
Aisyah duduk termenung di tepi tempat tidurnya, setelah ia mandi dan membersihkan diri karena kehujanan tadi. Tetesan bulir air hangat jatuh dipelupuk matanya sembari menatap lurus ke depan, menatap keluar jendela dengan tatapn kosong.
Umi Nurul yang sedari tadi memperhatikan kelakuan putrinya merasa terheran-heran. Ia menghampiri putrinya yang tengah asik dalam lamunannya.
"Aisyah ...." Berjalan, menghampiri Aisyah.
Aisyah berusaha menyapu air matanya lalu menoleh melihat kedatangan uminya.
"Iya umi." Aisyah mengulas senyum di bibirnya. Berusaha menutupi lukanya yang kini tengah ia rasakan, ia berusaha bersikap baik-baik saja agar tak ada yang tahu akan luka itu.
"Kamu kenapa nak?" Sembari duduk disamping Aisyah.
Aisyah hanya menggelengkan kepalanya tanda bahwa ia baik baik saja, tak ingin orang lain tahu akan lukanya termasuk uminya. Cukup dia sendiri yang rasakan lukanya itu.
"Ceritakan saja pada umi, jika kamu sedang ada masalah nak." Menatap Aisyah dengan lamat.
"Aisyah baik baik saja Mi, sungguh," ujarnya sambil melempar senyum lebar dibibirnya, agar sang umi tidak mengetahui lukanya. Namun, nyatanya seorang ibu selalu tahu bagaimana keadaan anaknya bahkan dikala sang anak berbohong pun seorang ibu selalu tahu.
"Oh iya Mi, Aisyah ada kabar baik untuk umi," ucap Aisyah, mengalihkan pembicaraan.
"Kabar baik apa nak?" tanya sang Umi dengan penuh rasa penasaran.
"Azizah sebentar lagi akan segera menikah Mi."
"Subhanallah, umi ikut senang mendengarnya nak."
"Iya mi," lirih Aisyah.
Terlihat senyum getir diwajah Aisyah yang membuat umi Nurul sekali lagi terheran heran melihatnya, ia tahu jika saat ini Aisyah sedang berbohong, putrinya sedang tidak baik-baik saja.
"Kamu kenapa nak, kenapa wajahmu terlihat sedih? Apa kamu tidak bahagia mendengar bahwa sahabatmu akan segera menikah?"
Sontak pertanyaan Umi Nurul membuat Aisyah terkejut dan langsung menoleh menatap sang umi.
"Tidak Umi, aku sungguh sangat bahagia atas pernikahan Azizah, sungguh Mi." Aisyah Berusaha meyakinkan uminya, Umi Nurul hanya menarik nafas pelan lalu tersenyum memeluk putrinya.
__ADS_1
Siapa yang tidak akan terluka jika harus kehilangan orang yang ia kasihi dan terlebih lagi harus merelakannya bersama sahabatnya sendiri. Memang ini bukan kemauan sendiri, tapi apalah daya semua sudah terjadi. Bahkan setelah mengetahui perasaan cintanya tak bertepuk sebelah tangan, namun semesta pun seolah tak menyutujuinya dan takdir pun tak menginginkan kita bersama orang yang dicintai.
Setiap orang memang akan merasakan jatuh cinta namun cinta juga tak perlu dimiliki cukup dirasakan dalam hati walaupun itu sangat menyakiti hati.
* * *
Sore itu, Aisyah berdiri di balkon teras kamarnya. Angin sore yang berhembus mengayun ayunkan hijabnya yang panjang menutupi tubuh mungilnya. Langit sore yang berwarna oren kemerah merahan dan sang mentari yang mulai menenggelamkan diri. Seolah menggambarkan apa yang tengah ia rasakan. Aisyah menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong dan hati yang masih berkecamuk menyiksa perasaannya.
"Kuatkan aku ya Allah," lirih Aisyah pelan sembari masih melihat ke depan melihat sang mentari yang sebentar lagi akan tenggelam.
