
Siang itu, sekitar pukul 13:30 Azizah sedang membaca sebuah buku didalam kamarnya. ketika ia sedang asyik membaca, terdengarlah suara seseorang yang mengetuk pintu dan Azizah langsung berhenti membaca, lalu ia mengenakan hijabnya dan segera membuka pintu.
"Umy." Azizah membuka pintu.
"Ya Allah Azizah, kenapa kamu belum siap-siap?" Umy Fatimah masuk kedalam kamar Azizah.
"Siap-siap My? memangnya kita mau kemana?" Menatap heran Uminya.
"Ya ampun Azizah, kamu lupa? hari inikan Pak Haryo mau datang kesini."
"Pak Haryo?"
"Iya sayang, yaudah sekarang kamu cepat siap-siap. Dandan yang cantik, umy kesini kamu harus sudah siap yah."
Umy Fatimah tersenyum lalu pergi keluar meninggalkan Azizah, Azizah hanya terdiam. Ia belum percaya bahwa dia akan bertemu dengan calon suaminya, Azizah duduk diatas tempat tidurnya.
"Ya Allah, kenapa secepat ini? aku belum siap ya Allah," ucap Azizah lirih.
Sementara, diluar sana Haryo sudah datang bersama istrinya, Fatimah menyambut mereka dengan suka cita dan mereka pun masuk lalu dipersilahkan duduk. Sementara itu Azizah sudah siap dan tinggal menunggu umynya memanggilnya. Azizah melihat dirinya pada sebuah cermin lalu ia berbicara sendiri.
"Azizah, sebentar lagi kamu akan menjadi seorang istri dan kamu harus bisa menerima suami kamu nanti dan menurut kepadanya meskipun kamu tidak mencintainya."
Azizah menghela nafasnya, Fatimah membuka pintu kamar Azizah.
"Azizah, kamu sudah siap nak?"
Azizah menoleh dan Fatimah menghampiri Azizah yang tengah duduk dikursi riasnya.
"kamu siap sayang?" Menatap Azizah lamat, Azizah mengangguk lalu tersenyum dan merekapun pergi.
Fatimah datang bersama Azizah keruang tengah. Dimana, disitu sudah ada Haryo dan Aminah, Azizah mencium tangan Pak Haryo dan Umi Aminah lalu Azizah duduk namun hatinya bertanya-tanya kemana sosok laki-laki yang akan menjadi imamnya? apakah laki-laki separuh baya yang ada dihadapannya ini calon imamnya nanti? namun Azizah langsung mengubris ucapannya dalam hati.
ooo.. tidak tidak, tidak, tidak mungkin bapak ini. Beliaukan Pak Haryo.
Azizah menghela nafas sejenak dan pembicaraan pun dimulai oleh ucapan Pak Haryo.
"oiyah, maaf kami hanya datang berdua karena Ghibran sedang sibuk dikampusnya. Jadi, dia tidak bisa datang kesini," tutur Pak Haryo menjelaskan, memulai perbincangan.
Sontak Azizah sangat terkejut ketika mendengar nama anak Pak Haryo yang disebutkan tadi. Azizah bergumam dalam hatinya.
Ghibran, apa?! kenapa namanya sama, apa orangnya juga sama? ya Allah semoga ini bukan Ghibran cowok aneh itu. Tapi, kalau benar bagaimana? tidak, tidak, tidak, itu semua tidak boleh terjadi.
Umy Fatimah tersenyum, lalu berkata. "Oh, tidak apa-apa Mas, kami mengerti. Oiya silahkan diminum tehnya Mas, jeng."
Pak Haryo dan Umi Aminah tersenyum, lalu meminum teh yang disuguhkan oleh umy Fatimah.
"Oh iya, kalau jeng penasaran dengan wajah Ghibran. Kami membawa fhotonya kok, ini silahkan dilihat biar tidak terlalu penasaran."
Umi Aminah menyodorkan sebuah fhoto kepada umy Fatimah.
"Subhanallah tampan sekali, Azizah coba kamu lihat nak calon suami kamu tampan sekali sayang." umy Fatimah memperlihatkan selembar fhoto kepada Azizah. Namun, Azizah hanya tersenyum dan tidak melihatnya sedikitpun.
