
Angin malam berhembus sedikit kencang malam ini. Sehingga gamis yang tengah dipakai wanita itu menari-nari terayun oleh hembusan angin. Yah, wanita itu adalah Azizah. Seorang wanita yang harus ikhlas dijodohkan untuk membuat orang tuanya bahagia.
Terlebih uminya, karena memang hanya uminyalah yang sampai sekarang menemaninya. Sang abi sudah pergi meninggalkan wanita itu sejak ia masih sekolah SMA.
Meskipun, saat ini dirinya sudah memiliki seorang suami tapi tetap saja semuanya belum terasa lengkap. Karena, rumah tangganya saat ini belum dibumbui dengan rasa cinta.
Baik dirinya ataupun Ghibran. Bukan tidak ingin, tapi belum siap. Namun, ia tak pernah lupa akan kewajibannya sebagai seorang istri. Yaitu, melayani suaminya dengan baik walaupun bukan dalam hal intim.
"Allah," lirihnya seraya terpejam merasakan hembusan angin malam.
''Yaa Rabb, hamba tahu, kami telah berdosa karena belum bisa melakukan kewajiban kami sebagai suami istri. Tapi, hamba tidak bisa melakukannya, ya Allah jika tidak dengan orang yang hamba cinta. Maafkan, hamba-mu ini ya Rabb."
Wanita itu terus bermonolog masih dengan mata terpejam. Telapak tangannya digenggam begitu erat. Seolah tengah merasakan kesakitan yang amat dalam. Mungkin, ia mulai teringat kembali akan sahabatnya, Aisyah.
"Aisyah, kamu dimana? Aku sangat merindukanmu. Apa kamu tidak rindu dengan sahabatmu ini, Syah?"
Ghibran tengah berdiri di belakang Azizah tanpa sepengetahuan wanita itu. Pemuda itu terdiam mematung mendengarkan Azizah yang berbicara sendiri. Terdengar begitu sedih, menyakitkan. Hingga, air matapun tak terasa jatuh dikelopak mata Ghibran. Aisyah, wanita itu adalah sosok perempuan yang membuatnya tergila-gila hingga saat ini.
Azizah mengusap wajahnya kasar, menghapus sisa-sisa linangan air mata yang tanpa disadari sudah membasahi pipinya. Ghibrapun tersadar dari lamunannya, dan menghapus air matanya lalu pegi kembali masuk ke dalam kamar. Niatnya yang akan menemui Azizah, menyuruh wanita itu untuk segera tidur, pemuda itu urungkan begitu saja. Entah, apa penyebabnya.
Ghibran lebih memilih untuk tidur lebih awal. Membiarkan Azizah yang masih berada di balkon kamarnya. Ia mencoba memejamkan mata berkali-kali, namun tetap saja matanya tak mau terpejam.
"Aisyah," ucapnya pelan, terpejam perlahan terlelap dalam tidur.
Begitu kuat rasa cinta Ghibran pada Aisyah, hingga mampu membuat kegusaran di hatinya sedikit mereda setelah mengucapkan nama wanita itu. Lalu, apakah Ghibran bisa melupakan Aisyah dan mencintai istrinya, Azizah?
Azizah masuk ke dalam kamar dan langsung menutup pintu penghalang antara balkon dengan kamarnya. Ia berbalik dan melihat Ghibran sudah tertidur disofa dekat jendela.
Terdiam, memandangi pemuda itu dari jauh. Lekat, sangat lekat wanita itu pandang. Hingga senyuman kecil tanpa disadari tercipta diwajah ayunya.
Azizah melangkah menuju lemari, lalu membukanya dan mengambil sebuah selimut tebal membawanya mendekat ke arah Ghibran. Wanita itu tutupi tubuh Ghibran dengan sebuah selimut, lalu Azizah juga ikut tertidur di ranjangnya. Bukan tak ingin tidur bersama tapi mereka belum siap untuk semua itu.
"Aisyah."
"Aisyah."
"Aisyah."
"Aisyah, tunggu!"
Pemuda itu terus berceracau dalam mimpinya. Azizah yang mendengarnya langsung terbangun dari tidurnya dan melihat pada Ghibran. Menghampiri pemuda itu, takut kenapa-napa.
