
Aisyah termenung, sembari memikirkan kejadian tadi siang saat ia melihat Azizah dengan Ghibran. Hatinya terus bertanya-tanya.
"Apakah Azizah juga menyukai Ghibran? Tapi tidak mungkin, bahkan Zizah sangat tidak menyukai dia, tapi kalau pun benar Azizah menyukai Ghibran tidak Apa-Apa aku harus ikhlas melihat sahabatku bahagia. Ikhlaskan hati ini Yaa Allah," lirih Aisyah.
Sementara itu Ghibran sedang bersiap-siap di dalam kamarnya, ia melihat dirinya dicermin sembari berbicara sendiri
"Malam ini, saya akan bertemu dengan wanita pilihan orang tua saya. Yah, walaupun hati ini hanya tertuju pada Aisyah tapi saya harus membuang jauh jauh perasaan saya terhadap Aisyah. Karena memang mungkin kami tidak ditakdirkan untuk bersama, bismillah aku ikhlas Yaa Allah."
Ghibran menghela nafas, ternyata umy Aminah mendengar ucapan Ghibran diambang pintu tanpa sepengetahuan Ghibran.
Sementara itu Azizah pun sedang bersiap siap di kamarnya, ia melihat wajahnya dicermin sembari merapikan kerudungnya.
"Yaa Allah, malam ini aku akan bertemu dengan calon suamiku yang tak aku kenali sebelumnya. Apakah ini memang takdirku Yaa Allah?"
Umy fatimah masuk kedalam kamar dan langsung menghampiri Azizah, Azizah terkejut melihat umynya.
"Anak umy sudah cantik, kamu sudah siap nak?"
Azizah menoleh sembari tersenyum dan hanya terdiam.
"Umy tidak menyangka nak, sebentar lagi kamu akan menikah dan meninggalkan umy. Kalau Aby masih ada pasti Aby juga sangat bahagia melihat anaknya sebentar lagi akan menikah." Mata umy Fatimah bekaca-kaca dan Aisyah langsung menyapu air Mata umy Fatimah.
"Umy jangan berbicara seperti itu, Zizah tidak akan pergi kemana-mana Zizah akan selalu ada di sini bersama umy." Azizah tersenyum, umy Fatimah juga tersenyum dan memegang tangan Azizah.
"Disatu sisi umy bahagia karena anak umy sebentar lagi akan menikah, tapi disisi lain umy sedih karena ...."
Azizah langsung memotong perkataan umy Fatimah sembari menyapu air mata umy Fatimah.
"Umy dengarkan Zizah, Zizah tidak akan kemana-mana. Zizah akan tetap di sini bersama umy." umy Fatimah tersenyum lalu berlalu meninggalkan Azizah.
Sementara itu di tempat lain, Aisyah termenung masih teringat kejadian tadi. Hatinya terus bertanya-tanya dan merasa penasaran.
"Yaa Allah, kenapa aku dan sahabatku sendiri harus mencintai orang yang sama? Aku tidak boleh egois, persahabatan aku dengan Azizah sudah terjalin lama dan bahkan kami sudah seperti saudara sendiri. Jangan karena satu orang lelaki, persahabatan kami hancur begitu saja. Tidak, aku harus buang jauh-jauh perasaan ini terhadap Ghibran. Yaa Allah kuatkan aku," lirih Aisyah. "Tapi, bukankah Azizah sudah dijodohkan? Kenapa aku harus merasa gelisah seperti ini? Ya Allah Aisyah, kenapa kamu sampai sebegininya memikirkan Ghibran padahal kamu pun belum tahu apakah Ghibran juga merasakan hal yang sama denganmu," sambungnya sedikit merasa lega.
Aisyah menghela nafasnya dan tiba tiba ponselnya berbunyi, ternyata Azizah yang menelpon. Aisyah pun segera menjawab telepon dari Azizah Sambil menyapu air matanya, Aisyah mulai berbicara.
"[Assalamualaikum Zah, iyaa ada apa Zah?]"
"[Waalaikumsalam Syah.]" terdengar suara Azizah dijauh sana.
"[Syah, malam ini aku dan umy diundang ketempatnya pak Haryo, dan otomatis aku akan bertemu dengan lelaki itu. Aku harus bagaimana, Syah?]" tanya Azizah, meminta saran.
"[Kamu harus tenang zah, jangan takut. Aku yakin, lelaki itu pasti yang terbaik untuk kmu. oiyaa aku turut bahagia yah.]"
