Kehamilan Yang Tidak Aku Inginkan

Kehamilan Yang Tidak Aku Inginkan
part 12


__ADS_3

Sayang lihat sini deh acara bikin laper ini memang benar-benar membuat ngiler." Mas Ardan memanggilku yang sedari tadi asyik menonton acara favoritnya.


"Karena mereka makan yang pedas-pedas itu yang membuat tambah selera." Jawabku.


"Ya udah kamu bikin menu yang pedas-pedas dong untuk menu makan malam." Pintanya.


Aku menuruti perintahnya. Aku goreng ikan lalu aku bikin sambal dengan banyak cabai.


Aku tambah lagi menu dengan tumis kangkung yang sangat pedas.


"Waooow... Mantap!!" Gumamnya di meja makan.


Kita kalap melahap semua menu super pedas yang ku hidangkan malam ini.


"Jangan banyak-banyak. Nanti kamu sakit perut." Mas Ardan menasehati ku yang sedang makan dengan lahap.


"Aku sangat berselera mas." Jawabku yang merasa sangat kepedasan.


Setelah selesai makan malam, kita duduk di beranda rumah untuk menikmati segarnya angin malam.


Aku merasa ada yang mengalir di kedua pahaku.


Aku penasaran kuambil tisu dan menyekanya. Aku kaget melihat segumpal darah bercampur lendir di tisu itu.


"Mas apa ini?" Aku menunjukkan tisu kepada Mas Ardan.


"Kamu sih tadi makan terlalu banyak pedas. Apa perutmu mulas?" Tanyanya mengernyitkan dahi.


"Enggak. Perutku enggak terasa sakit." Kataku.


Aku berpikir apa aku keguguran karena selama ini aku minum ramuan-ramuan untuk menggugurkan kandungan.


Apa ramuannya baru bereaksi sekarang.


"Kita tidur dulu udah jam sepulu nih." Mas Ardan melirik jam dipergelangan tangannya.


"Iya. Besok Mas juga harus bangun pagi masih pergi ke sawahnya Bi Rita. Kira-kira berapa hari lagi pekerjaannya selesai disana?" Tanyaku karena sudah seminggu Mas Ardan Keja disana.


"Palingan tinggal dua hari lagi. Kemarin hujan itu yang menghambat pekerjaan." Jelasnya.


Kita berdua berlalu menuju kamar.


Jam 12 malam aku terbangun.


"Sakit..." Aku meringis kesakitan bayinya serasa bergerak di perutku.


Menurut perhitunganku kandunganku belum genap berusia 7 bulan. Perutku juga belum kelihatan sangat besar seperti kehamilanku yang pertama.


"Sakit..." Aku semakin kesakitan merasa adanya kontraksi di perutku.


"Kenapa." Mas Ardan terbangun mendengar rengekan ku.


"Sakit Mas." Jelas ku.


"Makanya tadi jangan banyak makan pedas kan aku sudah peringati tadi."


"Mas temani aku ke kamar mandi dulu aku rasa aku mau buang air besar."


Mas Ardan lalu bangun menemaniku.


"Sudah belum?" Dia merasa aku terlalu lama di dalam kamar mandi.


"Aku tadi mencret Mas."


"Makanya jangan makan pedas lagi. Apa mulasnya sudah hilang?


"Iya. Sudah enggak seperti tadi sih."


Kemudian kita tertidur lagi.


Rasa sakit perutku mulai datang. Aku lihat perutku mengeras.


Aku berusaha menahan sakit, karena tidak mau mengganggu tidur Mas Ardan.


Aku bolak balik ke kamar mandi sendirian.

__ADS_1


Sekarang rasanya tidak seperti aku ingin buang air besar.


Di kamar mandi aku hanya kencing. Kencingku banyak sekali, dan itu berulang kali.


"Apa ini air ketuban?" Gumamku sendiri dikamar mandi.


Aku sudah tidak bisa tidur. Perutku semakin mengalami kontraksi. Jam 5 pagi aku mulai beres-beres rumah. Aku takut nanti seandainya apa-apa terjadi kepadaku rumah masih berantakan.


"Mas bangun. Sudah pagi." Ku bangunkan Mas Ardan karena kulihat jam menunjukkan pukul 6 pagi.


"Apa perutmu masih sakit." Tanya Mas Ardan terlihat khawatir.


"Sesekali sih Mas."


"Aku antar ke klinik ya, kamu mau lahiran itu." Sarannya.


"Masa lahiran kandungannya belum genap 7 bulan Mas. Mas pergi aja ke sawahnya Bi Rita biar pekerjaannya cepat selesai." Aku menguatkan diriku. Supaya Mas Ardan tidak merasa khawatir denganku.


Aku berjuang sendiri menahan rasa sakit ku.


Kontraksinya semakin terasa.


Beruntung Dilan sedang sama Kakeknya.


Jadi aku bisa fokus dengan diriku sendiri.


Keringatku semakin terasa bercucuran.


Aku tidak tahu harus minta tolong sama siapa.


Aku malu harus memanggil tetanggaku.


"Dara... Dara..." Aku mendengar suara Bi Rita.


Aku tidak bisa menjawabnya. Karena dia melihat pintu rumah yang tidak aku tutup dia segera menuju ke kamarku.