"Aisyah." Sekali lagi, Ghibran memanggil nama Aisyah. Hingga membuat Azizah terhenti untuk membangunkan pemuda itu.
"Aku tahu, kamu sangat merindukannya. Bahkan aku pun sama. Aku tidak cemburu, sama sekali tidak. Tapi, kenapa hatiku seperti tidak suka mendengar kamu memanggil namanya. Kenapa? Sungguh, aku tidak mengerti. Apa ini, ada apa dengan hatiku?"
Azizah berbicara di dalam hatinya lalu melangkah pergi kembali menuju ranjangnya.
"Azizah."
Wanita itu terhenti dari langkahnya tatkala mendengar suara seperti memanggil namanya. Ia terdiam sejenak, meresapi suara tadi.
"Azizah."
"Kamu belum tidur, Zah?" Azizah membalikkan tubuhnya dan melihat Ghibran yang sudah duduk disofa itu.
"Kenapa belum tidur?" tanya Ghibran.
"Ha, tidak. Aku sudah tidur kok, cuma tadi aku dengar kamu lagi ngigau jadi terbangun."
"Oh, maaf karena saya sudah mengganggu tidurmu. Yasudah, lebih baik sekarang tidur lagi."
"Apa kamu merindukan Aisyah?" tanya Azizah yang masih berdiri. Ghibran hanya terdiam tak langsung menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Azizah.
"Bodoh sekali aku ini, kenapa bertanya seperti itu! Sudah pasti, dia merindukan Aisyah," ucap Azizah dalam hati.
"Ah, lupakan saja itu, sudah malam. Selamat tidur," ucap Azizah sedikit salah tingkah lalu pergi menuju kasurnya. Sementara Ghibran masih terdiam membisu.
Azizah kembali membaringkan tubuhnya di atas ranjang, membelakangi Ghibran di sofa sana. Wanita itu menarik cepat selimutnya namun matanya enggan terpejam kembali.
"Azizah, sungguh bodoh! Bertanya hal itu padanya, dasar bodoh! Eh, ada apa denganku? Kenapa malam ini aku seperti orang bodoh di depannya. Astagfirullahaladziim, istigfar Zah, istigfar."
Wanita itu terus bermonolog dalam hatinya, berusaha menetralisir rasa yang tiba-tiba begitu aneh. Ghibran kembali berbaring di atas sofa namun tidak kembali tidur. Pemuda itu mengingat pertanyaan dari Azizah tadi.
"Yah, aku sangat merindukannya Zah, sangat! Tapi, rasa rindu ini sudah tidak berhak lagi kuberikan padanya. Semua sudah menjadi milikmu Zah, karena kau adalah istriku sekarang. Tak seharusnya, aku merindukan seseorang yang bukan menjadi mahramku. Sedangkan, saat ini aku sudah memiliki yang berhak atas rinduku ini. Yaitu dirimu, Azizah.
Ghibran berbicara di hatinya, melihat ke arah Azizah yang masih membelakanginya. Walaupun dirinya belum mencintai Azizah, namun ia tidak ingin menodai ikatan suci sebuah pernikahan dengan memikirkan bahkan merindukan wanita lain yang bukan mahramnya.
Pemuda itu mengerjapkan kedua matanya, tatkala cahaya sang mentari menyentuh wajahnya. Ghibran bangun dari tidurnya dan duduk disofa. Matanya tertuju pada arah ranjang Azizah, namun wanita itu ternyata tak ada disana.
"Kemana Azizah?" ucapnya pelan, lalu mencari ke kamar mandi namun tak ada. Pergi ke arah balkon juga tak ada. Pemuda itu berlari keluar kamar, namun rumah itu sepi seolah tak ada penghuni.
"Kenapa rumah ini sepi sekali, kemana Azizah dan umi?"
Entah apa yang dirasakan olehnya, seketika hatinya langsung gusar saat melihat Azizah sudah tidak ada di tempat tidur. Tak biasanya, ia bersikap seperti pagi itu. Ghibran pun memutuskan untuk kembali ke kamarnya, untuk segera membersihkan diri.
***
Azizah berjalan dengan membawa beberapa plastik berisi belanjaannya. Wanita itu mencoba mengecek kembali belanjaannya takut ada yang tertinggal. Namun, bruk! Dirinya bertabrakan dengan seseorang, belanjaan yang dibawa olehnya pun jatuh berantakan.
