KEKASIH HALAL ( Sudah Terbit )

KEKASIH HALAL ( Sudah Terbit )
Bagian 17


__ADS_3

Bagaimana rasanya, jika Kekecewaan yang datang menimpa? Dan perasaan bersalah di dalam diripun kian menyeruak.


Tok.. tok.. tok..


"Assalamualaikum." Azizah mengucapakan salam seraya terus mengetuk sebuah pintu.


Tok.. tok.. tok..


Berulang kali, wanita cantik itu terus mengetuk pintu di hadapannya. Namun, tak ada jawaban ataupun yang membukakan pintu.


"Assalamualaikum."


Azizah kembali mengucapkan salam. Sayang, tak pernah ada jawaban dan pintu pun tak pernah terbuka. Azizah tertunduk lemas, menatap nanar ke bawah.


"Kenapa, rumah ini begitu sepi? Bahkan tak ada yang membukakan pintu untukku. Sebenci itu kah, kamu Syah padaku?"


Gadis itu bersenandika, air mata tak terasa luruh begitu saja. Dadanya terasa sesak, mengingat apa yang sudah terjadi. Hingga, ia harus kehilangan sahabat terbaiknya, karena perjodohannya dengan Ghibran.


Dari kejauhan, seorang ibu-ibu berdasteran tengah mengawasi Azizah yang berdiri di depan pintu. Ibu itu kelihatan tak begitu tua, sekitar 30 tahunan usianya. Ia memicingkan mata, melihat Azizah di sana. Lalu, perlahan wanita itu menghampiri Azizah.


"Mbak," sapa wanita itu. Azizah menoleh.


"Bu Nurul beserta keluarga, sudah tidak tinggal di sini lagi, mbak," sambung wanita itu memberitahu Azizah.


Azizah hanya memicingkan matanya dan terdiam mematung.


"Oh, kira-kira ibu tahu tidak yah, mereka sekarang tinggal dimana?" tanya Azizah penasaran.


"Kalau, alamat persisnya saya tidak tahu mbak. Tapi, setahu saya mereka pindah ke luar negeri," ucap wanita di hadapan Azizah. Mungkin, dia tetangga keluarga Aisyah.


''Luar negeri? Sebenci itu kah, kamu Syah? Hingga kamu harus pergi jauh."


Azizah bergumam dalam hatinya, tertunduk. Nampak, raut kesedihan diwajahnya yang ayu. Sungguh, kini hatinya semakin hancur, mengetahui Aisyah tak lagi berada di negara yang membesarkannya.


"Kalau gitu, saya permisi yah, mbak."


Suara ibu itu membuyarkan lamunan Azizah. Gadis itu terperangah kaget.


"Oh, iya. Terima kasih yah buk," ucap Azizah, tersenyum. Ibu itu hanya mengangguk dan tersenyum. Lalu pergi meninggalkan Azizah seorang diri diluar rumah mewah itu.


Yah, hari ini Azizah memutuskan untuk pergi ke rumah sahabatnya, Aisyah. Memastikan, apakah Aisyah baik-baik saja atau tidak. Karena, sahabatnya itu menghilang begitu saja tanpa ada kata pamit. Namun sayang, usahanya nihil, Aisyah tak lagi tinggal di rumahnya yang dulu.


Hatinya semakin hancur, karena kini tak bisa lagi berjumpa dengan sahabatnya. Air mata mengiringi kepergian wanita berparas cantik itu, meninggalkan kediaman Aisyah.

__ADS_1


Azizah sampai di rumah mertuanya, pipinya masih terlihat basah karena tangisnya. Dari dalam rumah, Ghibran melihat aneh kedatangan Azizah yang nampak sendu. Yah, hari ini pemuda itu tidak masuk kerja, karena badannya sedikit tidak enak. Pun, sebelum pergi Azizah sudah memberikan Ghibran obat.


Azizah masuk dengan air mata yang terus mengalir, tak terbendung lagi. Ghibran makin bingung dan penasaran melihat sikap Azizah. Pemuda itu melangkah lebih dekat, melihat kedatangan Azizah. Matanya terus tertuju pada seorang wanita, yang kini telah menjadi istrinya.


