
~Bagaimana rasanya merindukan seseorang yang tidak bisa dimiliki? Bahkan kini orang itu sudah menjadi milik orang lain. Sakit bukan? Itu pasti. ~
Pemuda itu tengah duduk di teras depan rumah. Matanya terus memandangi fhoto seorang gadis berkerudung, di dalam ponselnya. Sesekali air mata pun terjatuh dari mata sang pemuda.
"Apa kabarmu Zah? Aku sangat merindukanmu. Pasti, saat ini kamu sudah bahagia, yah bersama lelaki pilihanmu." Pemuda itu mematikan ponsel dan menaruhnya di atas meja. Lalu melangkah maju berdiri di dekat tiang.
"Berulang kali, aku mencoba melupakan kamu tapi tak pernah bisa. Kenapa? Aku selalu berusaha melupakan perasaan ini, tapi semakin kucoba malah semakin besar. Bahkan, rindu ini selalu datang. Kenapa ya Allah?"
Pemuda itu terus bermonolog sendiri di dalam hati. Matanya menatap ke depan, hembusan angin pagi mengayunkan sarung yang ia kenakan. Matanya terpejam sesaat dan bulir hangat bebas meloloskan diri.
***
Ghibran masih fokus menyetir, sedangkan Azizah masih tertidur di jok belakang. Benar-benar tak ada pembicaraan diantara mereka selama perjalanan. Ghibran sedikit melirik Azizah lewat kaca depan yang tertempel di bagian atas, pemuda itu sedikit menurunkan kaca itu agar dapat melihat Azizah.
Ghibran terus memandangi Azizah yang tengah tertidur, tanpa wanita itu tahu. Hingga lengkungan di bibir pemuda tampan itu terlihat. Tersenyum, yah Ghibran tersenyum memandangi Azizah. Tiba-tiba Azizah terbangun dari tidurnya, sontak membuat Ghibran sedikit gelagapan dibuatnya. Karena, takut Azizah tahu jika dari tadi dirinya sedang memandangi wanita berparas cantik itu.
"Apa sudah sampai?" tanya Azizah seraya memicingkan matanya, melihat ke depan.
"Sebentar lagi," jawab Ghibran datar, seolah tak terjadi apa-apa.
"Mmmm." Azizah mengangguk-angguk lalu kembali tertidur.
"Dasar cewek aneh!" umpat Ghibran. "Malah tidur lagi," lanjutnya seraya menggeleng melihat Azizah dari kaca.
Namun tiba-tiba, Azizah kembali terbangun dan membenarkan posisi duduknya. Ghibran yang melihatnya sedikit terkejut. Untung dirinya tidak sedang memandang Azizah, pikirnya begitu.
"Kenapa bangun lagi?" tanya Ghibran masih fokus menyetir.
"Hmm, apa kita bisa berhenti sebentar?" Azizah kembali bertanya.
"Untuk apa?" tanya Ghibran bingung.
"Aku mau, e—e ...." jawab wanita itu terbata-bata dan tidak meneruskan ucapannya.
"Kalau ngomong itu yang benar, mau apa? Ngomong yang jelas."
"Aku mau ke toilet," ucap Azizah lalu langsung tertunduk. Mungkin merasa malu, karena harus mengatakannya pada Ghibran.
"Oh, baiklah. Di depan sana kebetulan ada pom bensin, sekalian bisa isi bensin dulu dan kamu bisa ke toilet." Azizah nampak tersenyum mendengar penuturan dari Ghibran.
Tak butuh waktu lama, pom bensin sudah terlihat dan Ghibran pun masuk ke sana. Azizah turun dari mobil dan berlari kecil menuju toilet, sementara Ghibran ikut mengantri untuk mengisi bensin.
"Aisyah, apa itu Aisyah?" Ghibran sedikit memicingkan matanya tatkala melihat seorang wanita berhijab seperti Aisyah. Pemuda itu keluar dari mobilnya dan melihat ke arah wanita itu.
"Mau isi berapa pak?" tanya petugas pom bensin. Namun Ghibran masih fokus dengan wanita yang dianggap olehnya Aisyah.
"Pak, mau isi berapa? Maaf pak, mau isi berapa?" Sekali lagi petugas itu bertanya dan kali ini Ghibran langsung tersadar karena mendapat tepukan pelan dari petugas pom bensin itu.