"Maaf, maaf, maaf mbak saya tidak sengaja." Orang itu mengucapkan permohonan maaf seraya membantu Azizah mengambil belanjaannya.
"Iya, mas tidak apa-ap ...." Azizah tidak meneruskan ucapannya tatkala melihat orang yang kini ada di hadapannya.
"Azizah," ucap orang itu terpaku melihat Azizah.
Kini mereka berdua saling terdiam sesaat, memandang satu sama lain. Tatapan mereka begitu lekat, seolah ada kerinduan dari mata keduanya.
"Astagfirullah." Azizah tersadar dari lamunannya dan langsung bangkit berdiri, diikuti oleh orang itu juga.
"Gak nyangka yah, kita bisa bertemu di sini." Orang itu tersenyum melihat Azizah yang hanya tertunduk. "Oh iya, kamu apa kabar Zah?"
"Alhamdulillah aku baik, Mi."
Yah, orang itu adalah Fahmi, seseorang yang dulu pernah wanita itu kagumi. Namun, karena perjodohan itu ia harus membuang rasa terhadap pemuda di hadapannya sekarang. Wajar saja, jika tadi dirinya sempat terkejut karena dipertemukan kembali dengan Fahmi.
"Kalau kamu, bagaimana?" sambung Azizah balik bertanya.
"Alhamdulillah aku juga baik," jawab Fahmi tersenyum.
"Syukurlah." Azizah tersenyum.
__ADS_1
"Ghibran bagaimana kabarnya?"
"Alhamdulillah baik juga, maaf yah Mi aku buru-buru, permisi." Azizah berpamitan dan melangkah pergi. Fahmi hanya melihat kepergian wanita yang ia cintai dengan pandangan sedih.
"Aku rindu kamu Zah, tapi aku sadar kini kamu sudah menjadi milik orang lain."
Azizah berjalan dengan mengenggam erat tali plastik belanjaan yang dibawanya. Entah apa yang dirasakan oleh wanita itu saat ini.
"Ya, Allah kenapa Engkau mempertemukan kembali aku dengan dia? Disaat hati ini sudah mulai ikhlas melupakannya, kenapa harus bertemu kembali? Aku rindu kamu Mi."
Azizah berbicara dalam hatinya, berhenti dari langkahnya dan berbalik. Namun, Fahmi sudah tidak ada lagi di sana. Ada raut kekecewaan diwajah ayunya.
"Allah tidak menakdirkan kita untuk bersama, tapi aku yakin Allah sudah mempersiapkan seseorang yang terbaik untukmu."
***
"Assalamualaikum," ucapnya memberi salam saat masuk ke dalam rumah.
"Waalaikumsalam warahmatullahiwabarakatuh," jawab Ghibran yang tengah duduk di sofa ruang tengah. Azizah langsung terhenti dari langkahnya dan menoleh pada Ghibran.
"Kamu sudah bangun?" tanya Azizah.
"Iya, kamu darimana?" Ghibran balik bertanya.
"Dari pasar, yasudah aku mau buat sarapan dulu." Azizah berlalu pergi meninggalkan Ghibran.
"Ada yang aneh dengan wanita aneh itu, tidak biasanya dia bersikap seperti tadi. Biasanya, Azizah selalu menjawab dengan nada mengejek. Pasti ada sesuatu," gumam Ghibran dalam hatinya, melihat bingung kepergian Azizah.
Pemuda itu melangkah menuju arah dapur. Terlihat, Azizah tengah sibuk memasak sarapan. Ghibran berdiri di belakang Azizah tanpa sepengetahuan wanita itu.
"Kuatkan aku, ya Allah." Sesekali Azizah mengusap air matanya yang membasahi pipi, dan itu terlihat oleh Ghibran. Semakin membuat pemuda itu kebingungan.
"Apa kamu sedang ada masalah?"
Suara Ghibran mengagetkan Azizah, hingga ia buru-buru menghapus air matanya yang terus jatuh dipipi.
"Azizah, apa kamu baik-baik saja?" Sekali lagi Ghibran bertanya.
Wanita itu mengembuskan nafasnya pelan, lalu berbalik melihat pada Ghibran yang tengah berdiri tidak jauh di belakangnya.