"Iyah umy, nanti saja. Lebih baik melihat orangnya langsung 'kan? lagipula, Azizah hanya ingin melihatnya nanti kalau kami sudah syah menjadi suami istri, itu akan lebih baik."
Umy Fatimah hanya tersenyum, begitu juga dengan Pak Haryo dan Umi Aminah. Lalu, umy Fatimah mengembalikan fhoto itu kembali.
"Sepertinya, kami harus sudah pamit bu Fatimah." ujar Pak Haryo.
"Iyah, nanti pertemuan selanjutnya kita bicarakan tanggal pernikahan mereka," sambung Umi Aminah seraya tersenyum.
"Baiklah, terimakasih atas kedatangannya," ucap Umy Fatimah tersenyum.
Pak Haryo beserta Umi Aminahpun berpamitan. Umy Fatimah dan Azizah mengantarkan kedepan, mereka berdua masuk kedalam mobil lalu pergi.
Ditempat lain, Ghibran sedang berjalan dengan terburu-buru dan tanpa menghiraukan orang-orang yang juga berjalan. Sehingga ia tidak sengaja bertabrakan dengan seorang gadis yang tak lain gadis itu adalah Aisyah, orang yang ia kagumi selama ini. Buku-buku yang dibawa oleh Aisyah jatuh berantakan dan mereka berdua segera membereskan buku-buku tersebut. Ghibran terus memandangi wajah ayu Aisyah tanpa diketahuhi oleh Aisyah. Sementara, Aisyah sibuk membereskan buku-buku tersebut.
"Kamu itu, kalau jalan hati-hati dong. Jangan gerasah gerusuh seperti itu," ucap Aisyah sedikit kesal.
Ghibran tidak berkata apa-apa, ia masih asyik dengan pandangannya terhadap Aisyah. Aisyah mulai merasa heran, kenapa Ghibran diam saja. Aisyah pun mengangkat wajahnya, dan dia melihat Ghibran sedang memandanginya. Aisyah melambaikan tangannya kedepan wajah Ghibran.
"Hey, hello. kamu dengar aku?" tanya gadis itu, melambaikan tangan.
__ADS_1
Ghibran baru tersadar dari pandangannya.
"Astagfirallahaladzim, apa yang tadi aku lakukan?" lirih Ghibran pelan.
Ghibran langsung bangkit, berdiri diikuti oleh Aisyah.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Aisyah.
Ghibran menggelengkan kepalanya, lalu berkata. "Maaf, saya buru-buru." Ghibran beranjak pergi, namun tidak berapa lama ia kembali lagi menghampiri Aisyah.
"Oh iya, maaf tadi saya tidak sengaja," sambungnya lalu langsung pergi dan Aisyah hanya diam saja lalu pergi dengan senyum diwajahnya.
Ghibran pergi dengan motornya melaju begitu cepat. Tidak berapa lama, ia sampai dirumahnya dan langsung turun dari motornya lalu masuk kedalam rumah.
"Wa'alaikumsalam."
Langkah Ghibran terhenti saat mendengar suara tersebut, lalu ia segera menoleh dan ternyata sudah ada pak Haryo yang duduk sembari membaca koran.
"Aby, aby sudah pulang?" tanya Ghibran sedikit kikuk.
Ghibran segera menghampiri ayahnya itu lalu mencium tangan ayahnya tersebut.
"Ghibran pikir, aby akan lama disana," sambungnya masih berdiri dihadapan sang aby.
Pak Haryo hanya tersenyum, Umi Aminah datang sambil membawa secangkir teh lalu menyimpan diatas meja.
"Kamu sudah pulang nak?" tanya sang umi sambil melempar senyum.
"Baru saja my," jawab Ghibran.
"Sini sayang, duduk dekat umy." umy Aminah tersenyum seraya menepuk pelan sofa disampingnya yang kosong. Ghibran menghampiri ibunya lalu duduk disamping ibunya
"Kelihatannya, umy sangat bahagia. Ada apa umy?" tanya Ghibran penasaran.
