KEKASIH HALAL ( Sudah Terbit )

KEKASIH HALAL ( Sudah Terbit )
EXTRA PART (Ketika cinta harus direlakan)


__ADS_3

•Awal Kebahagiaan•


Angin sore berembus sedikit kencang, mengayunkan hijab panjang menutupi sebagian tubuh mungil si pemilik. Bibir tipis merah merona membiaskan senyumnya. Sangat terlihat manis. Dedaunan kering beterbangan mendekati wanita itu. Kedua netra itu memancarkan kebahagiaan yang sudah lama menghilang di wajah.


Seorang pemuda tinggi dengan senyum merekah melangkah pelan hendak menghampiri sang wanita. Sebuket bunga sudah dalam genggamannya. Wanita itu menoleh saat terdengar suara derap langkah kaki sang pemuda. Wajah keduanya berseri, menunjukkan sebuah kebahagiaan.


"Sayang," ucap pemuda itu sudah berdiri di hadapan sang wanita seraya memberikan satu buket bunga itu. "Terima kasih, karena sudah memberiku kesempatan untuk mencintaimu."


Wanita itu tersenyum dan mengambil bunga itu.


"Aku bahagia karena sudah dicintai olehmu."


Keduanya tersenyum dan pemuda itu menarik sang wanita ke dalam pelukannya, lalu mendaratkan sebuah kecupan hangat di puncak kepala wanita tersebut. Bahagia. Itulah yang kini tengah dirasakan oleh dua insan yang baru menyadari jika saling ingin memiliki, mencintai dan tak ingin kehilangan.


* * *


"Azizah, di mana sepatuku?" teriak Ghibran di dalam kamar sambil berkeliling mencari yang ia butuhkan.


"Ada di tempat biasa, sayang. Cari aja. Aku lagi tanggung ini," ucap Azizah tak kalah berteriak di dapur.


"Tidak ada Azizah. Ayok, kamu ke sini dulu." Ghibran kembali berteriak, karena belum menemukan juga yang dicari.


Mendengar sang suami menyuruhnya, Azizah pun terpaksa harus mematikan kompor dan menghentikan aktivitas memasak. Wanita itu buru-buru berjalan untuk menemui Ghibran. Azizah menarik nafasnya pelan saat menemukan sepatu yang tengah Ghibran cari, lalu masuk ke kamar.


"Sudah ketemu belum?" tanya Azizah berdiri di ambang pintu.


"Belum sayang, kamu naronya di mana, sih?" gerutu Ghibran masih mencari sepatu miliknya.


Melihat Azizah hanya berdiri saja di ambang pintu, sementara dirinya sibuk mencari sepatu, Ghibran menoleh pada sang istri. "Kamu kok, malah diem aja. Ayok bantuin aku."

__ADS_1


"Ini apa?" Azizah menunjukkan sepasang sepatu milik Ghibran. Pemuda itu langsung berdiri dan menghampiri Azizah.


"Ii–ini. Kamu menemukan sepatuku di mana?" Ghibran merasa bingung karena sudah berjam-jam mencari sepatunya, tapi tidak ditemukan juga.


"Di tempat biasa," ungkap Azizah santai dan berjalan menuju kursi yang ada di dalam kamar.


"Ah, masa. Dari tadi aku nyari-nyari, tapi gak ada kok." Ghibran mengikuti Azizah dan duduk di kursi.


"Kamu itu kebiasaan, Mas. Selalu lupa menyimpannya."


Wanita itu langsung memakaikan sepatu pada Ghibran. Sebagai istri yang baik, Azizah selalu manut dan melakukan kewajibannya penuh ikhlas. Itulah yang setiap hari harus dijalani olehnya setelah merasakan pernikahan yang sesungguhnya dengan Ghibran. Terlebih, soal kebiasaan Ghibran yang selalu susah menemukan barang miliknya. Seperti pagi itu, Ghibran mencari sepasang sepatu yang akan dikenakan ke kantor, tapi tak ditemukan. Azizahlah yang harus turun tangan, padahal dirinya tengah memasak.


