Kehamilan Yang Tidak Aku Inginkan

Kehamilan Yang Tidak Aku Inginkan
part 15


__ADS_3

Dilan..!!! Kamu ini nakal terus, ngapain kamu acak-acak tempat tidur mama?" Tanyaku dengan muka merah tersulut emosi kepada Dilan.


Dilan hanya meringkuk dipojok kamar mendengar suaraku.


"Baru saja aku selesai memandikan adiknya, ada aja dia bikin ulah." Aku masih saja dengan omelanku.


Hari ini aku merasa kerepotan karena Mas Ardan sedang pergi ke sawah.


Tok...


Tok...


Tok...


"Silahkan masuk." Pintaku. Karena ini hari ke 7 setelah aku melahirkan pasti perawat dari klinik yang berkunjung.


Segera aku keluar dari kamar menemui mereka.


"Bu, nampaknya kening bayinya kuning." Mereka melihat kening anakku yang nampak kuning, kemudian membuka semua bajunya untuk melihat keseluruhan tubuhnya.


"Bayinya banyak menyusu Bu."


"Iya. Apa kondisinya normal?" Tanyaku penasaran.


"Tidak apa-apa, asal Bayinya banyak menyusui. Jangan lupa rajin dijemur minimal 15 menit. Ingat waktu yang baik dari jam 7 sampai jam 9 pagi. Itu bertujuan untuk mencegah penyakit kuning, dan memberikan asupan vitamin D." Saran mereka untukku.


"Tiga hari ini saya tidak menjemur dia, karena cuaca mendung di pagi hari." Kataku.


"Sini lengannya. Biar saya cek tensi darahnya." Perawat itu memasang alat tensi meter di lenganku.


"Tensi darah ibu 130/70 mmHg. Tensi darahnya naik, banyak istirahat dan jangan stres Bu. Supaya tensinya normal." Jelasnya kepadaku.


"Barusan tadi saya habis marah-marah sama anak saya. Baru kali ini tensi saya naik."

__ADS_1


"Jangan sering marah-marah Bu, kasihan anaknya."


"Saya tidak bisa menahan emosi. Belum saya selesai mengurus adiknya, Dilan sudah bikin ulah."


"Ibu yang sabar. Nanti mau pakai alat kontrasepsi apa biar bisa kita siapkan dan dipasang saat kunjungan ke 3."


"Kira-kira yang aman apa ya?" Tanyaku.


"Saran saya ibu jangan pakai suntikkan lagi, karena kurang efisien.


Ada dua KB jangka panjang yang bisa ibu pilih, yang pertama implan dipasang di lengan jangka waktu pemakaiannya 3 tahun.


Yang ke 2 AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim) lebih dikenal dengan IUD pemasangannya didalam rahim dengan jangka waktu pemakaian 8 tahun." Perawat itu menjelaskan dengan seksama.


"Gimana ya, apa saya pilih implan aja deh. Implan proses pemasangannya seperti apa?" Tanyaku penasaran.


"Nanti akan dilakukan penyuntikan bius lokal pada bagian lengan atas. Kemudian kita akan memasukkan implan yang kira-kira sebesar lidi dengan alat khusus."


"Aman ya untuk ibu menyusui? Kalau IUD walaupun pemakaiannya jangka panjang tapi saya takut karena pemasangannya didalam rahim." Kataku sedikit merasa ngeri mendengar penjelasan tentang alat kontrasepsi.


"Terimakasih atas kunjungannya." Sembari ku mengantar mereka ke depan pintu.


"Oh iya Bu, apa bayinya sudah punya nama?"


"Belum." Kataku.


"Aduh... Kok lama sekali ada namanya. Segera dikasih nama, supaya bisa cepat mengurus akta kelahirannya. Pengurusan aktanya gratis sebelum anak berumur 40 hari."


"Baik. Nanti saya hubungi kalau sudah ada namanya."


Jam 3 Mas Ardan sudah pulang dari sawah supaya bisa membantuku menjaga anak.


"Sudah mandi?" Tanya Mas Ardan melirikku.

__ADS_1


"Belum mas."


"Ya udah mandi dulu, biar aku jaga Dilan sama adiknya."


Aku berlalu mandi.


Untung saja mas Ardan selalu siaga menjaga mereka.


***


"Mas, tadi Dilan nakal Mas. Dia mengacak tempat tidur. Aku kewalahan hari ini karena enggak ada kamu dirumah." Aku menjelaskan kejadian tadi pagi kepada Mas Ardan.


"Yang sabar. Aku enggak bisa dirumah terus, nanti yang kerja siapa." Kata Mas Ardan.


"Aku ngerti. Dia juga sudah enggak mau lagi ikut sama bapak."


"Karena dia sudah punya adik. Ada teman mainnya dirumah." Jelas Mas Ardan.


"Mas kita kasih nama siapa ya anak ini?" Tanya ku kepada Mas Ardan sambil menatap sikecil yang sedang tertidur pulas.


"Terserah kamu Dara, aku enggak punya ide untuk kasih dia nama."


"Apa ya yang bagus, biar serasi gitu sama nama abangnya." Sambil aku memikirkan sebuah nama dipikirannku.


"Dion bagus gak?" Tanyaku kepada Mas Ardan.


"Bagus juga. Tinggal tambah nama panjangnya." Kata Mas Ardan.


"Dion Dwiarya?"


"Nah, itu aja. Nama abangnya kan Dilan Pernanda, adiknya Dion Dwinanda. Biar kayak anak kembar." Mas Ardan antusias mendengar ku menyebutkan nama untuk anak kita.


"Besok Mas serahkan datanya ke klinik biar segera Akta kelahirannya diurus. Kata perawat tadi gratis sebelum 40 hari." Pintaku.

__ADS_1


"Tapi setelah aku pulang dari sawah, biar kita cepat tanam padinya, tinggal kita saja yang belum menanam."


Aku kasihan kepada Mas Ardan sekarang karena aku tidak bisa membantunya lagi. Dia harus mengurus sendiri masalah disawah, juga harus membantuku dirumah.


__ADS_2