Kehamilan Yang Tidak Aku Inginkan

Kehamilan Yang Tidak Aku Inginkan
part 21


__ADS_3

Selama 110 hari kita menunggu akhirnya musim panen telah tiba. Hatiku merasa senang. Sebentar lagi kebutuhan anak-anak bisa aku penuhi. Popok Dion mulai habis, itu aja aku menghemat pemakaiannya. Tidak akan lagi aku mendengar rengekan Dilan minta jajan karena setelah panen kita akan punya uang.


Mas Ardan dibantu temannya memanen padi disawah. Sekarang dia tidak bekerjasama dengan Irfan lagi. Dia memberitahuku bahwa akan mengajak anak bujang temannya nongkrong selama ini.


Sebenarnya aku keberatan, takut mereka mengajak Mas Ardan judi lagi. Tapi sudahlah, yang penting pekerjaan di sawah cepat selesai.


Setelah seminggu memanen akhirnya selesai juga. Mas Ardan hanya memberiku uang 500 ribu. Aku kaget karena sangat beda dari hasil tahun kemarin saat aku masih bisa membantunya.


"Ini uangnya dari hasil jual padi tadi." Dia menyerahkan 5 lembar uang merah kepadaku.


"Kok cuma segini." Kataku kaget sambil memelototi uang itu di tanganku.


"Hasil panen kita kurang sekarang. Kemarin aku kurang merawat padinya, aku juga harus membayar orang-orang yang membantuku, dan sebagian padi kita sisakan untuk kita makan."


"Tapi ini beda sekali dari hasil tahun lalu. Ini kalau kita belanja semua keperluan sekarang langsung habis uangnya." Aku masih belum percaya dengan jumlah uang yang aku pegang saat ini.


"Sudah. Jangan khawatir. Sekarang kan orang-orang sudah panen semua. Nanti aku bisa bantu-bantu untuk menambah uang belanja mu." Mas Ardan menenangkanku.


Mas Ardan mengajakku pergi belanja.


Aku membeli popok Dion, sabun mandi, sabun cuci, dan juga aku melengkapi kebutuhan dapur.


Tinggal 100 ribu uang yang tersisa di tanganku. Tidak berani aku menghabiskan semuanya.


***


"Aku pergi ke sawahnya Herman dulu, mau bantu dia angkut padinya."


"Iya. Hati-hati."


Sore hari baru Mas Ardan pulang kerumah.


"Ini uang hasil aku angkut padi tadi." Dia hanya memberiku uang 50 ribu.


"Memangnya berapa karung yang diangkut?" Tanyaku heran.


"Aku tadi bisa angkut 20 karung. Satu karungnya di bayar 10 ribu. Padinya belum dijual, Herman hanya kasih aku uang bensin aja tadi." Jelasnya kepadaku.


"Oh." Kataku menerima penjelasannya.


Malam Hari Mas Ardan minta ijin untuk pergi kerumah Herman.


"Dara, aku mau ke rumah Herman dulu, siapa tau dia sudah ada uang."

__ADS_1


"Iya. Pulangnya jangan lama-lama." Aku memberinya peringatan.


"Siiip bos." Dia berlalu meninggalkanku.


Aku melihat jam di hp sudah menunjukkan pukul 24:00. Mas Ardan belum juga pulang.


"Belum pulang juga Mas Ardan. Mungkin sebentar lagi." Pikirku dan memilih untuk tidak menghubunginya.


Ternyata aku tertidur lagi. Dan bangun lagi jam 2 dini hari.


"Iiiih... Mas Ardan ini. Apa dia ketiduran di rumah Herman." Aku kesal dan segera menghubungi ponselnya.


Dua kali aku memanggil nomor ponselnya tidak ada jawaban.


Setelah beberapa lama terdengar suara ketukan pintu dan suara Mas Ardan memanggilku.


Aku segera menuju pintu dan membukakan pintu untuknya.


"Katanya kerumah Herman sebentar. Nah ini sudah sampai jam 2, kenapa enggak sekalian nginap aja disana." Kata ku kesal sambil berlalu meninggalkannya ke kamar.


"Tadi ramai disana nonton main bola, enggak enaklah pulang teman masih ramai." Dia memberikan alasan dan menyusul ku ke kamar.


"Ditelepon juga enggak diangkat." Aku merebahkan tubuhku diatas kasur sambil terus mengomel.


