
Bi Rita menyambut kedatangan kami di rumahnya.
"Dilan, baru datang lagi kerumah nenek." Sapanya kepada Dilan, terlihat dia melirik tas besar di punggungku
"Iya Bi. Mau numpang mandi, dirumah air habis, airnya enggak bisa naik." Aku beralasan kepada Bi Rita.
"Sini Dion sama nenek." Bi Rita mencoba mengambil Dion di gendonganku.
Belum sempat Bi Rita menggendongnya, Dion sudah menangis sembari menatap ku.
"Dion rewel banget Bi. Dia enggak mau lepas sama aku, biar nanti kalau dia sudah tidur baru aku mandi."
Aku berusaha menidurkan Dion. Aku sudah sangat gerah mau mandi. Cukup lama untuk aku bisa lepas dari Dion. Walaupun matanya terpejam tapi mulutnya tidak bisa lepas dari pa**daraku.
***
Sudah 2 hari kita menginap dirumah Bi Rita. Mas Ardan tidak mengunjungi kami. Mungkin benar, ini akhir dari hubungan kita. Dion masih saja rewel. Aku merasa badannya agak sedikit terasa hangat.
"Dara, apa kamu enggak pulang dulu?"
"Enggak Bi. Sebenarnya aku meninggalkan Mas Ardan di rumah."
"Maksud kamu?" Tanya Bi Rita menyelidik ku.
"Bi Rita kan tau sewaktu kami disini kemarin Mas Ardan sudah janji tidak akan keluyuran lagi. Tapi kemarin dia keluar malam dan baru pulang pagi hari. Lalu kami pergi dari rumah." Aku menjelaskan apa yang sedang terjadi kepada Bi Rita.
"Dara apa kamu tidak kasihan sama anak-anak mu, Dion pasti kangen sama ayahnya makanya dia nangis terus."
"Bi, apa aku saja yang harus memikirkan anak-anak. Apa Mas Ardan tidak berpikir seperti itu makanya dia terus mengulangi kesalahannya."
"Ardan juga kenapa tidak mengunjungi kalian kesini. Apa dia tidak rindu kepada anak-anaknya."
Tanpa sepengetahuanku Bi Rita memvidio ku yang sedang menggendong Dion menangis dan mengirim Vidio nya kepada Mas Ardan.
"Ardan, ini anakmu nangis. Kangen sama kamu." Katanya, dan aku melihat dia mengarahkan ponselnya kepadaku.
__ADS_1
Dion sudah tidur, dan aku meletakkan dia di kasur. Aku mau sarapan sebentar.
Belum sempat aku selesai sarapan. Aku mendengar teriakan Dion seperti menjerit ketakutan. Aku berlari untuk melihatnya.
Betapa terkejutnya aku melihat Dion.
Bola matanya membelalak seperti terbalik, aku menggendongnya dan merasakan tubuhnya kaku. Serasa tubuhnya terus tersentak di gendonganku.
"Bibi....!!! Lihat Dion, anakku kenapa Bi?" Aku berlari mencari Bi Rita. Terasa kaki ku goyang, tapi aku berusaha tetap kuat.
"Kenapa... Kenapa..." Kata Bi Rita Panik.
"Dion... Dion... Kenapa sayang?" Terdengar suara Bi Rita berusaha menyadarkan Dion.
Aku menangis sejadi-jadinya. Entah apa yang terjadi kepada anakku. Aku hanya membayangkan Dion akan pergi meninggalkanku. Dilan mengusap pundakku.
"Mama jangan nangis, adik kenapa?" Dilan nampak bingung dengan apa yang sedang terjadi.
Aku melihat Bi Rita membawa Dion keluar rumah. Aku dengar suara orang sudah ramai didepan rumah Bi Rita.
"Sudah panggil Pak Ahmadi aja." Aku mendengar salah seorang dari mereka memberi saran untuk memanggil orang pintar didesa kami.
Dengan cepat mereka memanggil Pak Ahmadi. Sampai kedatangan Pak Ahmadi tiba Dion belum sadar. Pak Ahmadi meminta Bi Rita mengambil segelas air, terlihat mulutnya komat kamit membaca Doa ke air itu. Kemudian diminumkan kepada Dion lalu sisanya dibalurkan ke seluruh tubuh Dion. Akhirnya Dion bisa mengeluarkan suara dan menangis.
"Oh Anakku." Aku menciumnya dengan penuh kasih sayang.
"Ada apa dengan Dion Pak?" Tanya Bi Rita kepada Pak Ahmadi.
"Ada sedikit gangguan halus yang menggangunya mungkin anaknya sering diajak jalan sembarang waktu." Jelas Pak Ahmadi.
Aku melihat kedatangan Mas Ardan. Entah siapa yang mengabarkan dia tentang kejadian itu.
Belum sempat dia sampai kepada Dion. Terlihat tangan Dion mengerayang dan dia menangis meminta gendong kepada Mas Ardan.
Semua orang yang melihat kejadian itu menangis haru melihat pertemuan ayah dan anaknya.
__ADS_1
Aku dan Mas Ardan tidak saling menegur kita sama-sama cuek.
"Ini semua gara-gara kamu Mas." Batinku dalam hati
"Bi, lebih baik aku membawa Dion ke klinik. Takut dia kenapa-kenapa."
"Untuk apa dibawa ke klinik orang tidak sakit. Kan sudah di obati oleh Pak Ahmadi tadi." Kata Bi Rita menghalangiku.
Aku menggendong Dion, karena tadi mau meny*su. Setelah selesai menyusu aku menggendong Dion dengan posisi berdiri.
Belum ada satu jam setelah kejadian tadi, Dion menjerit di gendonganku dan terasa tubuhnya kejang.
"Bi... Lihat Dion." Kataku kepada Bi Rita.
"Sudah, kamu pulang saja. Biar dekat jangkauannya sama Pak Ahmadi.Ardan, kamu panggil Pak Ahmadi." Bi Rita menyuruhku pulang.
Kami pulang bersama. Mas Ardan berhenti didepan rumah. Kemudian dia memanggil Pak Ahmadi.
Dion sudah sadar sebelum kedatangan Pak Ahmadi.
"Pak, Dion kenapa? Dia kelihatannya masih lemah." Tanyaku kepada Pak Ahmadi.
"Begitulah efek dari gangguan makhluk halus, pasti korbannya akan menjadi lemah. Selalu beri Dion minum air ini nanti." Katanya sembari menyerahkan sebotol air kepadaku.
"Baiklah aku pulang dulu."
"Terimakasih banyak Pak."
Sebenarnya aku masih ragu dengan pendapat Pak Ahmadi. Aku masih ingin membawa Dion ke klinik.
"Mas, apa sebaiknya Dion kita bawa ke klinik." Untuk pertama kalinya aku menyapa Mas Ardan.
"Apa kamu tidak dengar apa kata Pak Ahmadi." Jawabnya ketus.
"Haah..." Aku hanya bisa menghela nafas panjang.
__ADS_1
Aku berharap Mas Ardan akan sadar setelah kejadian ini.