"Haa, 4 mas." Petugas itu mengangguk lalu Ghibran kembali masuk ke dalam mobilnya.
Azizah sudah selesai dari toilet dan seperti melihat seseorang yang ia kenal. Azizah mengejar orang itu dan berhasil menghentikannya.
"Ada apa mbak?" tanya wanita itu menoleh pada Azizah.
"Maaf mbak, saya kira teman saya." Wanita itu pun pergi meninggalkan Azizah.
"Aku yakin kok, tadi aku melihat Aisyah di sini. Tapi, kenapa tidak ada?" Azizah pun melangkah pergi.
Seorang wanita berhijab tengah bersembunyi dibalik tembok, melihat kepergian Azizah.
"Maafkan aku Zah, aku belum siap untuk bertemu denganmu apalagi harus bertemu dengan Ghibran. Maafkan aku." Wanita itu pun pergi dari tempat itu.
Azizah berhenti dari langkahnya dan menoleh kembali ke belakang, terdiam sesaat lalu kembali melanjutkan langkahnya. Ghibran sudah menunggu Azizah di pinggir jalan di dalam mobilnya. Azizah hendak membuka pintu mobil bagian belakang. Namun tiba-tiba kepala Ghibran menongol di jendela pintu depan, membuat wanita itu terdiam.
"Duduklah di depan," perintah Ghibran lalu kepalanya masuk kembali. Azizah pun segera masuk dan duduk di jok depan.
Ghibran langsung menyalakan mesin mobil dan mereka melaju dengan mobil. Sepanjang jalan, Ghibran terus terpikirkan kejadian tadi. Begitu juga dengan Azizah, ia masih terbayang kejadian tadi. Azizah terus tertunduk memikirkan kejadian tadi. Haruskah, dirinya memberitahu Ghibran soal kejadian tadi?
"Tadi," ucap mereka bersamaan. Azizah dan Ghibran saling pandang beberapa saat.
"Kamu aja dulu," ucap Ghibran.
"Tidak, tidak. Silahkan, kamu duluan." Azizah kembali tertunduk.
"Kamu saja duluan, kamu seorang wanita harus diutamakan." Azizah terkejut mendengar ucapan Ghibran. Dan menoleh pada pemuda itu sebentar.
"Tadi aku, seperti melihat Aisyah," tutur Azizah memberitahu. Ghibran menoleh pada Azizah lalu kembali fokus menyetir.
"Dimana?" tanya Ghibran datar.
"Di pom bensin tadi, tapi pas berhasil kukejar itu bukan Aisyah."
"Mungkin kamu salah lihat kali."
"Iya mungkin, saking rindunya," ucap Azizah tersenyum getir. "Oh, iya tadi kamu mau bicara apa?"
"Ah, tidak, bukan apa-apa kok," jawab Ghibran berbohong.
"Dasar cowok aneh!" umpat Azizah pelan.
__ADS_1
"Baiknya, memang tidak harus kuceritakan pada Azizah. Dia sudah cukup menderita selama ini, apalagi jika ia harus bertemu dengan Aisyah."
Ghibran berbicara dalam hatinya, menoleh pada Azizah yang tengah melihat ke arah jendela, lalu pemuda itu kembali fokus menyetir.
\*
Wanita itu tengah tiduran dipangkuan sang umi. Melepaskan kerinduannya pada ibunda tercinta. Setelah sebulan lamanya tidak tinggal bersama. Fatimah membelai lembut punggung putri satu-satunya itu seraya mengulum senyumnya.
"Mi," ucap Azizah, memecahkan keheningan diantara mereka.
"Iya nduk, ada apa?" tanya Fatimah, terus membelai punggung Azizah.
"Mi," lagi Azizah memanggil Fatimah, padahal sudah disahuti oleh uminya itu.
"Ada apa nak?" Fatimah kembali bertanya.
"Azizah rindu umi." Wanita itu menciumi tangan sang umi berkali-kali lalu menggenggamnya dengan erat. Fatimah hanya tersenyum mendengar penuturan Azizah.
Ghibran tengah duduk di atas ranjang, di kamar Azizah. Setelah usai melaksanakan shalat ashar, pemuda itu belum keluar kamar. Mungkin memberikan Azizah waktu berdua bersama uminya. Ghibran masih teringat kejadian di pom bensin tadi, dimana dirinya melihat sosok wanita seperti Aisyah.
