KEKASIH HALAL ( Sudah Terbit )

KEKASIH HALAL ( Sudah Terbit )
Bagian 8


__ADS_3

Setelah kejadian malam itu, Azizah masih terus memikirkan hal itu. Yang dimana orang yang akan menjadi imamnya nanti adalah Ghibran, orang yang selama ini selalu membuatnya kesal dan emosi. Dan ia juga teringat akan Aisyah, bagaimana jika Aisyah mengetahuinya, bagaimana Azizah akan menceritakannya pada Aisyah karena yang Azizah tahu Aisyah mempunyai rasa terhadap Ghibran.


Bagaimana aku memberitahukan itu semua pada Aisyah, dia pasti akan merasa terpukul dan sakit hati kalau dia tahu orang yang dijodohkan denganku adalah orang yang dia suka. Aku harus bagaimana yaa Allah? Disatu sisi aku tidak ingin menjadi anak yang durhaka karena tidak menuruti keinginan orang tuaku, tapi disisi lain aku jiga tidak ingin membuat sahabat aku terluka. Aisyah bukan hanya sahabat tapi dia sudah seperti saudara aku sendiri. Bagaimana bisa aku setega itu, mengambil orang yang ia sayang. Gumamnya dalam hati, menatap lurus ke depan.


Azizah larut dalam lamunannya ia larut dalam kebingungannya, kini ia bagai buah simalakama yang dua duanya teramat penting bagi dirinya namun harus ada yang ia pilih. Orang tuanya kah atau sahabatnya? Sunguh, ini membuatnya bingung dan merasa tersiksa. Tiba-tiba ada sebuah tangan yang menepuk pundak Azizah dan membuyarkan lamunannya, Azizah menolehkan wajahnya untuk mengetahui tangan siapakah itu.


"Zah." Aisyah melempar senyum lalu duduk disamping Azizah.


"Rupanya kamu disini Zah, aku cari kemana-mana."


Azizah hanya terdiam tidak begitu menghiraukan perkataan Aisyah, dan melihat itu Aisyah merasa heran dan mengernyitkan dahinya.


"Zah, kamu kenapa?"Aisyah menghadapkan tubuh Azizah pada hadapannya dan kini mereka saling berhadapan.


"Kamu kenapa Zah, apa ada masalah? Cerita padaku."


Seketika Azizah langsung memeluk Aisyah sambil terisak dalam tangisannya, Aisyah terkejut dan masih terheran-heran atas sikap Azizah.


"Kamu kenapa Zah? Cerita sama aku jangan diam saja seperti ini, aku jadi bingung Zah."


Azizah hanya terdiam sambil menangis dipelukan Aisyah.


"Yasudah, jika dengan menangis bisa membuat kamu merasa lebih tenang menangislah, Zah."


Dari kejauhan ternyata Ghibran melihat adegan antara Azizah dan Aisyah, ia jadi teringat tentang perjodohan itu dimana ia akan menikahi sahabat dari orang yang selama ini ia kagumi. Tak terasa air mata pun jatuh dipipi Ghibran, Ghibran berlalu pergi sambil menyapu air matanya. Fahmi menghampiri Ghibran, namun Ghibran sudah berlalu pergi meninggalkan tempat itu.


"Ghibran tunggu," panggil Fahmi, namun Ghibran tetap berlalu pergi.


Fahmi merasa heran atas sikap Ghibran, dan ia menoleh kearah Azizah dan Aisyah yang tengah duduk sembari masih berpelukan dibarengi dengan isak tangis Azizah.


"Ada apa dengan Ghibran, apa sikapnya ini ada hubungannya dengan mereka berdua? Ada apa sebenarnya."


Fahmipun pergi meninggalkan tempat itu dengan membawa rasa penasarannya.


Aisyah melepaskan pelukannya dari Azizah, dan mencoba untuk bertanya kembali atas sikap Azizah yang tiba-tiba memeluk dirinya dan menangis.


"Bagaimana, apa sekarang sudah lebih tenang?" tanya Aisyah pelan.