Angin semakin kencang berhembus, hijab yang dikenakan oleh Aisyah semakin terayun-ayun terbawa oleh hempasan angin. Langit mulai gelap, sang mentari pun sudah tak terlihat lagi wujudnya. Butir butir air hujan mulai berjatuhan satu persatu, perlahan semakin banyak. Aisyah masih berdiri di sana tanpa memperdulikan gerimis yang mulai melanda, ia mengulurkan kedua tangannya lalu menengadahkan kepala. Ia rasakan tetes demi tetes air hujan yang menyentuh kedua tangan dan wajah cantiknya yang kini mulai basah.
Aku belajar dari hujan, ia tak pernah menghitung seberapa banyak ia teteskan airnya untuk membasahi bumi tanpa harus ada balasan dan tanpa mengharapkan apapapun. Yah aku ingin seperti hujan yang tak pernah lelah untuk membasahi bumi tanpa harus ada balasan. Aku pasti bisa melupakan Ghibran dan membuang semua perasaanku ini terhadapnya, aku pasti bisa.
Aisyah bergumam dalam hatinya sembari tersenyum dan masih dalam keadaan yang sama.
Di tempat lain, Azizahpun tengah menikmati hujan dibalik jendela kamarnya, tatapannya kosong dan pikirannya mulai berantakan dengan segala perasaan yang ia rasakan. Matanya yang sayu mulai meneteskan air mata dan tak bisa terbendung lagi. Selalu kata maaf yang terus dilontarkan dari bibirnya.
"Maafkan aku Aisyah, tolong maafkan aku. maafkan aku, maaf Aisyah."
Tok.. tok.. tok.. tok..
Terdengar suara pintu diketuk dan suara diambang pintu memanggil nama Azizah. Mungkin tangisnya begitu kencang sehingga uminya dapat mendengarnya.
"Azizah, kamu kenapa nak? Apa kamu baik- baik saja di sana, nak?" seru sang umi, Azizah buru-buru menyapu air matanya dengan kedua tangan dan ia bangkit dari duduknya.
"Iya umi, Azizah baik baik saja."
"Makan malam sudah siap nak. Turunlah, umi tunggu dibawah yah."
"Iya umi, Azizah sebentar lagi menyusul."
__ADS_1
"Baiklah."
Tak terdengar lagi suara dari uminya, mungkin sang umi sudah kembali kebawah. Azizah perlahan melangkahkan kaki menuju kamar mandi, ia masuk dan mencuci mukanya. Menatap dirinya pada cermin yang ada di hadapannya.
"Kenapa kamu bisa sejahat ini Azizah? Kenapa kamu begitu tega melukai perasaan sahabat kamu sendiri, kenapa? Apa yang sudah kamu lakukan Azizah, kamu jahat! Maafkan aku Aisyah. Sungguh, aku tidak pernah menginginkannya tolong maafkan aku."
Azizah tertunduk dan kembali terisak dalam tangisnya, hijab yang ia kenaka pun ikut basah karena air mata itu ditambah karena dia habis cuci muka. Azizah keluar dari kamar mandi lalu membuka lemari dan mengambil satu hijab instan kesukaannya lalu langsung mengenakannya dan melangkah pergi meninggalkan kamar.
\* \* \*
"Lho, nak kok makanannya hanya dimainin saja dari tadi umi perhatikan," ucap sang umi yang melihat kelakuan putranya itu sedari tadi hanya memainkan makanannya saja yang ada dihadapan.
"Iya nak, ayok cepat dimakan. Jangan hanya dimainkan saja seperti anak kecil, seperti itu,"
timpal sang aby, menyetujui penuturan istrinya tadi. Ghibran hanya terdiam tidak langsung menjawab pertanyaan yang orang tuanya ajukan.
"Apa kamu sedang ada masalah nak? Sepertinya, kamu sedang memikirkan sesuatu," tanya sang umi sambil memasukan makanan kemulutnya. Ghibran melepaskan garfu dan sendok yang tadi dipegang dan memberhentikan aktifitasnya yang sedari tadi memainkan makanan.