"Apakah, wanita itu benar Aisyah? Tapi kata Azizah, Aisyah tidak tinggal di Indonesia lagi. Dan Azizah juga tadi melihat Aisyah. Ada kemungkinan, kalau memang wanita itu adalah Aisyah," gumam Ghibran di dalam hati seraya mengusap wajahnya kasar.
"Aisyah," lanjutnya lirih.
Aisyah memang belum bisa tergantikan direlung hati Ghibran. Namun, keberadaan Azizah bisa saja menggantikan posisi Aisyah di hati Ghibran. Dan, terlebih Azizah adalah istrinya saat ini. Harusnya, memang Azizah yang mengisi hatinya, bukan wanita lain.
Cinta memang tidak datang dengan mudah, apalagi jika kita dihadapkan dalam keadaan seperti yang dialami oleh Ghibran dan Azizah. Tapi, tidak menutup kemungkinan jika mereka bisa saja saling jatuh cinta lagi setelah patah hati dirasakan.
Azizah tertidur dipangkuan Fatimah, Ghibran tengah menuruni anak tangga. Matanya langsung tertuju pada wanita yang tengah tidur dipangkuan Fatimah. Ghibran segera menghampirinya.
"Azizah tidur mi," ucap Ghibran bersuara agak keras.
"Syuuut, jangan keras-keras." Fatimah memberi isyarat dengan menutup bibirnya dengan jari telunjuknya. "Nak, apa kamu bisa bantu umi untuk memindahkan Azizah?" lanjutnya bertanya pada Ghibran.
"Bisa mi, mari Ghibran bantu."
Ghibran mengangkat tubuh Azizah kepangkuannya dan membawa Azizah menuju kamar. Fatimah yang melihatnya hanya terus tersenyum memandangi adegan putri dan menantunya.
Walau rasa canggung dirasakan oleh Ghibran, tapi ia tidak memperdulikannya. Ghibran membaringkan tubuh Azizah diatas ranjang. Lalu menutupi tubuh wanita itu dengan selimut. Pemuda tampan itu terus memandangi wajah Azizah yang tengah tertidur.
"Lucu," ucapnya, tersenyum memandangi Azizah.
Namun tiba-tiba tangan Azizah bergerak, buru-buru Ghibran menjauh dari Azizah. Takut, jika wanita itu terbangun dan melihat dirinya sedang memandangi wajah wanita itu. Namun, dugaan Ghibran salah, ternyata Azizah hanya berganti posisi tidur menjadi miring, membelakangi Ghibran. Lagi-lagi senyuman terlukis diwajah Ghibran.
keesokan harinya ...
Azizah tengah sibuk menyiapkan untuk sarapan di dapur. Nasi goreng, yah, menu sarapan hari ini cukup nasi goreng dan telur dadar saja. Bukankah, semua orang suka dengan nasi goreng? Pasti Ghibran juga suka.
"Hmmm, masak apa toh nduk? Aromanya sampai tercium ke ruang tengah." Fatimah datang menghadampiri Azizah, Azizah menoleh sesaat dan tersenyum.
"Nasi goreng mi," ucap Azizah kembali mengaduk masakannya.
"Hmm, umi bantu yah."
"Tidak usah mi, sebentar lagi selesai kok," tolak Azizah lembut.
"Yasudah, kalau gitu umi bantuin taro ke meja aja yah," pinta Fatimah seraya mengambil piring dan sebuah piring yang berisikan telur dadar. Azizah hanya mengangguk mengiyakan.
Fatimah menaruh piring-piring itu ke atas meja dan menuangkan air pada gelas. Ghibran datang dari arah atas dan langsung menghampiri Fatimah yang tengah merapikan peralatan makan.
"Pagi mi," sapa Ghibran mengulum senyum. Fatimah menoleh dan tersenyum.
"Pagi juga nak, ayok sarapan dulu. Sebentar lagi sarapannya siap," perintah Fatimah seraya berhenti menuangkan air.
"Iya mi." Ghibran menarik kursi lalu segera duduk. Matanya melihat ke sekeliling isi rumah, seolah ada sesuatu yang sedang pemuda itu cari. Fatimah melihat tingkah menantunya itu, dan tersenyum.
"Azizah, masih di dapur, memasak sarapan." Ucapan Fatimah membuat Ghibran sedikit terkejut dan agak salang tingkah.
