
Part 3
Semakin hari perut bagian bawahku semakin terasa keram, payudaraku menjadi bengkak dan nyeri, mood ku juga enggak karuan sering berubah-ubah. Sepertinya ini tanda-tanda aku akan mengalami menstruasi. Akan tetapi ini sudah sebulan berlalu.
"Kenapa aku belum datang bulan juga ya?" Tanyaku bingung.
Ada kekhawatiran di dalam hatiku, mungkinkah aku hamil. Aku memungkiri hal itu terjadi. Aku percaya satu dua hari ke depan menstruasi ku akan datang.
Segala upaya sudah aku lakukan. Setiap pagi aku minum jamu kunyit asam, minum parutan pepaya muda, dan minum ragi di campur ketumbar. Ah... Semua itu sia-sia.
Hari berganti hari, dan sekarang sudah memasuki bulan ke dua.
Setiap bangun pagi aku meraba perut bagian bawah ku, tepatnya di daerah rahim.
Aku merasa rahimku semakin mengeras.
"Kamu kenapa Ara? Sering sekali aku melihatmu seperti kebingungan." Tanya Mas Ardan penasaran.
"Enggak ada apa-apa kok." Jawabku memungkiri pertanyaannya.
"Jangan bohong yah, aku bisa rasain loh, kamu nyimpan sesuatu dari mas. Ayolah jujur, biar kita selesain bersama kalau ada masalah".Mas Ardan terus saja membujukku.
"Hu...hu...hu..." Belum bisa aku menjawab Mas Ardan. Air mataku mulai bercucuran. Ku peluk suamiku erat-erat.
"Sayang jangan nangis. Tenang ya. Cerita dulu biar kamu merasa lega." Mas Ardan mengelus kepalaku dengan penuh kasih sayang.
"Aku sudah enggak haid Mas... Mas jangan marah ya. (hu...hu..hu...)" Aku menangis sekencang-kencangnya meluapkan perasaan yang kusimpan selama ini.
"Berarti kamu hamil? Ngapain juga mas marah. Nah... Kamu juga kenapa nangis?" Kulihat Mas Ardan tersenyum sumringah.
"Enggak tau mas, aku belum siap kalau harus hamil lagi. Kasian Dilan mas, dia masih butuh banyak kasih sayang dari kita." Aku masih saja sesenggukan.
"Besok kita ke Klinik ya, kita cek biar pasti."
"Enggak. Aku gak mau. Pokoknya aku enggak mau hamil dulu." Bantahku kepada Mas Ardan.
"Terus mau diapain sayang, kalau Tuhan sudah memberikan Anugerah kamu hamil ya kita jaga dong. Tuhan menitipkan kepada kita karena Tuhan percaya kita bisa menjaganya." Mas Ardan menceramahi ku dengan lembut.
Sementara di benakku yang terpikirkan hanya bagaimana caranya aku haid secepatnya.
***
"Sayur... Sayur..." Terdengar teriakan khas pedagang sayur pagi-pagi.
"Bang ada bawa nanas." Tanya ku pelan-pelan sebelum kedapatan belanja oleh ibu-ibu yang lain.
"Ada-ada mbak. Di sebelah sana, lagi musim sekarang mbak. Mau berapa?" Dia berlalu dan mengambilkan untukku.
__ADS_1
"Tiga aja deh. Jangan yang terlalu matang."
"Mama Dilan masak apa sekarang..?" Tanya Dewi tetanggaku yang tiba-tiba muncul di sampingku.
"Masak sayur soup sama goreng tempe aja." Kehadiran tetanggaku yang kepo ini membuatku jadi salah tingkah.
"Sekalian dibungkus bang sayur soup dan tempenya sama satu bungkus." Pintaku, supaya nanas yang aku beli tidak kelihatan oleh Dewi.
"Berapa totalnya bang?"
"Tiga puluh ribu semuanya."Segera ku
membayar dengan uang pas.
"Aku buru-buru yah mbak, biar cepat masaknya." Segera ku meninggalkan mereka.
"Apa Dewi lihat ya tadi aku beli nanas, bisa-bisa nanti dia meledekku." Aku semakin menjadi khawatir sendiri.
