepadaku.


"Aku mau cerai saja sama Dia Bi, aku sudah tidak tahan." Aku mengeluarkan kata-kata itu dari mulutku.


"Gampang kamu bilang seperti itu.! Anak-anakmu bagaimana?" Bi Rita membentak karena aku berpikiran untuk berpisah dari Mas Ardan.

__ADS_1


Hari itu aku tidak mau pulang ke rumah. Aku menginap dirumah Bi Rita, aku tidak mau ketemu dengan Mas Ardan.


__ADS_2