Kehamilan Yang Tidak Aku Inginkan

Kehamilan Yang Tidak Aku Inginkan
part 7


__ADS_3

"Aduh.. apa ini di perutku sepertinya ada gerakan." Aku memegang perutku.


Kalau kata orang tua di desa ku kalau janin sudah ada pergerakannya berarti kehamilan sudah memasuki usia lima bulan.


"Mas... Sini deh pegang perutku. Ada yang bergerak." Aku menuntun tangan Mas Ardan memegang perutku.


"Ini kan Dede nya. Syukur Alhamdulillah dia aktif, mudah-mudahan selalu sehat ya nak. Jangan bikin mama capek. Jangan bikin Mama kesal juga ya." Mas Ardan mengelus lembut perutku seraya menitipkan pesan.


"Mas. Aku enggak mau hamil." Aku mulai menitikkan air mata.


"Sayang enggak baik ngomong begitu. Syukur-syukur nanti anaknya lahir perempuan." Mas Ardan menyemangati ku.


"Enggak Mas. Anak ini laki-laki. Sama saja rasanya waktu aku hamil Dilan." Aku memungkiri perkataannya.


"Laki perempuan itu enggak penting, yang penting istri dan anakku selamat. Diluar sana masih banyak orang yang berdoa tiada hentinya mengharap kehadiran seorang anak. Kenapa kita tidak mensyukuri kehadiran anak ini." Mas Ardan meyakinkanku.


"Kalau anak ini lahir kamu kasih aja ke Irfan, aku enggak usah lihat dia." Irfan temannya Mas Ardan yang sudah tujuh tahun menikah belum juga dikaruniai momongan.


"Sadar... Dara. Ini anak kita. Anak aku dan kamu.


Apa alasanmu menolak kehadirannya?" Bentaknya marah kepadaku.


"Aku malu mas. Aku malu hamil dalam waktu secepat ini." Aku menangis dipelukan mas Ardan.


"Besok kita pergi ke klinik biar kamu punya buku KIA." Ajak mas Ardan.


"Enggak Mas." Aku menolak.


"Kenapa enggak-enggak terus. Besok sekalian kita jemput Dilan kita mampir ke Klinik."


"E.. em." Aku mengangguk.

__ADS_1


***


Jam 8 pagi kita menuju rumah bapak ku.


"Dilan... Dilan." Mas Ardan memanggil Dilan.


"Gak ada orang Mas. Tapi pintunya kebuka. Kita masuk aja." Pintaku kepada Mas Ardan.


"Mungkin lagi mandi. Coba lihat ke belakang." Mas Ardan menyuruhku mencari Dilan.


"Eh... Lagi mandi." Ku temukan Dilan dikamar mandi sedang dimandikan Bi Ita.


"Ian mau ke kota Ma." Serunya kepadaku.


"Ayah ada didepan Nak. Kita pulang ya." Aku mengajaknya pulang dengan lembut.


"Ian mau pelgi sama nenek." Pungkasnya lagi.


"Bi Ita aku boleh ajak pulang Dilan dulu ya. Aku enggak enak sama ayahnya."


"Ayah..." Dilan menyampari Mas Ardan yang menunggunya.


"Kita pulang dulu ya nak." Ajak Mas Ardan lembut.


"Ian mau ikut nenek ke kota."


"Sayang, pergi ke kotanya nanti sama Ayah dan Mama nya ya." Bi Ita membujuk Dilan.


"Enggak." Dilan menggelengkan kepalanya.


"Kakeknya lama nih. Mungkin masih sibuk urus sapinya. Dilan pergi sama Ayahnya dulu ya." Bi Ita berusaha keras membujuk Dilan.

__ADS_1


Dengan terpaksa Dilan pun ikut pulang bersama kita.


"Sayang nanti kita periksa Ade ya." Mas Ardan mengajak Dilan ngobrol di atas motor.


"Benelan Ian puna Ade?" Tanyanya kegirangan.


"Mas gak usah ribut dulu." Pungkas Ku.


"Emang salah dia tahu. Biar dia terbiasa jadi seorang Abang." Mas Ardan memberiku pengertian.


Mas Ardan memberhentikan motornya di depan sebuah klinik di Kecamatan ku.


"Turun dulu." Pintahnya.


"Enggak Mas." Perasaanku menjadi enggak karuan.


"Kita sudah sampai di sini kita cek aja biar tahu kesehatan anak kita."


"Enggak Mas." Aku tetap kekeh dengan jawabanku.


"Tadi malam kan sudah janji."


"Aku belum siap mas. Tolong mengerti aku." Aku mulai menangis.


"Sampai kapan. Dari kemarin juga aku sudah coba selalu mengerti dan memahami kamu.


Aku peduli. Aku peduli Dara." Mas Ardan meninggikan suaranya. Dia terlihat sangat emosi.


"Mama jangan nangis." Dia memelukku erat-erat. Ku dengar suara Dilan lirih. Sepertinya dia takut mendengar suara ayahnya yang kasar.


"Ok.. Ok.. kita pulang. Aku turuti semua kemauan mu sekarang." Mas Ardan naik kembali ke atas motornya.

__ADS_1


Aku merasa takut berada dibelakangnya.


Suasana menjadi hening. Aku berusaha menyeka air mataku.


__ADS_2