Kehamilan Yang Tidak Aku Inginkan

Kehamilan Yang Tidak Aku Inginkan
part 14


__ADS_3

"Mama kaki Ian sakiiit..." Dilan merengek menangis.


"Kenapa kakinya, coba ayah lihat sini." Mas Ardan berusaha menenangkan Dilan.


"Gendong... Gendong." Kata Dilan berteriak dan menangis.


"Iya Nak. Sini Ayah gendong, jangan nangis lagi nanti adiknya nangis." Mas Ardan berusaha menenangkan Dilan.


"Biarin aja Dilan ikut Kakeknya dulu biar kamu bisa istirahat." Kata ibu mertuaku memberi salam.


"Enggak..." Aku dengar dia menolak dan menggelengkan kepala menatap ayahnya seperti memohon agar dia tetap bersama kita.


"Iya sayang, Dilan enggak akan pergi kemana-mana. Tapi Dilan janji jangan nakal." Kataku.


"Iya." Jawabnya lirih.


Dilan tidak mau ikut siapa-siapa sekarang, dia hanya mau di gendongan ayahnya. Apa dia takut kasih sayang dan perhatian kami akan teralihkan untuk adiknya.


Ibu mertua dan Nova adik ipar ku hanya bisa menginap 3 malam menemani kamj. Karena mereka juga ada pekerjaan di sawah


yang harus mereka selesaikan.


"Dara ibu pulang dulu. Kalau ada apa-apa kamu telepon ibu dan Nova." Pesan ibu mertuaku yang akan meninggalkan kami.


"Iya Bu." Jawabku.


"Dilan ikut sama nenek ya?" Ibu mertuaku mencoba mengajak Dilan.


Dilan hanya menggeleng.


Setelah mereka pulang hanya Mas Ardan yang akan membantuku mengurus semua pekerjaan rumah.

__ADS_1


"Mas, aku mau mandi dulu, tolong jaga anaknya."


"Iya. Jangan lama-lama takut si kecil bangun."


Aku bergegas mandi takut Mas Ardan kerepotan dengan Dilan dan adiknya.


Dari dalam kamar mandi aku mendengar suara tangisan Dilan diiringi tangisan si kecil.


"Kenapa anak-anakku menangis." Gumamku khawatir didalam kamar mandi.


"Ada apa ini Mas?" Tanyaku kepada Mas Ardan. Kulihat wajahnya kesal.


"Ini Dilan, aku bilang tadi awas kakinya nanti kena adiknya, eh malah sengaja kakinya kena ke mulut adiknya." Jelas Mas Ardan.


"Sini sayang," aku menenangkan Dilan.


"Mungkin tadi dia enggak sengaja Mas."


"Enggak usah marah-marah Mas, jangan sampai Dilan merasa karena ada adiknya jadi kita tidak sayang lagi sama dia. Karena itu dia bisa mempunyai perasaan iri terhadap adiknya." Aku berusaha menasehati Mas Ardan.


"Aku mau mencuci pakaian dulu, terus mandi."


"Sekalian ajak Dilan Mas."


Aku melihat kedatangan perawat dari klinik yang akan mengecek kondisi ku dan bayiku.


"Selamat pagi Bu, apa tidak ada keluhan lagi." Tanya salah seorang dari mereka.


"Alhamdulillah saya sudah merasa baikan."


"ASInya sudah normal?"

__ADS_1


"Masih sedikit. Payudara saya masih bengkak." Sembari aku memperlihatkan payudaraku kepada mereka.


"Itu normal, dimana payudara membengkak setelah melahirkan merupakan proses payudara untuk menyiapkan produksi Asi." Jelas perawat itu sambil menimbang bayiku.


"Berat bayinya sudah bertambah menjadi 3.2 kg, ibu banyak makan sayur, banyak istirahat dan tidak boleh stres supaya produksi ASI ibu semakin lancar." Pesannya kepadaku.


"Tinggal dua kali kunjungan ya buk. Hari ke 7 dan hari ke 40." Kata perawat lainnya.


"Baik. Terimakasih." Kataku.


Dilan semakin menjadi bertingkah, semua mainan dia hamburkan ditengah ruangan.


"Sabar. Yang penting dia gak ganggu adiknya." Gumamku dalam hati.


Semakin aku tidak menegurnya, semakin dia bertingkah.


"Diiilllaann..!!! Bereskan semua mainan mu." Aku kelepasan, aku berteriak kencang kepada anakku.


Aku melihat air mata anakku mengalir dikedua pipinya tanpa mengeluarkan suara tangisannya.


"Sini... Sini nak. Main sama adiknya." Pintaku berusaha mengambil hatinya agar dia tidak menjadi sedih.


Sesampai di pangkuanku Dilan menangis sejadi-jadinya. Diiringi tangisan adiknya yang kaget mendengar abangnya menangis.


"Maafin mama Nak, kamu jangan nangis lagi ya. Lihat tu, adiknya ikutan menangis." Kataku.


Aku menyuruh Dilan untuk duduk disampingku supaya aku bisa menggendong dan menyusui adiknya.


"Ajak Ade maink nak, lihat nih. Pipi adiknya gendut."


"Hihihi... Ade sayang gendut pipinya." Seketika senyum Dilan merekah melihat adiknya tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2