
Azan pun berkumandang, Azizah bangun dari tidurnya dan langsung pergi menuju kamar mandi untuk berwudhu dan setelah itu Azizah segera melaksanakan shalat subuh. Setelah shalat Azizah segera memanjatkan do'a.
"Yaa Allah yang maha Rahman dan Rahim, ampunilah segala dosaku, kedua orang tuaku, dan berikanlah tempat yang terbaik untuk Aby. Yaa Rabb, ikhlaskanlah hati ini untuk bisa menerima perjodohan ini agar aku bisa menjalaninya dengan baik. Dan jika memang dia yang terbaik untukku yang telah Engkau kirimkan kuatkanlah hati ini. Ya Allah, tolong buang perasaanku ini terhadap Fahmi. Karena, perasaan ini Engkau yg telah menumbuhkannya maka Engkau sendirilah yang akan menghilangkannya. Hamba yakin rencana-Mu jauh lebih indah dari rencana hamba-hamba-Mu, Aamiin" Azizah mengusap kasar wajahnya.
Ditempat lain, Ghibran pun tengah berdo'a setelah ia selesai mengerjakan shalat.
Begitu pun dengan Aisyah, ia juga tengah berdo'a.
"Yaa Allah, hamba tidak tahu apakah ini cinta atau bukan. Karena, aku tahu cinta sebenarnya hanyalah kepada-Mu. Tapi, jika memang dia telah kau takdirkan untukku maka jadikanlah cinta ini cinta yg karena hanya pada-Mu dan dekatkanlah. Tetapi, jika dia bukan seseorang yang Engkau takdirkan untukku maka jauhkanlah dia dan berikanlah keikhlasan untuk hati ini, Aamiin."
Sore itu, Azizah tengah membaca buku di taman dan ditempat yang sama Ghibran pun sedang berada disitu, ia duduk beralaskan rerumputan hijau sambil masih memikirkan Aisyah dan kejadian kemarin.
Yaa Allah kenapa hati dan pikiran ini terus terpikirkan Aisyah? kenapa Engkau memberikan rasa ini, kalau saya dan dia tidak Kau izinkn untuk bersama? gumam Ghibran dalam hati.
Ketika Azizah hendak pergi dari taman itu dia melihat Ghibran di sana yang sedang melamun. Azizah berniat untuk menghampirinya lalu Azizah berdiri didekat Ghibran walaupun agak berjauhan.
"Sepertinya, kamu sedang ada masalah." Azizah berdiri disamping Ghibran.
Ghibran menoleh kearah Azizah dan menoleh lagi kedepan.
"Apa pedulimu? Apakah harus, saya mengatakannya kepadamu?"
"Apa kamu mencintai Aisyah?"
"Apa saya juga harus mengatakan semua isi hati dan Fikiran saya, terhadap kamu?" Ghibran menoleh lalu bangkit dari duduknya. Ghibran beranjak pergi namun, Azizah menghentikannya.
"Aisyah itu perempuan yang baik. Kalau kamu emang benar-benar sayang sama dia, aku harap jangan sakiti dia."
Ghibran terhenti dari langkahnya, lalu menoleh dan melangkah pergi tanpa menghiraukan ucapan Azizah.
"Hey, kamu mau kemana? Aku sedang bicara sama kamu," seru Azizah sambil melihat kepergian Ghibran.
"Dasar cowok aneh! Diajak ngobrol malah main pergi saja, benar-benar tidak sopan!" ucap Azizah kesal lalu kembali duduk.
"Tapi, aku yakin. Ghibran pasti menyukai Aisyah. Dari sikapnya saja sudah terlihat kalau dia suka sama Aisyah dan Aisyah juga kelihatannya menyukai Ghibran. Ghibran cowok pendiam juga cuek dan Aisyah wanita yang ramah dan kalem, cocok lah. Mereka pasangan yang serasi." Azizah melukis senyum di bibirnya lalu kembali membaca buku.
***
Azizah berjalan dikoridor kampus, dan tiba-tiba ponsel Azizah berdering. Azizah pun menghentikan langkahnya lalu segera mengambil ponselnya didalam tas.
"Hallo, Assalamualaikum." Azizah menerima telepon tersebut, entah siapa yang menelepon dirinya. Selang beberapa menit, Azizah pun selesai dalam obrolannya dan ia pun melanjutkan langkahnya lagi. Ditengah perjalanan ia bertemu dengan Fahmi. Azizah menghentikan langkahnya begitu juga dengan Fahmi. Fahmi melempar senyum, Azizah pun membalas senyum Fahmi.
"Assalamualaikum," sapa Fahmi mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam," jawab Azizah ramah.
"Tumben sendiri, kemana Aisyah?"