"Kan malu masih banyak teman, nanti mereka malah bercandaiin aku." Mas Ardan juga ikut rebahan di sampingku.


"Iya sayang." Dia lalu meliukkan tangannya di pinggangku, untuk mengambil hatiku.


"Apa sudah ada uangnya?"


"Belum. Tau ni sih Herman, ajak kerja tapi uangnya belum ada."


"Sabar Mas mungkin dia belum sempat jual padinya."


Sudah seminggu Mas Ardan bekerja sama orang untuk angkut padi, selalu saja uang yang dikasih ke aku hanya 50 atau 100 ribu. Alasannya kadang uangnya belum dikasih atau enggak uangnya dipinjam teman.


Aku curiga dia masih berjudi. Orang kalau sudah kecanduan berjudi mana bisa lihat uang, maka akan dia pertaruhkan dimeja judi.


Aku masih belum percaya sepenuhnya dengan janji Mas Ardan bahwa dia tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.


***


Kabar Mas Ardan yang sering berjudi terdengar sampai ke teling bapakku. Pagi ini Dia datang mengunjungi kami. Dia sudah jarang datang karena Dilan sudah tidak mau ikut dengannya. Terkadang Bapak hanya mampir sebentar sekedar memberikan uang belanja untuk Dilan.

__ADS_1


"Dilan..." Suaranya di halaman rumah memanggil Dilan.


Aku lalu membuka pintu, ku persilahkan bapak masuk ke rumah.


"Dilan, ini kakek mu datang." Aku memanggil Dilan yang sedang asyik nonton TV.


"Dion... Dion udah gede ya. Dilan sini sama Kakek." Bapak menyapa Dion yang sedari tadi asyik bermain denganku dan tidak lupa menyapa Dilan.


Tapi Dilan tidak ada respon tetap saja asyik menonton TV.


"Sudah berapa bulan? Sudah bisa ketawa ternyata." Bapak kelihatan gemes melihat Dion yang tertawa sepertinya senang dengan kedatangan dirinya.


"Sudah 4 bulan 2 Minggu." Kataku.


"Dion. Dion senang ya." Sembari bapak mencubit lembut pipinya.


Semakin saja Dion asyik tertawa.


Sementara Dilan yang sedari tadi asyik menonton tiba-tiba datang menghampiri kakeknya, lalu memukul keras-keras kaki kakeknya, terlihat raut wajah Dilan sangat marah.


"Kenapa... Kenapa ini.?" Tanya Bapak heran.


"Bapak sih asyik main sama Dion aja." Kataku.


"Oh jadi ceritanya dia iri. Tadi dipanggil cuek." Kata bapakku.


"Ardan mana? Masih tidur." Tanya bapak kepadaku.


"Ehh. Iya." Aku tahu bapak akan marah kalau tau Mas Ardan masih tidur jam segini, tapi aku tidak bisa berbohong kepadanya.


"Nah. Gitu kalau malam tidak tidur, kerjaannya keluyuran, habisin duit. Jadi malas." Katanya dengan raut wajah kesal.


"Mas Ardan sering angkut padi, jadi kecapaian." Kataku membela sedikit.


"Memang gitu namanya kerja. Mana ada yang enggak capek. Kalau jam 9 belum bangun apa yang akan kita dapat." Dia terus saja mengomel kepadaku.


"Bapak coba ngomong langsung sama Mas Ardan, biar dia sadar diri. Bapak sebagai bapak mertuanya memang pantas untuk menasehatinya." Kataku kesal bosan mendengar dia mengkritik Mas Ardan didepan ku.


"Ahhh... Terserah. Bapak tidak mau terlalu jauh mengurusi. Bapak hanya bisa pantau kalian saja."


"Kalau hanya dipantau semakin menjadi saja nanti, setidaknya kalau bapak tau dia berbuat salah harus dinasehati."


"Bapak pulang dulu. Ini buat Dilan jajan."Bapak memberikan selembar uang merah kepadaku, kemudian dia berlalu meninggalkan rumah.

__ADS_1


Aku ditambah pusing dengan omongan Bapak tadi, seolah aku yang menampung kekesalannya terhadap Mas Ardan. Nanti kalau aku yang sampaikan kepada Mas Ardan pasti jadi salah.


Bapakku memang jarang ngomong dengan Mas Ardan, sepertinya juga Mas Ardan menghindari bertemu dengan Bapakku.


__ADS_2