"Oh, ii— ya mi." Pemuda itu terdengar kikuk. Sementara Fatimah hanya tersenyum melihat kelakuan Ghibran.
Azizah datang membawa nasi goreng dalam sebuah wadah. Dan langsung menyimpan di atas meja.
"Sarapannya sudah jadi," ucap Azizah tersenyum. Ghibran langsung melihat pada Azizah, dan terus memandanginya.
"Ayok, nak sarapan dulu," titah Fatimah pada Ghibran. Ghibran masih asyik dalam lamunannya memandangi Azizah.
Fatimah sedikit bingung, karena Ghibran tidak merespon. Ia melihat pada Azizah memberikan sebuah isyarat. Azizah yang melihat sikap sang umi sedikit bingung dan tak mengerti, ia mengangkat kedua alisnya tanda tak paham. Mata Fatimah melirik pada Ghibran tanpa menoleh, yang masih memaandangi putrinya. Azizah langsung melihat pada Ghibran.
Benar saja, pemuda itu sedang asyik memandanginya dengan piring yang sudah di pegang oleh Ghibran. Azizah nampak bingung juga aneh melihat sikap Ghibran pagi itu.
"Ada apa dengan lelaki ini, kenapa dia terus memandangiku? Abis kesambet setan apa sih dia, aneh! Apa yang sedang ia lihat?"
Aziziah bermonolog dalam hati melihat aneh pada Ghibran lalu melihat dirinya dari atas sampai bawah. Mungkin ada yang aneh dalam dirinya, pikirnya begitu.
"Sini, aku ambilkan sarapannya." Azizah mengambil piring di tangan Ghibran. Hingga membuat Ghibran tersadar dari lamunannya dan sedikit salah tingkah. Fatimah yang melihatnya hanya tersenyum kecil.
__ADS_1
"Astagfirullahaladziim, apa yang sudah aku lakukan tadi? Kenapa kau Ghibran, kenapa? Kenapa aku tidak bisa mengalihkan pandanganku pada Azizah?" gumam Ghibran dalam hatinya.
"Ayok, cepat dimakan nak. Nanti keburu dingin," perintah Fatimah.
"Iya mi," jawab Ghibran dan perlahan memasukan suapan pertamanya.
"Wow! Enak sekali, aku belum pernah makan nasi goreng seenak ini. Rasanya, persis masakan umi." Ghibran berbicara dalam hati, mengomentari nasi goreng buatan Azizah.
"Bagaimana nasi gorengnya, enak?" tanya Fatimah pada Ghibran.
"Enak mi, sangat enak," puji Ghibran antusias. Fatimah hanya tersenyum mendengarnya. Begitu juga dengan Azizah. Ia tersenyum melihat sikap Ghibran yamg tampak berbeda.
\*\*\*
"Semakin aku mencoba untuk melupakanmu, semakin tak bisa, kenapa? Ya Rabb, aku tahu ini salah. Karena aku masih mencintainya, bahkan saat ini dia adalah suami orang. Tapi, kenapa rasa ini masih saja ada dalam hati ini. Sampai kapan ya Allah, sampai kapan?"
Wanita berhijab merah itu menangis melihat sebuah fhoto seorang pemuda tampan, berkulit putih di tangannya. Air mata kian deras membanjiri wajah cantik itu.
"Sudahlah nak, sampai kapan kamu akan seperti ini terus? Lupakan dia," ucap seorang wanita paruh baya berhijab panjang yang datang menghampirinya.
"Aku tidak bisa mi, aku tidak bisa. Aku sudah mencobanya, tapi tetap tidak bisa mi." Wanita itu meringkuk semakin menangis. Siapapun yang melihatnya, pasti akan merasa sedih. Sama halnya dengan manita paruh baya itu, ikut menangis dan memeluk putrinya.
"Aku mencintainya mi, sangat mencintainya. Tapi, kenapa— kenapa Allah tidak mengizinkanku untuk bersatu dengannya, kenapa mi, kenapa?" Wanita itu semakin terisak dalam pelukan sang umi.
"Sabar nak, sabar sayang, sabar. Allah memiliki cara-Nya sendiri. Pasti Allah sudah menyiapkan sesuatu yang indah untukmu, sayang." Sang umi terus menenangkan putrinya. Kesedihan diwajahnya tak bisa lagi ditutupi olehnya.