"Mmm, barusan saja tadi dia memberitahu kalau dia tidak enak badan, dan hari ini tidak bisa masuk kuliah."
"Ohh begitu. Oh yah Zah, kemarin saya lihat kamu dengan Ghibran. Kelihatannya sekarang kalian sudah mulai dekat yah, saya senang lihatnya karena kalian sekarang sudah mulai bisa akur."
"Iya, Alhamdulilah Mi."
"Kali aja kalian berdua berjodoh."
"Hah?! Ah, Kamu ada-ada saja Mi, itu tidak mungkin."
"Lho, kenapa tidak mungkin? Bukankah soal jodoh itu Rahasia Allah? Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini Zah, jika Allah sudah menghendaki kalian untuk berjodoh maka kamu bisa apa?"
Tapi aku tidak ingin berjodoh dengan cowok aneh itu, aku berharap kamu yang jadi jodohku kelak Mi.
gumam Azizah dalam hatinya.
"Zah, Azizah." Fahmi menjentikkan kedua jarinya di depan wajah Azizah dan membuyarkan lamunan Azizah.
"Hah, iya. Ada apa Mi?"
"Kamu kenapa? Diajak ngobrol malah melamun."
"Tidak, aku tidak apa-apa kok." Azizah mengulas senyum di bibirnya.
"Benar, kamu tidak apa-apa?"
Azizah hanya mengangguk pelan.
"Oh ya, ngomong-ngomong hasil gambar kamu bagus, saya suka."
"Alhamdulillah, kalau kamu suka."
"Yasudah, aku duluan yah." Fahmi tersenyum, Azizah hanya mengangguk pelan dan Fahmi pun berlalu pergi.
Azizah terus tersenyum memandangi kepergian Fahmi dan teringat akan perasaannya terhadap Fahmi.
__ADS_1
"Aku harus bisa melupakan perasaan ini terhadap dia. Karena, semua hanyalah sia-sia saja. Aku harus bisa bersikap biasa saja."
Azizah menghala nafas sejenak lalu ia pun meneruskan langkahnya yang sempat terhenti tadi.
Ditempat lain, di taman kampus ditepi danau Ghibran sedang bersama Fahmi. Ghibran melemparkan sebuah batu kedalam danau.
"Jika kamu tidak yakin, dan tidak bisa menerima perjodohan itu kenapa kamu melanjutkannya? kamu seorang laki-laki dan kamu berhak untuk menentukan hidupmu. Bahkan dalam urusan pasangan hidup, beda halnya dengan seorang wanita."
Ghibran menoleh kearah Fahmi lalu kembali menatap lurus kedepan.
"Iya saya tahu Mi, dan saya paham maksud perkataanmu tadi. Bahkan, saya pun juga ingin seperti itu. Tapi, bukankah menuruti keinginan orang tua itu lebih baik?"
"Dengan mengorbankan perasaanmu sendiri?"
"Iya, orang tua saya lebih penting dibanding perasaan saya sendiri." Ghibran menatap lurus ke depan sembari melemparkan batu kecil ke dalam danau.
"Baiklah, jika memang menurutmu seperti itu. Tapi apa kamu akan terus berdiam diri dan tidak mengatakan tentang perasaanmu terhadap Aisyah?"
"Untuk apa lagi?"
"Setidaknya dia mengetahui itu semua." Fahmi menatap Ghibran yang terus menatap ke depan.
"Itu tidak mungkin Fahmi, lebih baik saya tidak mengatakannya karena itu percuma. Karena, saya dan dia tidak akan bisa bersatu."
"Baiklah, saya yakin kamu pasti bisa." Fahmi menepuk bahu Ghibran, Ghibran hanya tersenyum simpul.
"Baiklah, saya masih punya urusan. Saya duluan." Fahmi bangkit dari duduknya, lalu pergi meninggalkan Ghibran sendiri.
Maafkan aku Aisyah, aku tidak bisa mengatakan semuanya dan itu lebih baik.
ucap ghibran dalam hatinya sembari masih terus melempar batu kecil kedanau.
\* \* \*
Azizah sedang bersiap-siap di kamarnya, karena hari ini ia akan pergi bersama Aisyah. Ponsel Azizah berdering, Azizah langsung menerimanya dan terdengarlah suara dikejauhan sana mengucapkan salam.
"[Assalamualaikum, Zah.]"
"[Waalaikumsalam.]"
"[Kamu sudah siap-siap belum Zah?]"
"[Sudah, tapi belum ngerapiin kerudungnya nih, Syah.]"
"[Oh, yasudah. Sampai ketemu di sana yah.]"
"[Assalamualaikum,]" ucap Aisyah memberi salam.