Azizah hanya menganggukan kepalanya pertanda ia mengiyakan pertanyaan dari Aisyah.


"Sekarang, coba kamu ceritakan padaku ada apa? Apa yang bisa membuat kamu tiba-tiba memeluk aku, lalu menangis seperti tadi."


"Maafkan aku syah," ucap Azizah lirih.


Ucapan Azizah membuat Aisyah terheran-heran, mungkin dalam benaknya kenapa Azizah minta maaf? Apa yang telah dia lakukan sehingga dia harus meminta maaf pada dirinya.


"Minta maaf?" tanya Aisyah dengan rasa heran, dan Azizah hanya menganggukan kepalanya.


"Minta maaf untuk apa Zah? sungguh aku tidak mengerti. coba katakan padaku ada apa? Apa yang telah terjadi sebenarnya."


"Maafkan aku Aisyah, karena aku bukan sahabat yang baik untuk kamu."


"Kamu berkata apa Zah? Kamu adalah sahabat aku yang terbaik, dan bahkan kita begitu dekat seperti saudara sendri. Kamu jangan berkata seperti itu Zah."


Azizah menghadapkan tubuhnya pada hadapan Aisyah dan memegang kedua bahu Aisyah.

__ADS_1


"Syah, sekarang tolong katakan padaku yang sejujurnya. Apa kamu mencintai Ghibran?" Menatap Aisyah dengan serius.


Sontak pertanyaan Azizah membuat Aisyah terkejut dan heran, ia hanya bisa terdiam. Ia bingung harus menjawab apa, kenyataannya dia memang menyukai pemuda itu namun ia tak pernah ingin siapa pun tahu perihal perasaannya termasuk Azizah, sahabatnya sendiri.


"Jawab syah." tekan Azizah, masih memegang kedua bahu Aisyah.


"A—aaku." Aisyah berkata dengan terbata-bata dan, Azizah langsung memotong ucapan Aisyah.


"Kamu mencintai dia kan Syah? Aku tidak tahu harus bagaimana memberitahukan ini semua padamu Syah aku bingung. Aku tidak ingin melihat kamu terluka." Melepaskan pegangannya di bahu Aisyah, lalu menghadap kembali ke depan.


Aisyah semakin merasa heran atas ucapan Azizah yang ia lontarkan padanya. Apa maksud dari perkataan Azizah tadi, kenapa ia berkata seperti itu. Mungkin itu yang ada dalam pikirannya.


"Tunggu dulu, maksud kamu apa? Kamu bilang kamu tidak ingin melihat aku terluka. Terluka kenapa? Azizah, katakan padaku ada apa, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Aisyah semakin penasaran.


"Baiklah, aku akan katakan ini semua padamu Syah. karena memang kamu harus tahu."


"Iya Zah, coba katakan padaku."


Azizah menoleh ke arah Aisyah dan menatap lamat wajah Aisyah yang terlihat sangat penasaran dan bingung.


Sebenarnya, aku tidak sanggup untuk mengatakan ini semua sama kamu Syah, tapi kamu juga berhak tahu Syah.


gumam Azizah dalam hatinya.


"Zah."


Sahutan Aisyah membuyarkan pandangan Azizah, dan langsung mulai berbicara, "Syah, kamu tahukan kalau aku akan dijodohkan. Lusa lalu aku dan umi diundang untuk makan malam di sana, dan aku kini sudah bertemu dengan calon imamku, dan ...."


Aisyah mengangguk-anggukan kepalanya, dan langsung memotong ucapan Azizah sembari melempar senyum.


Azizah langsung memotong perkataan Aisyah yang sangat terlihat bahagia dan tersenyum bahagia.


"Dan, orang itu adalah Ghibran," ucap Azizah lirih.


Aisyah terkejut, seketika senyum dari bibirnya hilang setelah mendengar ucapan yang telah Azizah lontarkan. Azizah hanya menatap ke depan sembari matanya berkaca-kaca. Terasa begitu sakit dalam hati Aisyah mendengar ucapan Azizah yang memberitahukan bahwa yang dijodohkan dengannya adalah Ghibran. Bagai tersambar petir disiang bolong, begitulah yang kini dirasakan olehnya. Sakit, perih, namun Aisyah mencoba untuk tegar dan kembali tersenyum agar terlihat baik-baik saja.


