Kehamilan Yang Tidak Aku Inginkan

Kehamilan Yang Tidak Aku Inginkan
part 16


__ADS_3

Matahari bersinar terang, aku mengajak Dion berjemur.


Banyak orang yang akan beraktifitas ke sawah melewati depan rumah menyapa kami.


"Dilan sudah punya adik. Siapa nama adiknya?" Tanya seseorang yang hendak pergi ke sawahnya.


Dilan hanya terdiam. Aku pun tersenyum.


"Nak, kalau ada yang tanya nama Adiknya bilang namanya Dion, Dion Dwinanda."


"Ion..." Katanya lirih sambil mencubit lembut pipi adiknya.


Mas Ardan pagi sekali sudah pergi ke sawah.


Supaya cepat selesai membajak sawah dan bisa menanam padi.


Tanpa bisa menunggu ku mandi. Akan tetapi dia sudah menyiapkan sarapan untuk kita.


Selesai berjemur, ku mandikan Dion, lalu aku menyusuinya hingga dia tidur pulas.


Baru aku bisa mandi dan mengurus Dilan.


Aku juga berusaha untuk bisa mengerjakan pekerjaan rumah perlahan-lahan.


Terdengar tangisan Dion, saat aku mencuci baju. Aku berlari melihatnya ke dalam kamar.


Aku melihat Dilan di samping adiknya.


"Adiknya nangis pasti tadi diganggu." Kataku menyalahkan Dilan.


Kulihat dia hanya menggeleng.


"Dilan main sendiri dulu diluar. Kalau adiknya bobo jangan diganggu pekerjaan mama belum selesai." Kataku kesal sambil meminta Dilan pergi keluar kamar.


"Mama.... Hiks... Hiks..." Dilan menangis.


Belum selesai aku menyusui adiknya. Dilan sudah nangis. Bagaimana aku menenangkannya.


"Dilan... Kamu nangis aja, mama ngomong sedikit kamu sudah nangis." Bentakku kepadanya.


Sekarang aku sering memarahi Dilan. Aku tidak bisa menahan emosi ku. Seolah-olah dia terus saja membuat kesalahan dimata ku.


Jauh didalam lubuk hatiku, aku menyayanginya, aku sangat menyayangi kedua anakku.


Entah kenapa denganku yang selalu saja memarahinya.


"Assalamu'alaikum." Terdengar suara Mas Ardan yang baru pulang dari sawah.


"Waalaikumsalam." Jawabku.


"Aku antar berkas untuk bikin Akta kelahirannya Dion sekarang ya."


"Iya. Lebih cepat, lebih baik. Memangnya mas sudah selesai bajak disawah?" Tanyaku heran melihat Mas Ardan yang pulang lebih awal.

__ADS_1


"Tinggal satu petak. Biar besok aja sambilan menanam padi." Jelasnya kepadaku.


"Memang sudah bisa menanam?"


"Sudah. Aku minta bantuan Bi Rita dan teman-temannya."


"Syukurlah mereka bisa membantu kita."


Dari siang sampai sudah magrib seperti ini Mas Ardan belum pulang kerumah. Apa yang dia lakukan sampai jam segini belum pulang kerumah. Padahal dia tahu aku kerepotan kalau dia tidak ada dirumah.


Aku menunggunya diruang tamu.


Terdengar suara kaki Mas Ardan didepan pintu, kemudian dia membuka pintu.


"Mas dari mana saja?" Tanya kukesal.


"Tadi ada urusan." Jawabnya.


"Urusan apa. Masa tinggal ngantar berkasnya pulang sampai jam segini." Aku melihat jam didinding menunjukkan pukul 18:45 wib.


"Argh... Enggak usah ribut." Pungkasnya dan berlalu meninggalkanku menuju kamar.


Mas Ardan langsung tidur disamping anak-anak.


Aku tidak menawarinya makan, karena aku masih kesal.


Aku duduk diruang tamu sambil melipat pakaian.


Kalau jam segini Dion nyenyak tidurnya. Palingan nanti jam 10 malam baru dia bangun untuk menyusui lagi.


