Kehamilan Yang Tidak Aku Inginkan

Kehamilan Yang Tidak Aku Inginkan
part 24


__ADS_3

Pada Malam hari Dion tertidur dengan sangat nyenyak.


"Aku mau keluar sebentar." Kata Mas Ardan.


"Mas, apa kamu tidak kasihan dengan Dion?"


"Dia kan sudah tidur." Jawabnya ketus.


"Apa kamu tidak jerah dengan kejadian tadi."


"Itu kan mau mu yang pergi dari rumah. Jadinya imbasnya ke anak-anak." Katanya terus saja berlalu pergi.


Masih saja dia bisa menyalahkan ku.


Ternyata benar Mas Ardan hanya pergi sebentar. Sekitar satu jam dia sudah kembali ke rumah.


"Alhamdulillah." Batinku dalam hati melihat dia pulang cepat.


"Dion nyenyak sekali tidurnya." Mas Ardan mencium Dion dan Dilan silih berganti.


UMKM 776


"Dion kamu kenapa tadi nak. Bikin Ayah khawatir." Kata Mas Ardan sambil menatap Dion.


"Iya dia kangen sama ayahnya." Kataku ketus.


"Bukan mamanya nih yang kangen." Mas Ardan menggoda ku lalu tidur di sampingku.


Aku tidak menjawab.


Terasa tangan Mas Ardan sudah meliuk di pinggang ku.


Aku mencoba menyingkirkan tangannya.


"Maaf soal kejadian kemarin." Katanya lirih.


"Sudah Mas, enggak usah minta maaf kalau kamu masih mengulangi perlakuanmu yang bikin aku sakit hati." Kataku dengan nada tinggi masih kesal dengannya.

__ADS_1


"Aku itu ketiduran dirumah Dani, enggak ngapa-ngapain disana. Hanya ngopi saja." Jelasnya.


"Kalau kamu benar ingat ada kita istri anakmu dirumah, sengantuk-ngantuknya kamu, kamu pasti akan pulang kerumah."


"Sudahlah, jangan ngambek. Kan aku sudah enggak keluar sekarang."


"Kenapa kamu tidak menyusul kami ke rumah Bi Rita?" Aku sebenarnya kemarin berharap disusul oleh Mas Ardan.


"Aku takut kamu tidak mau menemui aku." Mas Ardan beralasan.


"Setidaknya Mas sudah berusaha. Kamu malah senang kita tidak ada dirumah." Kata ku.


Mungkin dengan kejadian kemarin aku dan Mas Ardan disatukan lagi.


Seandainya aku tidak memikirkan nasib anak-anak sudah lama aku meninggalkan Mas Ardan.


Aku menganggap ini semua cobaan dari Yang Kuasa. Aku percaya aku bisa melewatinya, dan berharap dikemudian hari akan mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya.


***


Bapak dan Bi Ita mengunjungi kami untuk melihat keadaan Dion.


"Dia seperti kejang, kata pak Ahmadi dia diganggu makhluk halus." Aku menjelaskan kepada bapak.


"Itu step Dara. Nih liat badannya masih hangat. Kemarin pasti suhu badannya panas tinggi sehingga tubuhnya tidak bisa mengendalikan rasa sakit yang dia rasakan." Bi Rita memperhatikan Dion dan memegang keningnya.


"Enggak Bi. Badannya enggak panas. Cuma hangat seperti ini aja dari kemarin. Dia hanya rewel dan tidak bisa jauh dariku."


"Sudah dibawah ke dokter?" Tanya Bi Ita.


Aku hanya menggelengkan kepala.


Bi Ita terlihat sangat khawatir dengan keadaan Dion. Apa lagi dia tahu aku tidak membawa Dion ke dokter.


"Kenapa kamu kemarin tidak menghubungi kita." Bapak menimpali.


"Aku panik, enggak sempat pegang-pegang hp. Memangnya Bapak dapat kabar dari mana?" Tanyaku.

__ADS_1


"Bi Rita mu yang mengabari." Jawab bapak.


"Mudah-mudahan bi Rita tidak cerita yang lain ke bapak." Batinku. Aku takut bapak terlalu memikirkan aku, seandainya dia tahu masalah ku dan Mas Ardan.


Bapak kemudian duduk di kursi yang nampak berhadapan dengan Mas Ardan.


"Kamu Ardan, jangan terlalu sering keluar malam. Bagaimana kalau istrimu butuh apa-apa saat anak mu sakit dan rewel. Kemana dia akan mencari mu malam-malam. Apa bisa Dara meninggalkan anak mu di rumah dan mencari kamu. Itu gunanya suami istri saling mendukung dikala susah." Bapak terlihat menasehati Mas Ardan.


Mas Ardan hanya menundukkan kepala mendengar nasehat bapak mertuanya itu.


Orang tua Mas Ardan juga mengunjungi kami. Mereka dikabari oleh Mas Ardan dari semalam.


Aku menyiapkan makan siang, agar bisa makan bersama orang tua ku dan mertua ku.


Kami berkumpul di meja makan menikmati kebersamaan.


Setelah selesai makan, Bapak dan Bi Ita pamit pulang kepada bessannnya.


Aku sedikit bercerita kepada mertuaku tentang perilaku Mas Ardan.


"Mas Ardan itu sering keluar malam, kadang tidak pulang kerumah." Aku bercerita kepada mereka selagi kita duduk bersama di ruang tamu.


"Ngapain kamu Ardan. Keluyuran saja. Apa kamu tidak kasihan dengan anak istrimu." Kata bapak mertuaku memelototi Mas Ardan.


"Entahlah apa yang dicarinya diluar sana." Kata ku.


"Si Ardan ini, bikin malu saja. Apa kamu tidak malu dengan tetanggamu? Apa ada kamu lihat tetanggamu yang senang keluyuran." Ibu mertuaku ikut memarahi Mas Ardan.


Mas Ardan berusaha menghentikanku dengan cara mencubit lenganku. Sementara aku merasa puas mendengar Mas Ardan diomeli oleh orang tuanya.


Setelah sore hari, mertuaku juga pamit meninggalkan kami.


"Kakek sama nenek pulang dulu ya." Bapak mertuaku mencium Dilan dan Dion. Diikuti juga oleh ibu mertuaku.


"Dara. Kalau Ardan macam-macam jangan sungkan lapor ke bapak." Suara lantang bapak mertuaku mengagetkan ku.


"Iya pak." Aku mencium tangan mereka yang akan pulang meninggalkan kami.

__ADS_1


"Dasar tukang lapor." Seru Mas Ardan kepadaku setelah kepergian orang tuanya. Dia sepertinya sangat kesal denganku.


Aku tidak menggubris omongannya.


__ADS_2