Kehamilan Yang Tidak Aku Inginkan

Kehamilan Yang Tidak Aku Inginkan
part 8


__ADS_3

Setelah kejadian kemarin Mas Ardan menjadi jarang ngobrol dengan ku.


Dia menjadi sering keluar malam.


"Mas mau kemana?" Tanyaku penasaran.


"Keluar sebentar." Dia menjawab ku ketus.


"Udah hampir jam sembilan mas. Kalau sebentar nanti pulangnya jam berapa.?" Kulihat jam menunjukkan pukul 9 malam.


Mas Ardan berlalu pergi tanpa menjawab ku.


Mataku belum bisa terpejam.


Banyak pikiran yang mengganggu di kepalaku.


Mas Ardan belum kunjung pulang. Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam.


(Treet...) Terdengar suara pintu terbuka.


Aku sengaja tidak mengunci pintu karena malas bangun untuk membuka pintu.


Mas Ardan tidur di sampingku.


Aku mencium aroma alkohol dari mulutnya .


"Mas minum?" Aku bertanya penasaran.


"Iya. Sedikit." Dia menjawab ku dengan terpaksa.


"Sedikit apanya Mas. Sampai mabuk kaya gitu."


Setiap Mas Ardan pulang ke rumah dari mulutnya selalu beraroma alkohol.


Keesokan harinya aku memeriksa Mas Ardan dengan sangat serius.


"Mas... Bangun." Dia belum juga sadar mendengar teriakanku.


"Ardan Kurniawan....." Teriakku lagi.


"Emmm..." Dia mulai berusaha membuka matanya perlahan.


"Kenapa minum minuman keras sampai mabuk." Tanyaku.


"Siapa yang mabuk." Dia menjawab dengan santai


"Itu Mas. Pulang jam 12 malam. Mabuk lagi."

__ADS_1


"Enggak tau juga ya. Aku juga heran sekarang maunya Minum Arak aja. Kalau enggak ada di dalam kampung. Sampai kampung sebelah aku beli. Kata teman-temanku. Kamu seperti orang ngidam saja." Dia menjelaskan kepadaku.


"Ahhh ... Alasan. Mana ada ngidam minum arak. Apa jadinya anak ini kalau bapak nya ngidam arak." Aku membelakanginya tidak percaya akan kata-kata yang dia ucap .


"Memang dari dulu-dulu aku pernah minum arak?" Dia semakin mendekatiku


"Mana tau." Aku mengangkat bahuku.


"Sini... Sini..." Dia mendaratkan ciuman hangat di pipiku.


"Idiihh... Amit... Amit. Gosok gigi dulu sana." Pekikku kesal.


"Emm... Padahal senangnya dalam hati," Mas Ardan menggodaku.


"Anakku mana, sini ayah sayang juga." Dia mengelus perutku.


"Tuh Dilan dibangunin ajak sarapan dulu."


***


"Siang ini aku mau pergi ke sawah dulu."


"Kita ikut Mas. Sudah lama aku enggak tengok sawah." Berharap di ajak oleh Mas Ardan.


"Kalian mau ikut ngapain. Udah diam dirumah aja. Nanti Dilan minta gendong aku yang capek." Mas Ardan menolak permintaanku.


"Iya sudah. Segera bergegas." Mas Ardan akhirnya mengiyakan ku.


"Pergi kemana Dilan?" Tanya bu Ida saat kita berpapasan di jalan.


"Pergi ke sawah." Jawabku.


"Kerudungnya jangan dililit nanti Adiknya Dilan dililit tali pusar." Bu Ida melirikku yang menggunakan jilbab pasmina.


"Eh... Eh. Iya Bu." Aku menjadi kaget dan salah tingkah.


"Mas, memang Bu Ida tahu kalau aku sedang hamil." Aku bertanya penasaran kepada suamiku.


"Enggak tahu." Mas Ardan mengangkat bahunya.


"Mas cerita gitu ke dia?" Aku semakin penasaran.


"Aduh Ara... Kapan kamu lihat aku pernah ngobrol dengan Bu Ida? Kalau melihat perutmu aja orang tau kamu hamil." Mas Ardan mengelak sembari melirik perutku.


"Tapi hanya Bu Ida yang menyapaku seperti tadi." Aku masih merasa heran.


Aku membantu mas Ardan membersihkan lahan karena musim hujan telah datang. Kita akan mulai bercocok tanam lagi.

__ADS_1


"Mas kalau aku hitung, perkiraan lahiran aku bulan Februari."


"Masih lama sekarang kan masih awal November yang penting kita mempersiapkan segala sesuatunya."


"Biasanya bulan Februari Mas nginap di sawah jaga padi."


"Nanti kamu bisa ajak Fita nginap biar ada yang bantu."


"Enggak... Enggak Mas. Aku mending sendiri aja, asal kamu jangan enggak pulang sesekali nanti."


"Iya."


***


Siang ini aku sangat merasa gerah.


Aku ingin minum yang segar-segar.


Mas Ardan dan Dilan sedang tidur siang.


Aku sungkan membangunkan suamiku hanya sekedar untuk membelikan ku minum.


"Ada sprite satu liter?" Tanya ku kepada pemilik warung.


"Ada. Tolong ambil di kulkas ya."


"Berapa?" Sembari ku mengambil sprite nya.


"Sepuluh ribu."


Belum sempat aku berlalu dari warung itu.


Aku terkejut dengan kedatangan Dewi.


"Dara beneran kamu hamil?" Tanya Dewi yang seketika membuatku rasanya tersambar petir disiang bolong.


"Eh.. eh.. aku pulang dulu wi. Nanti Dilan nyariin aku." Aku berlalu pergi meninggalkan Dewi di warung.


"Si Dewi kenapa bertanya kepadaku tadi. Pasti Bu Ida nih biang gosipnya." Aku menjadi marah dan kesal.


Aku benci kepada Bu Ida.


Ngapain juga dia kasih tau orang lain.


Mulut embernya itu memang tidak bisa dia jaga.


Sekarang aku sudah tidak mau keluar rumah.

__ADS_1


Tidak mau bertemu siapapun.


__ADS_2