Semenjak keduanya merasakan pernikahan seutuhnya, mereka sudah tidak tinggal bersama orang tua Ghibran atau pun Azizah. Kini, sepasang suami istri itu sudah memiliki sebuah rumah sederhana, walaupun kecil tapi cukup untuk mereka tinggali.


Kebahagiaan terus menghiasai rumah tangga dua insan itu. Walau belum dikaruniai seorang buah hati, tapi keduanya selalu sabar menanti. Cinta memang tak bisa ditebak. Berawal dari sebuah perjodohan dan tak ada rasa sekalipun, hingga harus mengorbankan perasaan orang lain. Namun, pada akhirnya benih-benih asmara tumbuh jua di hati keduanya.


Ghibran yang tak bisa melupakan Aisyah–wanita yang pernah dikagumi, akhirnya bisa luluh juga. Namun, disaat cinta itu mulai tumbuh cobaan datang dan Azizah yang harus merelakan Ghibran untuk Aisyah, tapi ternyata semesta punya caranya sendiri. Menyatukannya kembali dengan Ghibran.


"Kamu apaan, sih!" protes Azizah mencoba melepaskan tubuhnya. Namun, Ghibran malah semakin erat memeluk wanita itu.


"Aku bahagia, karena bisa memilikimu, Azizah," ungkap Ghibran masih menatap Azizah.


Wanita itu kembali tertunduk malu, wajahnya mulai memerah bak kepiting rebus. Tak bisa lagi disembunyikan rasa canggung dalam dirinya. Yang tadinya meronta, kini malah hanya diam dalam pelukan sang suami. Ghibran kembali mengangkat wajah Azizah dan 'cup' satu kecupan lembut mendarat di pipi mulus itu. Azizah hanya melongo mendapatkan perlakuan tadi. Darahnya mulai berdesir hebat, Ghibran membias senyumnya.


"Kamu ...."


"Kenapa?" potong Ghibran menatap Azizah. "Apa aku tidak boleh mencium istriku sendiri?" goda Ghibran mendekatkan wajahnya ke wajah Azizah.


"Ya, tapi kan tidak dengan cara seperti tadi," protes Azizah tak terima.

__ADS_1


"Habisnya, setiap pagi kamu tidak pernah memberikanku sebuah ciuman hangat untukku, salah siapa coba?"


Azizah menatap tajam pada Ghibran, sementara Ghibran terus menggoda wanita itu dan menaik turunkan alis tebalnya. Perlahan, wanita itu mendekatkan wajahnya pada wajah Ghibran. Ghibran sedikit terkejut dan berhenti memainkan alisnya.


Cup!


Satu kecupan lembut Azizah berikan di pipi Ghibran. Pemuda itu hanya terpaku, tak bisa berkata apa-apa lagi.


"Aku mencintaimu," ucap Azizah dan berhasil meloloskan diri, lalu berlari meninggalkan Ghibran sambil tersenyum.


Ghibran tersenyum melihat kepergian Azizah hingga wanita itu menghilang. Kembali tangannya memegang pipi yang sudah diberikan sebuah kecupan oleh Azizah. Kedua mata besar itu memperlihatkan betapa bahagianya pemuda tersebut.


"Aku juga mencintaimu, Azizah."


.


.


.


.


.


Buat yang rindu Azizah dan Ghibran, nih Mimin kasih Ekstra partnya. Semoga bisa mengobati kerinduan kalian yah sama mereka. 😁 😍 Semoga suka. 😍


Alhamdulilah, bukunya sudah mulai open Po yah teman-teman. Yang mau peluk bukunya boleh japri aja. Silakan hubungi no yang tertera yah. Yang penasaran sama kelanjutan ceritanya monggo diorder. 😘


083813696926

__ADS_1


Mari kita baper-baperan bareng. 🤗 😍



__ADS_2