"Aku baik-baik saja." Azizah tersenyum menampilkan deretan gigi-giginya yang putih dan rapi, sedikit gigi gingsul di sebelah kanan.
"Tapi, saya rasa kamu sedang tidak baik-baik saja. Buktinya itu, kamu lagi goreng telur tapi kompornya gak dinyalain," ujar Ghibran sedikit meledek.
Azizah langsung berbalik, benar saja yang dikatakan oleh pemuda itu. Kompornya belum ia nyalakan tapi telurnya sudah dimasukan.
"Astagfirullah, apa yamg sudah aku lakukan?" ucap Azizah pelan, nyaris tak terdengar oleh Ghibran. Buru-buru, wanita itu menyalakan kompornya.
"Sotoy banget, sih kamu. Yah, emang kompornya belum aku nyalakan tapi bukan berarti gak bakalan dinyalain," sanggah Azizah memberi alasan, lalu membalikkan telur yang tengah digoreng.
"Masa? Gak usah bohong." Ghibran melangkah mendekat pada Azizah. Wanita itu sedikit terkejut, karena kini Ghibran dan dirinya sangat dekat. "Saya tahu, kalau kamu itu lagi bohong," ucap Ghibran seraya mengoleskan terigu pada pipi Azizah.
Azizah terkejut dan melongo, memegang pipinya yamg sudah dipenuhi dengan tepung. Sementara pemuda itu, telah berhasil meloloskan diri sebelum ketahuan oleh Azizah.
"Ghibraaan!" teriak Azizah, mengambil segenggam tepung dan langsung berlari mengejar Ghibran. "Awas kamu, kalau dapat habis kamu sama aku."
Ghibran berlari dan terkekeh mendengar ucapan Azizah, wanita itu terus mengejarnya. Ghibran berlari ke arah ruang tengah, dikejar oleh Azizah yang sudah terlihat sangat kesal.
"Ghibran berhenti," teriak Azizah yang mulai kelelahan mengejar Ghibran.
"Ghibran berhenti!" Azizah terdengar ngos-ngosan merasa kecapean mengejar Ghibran.
Tiba-tiba wanita itu terjatuh kelantai dengan mata terpejam. Sontak, Ghibran langsung berhenti dari larinya dan merasa terkejut. Azizah jatuh pingsan, tak terdengar lagi suaranya. Ghibran langsung berlari ke arah Azizah. Terlihat, diwajahnya raut kekhawatiran.
"Azizah, kamu kenapa? Azizah bangun." Ghibran berusaha menggoyang-goyangkan tubuh Azizah yang sudah tak bergerak.
"Azizah, bangun Zah. Bentar yah, saya bawakan air dulu." Ghibran berlari mengambil air.
Azizah membuka matanya dan mencoba melihat ke arah Ghibran yang tengah menuangkan air. Terlihat Ghibran sudah selesai, buru-Buru wanita itu kembali memejamkan mata.
"Syukurin, emang enak dikerjain," ledek Azizah dengan suara berbisik.
Ghibran datang dengan membawa segelas air lalu segera duduk di samping Azizah. Saat terlihat lengah, Azizah langsung mengoleskan tepung ke wajah Ghibran. Azizah langsung berlari, Ghibran hanya melongo dengan memegang wajahnya yang sudah dipenuhi oleh tepung.
"Yeay, berhasil." Azizah berlari langsung masuk ke kamar mandi yang berada di dekat dapur. Ghibran langsung mengejar Azizah.
"Azizah buka, awas kamu kalau keluar saya balas," ancam Ghibran seraya menggedor-gedor pintu.
"Kitakan satu sama, aku gak bakalan keluar. Kamu yang duluan 'kan," teriak Azizah di dalam kamar mandi.
"Baiklah, saya tidak akan pergi sampai kamu mau keluar," teriak Ghibran.
"Aku tidak perduli!" pekik wanita itu.
"Baiklah, kamu disitu saja gak usah keluar. Karena, saya akan mengunci pintunya dari luar ok!" ancam Ghibran, sedikit terkekeh.
Sementara, di dalam kamar mandi Azizah sangat terkejut mendengar perkataan Ghibran.
"Apa! Terus, aku bakalan di sini terus gitu? Tidak, tidak, aku tidak mau tidur di sini." Azizah berbicara sendiri terus menahan pintu.