"Iya sayang, umy sangat bahagia sekali. Karena, sebentar lagi anak umy akan menjadi seorang imam," tutur sang umy dengan senyum sumringah diwajahnya begitu juga dengan Pak Haryo.
"Kamu tahu nak? calon istri kamu sangat cantik. Dan umy lihat, sepertinya dia wanita yang baik dan berakhlak," sambung umi Aminah bahagia.
Ghibran hanya diam saja, ia tidak bisa berkata apa-apa hanya senyum getir yang diperlihatkan dari wajah tampannya. Namun, tetap berusaha agar terlihat bahagia juga dihadapan kedua orang tuanya.
Ghibran menghela nafas lalu melempar senyumnya.
"Pilihan umy dan aby adalah yang terbaik untuk aku. Jika memang seperti itu, berarti itu sesuai dengan apa yang kita harapkan," tutur Ghibran, sedikit berbohong.
"Oh iya sayang, nama calon istri kamu itu Nurazizah fatimahtunnazwa. Indah sekali kan namanya? yah sesuai dengan orangnya." Umi Aminah tersenyum begitu juga dengan Pak Haryo.
"Yasudah, Ghibran mau kekamar dulu." Ghibran bangkit dari duduknya lalu pergi menuju kamarnya.
Sementara ditempat lain, Aisyah sedang tersenyum-senyum sendiri didalam kamarnya. Ia sedang memikirkan kejadian tadi saat ia bertabrakan dengan ghibran.
"Kenapa, Ghibran tadi terus memandangi aku yah? apa dia... aahh tidak mungkin. Diakan orangnya dingin sama perempuan, apa dia bisa jatuh cinta juga? tapi tingkah laku dia tadi begitu aneh. Apa yang terjadi dengan Ghibran sebenarnya?" ujar gadis itu penasaran.
"Tapi, kalau dia seperti itu berarti apa yang aku rasakan selama ini tidak bertepuk sebelah tangan dong," Sambungnya bergumam dalam hati.
Aisyah tersenyum bahagia, terdengarlah suara bell. Aisyahpun keluar dari kamarnya, lalu pergi menuju pintu depan. Aisyah pun segera membuka pintu.
"Azizah, ayo masuk."
Azizah masuk, merekapun duduk disofa dan Aisyah pergi membuat minuman. Tidak lama kemudian, ia kembali dengan membawa segelas air.
"Ayok minum dulu Zah, biar sedikit tenang." Aisyah menyodorkan minuman pada Azizah.
Azizah pun meminum minuman tersebut.
"Kamu kenapa Zah?" tanya Aisyah bingung.
Azizah meletakan gelas diatas meja lalu menarik nafas perlahan dan mengembuskan nafasnya.
"Tadi, keluarga Pak Haryo datang kerumah," ucap Azizah pelan.
"Oh, yah? Berarti, kamu sudah bertemu dengan calon suami kamu?" duga Aisyah. Azizah menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Lho, kenapa?" sambung Aisyah, sedikit merasa bingung.
"Tadi, dia tidak bisa hadir. Hanya ada fhoto doang."
"Terus bagaimana?"
"Aku gak lihat, cuma umy yang liat," ucap gadis itu tak bersemangat.
"Kenapa?" tanya Aisyah bingung.
"Aku belum siap Syah," jawab Azizah, tertunduk sedih.
"Kenapa, kamu tidak bilang saja sama umy kamu. Kalau kamu itu, belum siap untuk menikah," saran Aisyah, memandang Azizah yang masih tertunduk.
"Aku gak mau buat umy kecewa Syah, lagipula ini wasiat dari aby. Jadi, aku gak bisa nolak," Ucap Azizah pasrah.
Aisyah menghela nafas, lalu menepuk pelan lengan Azizah.
"Sabar yah zah," Aisyah tersenyum, begitu juga Azizah seraya mengangkat wajahnya.
Aisyah terus memberikan Azizah pencerahan. Yah, walaupun hati kecil Azizah belum bisa menerima sepenuhnya perjodohan itu.
Ya Allah, berikanlah hamba kekuatan. Gadis itu bersenandika dihatinya.
Azizah yg sedari tadi melamun, tidak menyadari bahwa Aisyah dari tadi memanggilnya terus menerus.