"[Iyaa Syah, do'a kan aku yah. Semoga saja aku bisa melewati ini.]"
"[Aamiin.]" Aisyah tersenyum.
Ghibran masih di kamarnya sembari melihat fhoto Aisyah, ia masih saja menyimpan fhoto Aisyah meskipun tidak bisa memilikinya. Di ambang pintu, umi Aminah sudah memperhatikan Ghibran sedari tadi tanpa Ghibran ketahui karena posisi Ghibran membelakangi pintu. Terdengarlah suara umy Aminah diambang pintu memanggil Ghibran.
"Ghibran," panggil Aminah.
Mendengar suara umynya, Ghibran terkejut dan segera buru-buru menyembunyikan fhoto Aisyah pada sebuah buku yang ada di atas meja. Umy Aminah menghampiri Ghibran, Ghibran menoleh dan bangkit dari duduknya.
"Iyaa my."
"Anak umy tampan sekali." Aminah memperhatikan penampilan Ghibran yang sudah rapi, mengenakan kemeja polos berwarna biru muda dipadu padankan dengan celana berbahan katun berwarna hitam. Semakin membuat ia terlihat tampan.
__ADS_1
Umy Aminah tersenyum melihat anaknya itu.
"Kamu sudah selesai nak?"
"Sudah mi, kenapa mi?? Apa keluarga pak Yusuf sudah datang?"
Umy Aminah tersenyum dan mengajak Ghibran untuk duduk.
"Duduklah, nak."
Ghibran merasa heran dengan sikap umynya, ia hanya menuruti permintaan uminya itu. Ghibran duduk di tepi ranjang disamping uminya.
"Alhamdulillah, tidak terasa sekarang putra umy sudah beranjak dewasa dan sebentar lagi akan menjadi seorang suami. Padahal, rasanya baru kemarin kamu masih bermain sepeda lalu terjatuh dan kadang kamu sampai menangis dan berkata 'aku tidak mau naik sepeda lagi, sepedanya nakal umi pukul sepedanya' dan sekarang kamu sebentar lagi akan menikahi seorang wanita."
Umy Aminah tersenyum sembari merasa sedih dan matanya mulai berkaca kaca, Ghibran langsung memeluk umynya itu.
Sementara itu, Azizah sudah berada di dalam mobil sedang diperjalanan menuju kediaman Ghibran, Azizah terus merenung dan hanya terdiam.
Ghibran melepaskan pelukannya dan menyapu air mata umynya sambil berkata, "Umy jangan menangis, bukankah ini kebahagiaan. kenapa umy menangis?"
Umy Aminah tersenyum sembari mencubit pipi Ghibran.
"Ini air mata kebahagiaan sayang. umy sangat bahagia, yasudah sebentar lagi tamu kita akan sampai kamu bersiap siap lalu turun kebawah yah."
Umy Aminah tersenyum lalu berlalu melangkah pergi meninggalkan Ghibran. Ghibran pun tersenyum melihat kepergian umynya lalu ia kembali termenung.
"InsyaAllah Ghibran, kamu pasti bisa!!"
Ghibran tersenyum, lalu kembali mengambil fhoto Aisyah yang ia selipkan diantara lembaran-lembaran kertas yang ada didalam buku. Ia pandangi terus fhotonya, dengan begitu lamat dan tak sedetik pun ia lepas dari pandangannya.
Azizah beserta uminya pun sampai di tempat yang mereka tuju yang tak lain adalah rumah pak Haryo, yang di sana juga rumah Ghibran dan Azizahpun tidak mengetahuinya sama sekali. Mobil yg ditumpangi Azizah beserta uminya berhenti tepat di depan sebuah rumah yang begitu mewahnya nan Indah dan merekapun segera keluar dari dalam mobil tersebut, mereka berjalan menuju halaman rumah, diambang pintu sudah ada seorang wanita paruh baya dan seorang lelaki yang tidak begitu tua namun kelihatannya masih sangat gagah melempar senyum dari kejauhan menyambut kedatangan tamunya yang sudah mereka tunggu sejak tadi. Ghibran tidak terlihat diantara mereka berdua, ia masih ada didalam kamarnya karena belum selesai merapikan diri.
ucap umi Aminah menyambut keluarga Azizah sembari melempar senyum. dan mereka pun bersalaman, tidak lupa Azizah pun menyalami kedua orang tua tersebut dihadapannya dan umi Aminah segera mengajak mereka untuk masuk kedalam rumahnya.