"Maksud kamu, Ghibran teman satu kampus kita?"


Azizah hanya mengangguk pelan tanpa menoleh kearah Aisyah, karena ia tidak ingin melihat wajah sedih dari sahabatnya tersebut. Aisyah mencoba tegar dan bersikap biasa saja lalu langsung memeluk Azizah.


"Selamat yah Zah, akhirnya kini kamu sudah tahu siapa orang yang dijodohkan denganmu."


Azizah hanya terdiam dan memejamkan matanya dalam pelukan Aisyah.


"Aku yakin, Ghibran adalah orang yang tepat buat kamu Zah. Dia adalah orang yang sangat baik dan aku yakin pasti kamu akan bahagia bersama dia."


Air mata jatuh dipipi Aisyah, tak kuasa untuk menahannya walaupun sedari tadi ia mencoba untuk menahan agar tidak menangis namun nyatanya hatinya sudah meronta-ronta tak sanggup untuk menahannya lagi.


Aku tahu Syah ini sangat berat untuk kamu. Aku tahu kamu pasti sangat terluka, maafkan aku Syah.


Gumam Azizah dalam hatinya, ia tahu bahwa Aisyah pasti sangat terluka dan hancur. Tapi, harus bagaimana lagi karena ini semua sudah menjadi takdirnya. Walau sebenarnya Azizah pun tidak ingin semuanya terjadi, namun ini semua bukan kehendak dan keinginannya.


Aisyah menyapu air matanya lalu melepaskan pelukannya pada Azizah.


"Aku turut bahagia Zah, sangat bahagia." Aisyah melempar senyum bahagia pada Azizah.

__ADS_1


"Maafkan aku syah."


"Kenapa kamu harus minta maaf Zah? tidak ada yang salah," tutur Aisyah.


"Aku minta maaf Syah, karena aku sudah mengambil orang yang kamu kagumi sedari dulu," ucap Azizah merasa bersalah.


"Percayalah Azizah, aku tidak mencintai Ghibran. Aku hanya merasa kagum terhadapnya, karena suaranya yang merdu hanya itu saja. Tidak ada cinta hanya rasa kagum." Aisyah tersenyum dan mencoba meyakinkan Azizah.


"Kamu jangan bohong Syah, aku tahu kalau kamu itu mencintai Ghibran. aku ini sahabat kamu Syah, bahkan kita sudah sangat lama bersahabat dan aku tahu saat ini kamu sedang berbohong," ujar Azizah tak percaya.


"Azizah aku tidak bohong, aku sama sekali tidak mencintai Ghibran. Kamu tidak perlu merasa bersalah seperti ini, percayalah Zah aku sangat bahagia atas kabar bahagia ini."


Aisyah tersenyum lalu memeluk Azizah dengan erat.


Keheningan menghampiri diantara mereka beberapa lama, dan kini Azizah memulai untuk mencairkan suasana dengan mulai mengucapkan sepatah kata demi kata.


"Syah," panggil Azizah, dan Aisyah pun menoleh kepada Azizah.


"Iyaa Zah, kenapa?"


Azizah mengehela nafasnya sejenak dan mulai untuk berkata lagi.


"Kamu tau tidak Syah, percayalah kalau Ghibran itu sangat mencintai kamu."


Aisyah terkejut dan langsung menoleh kearah Azizah.


"Maksud kamu Zah?"


"Iyaa, Ghibran itu sangat mencintai kamu tapi dia tidak pernah berani untuk mengatakannya sama kamu. Apalagi setelah dia tahu tentang perjodohan ini."


"Kamu tau darimana Zah, kalau Ghibran mencintai aku?".


