Kehamilan Yang Tidak Aku Inginkan

Kehamilan Yang Tidak Aku Inginkan
part 17


__ADS_3

"Syukurlah pekerjaan kita sudah selesai disawah." Mas Ardan mengajakku ngobrol.


Aku tidak menjawab dia.


"Dara, sini aku gendong Dion." Dia mengambil Dion di gendonganku.


"Mas kamu jelasin. Tadi malam kamu kemana?" Aku masih saja penasaran dengan Mas Ardan.


"Kan aku sudah bilang ada urusan." Jawabnya.


"Urusan apa. Kamu tidur dirumah siapa tadi malam?" Aku mencoba bicara tenang dengannya.


"Aku tadi malam kerumah Irfan. Niatnya hanya ngopi disana. Enggak taunya aku sudah ketiduran." Jelasnya.


"Emang Erna tidak menyuruh kamu pulang apa?" Aku tidak bisa percaya begitu saja dengan Mas Ardan.


"Erna enggak tau aku tidur dirumahnya, tadi malam ramai teman-teman yang lain disana. Mereka pulangnya jam 12 malam kata Irfan."


Aku tidak percaya begitu saja dengannya. Akan ku cari tahu apa yang dilakukannya tadi malam.


***


Suami Dewi dan teman-temannya sedang bersenda gurau didepan rumahnya.


Aku dengar mereka sedang membahas judi online, yang sekarang sedang marak.


"Si Ardan juga kalah banyak tadi malam, sampai subuh dia main." Salah seorang dari mereka keceplosan menyebut nama Mas Ardan.


Hati ku sakit mendengar mereka, apa benar Mas Ardan main judi hingga subuh.


Apa dia tidak memikirkan aku dirumah yang sibuk mengurus anak-anak.


Kenapa suamiku bisa terjerumus ke dalam perjudian.


"Aku keluar sebentar." Mas Ardan pamit kepadaku sekitar jam 8 malam.


"Keluar ngapain lagi. Nanti kamu enggak pulang semalaman." Aku tetap berusaha tenang.


"Sebentar saja. Cuma ngopi dirumah Irfan." Mas Ardan memberi alasan.


"Kalau hanya sekedar ngopi. Di dalam kan ada kopi mas." Kataku berusa menahan Mas Ardan keluar malam.


"Beda rasanya. Kalau diluar ada teman. Apalagi aku sudah enggak bisa minta jatah sayang, aku suntuk dirumah." Sembari dia terus berlalu pergi.


Aku hanya bisa menghela nafas.


Apa seperti itu cara suamiku untuk mengusir kejenuhan disaat aku berusaha merawat anak-anak ku yang masih kecil.

__ADS_1


Aku masih saja menunggu Mas Ardan pulang, kulihat jam di dinding menunjukkan pukul 01:00.


Belum ada tanda-tanda suamiku akan pulang.


Beberapa kali aku berusaha menghubungi ponselnya, tetap saja tidak ada jawaban.


Sepertinya dia sudah mensilent ponselnya.


***


Matahari bersinar terang,


Nampak cahayanya memasuki ruang tamu. Aku lama bangun, karena tidurku tidak nyenyak semalam menunggu Mas Ardan pulang. Buru-buru aku membuka pintu. Aku lihat motor Mas Ardan dari kejauhan.


"Astagfirullahhalazim, makin parah saja dia. Kemarin pulang subuh, sekarang pulang pagi." Aku mengomel masih menunggu dia didepan pintu.


Baru saja Mas Ardan memarkirkan motornya di halaman rumah.


Plllaaakk.... Sebuah sandal mendarat diwajahnya. Aku tidak bisa menahan emosiku.


"Dara. Enggak bisa kamu tunggu aku masuk ke dalam rumah dulu apa. Malu kalau dilihat tetangga." Dia tenang menghadapi ku dan menarik tanganku untuk masuk ke dalam rumah.


"Malu... Tapi ulahnya semakin menjadi." Suaraku semakin meninggi.


Plllakkk...


"Ini uang belanja mu." Dengan sombongnya dia memperlihatkan uang hasil dari main judi.


"Uang dari mana ini." Tanyaku pura-pura tidak tahu.


"Pakai saja. Kalau aku lagi kasih."


"Kalau ini uang hasil judi. Aku enggak mau pakai. Ingat menang diawal itu awal dari kekalahan." Kataku menasehatinya.


Mas Ardan meninggalkanku dan pergi tidur ke kamar.


Aku mengambil uang yang berserakan itu lalu ku hitung. Totalnya ada satu juta lima ratus ribu.


Aku simpan tapi aku tidak mau memakainya.


Keadaan ekonomi kami saat ini memang sulit, belum lagi kebutuhan anak kami yang bertambah.


Disaat semua orang sudah selesai menanam padi, memang susah mencari pendapatan sampai musim panen tiba.


Mas Ardan tertidur sangat lelap, sampai-sampai tidak mendengar tangisan Dion yang sangat keras disampingnya.


"Anak Mama kenapa nangis terus." Aku Gendong Dion dan menyusuinya.

__ADS_1


Akhir-akhir ini Dion menjadi rewel. Apa karena aku kepikiran Mas Ardan yang sedang terjerumus di lembah perjudian.


Kata orang tua di kampung ku kalau sedang menyusui tidak boleh banyak pikiran, nanti air susunya jadi panas dan membuat bayi rewel.


Mungkin itu sedang terjadi kepadaku dan Dion.


Jam 13:30 wib Mas Ardan baru bangun.


"Dara, aku keluar sebentar."


Belum sempat aku mencegahnya, dia sudah mengendarai motornya meninggalkan kami.


Tidak sampai satu jam dia sudah kembali kerumah.


"Dara mana uang yang aku kasih semalam." Wajahnya terlihat memerah saat meminta uang itu kepadaku.


"Untuk apa." Kataku kesal.


"Cepat kasih aku Dara. Aku pinjam nanti aku ganti." Dia terlihat seperti buru-buru.


"Enggak." Aku menolaknya.


"Cepat Dara." Dia membuka lemari dan berusaha mencari uang itu.


"Jangan macam-macam ya kamu." Kataku yang hanya bisa melihatnya karena aku sedang menyusui Dion dan tidak mau Dion terganggu.


Dia berhasil menemukan uangnya, dan aku hanya melihat dia meletakkan tiga lembar uang merah itu di atas meja kamar.


Terdengar suara motornya dipacu dengan sangat kencang.


"Awas ya kamu Ardan. Mudah-mudahn saja kamu jatuh dari motor." Umpatku kesal kepada Mas Ardan.


"Mama kenapa?" Tanya Dilan.


"Enggak ada sayang. Sini peluk mama." Kurasakan tangan kecil anakku memelukku dengan hangat dan penuh kasih sayang.


Pelukan malaikat kecilku mampu menenangkan hatiku.


***


Sikap Mas Ardan kenapa sangat berubah.


Apa dia sangat dipengaruhi oleh teman-temannya diluar sana.


Aku tidak dapat melakukan apa-apa sekarang,


Kenapa dia tega seperti itu, tidak menemaniku dirumah saat aku butuh dukungan untuk merawat anak-anak kita yang masih kecil.

__ADS_1


__ADS_2