Aneh, penasaran itu yang kini Ghibran rasakan. Ada apa dengan Azizah? Itu yang mengganggu dalam pikirannya, sekarang. Azizah terhenti dari langkahnya, melihat Ghibran yang tengah berdiri diantara meja dan sofa ruang tengah. Lama, cukup lama gadis itu menatap suaminya. Lalu, pergi sedikit berlari dengan membungkam mulut, menahan tangisnya yang akan pecah.


Pemuda berwajah tampan itu semakin gusar. Ia mengikuti Azizah dari belakang. Azizah terus berlari menuju kamarnya, hingga ia terjatuh duduk di tepi ranjang. Tangisnya pecah seketika, wanita itu menangis sejadi-jadinya.


Ghibran hanya berdiri, memandang aneh di ambang pintu. Pemuda itu semakin bingung atas sikap Azizah.


"Ini semua salahku, salahku."


Azizah terus menyalahkan dirinya, sangat jelas terdengar oleh Ghibran apa yang sudah dikatakan oleh wanita itu.


"Apa, ini ada hubungannya dengan Aisyah?" ucap Ghibran pelan, melihat bingung pada Azizah.


Perlahan, Ghibran melangkah mendekati Azizah yang tengah tergugu. Azizah tak menyadari akan kehadiran Ghibran di sana. Ia terus menangis segugukan, air mata terus membanjiri wajahnya.


"Azizah, kamu kenapa?"


Ghibran duduk di samping Azizah, Azizah menoleh dan langsung berhambur dalam pelukan Ghibran. Kini, wanita itu hanya butuh sandaran dan ditenangkan. Ghibran hanya terperangah melihat apa yang dilakukan oleh Azizah.


"Zah, kamu kenapa?" tanya Ghibran.


"Ayok, coba ceritakan pada saya, ada apa?" Ghibran kembali melontarkan sebuah pertanyaan.


"Ini ... ini semua salahku." Azizah melepaskan pelukannya, lalu memukul-mukul tubuhnya.


"Hey, tenanglah Azizah, tenangkan dirimu." Ghibran meraih tangan Azizah yang terus memukul diri sendiri.


"Lepaskan aku, lepaskan aku!" teriak Azizah meronta-ronta.


"Tenanglah, Azizah tenang!" Ghibran balik berteriak.


Azizah diam seketika mendengar teriakan Ghibran yang cukup keras. Hingga, wanita itu kembali tergugu mengeluarkan tangisnya. Ghibran menarik tubuh Azizah kedalam pelukannya. Kebingungan makin mengganggu pikirannya.


"Ini semua salahku, salahku. Aku jahat, aku memang jahat." Azizah terus menangis dalam pelukan sang suami.


''Apa yang terjadi, sebenarnya padamu Azizah? Kenapa, sampai seperti ini sikapmu, kenapa? Ada apa Azizah?''


Pemuda itu, bersenandika seraya mengelus lembut punggung Azizah.


"Aisyah pergi, Aisyah sudah pergi," ucap Azizah masih tergugu.

__ADS_1


Seketika, Ghibran terhenti dari aktivitasnya. Ia terkejut, mendengar ucapan Azizah. Ghibran melonggarkan pelukannya dan memegang kedua bahu wanita di hadapannya. Terjawab sudah kini, penyebab Azizah seperti ini.


"Apa maksudmu, Zah? Kenapa kamu berkata seperti itu?" tanya Ghibran seraya memegang kedua bahu Azizah. Wanita itu hanya mampu tertunduk dengan tangisnya. Ghibran semakin bingung atas tingkah Azizah.


"Ayok, katakan pada saya Azizah. Apa maksud kamu, berkata seperti itu?" Ghibran kembali bertanya, mengguncangkan kedua bahu wanita itu.


"Aa— Aisyah. Aisyah sudah tidak tinggal lagi, di rumahnya," jawab Azizah terbata-bata, bulir hangat dikelopak matanya semakin menganak sungai.


"Saya masih belum paham, coba kamu ceritakan semuanya pada saya Zah."


