Kehamilan Yang Tidak Aku Inginkan

Kehamilan Yang Tidak Aku Inginkan
part 10


__ADS_3

Dara kita pergi ke rumah Bi Narti ya sekarang."


Ajak Mas Ardan kepadaku.


"Aku belum siap Mas. Disana ramai." Aku menolak.


"Ayo Dara. Aku enggak enak dari kemarin masa yang pergi hanya aku mereka semua menanyakan kamu." Mas Ardan berusaha keras mengajakku ke rumah Bi Narti.


Akhirnya aku mengalah dengan menerima ajakannya.


"Dara kenapa baru kelihatan." Sapa Bi Narti kepadaku.


"Dari kemarin aku enggak enak badan Bi." Aku beralasan sakit.


"Mari masuk ke dalam bantu yang lainnya bikin kue." Ajak Bi Narti.


Didalam rumah ku lihat semua sepupuku berkumpul dan juga keluarga ku yang lainnya.


Mereka membuat beraneka macam kue.


"Dara kok baru datang." Teriak Kak Dania menghampiriku.


"Dari kemarin Dara pusing." Alasanku.


"Kemarin kakak enggak sempat nyamperin kamu. Kakak langsung sibuk bikin kue disini." Katanya.


"Enggak apa-apa Kak. Aku aja yang telat kesini."


Aku merasa risih disana.

__ADS_1


Aku merasa semua orang melirikku.


"Dara kamu hamil nak?" Tanya Bu Eni kepadaku.


"Enggak Bu." Pungkas Ku.


"Badanmu semakin berisi aja." Selidiknya.


"Kamu hamil tuh Dara. Bokong Mu itu kelihatan besar." Timpal Kak Desi.


"Enggak." Aku tetap saja dengan jawabanku.


"Serius Dara. Bokongmu seperti bokong orang hamil." Selidik Desi semakin penasaran.


"Kamu kayak bidan aja." Jawabku kesal.


"Aku ya, ngurus anak satu aja enggak sanggup. Apalagi harus segera di kasih dua anak." Kata-kata Kak Desi seperti menyinggungku.


"Iya sih. Aku kalau untuk sekarang satu anak aja dulu. Tunggu Deva umur 10 tahun baru aku kasih Adik." Jawabnya lirih.


Akhirnya aku bisa melewati ketakutan untuk hari ini.


Acara yang kita tunggu-tunggu sudah tiba.


Tepatnya tanggal 10 November pernikahan Kak Darwin dilangsungkan.


"Loh Ra kenapa enggak pakai baju yang sama?" Tanya Kak Dania menyapa aku yang memakai baju warna abu-abu.


Semua keluarga dari mempelai pria memakai baju berwarna Biru langit.

__ADS_1


"Baju ku yang warna biru di pinjam Stela belum dikembalikan kak. Dia aku chat enggak di balas-balas." Alasan ku kepada Kak Dania. Aku sengaja memakai baju ini karena modelnya yang agak gombrang.


"Ganti pakaian dulu gih, kemarin kakak bawa dua baju yang warna ini." Pinta kak Dania.


"Enggak usah kak. Enggak apa-apa kok." Aku menolak.


"Ayo Ara... Acaranya juga belum dimulai." Kak Dania memaksaku. Kita memasuki sebuah kamar dirumah Bi Narti.


"Ini bajunya. " Dia memberikanku sehelai pakaian. Aku melihat model bajunya sedikit ketat.


"Kak ini bajunya kesempitan." Perasaanku menjadi tidak karuan. Bagaimana jadinya aku berganti pakaian didepan Kak Dania.


"Sini.., sini Kakak bantu." Dia melepaskan resleting bajuku hanya tinggal korset yang tersisa dibadanku.


"Dara. Kamu beneran hamil?" Dia melirik perutku yang tampak menyembul.


"E em." Aku hanya mengangguk. Untuk pertama kalinya aku mengakui kehamilanku kepada orang lain.


"Kenapa enggak ngomong dari kemarin Ra? Kemarin ditanya jawabnya enggak." Tanya kak Dania penasaran.


"Aku bingung kak. Aku belum siap hamil." Jawabku. Air mata terasa mengalir dipipiku.


"Udah jangan ngomong gitu. Seiring kamu melahirkan semuanya akan bisa kamu atasi,"


Kak Dania memeluk dan menenangkanku,


"Pakai bajunya dulu biar nanti kita Poto keluarga bajunya seragam.


"Iya kak." Segera aku memakai baju yang dipinjamkan kak Dania.

__ADS_1


Semua keluarga tampak bersuka cita diacara pernikahan kak Darwin.


Tidak terkecuali aku. Aku melupakan sejenak beban dipikiran ku.


__ADS_2