Kehamilan Yang Tidak Aku Inginkan

Kehamilan Yang Tidak Aku Inginkan
semangat suamiku


__ADS_3

Part 2


Setibanya dirumah aku berlalu menuju kamar. Mataku tertuju pada kalender di atas meja.


Betapa terkejutnya aku melihat tanggal yang aku tandai.


"Hah... Udah dua Minggu ini aku belum haid ya.?" Pikir ku kaget.


Semenjak kelahiran Dilan aku memilih KB metode suntikan. Karena aku rasa hanya suntikan yang efektif digunakan dengan pemakaian yang benar dan perlu pengulangan.


Setiap tiga bulan sekali aku rutin melakukan suntikan untuk menjaga kehamilan agar tidak terlalu rapat.


"Mudah-mudahan enggak terjadi apa-apa." Harapku cemas.


"Kamu kenapa Ara..?" Kelihatan cemas dari tadi." Tanya Mas Ardan yang sedang menggendong Dilan mengagetkanku.


"Enggak kenapa-kenapa kok mas, aku merasa lelah aja."


"Iya udah. Kita sekarang tidur dulu. Ini Dilan udah nyenyak bangat." Mas Ardan melirik Dilan digendongnya.


***


Pagi-pagi sekali aku sudah bangun. Tentunya sebelum Dilan dan Mas Ardan bangun. Jam delapan semua pekerjaan rumah tangga sudah beres.


"Mas... Dilan.., anak Mama. Ayo bangun sarapan dulu." Sambil ku membelai lembut anakku.


"Masak apa hari ini?" Mas Ardan memicingkan mata terbangun dari tidurnya.


"Ayam goreng krispi dong..."


Mereka bersemangat beranjak dari tempat tidur.


Mas Ardan lalu mengajak Dilan cuci muka. Kemudian menuju meja makan.


Kita sangat menikmati momen di meja makan.


"Makan yang banyak ya Nak, biar cepat besar. Bisa bantu Mama dan Bapak disawah." Sapaku sambil mencubit pipinya yang gemoy.


Kulihat senyum dibibir Mas Ardan mendengar perkataan ku.


(Tok... Tok... Tok...)

__ADS_1


Terdengar bunyi ketukan pintu dari luar.


Aku yang sedari tadi sudah selesai sarapan berlari untuk membuka pintu.


"Eh Paman Ade. Ada apa Paman ?" Ku Sapa lelaki yang sedang berdiri di depan pintu itu.


"Ardan ada?" Tanyanya sembari menengok ke dalam rumah.


"Ada. Mas Ardan sedang sarapan. Mari Paman, sarapan dulu." Ajak Ku sambil mempersilahkannya masuk ke dalam rumah.


"Sudah... Sudah, aku tunggu disini saja."


"Siapa yang datang Ara?" Tanya Mas Ardan berpapasan denganku saat aku hendak memanggilnya.


"Paman Ade. Dia tunggu Mas Ardan di teras rumah."


Mas Ardan menuju teras dan menyapa Paman Ade.


"Ada apa Paman Ade?" Sapanya


"Gini Dan. Bisa bantu Paman angkut padi siang ini?"


"Ada 20 karung. Kamu bisa sendirian?"


"Bisa. Nanti siang saya pergi ke sawahnya Paman."


"Iya sudah. Nanti Paman tunggu di sawah."


Suamiku merupakan sosok pekerja keras. Asalkan ada yang menawarinya pekerjaan Mas Ardan dengan senang hati mengerjakannya.


***


"Kenapa Jam segini aku ngantuk banget iya..?"


Kulihat jam didinding menunjukkan pukul 09:30


Aku Pejamkan mataku.


Sementara Dilan masih semangat mengajakku bermain.


"Mama... Mama. Hiks... Hiks..!! Teriak Dilan diiringi tangisnya.

__ADS_1


"Kenapa Nak?" Aku kaget dan terbangun.


"Mama jangan tidur." Dia masih sesenggukan menangis.


"Mama ngantuk nak. Dilan juga tidur ya." Pintaku sambil menenangkannya.


"Enggak. Pokoknya mama gak boleh bobo." Teriaknya


"Ada apa ini ribut-ribut." Mas Ardan datang menghampiri kita.


"Ini mas, Dilan enggak bolehin aku tidur. Aku ngantuk Mas." Aku menjelaskan kepada Mas Ardan.


"Loh.. kok pagi-pagi sudah ngantuk."


"Enggak tau nih. Mas ajak Dilan main dulu yah. Aku mau melelapkan mataku sebentar."


"Iya udah. Tidur ke kamar biar enggak terganggu."


Beruntung punya suami yang pengertian.


Aku pun berjalan menuju kamar.


***


"Ara bangun dulu sayang," Mas Ardan membelai lembut pipiku.


"Aku pergi ke sawahnya Paman Ade sekarang, biar pekerjaanku cepat selesai.


"Iya Mas, kalau pekerjaannya sudah selesai, langsung pulang ya Mas." Aku bergelayutan ditangannya Mas Ardan yang sedang duduk di sampingku.


"Iya. Emang aku mau pergi kemana kalau enggak langsung pulang ke rumah." Dia melirikku.


"Siapa tau nanti ada yang godain di tengah jalan Mas langsung kepincut."


"Ara... Ara... Siapa yang mau, aku kan pergi ke sawah. Palingan digodain monyet." Candanya.


"He.. he..," Aku tertawa kecil.


"Mas hati-hati iya."


"Iya sayang." Dia mengecup lembut keningku dan berlalu pergi meninggalkanku.

__ADS_1


__ADS_2