"Azizah, sudahlah jangan terlalu difikirkan. kamu harus percaya, dan aku yakin pilihan umy kamu adalah yg terbaik untuk kamu," tutur Aisyah, memberi semangat.
"Aamiin." Azizah tersenyum simpul.
"Oh, iya Zah. Tadi, di kampus aku gak sengaja bertabrakan sama Ghibran, dan kamu tau apa yang terjadi?"
"Apa? Kelihatannya kamu sangat bahagia sekali," tanya Azizah penasaran, sedikit menggoda sahabatnya.
"Ahh, kamu Zah. Enggak kok, biasa aja," jawab Aisyah sedikit malu dan tanpa ia sadari, dirinya tersenyum simpul.
"Terus, kenpa kamu senyum-senyum gitu?" goda Azizah.
"Akukan, emng gampang senyum," elak Aisyah sambil nyengir.
Azizah hanya tersenyum melihat kelakuan sahabatnya satu itu, yang terlihat begitu bahagia seperti orang yang tengah jatuh cinta.
"Aku aneh Zah, kenapa yah Ghibran liatin aku terus?"
"Mungkin, dia suka sama kamu," celetuk Azizah dan membuat Aisyah terkejut.
"Hah, suka? Gak mungkin ahh, masa dia suka sama perempuan kayak aku gini," ujar Aisyah tak percaya.
Azizah menoleh dan duduk berhadapan dengan Aisyah sambil memegang kedua bahunya.
"Kenapa gak mungkin? Aisyah, kamu itu cantik, baik, ramah, sopan, rajin, bisa ngaji, tahu tentang agama, dan kamu juga berhijab. Jadi, gak ada alasan satu orang priapun buat gak suka sama kamu. Apalagi seorang Ghibran, dia aja terkagum-kagum sama kamu. Aku juga, kalau jadi seorang pria aku juga akan sama seperti dia," tutur Azizah tersenyum sambil menyentil hidung Aisyah yang mancung.
"Ahh, kamu terlalu berlebihan Zah. Bahkan, aku masih jauh dari kata sempurna dan soal Ghibran mungkin itu cuma perasaan aku saja."
"Jadi, kamu suka sama Ghibran Syah?" tanya Azizah memggoda. Pipi Aisyah mulai memerah.
"Udahlah akui saja, kalau kamu memang suka sama dia. Ungkapin Syah, nanti keburu sama orang lho," sambung Azizah memberi saran.
"Ahh, kamu apaan sih Zah." Aisyah tersipu malu dan Azizah terus menggoda Aisyah.
Ditempat lain, Ghibran sedang berada di kamarnya dan mengingat kejadian tadi saat bertabrakan dengan Aisyah.
'Kalau jalan lihat-lihat dong, jangan gerasah gerusuh gitu.'
Bayangan itu terus terbayang di memori otak pemuda tampan itu. Ghibran mengambil sebuah foto didalam laci dan dia terus memandang foto tersebut. Yang tak lain adalah foto Aisyah.
"Yaa Allah, kenapa Engkau memberikan rasa ini untukku? Jikalau nantinya, aku tidak bisa bersama dia. Rasa ini semakin besar, aku harus bagaimana ya Allah?" Ghibran terus memandangi foto Aisyah terus menerus.
"Aisyah, kalau saja kamu tau tentang perasaanku ini. Maafkan aku Aisyah, karena aku terlalu pengecut. Meskipun kita tidak bisa bersama, semoga kamu mendapatkan pendamping yg terbaik untukmu. Aku mencintaimu dan aku ikhlas melepasmu," sambung Ghibran mengembuskan nafas kasar.
Sementara itu Aisyah pun masih terfikirkan tentang Ghibran juga kejadian tadi siang.
__ADS_1
Ya Allah, jika Engkau memperkenankanku dengannya maka persatukanlah kami dalam sebuah ikatan cinta yang Engkau ridhai. Tetapi, jika tidak maka berikanlah aku keikhlasan untuk melepaskannya.
gumam dalam hati, Aisyah seraya menatap bintang-bintang di langit yang indah bersinar terang.