"Ini tidak adil, tidak adil," teriak histeris wanita itu melepaskan pelukan.
"Sabar nak, sabar. Istigfar sayang, istigfar." Wanita paruh baya itu langsung menarik putrinya kembali ke dalam pelukannya.
"Ini tidak adil, tidak adil, tidak adil, tidak adil." Wanita itu terus berceracau, matanya basah karena air mata. Matanya sangat sembab karena terus menangis.
***
Azizah sedang duduk di teras rumahnya sambil membaca sebuah novel kesukaannya. Fatimah datang dengan membawa dua cangkir teh dan menyimpan di atas meja kecil lalu duduk dekat Azizah.
"Baca apa toh, nduk? Serius sekali kelihatannya," tanya Fatimah melihat pada Azizah.
"Umi." Azizah menoleh sedikit terkejut. "Sejak kapan, umi duduk di sini?" lanjut Azizah bertanya dan menutup novel yang ia baca tadi.
"Duh, gusti! Umi datang saja, kamu tidak tahu nak."
"Hehe, maaf mi. Tadi, Azizah sedang fokus baca novel jadi gak eungeh kalau ada umi."
"Hmmm."
"Wah, teh kesukaanku." Azizah terlihat bahagia melihat secangkir teh dipadukan dengan susu. Yah, wanita ayu ini memang sangat menyukainya.
"Iya, umi sengaja membuatnya untukmu sayang."
"Terima kasih umi." Azizah tersenyum dan menyubit pelan pipi sang umi lalu langsung menyeruput teh kesukaannya itu. "Hmmm, enak sekali, sangat enak. Perpecto," lanjut Azizah memuji teh buatan uminya seraya menyatukan jempol dan jari telunjuknya. (Ok)
Fatimah hanya menggeleng dan tersenyum melihat tingkah putrinya itu.
"Oh, ya sayang, bagaimana rasanya tinggal di rumah mertuamu?"
"Enak mi, aku nyaman tinggal di sana. Sangat nyaman. Ibu mertua dan ayah mertuaku sangat baik, aku beruntung mendapatkan mertua sebaik mereka mi."
"Alhamdulillah, umi bahagia mendengarnya. Kalau suamimu?" Pertanyaan Fatimah sedikit membuat Azizah terdiam dan terkejut.
"Dia, dia juga baik mi. Hanya saja, sedikit menyebalkan," jawab Azizah seraya menyimpan cangkir ke atas meja lagi.
"Menyebalkan bagaimana?"
"Yah, pokonya menyebalkan mi."
"Hmm, oh iya sayang. Bagaimana, sudah ada tanda-tanda belum nak?"
"Tanda-tanda, mi?" tanya Azizah terlihat bingung. Fatimah hanya mengangguk.
"Iya, tanda-tanda."
"Tanda-tanda apa maksud umi?" Fatimah memberikan jawaban dengan sebuah isyarat, tangannya diletakkan di perutnya. Azizah masih belum paham, mengangkat kedua alisnya.
"Perut? Apa, sih maksud umi?"
"Hamil sayang."
"Hamil?" Fatimah mengangguk "umi hamil?" lanjut wanita itu terlihat terkejut. Fatimah langsung menggeleng.
"Tidak, tidak, tidak. Bukan umi, tapi kamu nak."
"Hah, aku. Aku hamil?" Azizah menunjuk pada dirinya sendiri.
"Iya sayang, apa sudah ada tanda-tanda kamu hamil? Kalian kan, sudah satu bulan menikah. Umi sudah tidak sabar, ingin menimang cucu." Fatimah tersenyum menyiratkan keinginannya.
"Belum mi."
"Bagaimana aku bisa hamil, aku saja belum melakukannya dengan Ghibran. Bagaimana aku bisa melakukan semua itu, sedangkan tidur saja kita masih terpisah. Bahkan, Ghibran belum pernah menyentuhku. Dan, lagipun aku belum siap.
__ADS_1
Terlebih, jika harus melakukannya dengan orang yang tidak aku cintai. Ghibran juga sama denganku, dia pasti belum siap juga. Maafkan Azizah mi, Azizah belum bisa mengabulkan keinginan umi untuk memberikan cucu. Maaf mi."
Wanita itu terus bermonolog sendiri melihat pada sang umi. Dengan tatapan sendu, ia terus memamdangi wajah keriput uminya yang sudah tidak muda lagi.