"Ghibran sendiri yang mengatakannya padaku Syah. Waktu aku hendak mengembalikan bukunya yang ketinggalan, aku tidak sengaja mendengar pembicaraan dia yang mengatakan bahwa dia sangat mencintai kamu. Dan setelah ia tahu tentang perjodohan ini, ia mengatakan bahwa akan mengubur dan melupakan perasaannya terhadap kamu Syah. Bahkan, dia tidak ingin kamu tahu tentang perasaannya itu. Dan ia tidak akan pernah mengatakan perasaannya sama kamu karena dia rasa itu akan percuma, karena ia tahu kalian tidak akan bisa bersama."


Tak terasa air mata jatuh dipipi Aisyah, air matanya terus mengalir begitu derasnya tiada henti sementara Azizah hanya menatap kosong ke depan.


Ghibran mencintai aku? dan itu berarti perasaan aku selama ini tidak bertepuk sebelah tangan. Tapi Ghibran sudah dijodohkan dengan Azizah. Entah takdir apa yang menimpaku saat ini yaa Allah, disatu sisi aku sungguh bahagia saat aku tahu kalau Ghibran pun mencintai aku juga tapi disisi lain aku terluka karena aku harus merelakan orang yang aku cintai dengan sahabat aku sendiri. Entah takdir seolah sedang mempermainkan aku, aku harus bagaimana yaa Allah bahagiakah atau bersedih?


Aisyah mencoba menyapu air matanya lalu menoleh kearah Azizah.


"Tidak ada yang harus disalahkan dalam persoalan ini Zah, tidak ada yang akan terluka. Dan kamu jangan merasa bersalah."


Azizah menoleh dan menatap lamat pada wajah Aisyah, terlihat diwajahnya menyimpan rasa pedih, sakit. Ia tahu kalau sahabatnya itu sedang berbohong. Aisyah melempar senyum dan menyapu air mata dipipi Azizah yang terus mengalir.


"Tidak ada yang harus disalahkan dan terluka dalam perjodohan ini Zah, kamu tidak bersalah dan aku pun tidak terluka, aku yakin Ghibran adalah lelaki yang baik dan pasti akan bisa membuat kamu bahagia. Dan aku yakin Ghibran itu bisa menjadi Imam yang baik buat kamu kelak Zah. Aku sama sekali tidak terluka Zah justru aku sangat bahagia, kamu itu sahabat aku jadi sudah sepatutnya aku juga bahagia atas kebahagiaan kamu," tutur Aisyah meyakinkan.


"Tapi, aku tidak memiliki rasa apa-apa sama Ghibran apalagi mencintai dia. Bagaimana bisa aku menikahi orang yang sama sekali tidak aku cinta dan tidak mencintai aku."


"Cinta itu akan datang dengan sendirinya Zah, percayalah aku yakin suatu hari nanti kalian berdua pasti akan saling mencintai bahkan melebihi diri kalian sendiri."


Azizah langsung memeluk Aisyah, Aisyah kembali meneteskan air matanya dalam pelukannya. Tak bisa dipungkiri hatinya memamg terluka, hatinya hancur tapi takdir tidak menginginkannya bersama orang yang ia cintai. Kini, hanya rasa ikhlas yang ia tanamkan dalam hatinya meskipun itu masih sangat sulit.


Sementara di dalam kelas, Ghibran tengah duduk memikirkan apa yang tadi ia lihat. Tatapannya fokus, memandang lurus ke depan suara-suara beberapa orang di sana pun tak ia hiraukan. Ia asyik dalam lamunannya.


Apa Azizah sudah memberitahu Aisyah? Terlihat sekali raut sedih diwajah Aisyah, sungguh rasanya ingin sekali aku menghapus air mata nya. Tak tega rasanya, melihat dia bersedih. Maafkan aku Aisyah. batin Gibran berbicara.

__ADS_1


Sulit, memang rasanya. Harus merelakan orang yang kita cintai, menghapus semua perasaan di hati yang selalu menganggu setiap hari. Namun takdir tak menginginkannya, takdir memilih orang lain bukan dia yang selalu kita sebut namanya di dalam do'a. Namun, percayalah apa pun yang sudah ditakdirkan untuk kita itu adalah yang terbaik untuk hidup kita.


__ADS_2