"Ta— tadi pa—gi, aku pergi ke rumah Aisyah. Dan kata tetangganya, Aisyah sudah tidak tinggal di sana lagi. Melainkan, dia pindah ke luar negeri," tutur Azizah masih berurai air mata. Tertunduk sedih, tak mampu melihat pada Ghibran yang masih duduk di sampingnya.


Ghibran terkejut mendengar penuturan dari Azizah. Pemuda itu langsung melepaskan tangannya dari bahu wanita di sampingnya. Matanya menatap nanar ke depan. Nampak raut kesedihan diwajahnya.


"Ini semua salahku, ini semua salahku."


Azizah terus menyalahkan dirinya sendiri dan kembali memukuli tubuhnya tak henti. Ghibran yang melihat sikap Azizah langsung mencoba untuk menenangkan wanita malang itu.


"Tidak Azizah, kamu jangan terus menyalahkan dirimu sendiri," ucap Ghibran menenangkan Azizah.


"Tidak Ghibran! Kalau saja perjodohan itu tidak terjadi, pasti Aisyah tidak akan pergi ke sana. Kalau saja, aku bisa menolak perjodohan itu. Mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi. Ini semua kesalahan aku, ini semua salah ... ku."


Seketika tangis pecah kembali diwajah Azizah. Bibir mungilnya gemetar hebat, menahan kesedihan yang tengah dirasa. Ghibran meraih kedua tangan wanita itu dan mengenggamnya dengan erat. Berusaha terus menenangkan wanita yang kini bersandang sebagai istrinya.


"Tidak Azizah, jangan berkata seperti itu." Ghibran menggeleng pelan, menatap wajah Azizah yang masih tertunduk.


"Ini semua salahku!" Azizah berteriak histeris.


"Tidak Azizah!" teriak Ghibran tak mau kalah.


Lalu, pemuda tampan itu menarik tubuh Azizah kedalam pelukannya. menenangkan wanita itu yang terus saja menangis.


"Ini semua salahku, salahku, salahku," lirih Azizah pelan.


"Ini semua, bukan sepenuhnya salahmu Zah. Saya juga salah. Kamu jangan terus menyalahkan diri sendiri. Kamu tidak salah Azizah. Percayalah! Aisyah pasti baik-baik saja di sana. Dia wanita yang sangat kuat bukan? Dan semuanya akan baik-baik saja, percayalah Azizah."


Ghibran terus menenangkan Azizah, pemuda itu mengelus lembut punggung Azizah hingga tak terasa Azizah tertidur dalam pelukannya. Kini, air matanya sudah tak keluar lagi dari kelopak mata indahnya. Hanya saja, wajahnya masih basah karena sisa-sisa air mata.


Walau tak bisa dipungkiri, hatinyapun sama sakitnya seperti yang dirasakan oleh Azizah. Namun, ia berusaha tetap tegar dan Ghibran sadar, tak seharusnya dirinya menangisi wanita yang bukan mahramnya. Karena, kini ia adalah suami orang. Kendatipun Ghibran belum memiliki perasaan apapun pada Azizah, tapi dirinya harus menghargai perasaan istrinya itu.


Dirasa Azizah sudah tertidur lelap, Ghibranpun mengangkat tubuh wanita cantik itu dan membaringkannya di atas ranjang. Tidak lupa selimut ia tutupi pada tubuh Azizah yang tengah tertidur. Ghibran duduk di samping Azizah, pemuda itu menatap lamat pada wanita di depannya. Terlihat wajah sendu, kesedihan, diwajah wanita itu. Iba Ghibran melihatnya.


"Aku tahu, ini semua berat buat kamu Zah. Aku tahu kamu tersiksa, tapi aku mohon jangan pernah menyalahkan dirimu sebagia alasan perginya Aisyah. Karena, aku pun juga salah Azizah. Aku hanyalah lelaki pengecut, pecundang. Maafkan aku Zah."

__ADS_1


Pemuda itu bersenandika dalam hatinya seraya terus menatap wajah Azizah. Hingga terciptalah garis senyum dikedua sisi bibirnya.


__ADS_2