Jam menunjukkan pukul 19:30 wib. Aku memejamkan mataku.


"Uwwaa... Uwwaaw..." Aku terbangun mendengar tangisan Dion yang sangat kencang.


"Sini nak, ***** dulu. Apa kamu sudah bangun dari tadi?" Kataku sambil menatap malaikat kecilku digendongan.


Mas Ardan tidak ada disampingnya Dilan.


Mungkin dia ke kamar mandi. Sampai aku selesai menyusui Dion, Mas Ardan belum kembali juga.


Ku ganti popok Dion dan aku meletakkan dia yang sudah tertidur disamping abangnya.


Aku melihat Mas Ardan ke kamar mandi. Tidak ada orang disana. Aku mencari di seluruh bagian rumah, Mas Ardan tetap tidak ada.


Aku mencoba membuka pintu, kulihat kunci pintu rumah sudah terbuka.


"Mmmm... Mas Ardan sudah keluar." Gumamku.


Segera saja aku mengambil ponselku untuk segera menghubunginya, ternyata ponselnya berdering diatas meja kamar.


"Apa sengaja dia meninggalkan ponselnya?" Tanya ku heran.


Kemana sebenarnya Ardan.

__ADS_1


Apa tidurku terlalu nyenyak, hingga tidak menyadari kalau Mas Ardan keluar rumah.


Segera saja aku tidur, aku tidak mau memikirkan dia kemana, toh nanti dia akan pulang.


Suara adzan subuh terdengar menggema di masjid.


Aku melihat ke samping Dilan. Belum ada Mas Ardan disana.


"Ya Allah, apa semalam suamiku tidak pulang?" Gumamku. Aku takut terjadi sesuatu kepadanya, karena selama ini dia tidak pernah tidak pulang semalaman.


Dreeeet....!!!


Terdengar suara pintu dibuka sangat pelan sekali.


"Mas Ardan..." Aku memanggil namanya, khawatir orang lain yang masuk, karena tadi aku tidak mengunci pintu.


"Mmmm." Terdengar suara Mas Ardan bergumam.


Segera aku menyusul dia keruang tamu, agar tidak ribut dikamar didengar anak-anak.


"Kamu semalam kemana saja. Kenapa tidak pulang?" Tanyakubdengam suara yang tinggi kepadanya.


"Ahhh... Aku ada urusan diluar." Jawabnya singkat.


"Urusan apa. Dari semalam kamu bilang ada urusan. Sampai-sampai kamu keluar tidak ijin." Kataku semakin marah.


"Aku mau tidur sebentar, nanti kamu bangunin aku jam 7 biar aku kesawah." Pintanya dengan santai sembari membaringkan tubuhnya diatas sofa.


"Enak saja kamu ya. Mau tidur tanpa penjelasan." Aku mengambil bantal di sofa, dan aku lempar dengan keras bantal itu ke mukanya.


"Apa sih kamu. Sudah dibilangin ada urusan diluar." Katanya beranjak dari sofa karena tidak terima dengan perlakuanku.


Dia berlalu menuju kamar lalu tidur disamping anak-anak.


"Cari aman ya kamu." Aku masih sangat marah dengan dia.


Dia memilih tidur disamping anak-anak supaya aku tidak bisa lagi mengganggunya.


Aku melihat jam didinding sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Aku tidak mau membangunkan Mas Ardan.


"Dara... Kenapa enggak bangunin aku." Dia menyampariku dihalam rumah yang sedang menjemur Dion.


Aku tidak menggubrisnya. Dia berlalu meninggalkan kami.


Sesampai didalam rumah aku memandikan Dion.


Kemudian aku menyusuinya, dan dia tertidur pulas lagi.


"Dilan, kita bikin nasi goreng ya..." Aku mengajak Dilan ke dapur karena aku sangat lapar.


"iya... Ian suka..." Teriaknya bersemangat.


Tadi aku tidak menyiapkan sarapan untuk Mas Ardan. Terserah dia mau makan dimana.

__ADS_1


Aku masih sangat marah dengan dia.


__ADS_2