"Gimana? Apa kamu mau tetap di dalam?" Terdengar suara Ghibran dari luar.
Akhirnya, Azizah mengalah juga karena tidak mungkin dia tidur di kamar mandi. Wanita itu segera membuka pintu, namun Ghibran sudah tidak terlihat di sana lagi.
"Alhamdulillah, ternyata lelaki menyebalkan itu sudah pergi." Azizah mengembuskan nafas lega.
Wanita itu hendak melangkah namun tiba-tiba Ghibran datang dari arah samping dan langsung mengoleskan tepung ke wajah Azizah sebanyak mungkin. Hingga, kini wajahnya penuh dengan tepung dan berwarna putih. Azizah hanya terdiam terkejut mendapatkan balasan dari Ghibran.
"2-1 ha.. ha.. ha.." Ghibran tertawa di hadapan Azizah yang masih melongo.
Azizah melihat pada Ghibran yang masih tertawa terbahak-bahak. Setelah melihat pandangan aneh dari Azizah, pemuda itu berhenti tertawa. Namun, Azizah malah tertawa. Ghibran terlihat bingung melihat Sikap Azizah.
"Kenapa kamu ikut tertawa?" tanya Ghibran bingung.
"Itu, wajah kamu. ha.. ha.. ha.." Azizah kembali tertawa menunjuk wajah Ghibran.
"Wajah kamu juga, ha.. ha.. ha.." Ghibran ikut tertawa menunjuk wajah Azizah.
Keduanya saling menertawakan masing-masing. Wajah yang sudah dipenuhi oleh tepung membuat keduanya terpingkal-pingkal. Setidaknya, hal ini sedikit membuat perasaan Azizah yang sempat gusar karena bertemu kembali dengan Fahmi.
Hingga, mereka tiba-tiba terhenti dari tawanya, saling berpandangan satu sama lain beberapa saat. Ada rasa berbeda yang dirasakan oleh keduanya kala itu, mata keduanya begitu dalam saling memandang. Mungkinkah, benih cinta sudah tumbuh diantara keduanya?
__ADS_1
Entah, perasaan apa yang kini ada di dalam hati mereka. Namun, keduanya tahu betul jika ada sesuatu yang berbeda kala mereka saling pandang dan berdekatan. Tidak seperti dulu, tak ada perasaan itu. Rasa cinta kah?
Kini hanya keheningan yang terjadi antara Azizah dan Ghibran. Kedua mata mereka masih saling pandang satu sama lain. Hingga, keduanya dikagetkan dengan suara Fatimah yang baru saja pulang dari kegiatan dzikir di dekat rumah.
"Astagfirullahaladziim, Azizah, Ghibran." Fatimah nampak terkejut melihat kedua insan itu, namun ada tawa yang wanita paruh baya itu tahan tatkala melihat wajah anak dan menantunya yang dipenuhi oleh tepung. Ghibran juga Azizah menoleh bersamaan pada Fatimah.
"Kalian kenapa? Wajah, wajah kalian berdua .... " Fatimah tak meneruskan ucapannya karena sudah tak bisa lagi menahan tawanya dari tadi. "Ha.. ha.. ha.." Akhirnya, wanita itu mengeluarkan tawanya juga.
"Kalian berdua ini kenapa? Seperti anak kecil saja, belepotan kayak gini," tanya Fatimah setelah berhenti dari tawanya.
"Anak umi, nih mi yang duluan," adu Ghibran berbohong, jelas-jelas pemuda itu yang memulainya. Azizah yang tak terima langsung melongo dan menoleh pada Ghibran.
"Apa! Bohong mi, Ghibran yang duluan, enak aja maen tuduh-tuduh," elak Azizah tak terima.
"Yah, tapi kan ...."
"Tapi apaan? Kamu gak bisa ngelak lagi yah," potong Azizah, memotong perkataan Ghibran.
"Sudah sudah, kamu yang duluan atau Ghibran itu tidak penting. Sekarang, lebih baik kalian berdua bersihkan diri dulu sana," perintah Fatimah.
"Iya mi," ucap Ghibran langsung menuruti perintah ibu mertuanya. "Saya duluan," lanjut Ghibran dan langsung berlari.
Azizah sedikit terkejut dan berlari menyusul Ghibran.