"Ayo kita masuk, kami sudah menanti kedatangan kalian di sini, mari."
Mereka pun masuk, dan langsung menuju meja makan karena memang undangannya untuk makan malam bersama. Mereka duduk dikursi yang sudah tertata rapi di sana. Berbagai hidangan sudah ada di atas meja makan yang cukup besar di sana, sehingga macam masakan apa saja sudah memenuhi isi meja tersebut.
Ghibran turun dari anak tangga di sana, menuju ruang meja makan dan langsung memberikan salam.
"Assalamualaikum." Sambil melempar senyum dan langsung menyalami umi Azizah.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakaatuh." Umi Fatimah menjawab salam Ghibran, begitu pun dengan Pak Haryo juga Umi Aminah.
Azizah yang sedari tadi hanya menundukan kepalanya, mendengar ada ucapan salam ia pun langsung menjawabnya sambil menarik wajahnya yang sedari tadi ia tunddukan, dan betapa terkejutnya Azizah saat melihat pemuda di hadapannya adalah Ghibran. Ya, dia Ghibran seorang lelaki yang menurutnya paling aneh dan menyebalkan di kampusnya.
"Waalaikum salam warah ...." Azizah terkejut dan tidak sampai menyelesaikan jawaban salamnya, Azizah ternganga melihat pemuda di hadapannya adalah Ghibran. sehingga ia bangkit dari duduknya begitu pun Ghibran yang tidak kalah terkejutnya melihat Azizah yang ada di hadapannya.
"Kamu." Mereka bersamaan mengucapkan kata itu, sementara kedua orang tua mereka hanya melihat heran melihat mereka berdua.
"Kalian sudah saling kenal tohh nak?"
Tanya seorang lelaki paruh baya yang duduk di paling ujung, yang tak lain adalah pak Haryo Abi Ghibran.
Azizah dan Ghibran seraya kompak berbarengan menoleh kearah pak haryo, namun Azizah langsung menundukan kembali wajahnya karena merasa malu atas sikapnya tadi.
"Alhamdulilah, kalau kalian sudah saling mengenal. Jadi tidak akan terlalu susah 'kan untuk menjalin hubungan kalian nanti,"
__ADS_1
Celetuk umi Aminah, sambil tersenyum bahagia.
"Iyaa, Azizah satu kampus dan satu kelas dengan Ghibran mi, bi tapi kita berdua tidak terlalu dekat bahkan tidak terlalu mengenal satu sama lain," ucap Ghibran menjelaskan pada kedua orang tuanya.
"Iya mi, om, tante benar yang dikatakan oleh Ghibran. Kita berdua memang satu kampus tapi kita tidak terlalu dekat," sambung Azizah menjelaskan sembari tersenyum kikuk, karena ia tidak menyangka orang yang dia anggap aneh dan menyebalkan tersebut akan menjadi pendamping hidupnya nanti.
"Tidak mengapa, mungkin saat ini kalian belum begitu dekat dan bahkan belum mengenal satu sama lain. Tapi, insyaAllah cepat atau lambat kalian akan begitu dekat. Sedekat nadi," ucap umi Fatimah dengan senyum merekah dibibirnya. Pak Haryo dan umi Aminah pun juga ikut tersenyum bahagia begitu pun dengan Ghibran dan Azizah yang mencoba tersenyum namun tidak sesumringah para orang tuanya, mereka pun memulai makan malamnya yang terlebih dahulu membaca do'a yang dipimpin oleh Ghibran.
Setelah makan malam selesai, para orang tua berbincang-bincang di ruang tengah sedangkan Ghibran dan Azizah tengah berada di pinggir kolam renang yang berada di sana. Mereka berdiri saling berdampingan namun agak berjauhan menatap lurus ke atas langit, menikmati pemandangan bintang-bintang yang gemerlapan.
Hijab yang dikenakn oleh Azizah sedikit terayun-ayun oleh hembusan angin malam, udara yang cukup dingin menyelimuti tubuh dua insan.
"Aku tidak menyangka, kalau orang yang akan di jodohkan denganku adalah kamu," ucap Azizah memecah keheningan diantara mereka.
"Apa lagi saya." Masih melihat keatas langit.
"Kenapa kamu tidak menolak perjodohan ini? Bukankah kamu mencintai Aisyah."
"Lalu, saya bisa apa?"
