Kehamilan Yang Tidak Aku Inginkan

Kehamilan Yang Tidak Aku Inginkan
part 25


__ADS_3

Dion sudah bisa berdiri ya... Uuhh... Sayangnya Mama." Aku senang sekali melihat pertumbuhan anakku.


"Mmmuuuachh." Ciuman hangat Dilan mendarat di pipi adiknya.


Dion menangis karena kelakuan abangnya. Dion tidak suka diganggu ketika asyik bermain.


"Masa di sayang abangnya nangis." Kata ku lalu menggendong Dion.


Aku senang melihat pertumbuhan Dion.


Sekarang usia Dion tepat berusia sembilan bulan.


Dia sudah bisa duduk sempurna, merangkak, dan sesekali aku melihat dia mencoba berdiri dengan memegang sisi meja dan kursi.


Hari ini ada jadwal posyandu di desa kami.


Aku selalu kerepotan saat pergi posyandu karena harus membawa dua anak sekaligus.


Sebenarnya aku malas pergi posyandu, tidak seperti waktu Dilan masih bayi aku rutin posyandu setiap bulan.


Karena Dion akan di imunisasi campak makanya aku harus pergi. Aku meminjam motor Dewi agar Mas Ardan bisa mengantar kami ke tempat posyandu biar cepat sampai. Nanti kalau waktu pulang kita bisa jalan kaki.


"Baru kelihatan ya Dilan." Sapa salah seorang kader posyandu yang menyambut kedatangan kami.


Aku hanya tersenyum membalas sapaannya sembari berlalu masuk ke area posyandu.


"Kita timbang dulu ya nak." Kataku kepada Dilan dan Dion.


Dion mulai merengek. Dia takut masuk ke sarung dacing timbangan.


Lain dengan Dilan yang selalu antusias saat penimbangan.


"Lihat Abang nak. Tuh abangnya sudah ditimbang enggak nangis." Aku berusaha menenangkan Dion.


Dion tetap saja menangis kencang ketika aku menaikkannya ke atas timbangan.


Aku membantu kader posyandu untuk bisa mengetahui berat badan Dion.


"9,3" ucap kader posyandu memberitahuku berat badan Dion.


"Kalau Dilan berapa berat badannya tadi?"


"11.5" jawabnya.


Aku kemudian membawa Dion menuju tempat Menteri untuk mendapatkan imunisasi campak.

__ADS_1


Dion melihat temannya diimunisasi, malah dia yang nangis histeris.


"Dion... Dion... Kamu nangis aja kerjaannya." Kataku yang mulai pusing dengan tangisan Dion.


"Dion Dwinanda." Menteri memanggil namanya yang pertanda dia akan segera diimunisasi.


"Tenang ya adek. Sebentar kok. Tolong diangkat lengan baju anaknya Bu." Menteri itu berusaha menenangkan Dion.


Aku mengangkat lengan baju Dion. Dan mencoba memeluk badannya erat-erat supaya proses imunisasinya berjalan lancar.


"Hwwwaaaaa... Hwaaaa..." Tangisan Dion pecah saat jarum suntik mulai menusuk lengannya.


"Sabar nak." Aku memejamkan mata. Tidak tega melihat anak ku merasa kesakitan.


"Nah. Sudah." Kata Pak menteri.


Mendengar Pak menteri sudah selesai, aku baru berani membuka mataku.


"Apa suntik campak membuat dia demam nanti?" Tanya ku kepada Menteri.


"Iya. Efeknya akan sedikit demam. Itu normal pertanda imunisasinya bereaksi untuk daya tahan tubuh anak. Nanti berikan obat ini sebagai penurun demamnya." Pak Menteri menjelaskan sembari memberiku sepotong pil untuk Dion.


"Terimakasih Pak." Ucapku dan berlalu dari tempat Pak Menteri.


Aku menenangkan Dion, baru kemudian aku ajak anak-anak ku pulang.


Dion yang masih sesenggukan menangis hanya bisa menganggukkan kepalanya.


Dilan yang dari tadi melihat adiknya menangis hanya terdiam, terlihat raut wajahnya sedih dan terus menggenggam tanganku.


"Dilan kuat jalan. Kita pulangnya jalan kaki ya nak." Aku mengajak Dilan jalan kaki, jarak dari tempat posyandu ke rumah lumayan jauh.


"Iya Mah." Katanya lirih.


"Nanti di warung sana kita beli balon." Aku mengimingi Dilan supaya semangat berjalan kaki.


"Mama... Beli balon." Dilan mulai merengek melihat warung yang semakin dekat.


"Iya. Tunggu sampai sayang."


Kita sampai di warung. Dilan menunjuk balon yang menggantung di depan pintu warung. Dia juga menuju cooler untuk mengambil sebotol teh dingin.


"Jangan yang itu nak. Nanti batuk." Aku menyarankan dia untuk mengambil minuman yang belum terpajang di cooler.


"Biarin aja." Kata pemilik warung.

__ADS_1


"Iyalah dibiarin. Namannya orang jualan." Batinku dalam hati.


"Anak mu sehat-sehat ya, walaupun ibunya kurus." Timpal pemilik warung itu.


Julid sekali pemilik warung ini. Ingin rasanya aku segera meninggalkan warung itu.


"Berapa semuanya?" Tanyaku.


"15.000 rupiah."


Aku mengambil uang dari dalam dompet lalu membayar belanjaan kami.


Untung Dion tertidur, jadi dia tidak ikut merengek minta ini itu di warung tadi.


Nafas ku sudah terpengal karena terik matahari dan beratnya Dion yang harus ku gendong.


Aku kagum dengan Dilan yang semangat berjalan dari tadi.


Setibanya di rumah. Aku mendapati Mas Ardan sedang berbaring santai di depan TV.


"Gini nih kalau enggak ada motor. Kita harus jalan dari tempat yang jauh." Kata ku yang masih ngos-ngosan menyindir Mas Ardan.


"Dara... Kamu yang sabar. Kalau ada motor kan selalu aku antar jemput." Kata Mas Ardan lalu bangun dan membantuku membuka gendongan Dion.


"Makanya Mas, sebelum bertindak itu dipikir dulu, lihat ini dampaknya untuk kita." Aku terus saja mengomelinya.


"Nanti aku beli mobil untuk kita." Dia megelitik pinggangku.


"Ih. Apaan sih." Aku tertawa sedikit karena merasa geli.


Dion akhirnya bangun karena merasa terlepas dari gendonganku. Dia menangisi minuman dingin di tangan abangnya. Aku tadi lupa membeli yang tidak dingin untuk Dion.


"Makanya cepat dihabisin tadi minumannya." Kataku kepada Dilan.


"Dion tadi pergi kemana?" Tanya ayahnya untuk mengalihkan perhatian Dion.


"Coba kasih tau ayahnya, Dion diapain sama menteri tadi." Aku menimpali.


Dion melirik lengannya.


"Tadi Dion disuntik, Dion tadi nangis loh ayah." Kataku menjelaskan kepada ayahnya.


"Sakit ya Nak." Kata ayahnya lalu meniup lenggan Dion.


Usaha kita untuk mengalihkan perhatiannya dari minuman dingin itu sia-sia.

__ADS_1


Dion terus meminta minuman dingin itu. Terpaksa aku kasih karena tidak mau terus mendengar dia merengek.


__ADS_2