***
Sebelum sarapan aku makan nanas muda itu.
Sebelum ketahuan Mas Ardan, aku takut dia marah.
"Mamah..." Suara Dilan membuatku kaget.
"Mama matan apa?" Tanyanya penasaran.
"Makan buah. Mama buatin Dilan sarapan dulu ya." Aku membujuk supaya dia tidak meminta nanas yang aku makan.
"Mau buahnya Ma." Dia merengek seraya merebut nanasnya dari tanganku.
"Ikks.. kecut, buah apa ini Ma?" Buru-buru dia melepeh dan mengelap mulutnya.
"Ini namanya buah nanas. Dilan sih, main ambil aja. Ini obat untuk Mama, Dilan enggak boleh makan ya." Terpaksa ku berbohong kepadanya.
"Mama masak sayur sama goreng tempe dulu. Nanti kalau ayah bangun kita sarapan." Ajak Ku, supaya dia tidak menjadi kesal.
***
"Dilan bangunin ayah dulu sayang, ajak sarapan."
Belum aku bisa menyelesaikan perkataanku sudah kulihat dia bersemangat lari menuju kamar.
"Kesayangan-kesayangannya Mama sudah datang, kita sarapan dulu ya.." Kusambut Mas Ardan dan Dilan di meja makan.
"Aroma sayurnya lezat." Puji Mas Ardan menggodaku.
__ADS_1
"Apaan sih mas. Aku hanya masak sayur soup aja ko." Aku tersenyum malu.
"Masak apa aja kalau istriku yang masak pastinya enak dong." Timpalnya menggoda.
"Bisa aja nih, gombal pagi-pagi, cicipi dulu gimana rasanya." Aku semakin tersipu malu.
"Emm... Beneran enak banget." Mas Ardan mencicipi sayurnya lalu mengambil nasi sepiring penuh.
"Ayah... Ayah... Tadi Ian matan buah kecut." Celotehan Dilan membuat jantung ku berdetak tidak karuan.
"Buah apa sih Nak.., makan buah kecut kok pagi-pagi." Mas Ardan menanggapi dengan santai sambil terus menyantap sarapannya.
"Buah nanas. Kata mama itu obat buat mama." Jawaban Dilan membuatku ingin lari dari meja makan.
"Jangan ngomong terus ya, Dilan lanjut sarapan dulu." Kulihat Mas Ardan berusaha menenangkan dirinya dihadapan anak kita.
Mungkin dia tahu apa yang sedang aku lakukan.
"Kalau sudah selesai sarapan Dilan main sendiri dulu."
Aku sudah tidak tenang, apa yang akan terjadi kalau Mas Ardan tahu aku melakukan hal yang aneh-aneh.
Kita sudah selesai sarapan.
Dilan berlalu meninggalkan kita berdua.
Aku berusaha menyibukkan diri di dapur, sambil menunggu apa yang akan dilakukan Mas Ardan setelah tahu perbuatan ku.
"Ara..." Mas Ardan memanggilku dengan suara lembut.
"Iya Mas." Aku berusaha tenang.
"Apa benar yang Dilan bilang barusan." Tanyanya penasaran.
"Apaan sih mas, aku cuma lagi pengen kok." Aku berdalih.
"Setahu ku yah, orang makan nanas muda berusaha untuk menggugurkan kandungan, jangan lakuin yang aneh-aneh deh, jangan ambil resiko." Nada Mas Ardan mulai meninggi.
"Siapa juga yang hamil mas, aku hanya telat haid aja." Air mataku mulai berlinang.
"Ayok kita cek, biar pasti kamu hamil atau enggak." Tantangnya kepadaku.
"Enggak. Sudah aku bilang dari kemarin aku gak mau cek, gak mau ke klinik, dan gak mau ada orang yang tau." Aku membalasnya berusaha menguatkan diri.
"Terserah. Tapi kalau kamu berbuat sesuatu yang mengancam keselamatan kamu atau kandunganmu yang aku yakini sudah berkembang itu. Anggap saja aku lenyap di dunia ini." Teriaknya sambil berlalu meninggalkan aku.
Aku menangis sejadi-jadinya.
__ADS_1
Sebelumnya dia tidak pernah kasar kepadaku.