"Kamu itu seorang lelaki, kamu bisa menolak perjodohan ini. Kamu berhak menentukan dan mencari siapa pendampingmu kelak."
"Lantas, kenapa kamu juga tidak menolak perjodohan ini?" Menoleh dan menatap Azizah, Azizah hanya tertunduk terdiam membisu lalu melangkah menjauhi Ghibran.
"Aku ini seorang wanita, wanita itu di pilih bukan memilih. Aku bisa apa? Lagi pula aku melakukan ini semua hanya untuk umyku, aku hanya ingin buat umy bahagia dan lagi pun ini adalah permintaan terakhir dari aby. Aku hanya bisa menuruti keinginan ke dua orang tuaku saja, hanya itu," ucap Azizah lirih.
"Saya pun sama, seperti kamu. Kamu benar saya adalah lelaki, saya bisa menentukan pasangan hidup saya sendiri tapi saya hanya ingin menjadi anak yang baik dan berbakti kepada kedua orang tua saya. Apakah salah jika saya bersikap seperti itu?"
"Tidak salah, tapi apa harus dengan mengorbankan perasaanmu sendiri?" Azizah berdiri di belakang Ghibran.
"Iya, bagi saya kebahagiaan kedua orang tua saya lebih penting dari apa pun dan siapa pun."
"Iya aku tahu, lantas bagaimana dengan Aisyah? Apa kamu tidak memikirkan perasaan dia? Aisyah sangat mencintai kamu, aku tahu itu, ia pasti akan terluka."
"Kamu pikir, saya tidak terluka? Kamu pikir perasaan saya tidak hancur? Saat saya tahu bahwa saya akan dijodohkan dengan seorang wanita, hati saya hancur harapan saya musnah agar bisa bersama Aisyah. Makanya, saya memutuskan untuk tidak mengatakannya pada Aisyah agar dia juga tidak terluka."
"Aku tahu, ini berat buat kamu tapi ini juga berat buatku," lirih Azizah sembari menatap kembali ke atas, memandangi bintang-bintang di langit yang jauh nan Indah.
"Tak pernah terpikirkan oleh saya, harus menikahi orang yang sama sekali tidak saya cintai. Tapi, yasudahlah. Mungkin ini memang sudah takdir saya," ucap Ghibran pelan.
"Apa kamu tidak ingin memperjuangkan cinta kamu?"
"Tidak ada yang harus di perjuangkan!"
"Bukankah, cinta itu harus membutuhkan perjuangan dan pengorbanan. Apa kamu benar-benar tidak ingin memperjuangkan cinta kamu?"
"Iya, kamu memang benar. Cinta itu butuh perjuangan dan pengorbanan, bahkan saat ini saya tidak bisa memperjuangkan cinta saya dan kamu jangan lupa, kalau cinta juga tidak harus memiliki. Dan mungkin inilah bentuk dari pengorbanan cinta, yaitu merelakan dan mengikhlaskan orang yang kita cinta."
Azizah hanya terdiam mendengarkan ucapan Ghibran. Memang ini sangat sulit bagi mereka, namun setiap orang memiliki takdirnya masing-masing. Hanya keikhlasan yang harus ditanamkan dalam hati agar bisa menerima semuanya. Kini keheningan menghampiri mereka, tak ada lagi sepatah kata pun yang keluar dari bibir mereka.
Sementara, para orang tua mereka ternyata tengah mengawasi mereka dari kejauhan. Terlihat diwajah mereka raut wajah yang sangat bahagia melihat anak-anaknya sedang bercengkrama.
"Sepertinya, Ghibran dan Azizah sudah mulai dekat. Semoga saja ini yang terbaik untuk anak-anak kita," ucap Umy Aminah melihat Ghibran dan Azizah, sembari tersenyum.
"Aamiin." Umy Fatimah, mengamini sembari mengulas senyum di bibirnya.
"Seandainya saja, Yusuf masih ada di sini bersama kita pasti ia akan sangat bahagia melihat anak-anak kita sudah tumbuh dewasa dan akan segera menikah," tutur Pak Haryo sedih.
__ADS_1
Ghibran dan Azizah masih saling diam, sedari tadi. Tak ada satu kata pun yang di lontarkan oleh mereka. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing, Ghibran yang memikirkan lukanya karena tidak bisa bersama Aisyah dan Azizah pun yang memikirkan nasib cinta nya yang harus ia kubur dalam-dalam terhadap Fahmi.