"[Waalaikumsalam.]
Azizah pun menutup teleponnya lalu melanjutkan merias dirinya.
Di tempat lain, Ghibranpun sedang bersiap-siap untuk pergi. Dan saat ia akan pergi, ia melihat lacinya terbuka dan ia termenung karena di dalamnya ada fhoto Aisyah. Ghibran pun membalikkan fhoto tersebut, menghela nafas lalu pergi.
Aisyah berdiri dipinggir jalan, menunggu kendaraan umum yang lewat dan secara tidak kebetulan Ghibran pun melintas dan melihat Aisyah. Ghibran menghentikan motornya dan melihat kearah belakang namun, Aisyah sudah masuk kedalam sebuah taksi.
"Aisyah, mau kemana dia?" ujar Ghibran penasaran lalu menyalakan motornya kembali dan melaju pergi dengan motornya.
Sementara itu, Azizah baru keluar dari kamarnya dan bertemu dengan umy Fatimah.
"Anak umy cantik sekali, kamu mau kemana nak?"
"Hari ini, Azizah ada janji dengan Aisyah, mau ketoko buku My."
"Oh begitu, oiyaa hampir saja umy lupa. Minggu depan, kita diundang makan malam oleh Pak Haryo."
"Iya, My. Azizah sudah telat my, Zizah pamit yah." Azizah mencium tangan umynya itu lalu mengucapkan salam.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." umy fatimah tersenyum melihat kepergian Azizah.
Azizah melangkahkan kakinya begitu pelan dan teringat dengan ucapan umynya tadi.
"Makan malam? Itu artinya, aku akan bertemu dan melihat dia. Yaa Allah, aku belum siap benar-benar belum siap," lirih Azizah.
Azizah melihat arah jam ditangannya dan betapa terkejutnya ia ternyata hari sudah mulai siang.
"Yaa Allah aku sudah terlambat, Aisyah pasti sudah menungguku."
Azizah pun pergi dengan begitu cepat. Azizah tengah menunggu sebuah taksi dipinggir jalan, ia melambaikan tangannya namun tak ada taksi yang berhenti. Azizah semakin gelisah karena ia sudah terlambat dan hari makin siang.
"Ya Allah, tidak ada taksi yang berhenti, semuanya penuh. Aku sudah terlambat, pasti Aisyah sudah menungguku. Maafkan aku Syah."
__ADS_1
Azizah mencoba memberhentikan taksi lagi dengan melambaikan tangannya. Namun, lagi-lagi tak ada satupun taksi yang berhenti. Azizah semakin merasa gelisah. Sesekali ia melihat kearah jam tangannya yang ia kenakan. Dan tiba-tiba sebuah mobil berhenti dihadapannya. Azizah mengernyitkan dahinya, merasa bingung kenapa mobil itu berhenti dihadapannya? Si pengemudi mobil itu pun menurunkan jendela kaca dipintu mobil.
"Fahmi." Azizah melihat Fahmi di dalam mobil itu sedikit menunduk.
"Azizah." Fahmi melihat Azizah.
Fahmi keluar dari mobilnya lalu langsung menghampiri Azizah yang tengah berdiri di pinggir jalan.
"Azizah, sedang apa kamu disini?"
"Sebenarnya, aku sedang menunggu taksi. Tapi, tak ada satu pun taksi yang berhenti. Hari ini sepertinya taksi penuh semua."
"Kalau boleh saya tahu, memangnya kamu mau kemana?"
"Aku mau bertemu dengan Aisyah Mi, aku sudah terlambat. Pasti Aisyah sudah menunggu lama."
"Oh, bagaimana kalau saya antar?" Azizah hanya terdiam, "bagaimana? Bukankah kamu sudah terlambat?"
"Apa tidak merepotkan?"
"Sama sekali tidak, ayok."
Mereka pun masuk ke dalam mobil, lalu melaju pergi dengan mobil Fahmi.
Ghibran sedang duduk disebuah resto, sambil membaca buku ditangannya dan ditempat yang sama Aisyah baru saja datang dan duduk berada tidak begitu jauh dengan meja Ghibran. Aisyah langsung memesan minuman sehingga Ghibran mendengar suara Aisyah yang bagi dia sudah tidak asing lagi. Ghibran berhenti membaca dan merasa terkejut.
Suara itu, sepertinya aku sangat mengenali suara itu. Suara itu seperti suara Aisyah. Ahhh, tidak mungkin. Mungkin itu hanya mirip saja.
gumam Ghibran dalam hatinya. Ghibran kembali meneruskan membaca bukunya lagi.
"Orange juice satu yah mbak," kata Aisyah kepada seorang waiters, sembari masih melihat buku menu dihadapannya.
