KEKASIH HALAL ( Sudah Terbit )

KEKASIH HALAL ( Sudah Terbit )
Bagian 3


__ADS_3

Keesokan harinya, di kamar Ghibran sedang bersiap-siap untuk mengerjakan tugas kelompok. Setelah siap, dia keluar dari kamarnya dan pada saat dia akan menaiki motornya, Pak Haryo memanggilnya.


"Ghibran," panggil Pak Haryo.


Ghibran menoleh dan mengurungkan niatnya untuk menaiki motornya.


"iyah aby, ada apa?" tanya Ghibran.


Pak Haryo menghampiri Ghibran yang berada diteras depan.


"Begini nak, lusa rencananya aby mau kerumahnya pak Yusuf. Sekalian mau lihat calon istri kamu, sekaligus mau melamarkannya untukmu." Pak Haryo tersenyum lebar.


"Tapi, tidak kenapa-napakan kalau Ghibran tidak ikut? Soalnya, di kampus sedang banyak tugas by," tutur Ghibran menjelaskan.


"Baiklah nak, kalau alasannya seperti itu aby mengerti. Biar yang pergi kesana aby dan umymu saja."


"Yasudah aby Ghibran buru-buru, Ghibran pamit yah." Ghibran tersenyum lalu, mencium tangan abynya dan pak Haryo hanya tersenyum. Ghibran pergi melaju dengan motornya.


Ditempat lain, Azizah pun sudah siap untuk pergi mengerjakan tugas kelompok. Saat ia keluar dari kamarnya terlihat umynya sedang mengobrol via telepon dan terlihat raut wajah umynya itu sangat bahagia. Umy Fatimah pun mengakhiri teleponannya lalu memanggil Azizah yang kebetulan akan melintas.


"Azizah," panggil sang umi.


Seketika langkah Azizah menjadi terhenti, dan menoleh pada uminya.


"Iyah umy."


Umy Fatimah menghampiri Azizah dengan raut bahagia.


"Sayang, lusa Pak Haryo beserta keluarga akan kesini."


Azizah hanya melempar senyum, dia tidak bisa mengatakan apa apa.


"Oh ya, sayang bukankah hari ini kamu tidak ada jadwal ke kampus. Tapi kamu kok rapi sekali, kamu mau kemana? Apa kamu mau keluar?" sambung Umi Fatimah menatap Azizah dari atas kebawah.


"Iya my, Zizah mau mengerjakan tugas kelompok," jelas Azizah.


"Oh begitu."


"Iya my, yasudah Zizah pamit ya my." Azizah mencium tangan umynya, lalu umy Fatimah mencium pipi Azizah.


"Assalamualaikum."

__ADS_1


"Waalaikumsalam."


Azizahpun pergi dan umy Fatimah tersenyum melihat kepergian anaknya itu.


Sepanjang jalan, Azizah terus terfikirkan ucapan umynya itu.


Lusa pak haryo akan datang kerumahku, itu tandanya sebentar lagi aku akan bertemu dengan calon imamku dan setelah itu pasti tanggal pernikahan akan segera ditentukan. Setelah itu aku akan menikah dengan orang yang sama sekali tidak aku cintai. Ya Allah, bisakah aku mencintainya? Sedangkan hatiku mencintai pria lain yaitu Fahmi. Batin Azizah.


Tanpa disadari ia menjatuhkan air matanya, Azizahpun terus berjalan meneruskan langkahnya.


Ghibran sudah menunggu didepan toko buku. Sedangkan, Syifa dan Fajar belum kelihatan juga. Azizah datang dan menghampiri Ghibran. walaupun dalam hatinya ia agak menggerutu, karena harus satu kelompok dengan Ghibran.


''Ya Allah, apa ini sudah takdir dari-Mu sehingga aku harus bertemu dengan orang aneh ini. Aku mimpi apa semalam harus satu kelompok dengan orang aneh itu uukhh," gerutu Azizah


Azizah menghampiri ghibran yang berdiri didepan toko buku.


"Syifa dan Fajar mana?" tanya Azizah tanpa melihat sedikitpun pada Ghibran.


"Sepertinya, mereka akan sedikit terlambat. Yasudah selagi menunggu mereka, lebih baik kita sambil mencari buku."