"Eh, enak aja, aku yang duluan!" teriak Azizah ikut berlari di belakang Ghibran. Fatimah hanya geleng-geleng seraya tersenyum melihat kelakuan anak dan menantunya itu.
Ghibran lebih dulu masuk ke dalam kamar mandi dan Azizah mau tidak mau harus mengalah dan menunggu diluar.
"Huh, dasar cowok nyebelin!" gerutu Azizah merasa kesal. "Apaan coba, pake acara bilang kalau aku yang mulai duluan. Jelas-jelas, dia sendiri yang duluan, menyebalkan!"
"Ini mana lagi, belum keluar keluar aja. Mandi apa tidur, sih dia!"
Azizah terus menggerutu atas kejadian tadi, sambil menunggu Ghibran yang tengah membersihkan diri. Beberapa jam berlalu, namun pemuda itu tak kunjung keluar juga. Wanita itu sampai tertidur di atas ranjang, karena terlalu lama menunggu Ghibran.
Akhirnya Ghibran pun keluar juga dari kamar mandi. Pemuda itu sedikit terkejut melihat Azizah yang sudah tertidur. Ia melangkah mendekati ranjang, menggosok-gosok rambutnya dengan sebuah handuk kecil. Tersenyum melihat Azizah yang tengah tertidur.
"Malah tidur, bukannya mandi, dasar cewek aneh!" ucap pelan Ghibran.
Ghibran berjalan dan duduk di kursi rias Azizah. Terpampang jelas dicermin pemandangan wajah Azizah yang sedang tidur. Dan, ide jail Ghibran pun kembali muncul dipikirin pemuda itu. Ia tersenyum nakal melihat pada Azizah.
***
"Zah, bangun, hey bangun!"
Ghibran mencoba membangunkan Azizah yang masih tidur. Perlahan, wanita itu pun membuka kedua matanya dan langsung berdiri.
"Bangun, mandi sana! Bukannya mandi malah tidur," ucap Ghibran sedikit terkekeh kecil.
"Lagian, kamu itu mandi lama banget, mandi apa tidur? Aku kan jadi ketiduran," gerutu Azizah kesal.
"Yasudah, sana cepat mandi. Saya mau pergi keluar sebentar." Ghibran melangkah menuju pintu kamar.
"Kemana?" tanya Azizah, sontak Ghibranpun terhenti dari langkahnya tanpa menoleh pada wanita itu.
"Ada urusan kantor," jawab Ghibran dan langsung pergi. Namun, jika mendengar nada suaranya, pemuda itu seperti tengah menahan tawa.
Setelah kepergian Ghibran, Azizah melangkah menuju kamar mandi. Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti saat melewati cermin riasnya. Ada apa? Apa ada sesuatu yang aneh? Wanita itu langsung melihat pantulan wajahnya dan memegang kedua pipinya. Terlihat jelas di sana, bukan hanya putih tapi kini wajahnya sudah seperti seorang badut.
"Ghibraaan!" teriak Azizah kesal.
Ghibran yang sedang menuruni anak tangga tiba-tiba berhenti berjalan saat mendengar teriakan Azizah yang sangat keras. Bahkan uminya pun yang tengah berada di dapur sampai mendengar teriakan itu. Pemuda itu hanya terkekeh pelan dan kembali melanjutkan langkahnya.
"Mau kemana toh, lee?" Ghibran kembali terhenti dari langkahnya, tatkala mendengar suara dari ibu mertuanya. Pemuda itu langsung menoleh.
"Ini mi, Ghibran ada urusan sebentar diluar."
"Oh, seperti itu, yasudah hati-hati di jalan yah."
"Iya mi." Ghibran mencium punggung tangan Fatimah.
"Eh, Ran. Itu Azizah kenapa, kok teriak-teriak begitu," tanya Fatimah mengingat teriakan tadi.
"Ghibran juga tidak tahu mi," jawab Ghibran menahan tawanya. "Yasudah, Ghibran pergi dulu yah, Assalamualaikum," lanjut pemuda itu memberi salam.
"Waalaikumsalam."
Ghibran pergi keluar meninggalkan Fatimah yang sedang kebingungan karena mendengar teriakan putrinya.
"Ada apa dengan Azizah? Kenapa dia berteriak seperti itu, tidak biasanya." Fatimah melangkah pergi.
