Kehamilan Yang Tidak Aku Inginkan

Kehamilan Yang Tidak Aku Inginkan
part 13


__ADS_3

Perawat segera meminta Mas Ardan untuk mengumandangkan adzan untu bayi kami.


Aku mendengar Mas Ardan mengumandangkan adzan sangat merdu untuk bayi kami.


Hatiku menjadi tenang dan teduh.


"Setelah dua jam kalau tidak terjadi apa-apa kepada ibu dan bayinya. Maka ibu segera diperbolehkan pulang." Jelas perawat kepadaku.


"Kenapa tidak segera pulang saja." Aku ingin segera membawa pulang bayiku kerumah.


"Pulihkan kondisinya dulu ya. 2 jam itu tidak lama kok. Karena dari dulu ibu belum punya buku KIA maka saya isi dulu identitas ibu dan bayinya. Ada KTP nya Bu?"


"Ada." Segera Mas Ardan memberikan KTP ku kepada perawat itu.


"Bayinya diberi nama siapa?"


"Belum dipersiapkan. Boleh nanti kan."


"Oh Boleh Bu. Bayi ibu tadi lahir tepat hari Sabtu tanggal 25 November, pukul 12:10 WITA, dengan berat 2.5 kg dan panjang badan 49 cm." Perawat itu mendeskripsikan bayiku kepada ku dan Mas Ardan.


"Terimakasih Mbak." Kataku.


"Baik Bu. Saya tinggal dulu." Perawat itu berlalu meninggalkan kami.


"Mas tolong telpon bapak ku. Biar dia tau. Telpon juga orang tua mu Mas.


"Aku hampir lupa." Mas Ardan menepuk jidatnya.


Mas Ardan menghubungi bapakku melalui sambungan telepon video.


"Dimana kalian?" Tanya bapak ku yang kelihatan kaget melihatku terbaring disebuah ranjang klinik.


"Bapak ajak Dilan kesini dulu. Biar dia bisa ketemu adiknya." Pintaku sembari mengalihkan layar ponsel ke wajah bayiku.

__ADS_1


"Aaah. Jangan bercanda kalian." Bapak ku kelihatan sangat tidak percaya.


"Iya. Ajak Bi Ita juga kesini."


Tidak sampai 10 menit bapak sudah sampai di klinik.


"Apa kamu baru saja melahirkan?" Tanya bapak heran sembari menggendong Dilan.


"Iya. Dilan sini sayang. Cium adiknya dulu." Bapak mengarahkan Dilan kepada adiknya kulihat Dilan mencium adiknya penuh kasih sayang. Aku tersenyum melihat dia.


"Kapan kamu hamil Dara?" Bapak ku masih penasaran serasa tidak percaya dengan yang terjadi.


"Iya sebelum Dara melahirkan." Senyumku bercanda.


"Kenapa kamu enggak kasih tau Bapak atau Bi Ita?"


Aku tidak menjawab bapakku.


"Dimana Dara? Tanya ibu mertuaku kepada perawat.


"Silahkan, dikamar nomor 02 Bu." Perawat menuntun mertuaku.


"Dara kenapa kamu enggak cerita ke ibu?" Tanyanya. Kulihat keluarga dekat Mas Ardan datang mengunjungi ku. Mereka beramai-ramai datang setelah tau kabar aku melahirkan.


"Pantas Kaka sudah tidak pernah berkunjung ketempat kami." Timpal adik ipar ku.


"Ardan juga enggak pernah kamu cerita apa-apa. Kenapa sih kalian seperti tertutup sama keluarga." Kata Bang Salman kakak tertua Mas Ardan.


"Maaf Bu, maaf semuanya, aku yang selalu menghalangi mas Ardan untuk tidak cerita sama siapa-siapa. Aku merasa malu karena kehamilan ku rapat.


"Apa gunanya keluarga Dara. Kenapa harus malu. Kamu kan tau Salman dan Reza berurutan tahun lahir. Masih mending kamu Dilan sudah selesai menyusui, ya dia sudah waktunya punya adik." Kata mertuaku menyemangati.


"Kapan kalian bisa pulang?" Tanya Bang Salman.

__ADS_1


"Minta tolong tanya perawatnya bang. Aku rasa sudah 2 jam kita menunggu. Karena katanya tadi kalau kondisi ibu dan bayinya sudah pulih dalam waktu 2 jam sudah boleh pulang.


Bang Salman berlalu menuju ruang perawat.


"Apa Dara sudah boleh pulang?"


"Iya. Ini sudah hampir dua jam. Biar saya cek dulu kondisi ibu dan bayinya." Jawab perawat yang kemudian menemui ku.


"Sudah tidak ada yang dikeluhkan Bu?" Tanya perawat sembari mengecek tensi darahku.


"Tidak ada. Saya sudah merasa pulih." Jawabku.


"Tensi darah ibu 110/80 mmHg sudah normal. Bagaimana dengan bayinya Bu. Apa sudah bisa menyusu dari tadi." Perawat itu melirik bayiku.


"Sudah dari tadi dia tidak melepas susu saya. Hanya saya rasa payudara saya belum ada ASI nya." Jelasku kepada perawat.


"Itu Normal Bu. Yang terpenting dia tetap menyusui payudara ibu maka dengan sendirinya payudara ibu akan terisi ASI. Baik, Keadaanya sudah normal, ibu sudah bisa pulang. Suami ibu bisa ikut saya dulu untuk menyelesaikan administrasinya." Kata perawat menyimpulkan.


Perawat dan Mas Ardan berlalu untuk menyelesaikan proses administrasi.


Aku dibantu keluarga Mas Ardan menyiapkan kepulangan kami.


Setiba dirumah tetanggaku berkumpul didepan rumah menyambut kedatangan kami.


"Alhamdulillah Dara persalinannya lancar." Kata Dewi menyambut ku seraya membantuku berjalan memasuki rumah.


"Aku enggak tau kamu hamil Dara. Aku kaget mendengar kamu yang tiba-tiba melahirkan." Kata Nita.


"Syukur Alhamdulillah ibu dan bayinya sehat." Timpal Bu Ida.


Aku hanya bisa tersenyum mendengar perkataan mereka.


Mereka sangat bersukacita dengan kedatangan bayi baru tengah-tengah kita.

__ADS_1


__ADS_2