
Aku melihat dua perempuan berbaju rapi melewati depan rumahku.
Mereka berhenti didepan rumah Dewi.
Aku mengintip mereka pelan-pelan lewat jendela .
Tampak ku lihat Dewi asyik mengobrol dengan mereka.
"Apa mereka orang dari klinik yang sedang mencari ku?" Dara mengobrol sendiri.
Aku menutup rapat-rapat pintu rumahku.
"Mas. Sini deh." Aku memanggil Mas Ardan lalu menariknya ke jendela.
"Ada apa?" Tanyanya.
"Siapa yang sedang ngobrol sama Dewi. Apa mungkin mereka orang dari klinik?" Aku berusaha mengintip. Mereka terlihat samar-samar.
"Enggak tau. Memang kenapa kalau orang dari klinik.?" Mas Ardan berbalik menanyaiku.
"Dara. Aku baru ingat kita kemarin kan diminta pergi ke Puskesmas sama ibu bidan." Mas Ardan baru ingat pesan ibu bidan kemarin karena kami sibuk mempersiapkan acara pernikahan Kak Darwin.
"Besok-besok aja mas. Aku kecapaian sekarang." Alasanku.
"Kamu selalu saja beralasan. Kapan kamu bisa terima ajakan ku sekali aja." Mas Ardan memilih mengalah daripada harus berselisih paham denganku.
"Mas nanti tanya Dewi, siapa sebenarnya mereka." Pintaku kepada Mas Ardan.
"Masa aku yang kamu suruh ngobrol sama Dewi. Tanya sendiri aja sana." Jawab Mas Ardan kesal.
***
Sekarang banyak warga yang mempersiapkan diri untuk bercocok tanam.
Angin segar untuk kita karena akan banyak orang yang meminta Mas Ardan untuk membajak sawah mereka.
__ADS_1
"Dara... Dara..." Terdengar suara perempuan memanggilku dari balik pintu.
"Iya. Ada apa Bi Rita?" Aku membuka pintu. Aku melihat Bi Rita berdiri di depanku.
"Mana Ardan?" Bi Rita menanyakan Mas Ardan.
"Ada. Masuk dulu Bi. Biar aku panggil Mas Ardan." Aku berlalu memanggil Mas Ardan.
"Ada apa Bi?" Tanya Mas Ardan kepada Bi Rita.
"Bibi mau minta kamu bajak sawah bibi?" Bi Rita menyampaikan hajatnya.
"Kapan?"
"Kapan kamu bisanya."
"Besok saja. Biar cepat selesai." Jawab Mas Ardan mantap.
"Dara, kamu sedang hamil?" Tanya Bi Ita mengerenyitkan dahinya.
"Sudah berapa bulan? Kemarin bibi perhatikan kamu di acara nikahannya Darwin."
"Perhitunganku sudah 7 bulan Bi." Jelas Dara.
"Dua bulan lagi dong lahirannya. Kamu Ardan yang semangat ngumpulin rejekinya buat persiapan Dara lahiran." Bi Ita melirik Mas Ardan.
"Iya Bi. Aku enggak pernah nolak pekerjaan yang ditawarkan kepadaku selagi aku masih sehat." Jawab Mas Ardan.
"Bibi pulang dulu. Jangan lupa besok pagi ya."
Bibi Rita adalah saudara bapakku yang paling bungsu. Setiap ada pekerjaan disawahnya selalu meminta bantuan kepada Mas Ardan.
Suami Bi Ita bekerja di sebuah perusahaan swasta di kota . Hanya sesekali suami Bi Ita bisa pergi ke sawahnya.
***
__ADS_1
Aku masih penasaran dengan sosok perempuan yang ngobrol dengan Dewi tadi pagi.
Aku harus bertanya sendiri kepada Dewi supaya mendapat jawaban.
Ku lihat Dewi sedang duduk di depan rumahnya.
"Wi lagi ngapain?" Ku sapa Dewi dari dalam pekarangan rumahku karena aku sedang menyapu halaman.
"Duduk santai aja. Maklum pekerjaan rumah baru selesai. Ayo duduk kesini sama aku." Dia mengajakku nongkrong didepan rumahnya.
"Aku lagi nyapu nih. Wi kamu ngobrol sama siapa tadi pagi?" Aku menunjukkan sapu lidi dan menanyakan rasa penasaranku kepada Dewi.
"Yang mana? Banyak teman aku ngobrol tadi pagi." Tanya Dewi heran.
"Dua perempuan yang pakai baju putih hitam? Aku asing melihat mereka." Tanya ku memperjelas.
"Mereka sales. Tadi mereka menawarkan obat herbal."
"Oh. Obat herbal apa?" Perasaanku menjadi lega seketika.
"Kalau kita pegal-pegal kita oles aja di badan. Benar-benar terasa khasiat obatnya. Aku tadi beli." Jelasnya.
"Kenapa tadi mereka enggak nyamperin rumahku. Aku mau beli satu untuk Mas Ardan." Sekedar basa basi biar Dewi tidak curiga.
"Rumahmu pintunya sering kamu tutup, seperti enggak ada orangnya. Jangankan sales aku aja udah jarang nyamperin kamu."
"Iya. Maklum Dilan sering main sendirian, aku takut dia main jauh dari rumah." Alasanku kepada Dewi.
"Kalau kamu mau obat herbal nya nanti aku kasih." Kata Dewi.
"Terimakasih sebelumnya Wi."
Untungnya Dewi tidak bertanya lagi tentang kehamilanku.
Mungkin Dewi menjaga perasaanku.
__ADS_1
Aku lebih merasa aman karena dia perempuan yang kulihat ngobrol bersama Dewi ternyata bukan orang dari klinik.