\*
"Awas aja kamu Gibran! Bisa-bisanya nyari kesempatan dalam kesempitan. Dasar menyebalkan! Awas aja, aku bakalan balas perbuatan dia. Tunggu pembalasan aku cowok aneh."
Azizah terus menggerutu seraya menyisir rambutnya. Kejahilan Ghibran memang bukan yang pertama kalinya setelah mereka menikah. Bahkan saat mereka tinggal di rumah Ghibran pun Azizah tidak pernah luput dari kejahilan pemuda tampan itu.
"Ternyata, setelah menikah aku jadi tahu Ghibran yang sebenarnya yah." Azizah tersenyum sembari mengikat rambut panjangnya. "Eh, tunggu dulu, tapi kenapa di kampus dia cuek sekali. Apalagi dengan seorang wanita. Yah, tapi tidak dengan Aisyah."
"Aisyah, ah! Aku jadi rindu dengannya. Bagaimana kabarmu di sana Syah? Aku sangat merindukanmu." Azizah tersenyum lalu memakai hijabnya.
Setelah selesai, Azizah berniat untuk membereskan pakaiannya di dalam lemari. Bahkan, pakaian Ghibran pun belum ia masukan kelemari. Yah, karena mereka baru datang kemarin, jadi belum sempat untuk membereskannya.
Azizah mengambil koper milik Ghibran dan langsung membukanya lalu mengeluarkan pakaian pemuda itu dari koper satu persatu. Hingga ia melihat ada sebuah buku yang terselip antara baju dan celana milik Ghibran.
"Hey, bukankah ini buku yang waktu itu. Buku yang ketinggalan di caffe. Apa, lelaki aneh itu masih membacanya? Kalau dilihat-lihat sepertinya buku ini tidak terlalu tebal, apa iya belum beres dibaca? Atau Ghibran sengaja membacanya berulang-ulang?"
Azizah melihat-lihat isi buku itu dan lembar tiap lembar ia buka dengan perlahan. Hingga wanita cantik itu menemukan sebuah fhoto di sana, posisinya terbalik sehingga dirinya tidak langsung bisa melihat fhoto apa itu.
"Fhoto apa ini?" ucap Azizah penasaran, lalu mengambil fhoto itu dan membalikkannya.
"Aisyah."
Yah, itu adalah fhoto Aisyah, sangat jelas terlihat di fhoto itu Aisyah yang tengah sibuk membaca buku.
"Darimana laki-laki menyebalkan itu mendapatkan fhoto ini? Apa jangan-jangan, dia sengaja fhoto Aisyah secara diam-diam. Luar biasa! Begitu besar cinta Ghibran pada Aisyah. Fhoto Aisyah saja masih ia simpan. rasanya, jahat sekali aku ini, memisahkan mereka berdua. Aku hanyalah sebuah penghalang untuk mereka berdua, tapi aku bisa apa?" Wanita itu kembali menyimpan fhoto Aisyah di dalam buku.
"Fahmi, tadipun aku juga bertemu dengannya. Aku pernah bermimpi, bisa menjadi istrinya tapi seolah takdir tak merestui. Semesta pun tak mengizinkannya. Bahkan, tak pernah terpikirkan olehku menjadi istri Ghibran yang sama sekali tidak aku cintai begitupun sebaliknya. Ya Allah, sampai kapan kami akan seperti ini?" Azizah menutup buku itu dan menyimpan kembali ke dalam koper.
__ADS_1
"Saya juga tidak tahu, sampai kapan kita akan seperti ini terus Zah. Tapi, jujur saya mulai nyaman berada di dekatmu sekarang. Dan rasanya juga sangat berbeda. saya tidak tahu, apakah rasa itu cinta atau bukan. Tapi, jika itu cinta maka saya sangat bersyukur sekali karena bisa mencintai seseorang yang sudah halal untuk saya dan sudah sepatutnya saya cintai, sebagai seorang istri."
Ghibran berbicara di dalam hatinya, pemuda itu tengah berdiri di ambang pintu. Azizah yang membelakanginya pun tidak tahu keberadaan Ghibran di sana. Ia hendak masuk ke kamar, namun langkahnya terhenti tatkala mendengar Suara Azizah yang berbicara sendiri tadi.