Sekali lagi Ghibran mendengar suara itu lagi. Kali ini, ia mencoba untuk memastikannya. Menurunkan bukunya perlahan lahan untuk melihatnya dan betapa terkejutnya ia saat melihat Aisyah di sana. Namun, ia malah tersenyum dan terus memandangi Aisyah yang sedang membaca buku tanpa sepengetahuan Aisyah.
"Subhanallah, begitu sempurna Allah menciptakan dirimu Aisyah. Aku sungguh sangat mengagumimu. Namun, sayangnya aku terlalu pengecut untuk mengatakan itu semua kepadamu. Aku hanya bisa mengagumimu tanpa bisa memilikimu." Ghibran terus memandangi Aisyah di balik bukunya dari kejauhan.
Azizah datang dan melihat Ghibran sedang asyik memandangi Aisyah. Azizah tidak melanjutkan langkahnya untuk menghampiri Aisyah ia malah asyik melihat Ghibran yang sedang memandangi Aisyah.
Sepertinya, Ghibran menyukai Aisyah dan Aisyah juga menyukai Ghibran. Aku harus bisa menyatukan mereka berdua.
gumam Azizah dalam hatinya dan ia tersenyum lalu segera menghampiri Aisyah.
"Assalamualaikum, Syah."
"Waalaikumsalam, Zah." Aisyah menoleh lalu melempar senyumnya.
"Aku lama yah Syah? Pasti kamu sudah menunggu dari tadi yah, maaf yah Syah. Soalnya, tadi taksinya penuh semua. Untung saja tadi ada Fahmi," tutur azizah, sembari duduk disebuah kursi.
"Tidak kok Zah, aku juga baru datang tadi. Oiyaa Zah, maaf yah aku sudah memesan minum duluan tanpa menunggu kamu terlebih dulu. Sebentar, tadi kamu bilang ada Fahmi? jadi maksudnya kamu, kamu kesini diantarkan oleh Fahmi, begitu?"
"Ya, iya."
"Terus, sekarang Fahminya mana? kok kamu sendirian saja." Melihat ke sekeliling, mencari kehadiran Fahmi namun Aisyah tidak melihat kehadiran Fahmi.
"Tadi, Fahmi langsung pergi. Katanya, sih ada urusan."
Aisyah hanya manggut-manggut mendengar penuturan Azizah. Seorang waiters datang membawa segelas orange jus dan langsung menyimpannya diatas meja, Azizah pun juga memesan minuman. Waiters itu pun pergi, dan mereka berdua kembali berbincang-bincang.
Sementara itu, Ghibran merasa terganggu atas kedatangan Azizah. Karena ia jadi tidak bisa melihat Aisyah. Ghibran merasa terganggu atas kehadiran Azizah disana, ia terus menggerutu kesal sendiri.
"Wanita menyebalkan itu, kenapa harus ada dia di sana? Aku jadi tidak bisa melihat Aisyah kan. Mengganggu saja! lebih baik aku pergi dari sini daripada harus melihat dia."
Akhirnya Ghibran memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat itu, Ghibran bangkit dari duduknya lalu dia pergi. Tanpa di sadari ia telah meninggalkan bukunya di atas meja.
Azizah dan Aisyah sedang asyik berbincang-bincang sambil mengerjakan tugas kuliah.
"Zah, aku ketoilet dulu yah."
Azizah mengangguk pelan tanda setuju, dan Aisyah pun pergi meninggalkan Azizah.
Azizah duduk sendiri dan ia teringat kejadian tadi saat Ghibran tidak berhenti mengamati Aisyah dari kejauhan.
"Aku harus menyatukan mereka berdua. Mereka saling mencintai, mereka harus bersatu. Apa pun yang terjadi," ucapnya pelan.
Azizah tersenyum dengan penuh keyakinan dan ia mencoba menengok kebelakang untuk melihat keberadaan Ghibran, ia terkejut karena ternyata Ghibran tidak ada di sana.
"Kemana lelaki itu?? Bukankah dia tadi ada disana hmmmm."
Azizah melihat sesuatu dimeja bekas Ghibran tempati, ia merasa penasaran dan pergi untuk melihatnya.
"Dia meninggalkan bukunya disini, sepertinya dia lupa. Hmmm, besok aku harus mengembalikannya sekaligus mengatakan hal itu."
Azizah tersenyum lalu pergi menuju mejanya dan langsung duduk kembali. Aisyah datang dan langsung duduk.
__ADS_1
"Maaf yah Zah, aku lama yah?"
"Tidak apa-apa Syah, nyantai saja." Azizah melempar senyum begitu pun juga dengan Aisyah, merekapun kembali mengerjakan tugas-tugas kuliah.