Tanpa mendengar persetujuan dari Azizah, Ghibran masuk lebih dulu. Dan mau tidak mau Azizahpun mengikuti dari belakang. Ghibran melihat lihat buku dan mencoba mencari bahan untuk tugas kelompoknya begitu juga dengan Azizah. Tetapi, bukannya mencari bahan untuk tugas kelompoknya Azizah malah melihat komik. Dan Azizah mengambil komik tersebut.


Ghibran yang melihatnya, langsung menghampiri Azizah dan langsung mengambil komik tersebut. Sontak membuat gadis itu sangat terkejut.


"Hey, kamu apa-apaan sih? Maen ambil aja. Ini edisi terbaru tau," pekik Azizah.


"Kamu yang apa-apaan. Kita kesini itu mau nyari buku buat bahan tugas kelompok bukan malah nyari komik tidak bermutu seperti ini." Ghibran memperlihatkan komik didepan wajah Azizah.


"Hey, aku yang bakal bayar. Kenapa kamu yang repot," gerutu Azizah seraya meraih komik digenggaman Ghibran.


"Yah saya tahu, tapi ini bukan waktunya." Ghibran mengambil kembali komik itu dan kali ini ia langsung menyimpan ketempatnya. Azizah terkejut sekaligus kesal.


"Sekarang, cepat cari buku buat bahan tugas kelompok kita. Kamu paham?" Titah Ghibran.


Ghibran pergi meninggalkan Azizah, Azizah mencari buku dengan rasa kesal.


"Dia pikir, dia itu siapa? Seenaknya saja ngatur hidup orang lain," gerutu Azizah sambil memilah milih buku di rak.


Azizahpun menemukan buku yang ia cari. Saat ia akan mengambil buku tersebut, ternyata Ghibranpun akan mengambil buku yang sama dan terjadilah perebutan diantara mereka.


"Aku lebih dulu menemukannya," ucap Azizah.

__ADS_1


"Tidak, tidak. Saya yang lebih dulu menemukannya!" Ghibran tak mau kalah.


"Apa kamu bilang? Aku," pekik Azizah.


"Saya." Ghibran bersikeras, tetap tak mau kalah.


"Hey, kamukan laki-laki. Seharusnya, kamu mengalah dong sama perempuan."


"Apa! Mengalah? Tidak ada yah, dalam kamus saya mengalah untuk perempun. Sini bukunya." Ghibran mengambil paksa buku ditangan Azizah.


"Tidak mau, ini milikku." Azizah kembali merebut buku itu.


Merekapun merebutkan buku itu, mereka mengalami adu mulut yang cukup panjang dan orang yang berada disana hanya bisa menonton saja.


Fajar dan Syifa datang dan langsung memisahkan mereka berdua.


"Hey, kalian apa-apaan sih. Seperti anak kecil saja. Apa yang kalian ributkan sebenarnya?" tanya syifa sedikit kesal.


Ghibran dan Azizah hanya terdiam tidak berkata apa-apa. Fajar melihat buku yang dipegang oleh Azizah, dan langsung mengambilnya. Membuat Azizah terkejut.


"Jadi, kalian merebutkan buku ini?" Fajar menunjukan buku tersebut.


"Ya ampun, kaliankan satu kelompok. Untuk apa kalian merebutkannya," sambung Fajar.


"tapi, aku yang lebih dulu menemukan buku itu," ucap Azizah, membela diri.


"Dia berbohong! jelas-jelas, saya lebih dulu menemukan buku itu." Ghibran tak mau kalah.


Hampir saja mereka akan bertengkar lagi. Tapi, Fajar langsung mencegahnya.


"Sudah sudah, kalian apa-apaan sih? ayo ikut aku."


Fajar pergi diikuti oleh Ghibran dan Azizah. Begitu juga Syifa dan orang-orang disana kembali pada kegiatannya masing-masing. Fajar pergi ke tempat kasir dan segera membayarnya lalu keluar dari toko buku begitu juga dengan mereka bertiga.


"Oh, iya. Kita mau mengerjakannya dimana?" tanya syifa.


Mereka melihat-lihat kesemua arah dan Fajar menemukan tempat yang cocok untuk mereka. Yaitu kursi yang saling berhadapan, dihalangi sebuah meja yang cukup besar.


"Sepertinya, tempat itu cocok buat ngerjain tugas kita." Fajar menunjuk ke arah tempat itu.


Mereka berempat pun pergi ketempat tersebut, tempat yang cukup cocok karena disitu terdapat meja dan kursi sehingga mempermudah mereka. mereka duduk dan langsung mengerjakan tugas.

__ADS_1


__ADS_2