"Tidak mi, Ghibran hanya sedang tidak nafsu makan saja." Ghibran bangkit dari duduknya. Kedua orang tuanya terlihat heran melihat kelakuan putranya itu.
"Yasudah, mi, by, Ghibran mau ke kamar dulu. Masih banyak tugas yang harus Ghibran selesaikan."
Ghibran berlalu pergi meninggalkan meja makan. Umi dan abynya hanya saling pandang merasa bingung atas sikap Ghibran yang tak biasanya bersikap seperti itu.
Ghibran membuka pintu kamarnya perlahan, lalu masuk kedalam kamarnya. Ia melangkah menuju tempat tidur dan membuka laci dilemari kecil yang berada dekat ranjangnya, lalu mengambil selembar fhoto. Yah, fhoto itu adalah fhoto Aisyah yang ia dapatakan saat memotret Aisyah secara diam diam dan Ghibran sengaja mencucinya. Ghibran duduk di tepi tempat tidurnya sembari memegang fhoto Aisyah yang di sana terlihat sangat manis dengan senyum hangat sembari memegang buku-buku.
"Walaupun kita saling mencintai, tapi kita tidak akan bisa bersama Syah. Takdir tidak menginginkan, bahkan tidak meridhoi perasaan kita. Aku hanya butuh waktu untuk melewati semua ini Syah, perlahan pasti bisa melupakanmu. Walau jauh direlung hatiku yang terdalam aku sangat mencintaimu. Semoga dirimu dapatkan jodoh yang terbaik disuatu hari nanti Syah dan semoga kamu akan selalu bahagia."
Ghibran tersenyum sembari masih terus menatap fhoto gadis itu dan kini air matanya mulai luruh berjatuhan dipipi dan membasahi fhoto itu.
"Aku tahu, ini tidak adil buat kamu, tapi ini juga tidak adil untukku ataupun Azizah. Aku bisa saja menolak permintaan umi dan aby untuk dijodohkan dengan Azizah, tapi aku tidak bisa melakukan itu semua. Aku tidak bisa melawan kehendak kedua orang tuaku, jika aku melawan mereka sama saja aku telah melawan penciptaku. Maafkan aku Aisyah, aku memang laki laki yang pengecut dan memang tidak pantas untukmu."
Ghibran menarik fhoto Aisyah kedalam pelukannya. Ia terpaksa harus berbohong kepada orang tuanya agar bisa duluan pergi ke kamarnya dan beralasan bahwa banyak tugas kuliah yang harus dikerjakan. Padahal, kenyataannya tugasnya sudah selesai dari sore tadi. Namun, ia harus berbohong untuk pertama kalinya, karena memang dia tak pernah berbohong kepada orang tuanya atau siapapun. Karena, memang ia sangat menjunjung tinggi sebuah kejujuran dan kini harus membohongi orang tuanya dan membohongi perasaannya.
Perasaan yang dulu selalu mengganggu tiap ia hendak tidur, perasaan yang tidak menentu setiap kali melihat gadis itu. Jantungnya selalu berdegub kencang tatkala memandangi gadis pujaannya. Walaupun hanya dari kejauhan, tapi baginya itu sudah cukup membuat ia bahagia.
__ADS_1
Ghibran memang tipekal laki-laki yang cuek dan tertutup, bahkan dengan perasaannya sendiri. Memang sangat susah untuk ditebak, namun sebenarnya dibalik kecuekannya tersimpan sikap penyayang. Bahkan, ia tak pernah tega jika melihat seorang wanita menangis apalagi disakiti. Namun kini ia merasa ia sendirilah yang telah menyakiti perasaan gadisnya itu. Perasaannya terus berkecamuk tak menentu. Segala rasa sesal dan bersalah juga rasa sakit menjadi satu kini ia rasakan.
Mungkin benar takdir tidak menginginkan kebersamaan antara mereka berdua, mungkin benar adanya, bahwa cinta tak harus memiliki.