"Dara ayo ikut makan ke rumah ada Ardan di sana dia lagi istirahat makan siang." Aku mendengar suaranya di depan pintu kamar.


"Iya Bi." Jawabku lirih.


Bagaimana lagi ini.


"Ya Allah.... Rasanya tak tertahankan lagi." Lirihku.


Rasanya sudah seperti ada yang mau keluar, secara refleks aku mengejan menekankan tubuhku ke kepala ranjang.


Terdengar suara langkah kaki mendekatiku.


"Apa ini Mas Ardan?" Pikirku.


"Dara kamu kenapa?" Mas Ardan kaget melihatku yang sedang meringis kesakitan.


"Ayo Mas bawa aku ke klinik, ambil beberapa helai kain sarung Mas." Pintaku sembari menahan rasa sakit.


"Ayo... Ayo..." Mas Ardan dengan segera membopongku yang sudah tidak sanggup berjalan. Dia terlihat sangat panik.


"Kamu kenapa Dara?" Tanya Dewi yang melihatku di bopong Mas Ardan dan membantuku untuk bisa naik ke atas motor sepeda.


"Aku mau ke klinik Wi." Hanya itu yang bisa ku katakan kepada Dewi. Aku melihat dia heran.


Segera Mas Ardan memacu sepeda motornya.


"Mas... Cepat..." Teriakku menggenggam pundak Mas Ardan.


"Iya sabar, ini aku sudah ngebut."


Akhirnya kita sampai di klinik


Kita sampai dengan waktu kurang lebih 10 menit karena Mas Ardan memacu sangat cepat motornya.


"Tolong istri saya." Teriak Mas Ardan memanggil perawat di klinik itu.


"Mari... Mari Pak bawah ke kamar." Mereka menyiapkan kamar bersalin.


Aku lihat mereka akan mengecek ku.

__ADS_1


"Belum turun kepalanya nih." Kata salah satu perawat melirik temannya.


"Tidak. Saya ini keguguran." Jawabku yang terus meringis kesakitan.


"Maksud ibu?" Kulihat mereka menatapku heran.


"Kehamilanku belum genap berusia 7 bulan." Aku menjelaskan.


"Wah.. Lisa panggil ibu bidan dulu, aku belum berani menanganinya." Segera salah satu dari mereka berlari memanggil Bidan.


"Tolong saya... Tolong saya." Teriakku.


"Sabar Bu, tunggu Bidannya." Perawat itu menenangkanku.


"Iya sabar dulu ya sayang." Mas Ardan selalu mengenggam tanganku erat-erat.


"Bukunya mana?" Tanya Bu Bidan membuat diriku terhentak.


Aku hanya bisa menggelengkan kepala.


Seorang bidan segera menangani ku, ku lihat dia terciprat percikan air. Mungkin itu air ketuban.


"Jangan pegang perut saya Bu. Sakiiitt..." Teriakku menjerit.


"Ayo mengejan." Pintanya.


"Awww..." Refleks ku mengejan dan mengeluarkan suara.


"Sabar sayang yang kuat." Kudengar suara Mas Ardan lirih diatas kepalaku yang terus memberiku semangat.


"Sekali lagi, sudah kelihatan kepalanya."


"Mmmm...." Aku mengejan lagi.


"Sekali lagi."


Kuambil nafas dalam-dalam dan mengumpulkan segenap tenaga.


"Mmmmmmmm....." Dengan durasi yang lebih panjang aku mengejan.


"Akhirnya." Bidan menghela nafas lega.


Aku belum mendengar suara bayi menangis. Apa benar-benar aku melahirkan. Pikiran itu berkecamuk dikepalaku.


"Kenapa bayinya belum menangis?" Tanyaku penasaran.


Aku melihat seorang bayi mungil ditangan Bu bidan.


"Ini bayinya." Bidan memperlihatkan bayiku dia baru menangis setelah bertemu denganku.


Kulihat wajahnya memerah dan mulai menangis.


"Apa bayinya sehat, tidak kurang satu apapun, bayinya laki-laki atau perempuan." Aku menghujam begitu banyak pertanyaan disaat yang bersamaan.


Lalu Mas Ardan memelukku erat-erat.


"Selamat bayi ibu laki-laki, bayi ibu sehat dan normal biar dibersihkan dulu sama perawatnya," Bu bidan menyerahkan bayi ke perawatnya.


"Bukunya mana Bu?" Tanya bidan itu. Sembari membersihkan ku.


Aku bahagia mendengar tangisan anakku,


Seketika aku menangis terharu di pelukan Mas Ardan.


"Saya enggak punya buku." Jawabku lirih.


"Kenapa bisa. Apa ibu tidak pernah periksa." Tanyanya memperhatikanku.


"...." Aku hanya menggelengkan kepala.


"Kenapa bisa ada kejadian seperti ini. Bagaimana seandai kondisi ibu dan bayinya memburuk, apa yang akan kami lakukan Bu. Jangan sampai terulang kejadian seperti ini." Bu bidan menasehati ku dengan wajah kesal.


Aku terima kesalahanku.


Syukurlah proses persalinanku menjadi lancar dan mudah tanpa dilakukan induksi perangsang.

__ADS_1


Karena waktu kehamilan pertama aku sempat di induksi karena aku mengalami kontraksi yang lama.


__ADS_2