KEKASIH HALAL ( Sudah Terbit )

KEKASIH HALAL ( Sudah Terbit )
Bagian 9


__ADS_3

#KekasihHalal


#bagian9


Sore itu, hujan turun begitu derasnya. Azizah masih juga belum pulang ia terjebak hujan ditengah jalan dan untuk meneduh pun tidak ada. Ia terus berjalan sambil hujan-hujanan dengan terus memikirkan perjodohannya.


"Yaa Allah, sungguh aku tidak ingin membuat sahabatku terluka. Aku tidak ingin mengambil Ghibran dari Aisyah, tapi mengapa Kau menjadikan semua itu terjadi? Kenapa yaa Allah.." teriak Azizah.


Azizah menangis ditengah hujan, dan tiba-tiba ada tangan yang tengah memberikannya sebuah teduhan. Ya, sepasang tangan yang sembari memegang sebuah payung kini ada disampingnya. Azizah menoleh dan ternyata tangan itu adalah milik Fahmi. Ya, Fahmi orang yang telah ia kagumi selama ini.


"Azizah, kamu sedang apa di sini?" tanya Fahmi dengan sedikit berteriak.


"Sekarang hujan sangat deras, nanti kamu sakit," sambungnya, memberi tahu.


Azizah hanya terdiam dan hanya menatap Fahmi yang tengah berada tepat di hadapannya. Sementara di tempat lain, Aisyah pun tengah kehujanan dijalan. Ia terus melangkahkan kakinya tanpa memperdulikan derasnya hujan dan kini ia menangis ditengah hujan.


"Yaa Allah, kenapa ini semua harus aku alami kenapa yaa Allah? Aku tak bisa pungkiri kalau sebenarnya hati ini hancur, hati ini sakit. Aku memang sangat mencintai Ghibran tapi apalah dayaku karena Engkau pun tak meridhoi aku untuk bersama orang yang aku cintai, dan kenapa harus dengan sahabatku sendiri yaa Allah."


Aisyah terjatuh dan menangis tersedu-sedu, ia menangis sejadi-jadinya. Kini ia harus merelakan orang yang amat ia cintai, ia harus membuang perasaannya terhadap Ghibran. Dan ternyata kini Ghibran sudah berdiri di hadapannya. Aisyah menoleh ke atas dan betapa terkejutnya ia saat melihat di hadapannya sudah ada Ghibran.


"Ghibran." Aisyah mencoba menghapus air matanya sembari mencoba untuk berdiri.


"Aisyah, saya tahu kalau kamu juga mencintai saya. Iya 'kn?"


Aisyah hanya bisa terdiam dan tertunduk tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Apa yang harus ia lakukan saat ini, memberitahukan perihal perasaannya terhadap Ghibran pun itu tidak akan merubah keadaan, pikirnya.


"Jawab Aisyah!" teriak Ghibran


Azizah menjawab dengan sedikit terbata-bata.


"A.. aa.. ku."


"Katakan Aisyah!" pekik Ghibran.


"Iya, aku mencintai kamu Ghibran. Sangat mencintai kamu!" teriak Aisyah dan langsung terjatuh kembali sambil menangis.


"Saya juga mencintai kamu, Aisyah," ucap Ghibran pelan.


"Tapi, semuanya akan percuma saja Ghibran. Karena kita tidak ditakdirkan untuk bersama."


"Iya, dan ini semua salah saya. Seandainya saja saya mengatakan perasaan saya terhadap kamu lebih awal, dan seandainya saja saya bisa menolak perjodohan itu. Semua ini tidak akan terjadi," sesal Ghibran, terus menyalahkan dirinya.


"Tidak ada yang salah dalam perjodohan itu. kamu, baik Azizah, tidak salah. Ini semua sudah takdir dari Allah, tidak ada yang harus disalahkan."


"Apa kamu bisa merelakan aku untuk sahabat kamu sendiri, Aisyah?"

__ADS_1


"Insyaallah, mungkin awalnya ini sulit tapi aku yakin aku pasti bisa."


Aisyah bangkit lalu berdiri, dan kini ia tengah berhadapan dengan Ghibran.


"Apa kamu yakin Aisyah, apa kamu tidak ingin memperjuangkan cinta kita?" tanya Ghibran pada Aisyah


"Aku yakin Ghibran, bahkan aku sangat yakin. Tidak ada yang harus diperjuangkan. Sekarang, kamu sudah menjadi milik Azizah kamu harus bisa melupakan aku, dan aku tidak mungkin mengambil sesuatu yang bukan milikku. Azizah adalah wanita yang sangat baik. Allah sudah menakdirkannya untukmu. Kamu harus bisa melupakan perasaanmu terhadapku, lupakan aku Ghibran. Lupakan aku!!" Aisyah berbalik membelakangi Ghibran sembari melangkah.


"Apa semudah itu, kamu mengatakan itu sama saya, apa semudah itu kamu merelakan cinta kamu untuk Azizah? bahkan setelah kamu tahu bagaimana perasaan saya terhadapmu Aisyah!" ucap Ghibran dengan sedikit teriak karena suaranya tidak begitu jelas terdengar, oleh derasnya air hujan.


Aisyah membalikkan tubuhnya lagi dan melihat kearah Ghibran yang sedari tadi terus melihat dirinya.


"Kita memang saling mencintai Ghibran, tapi kita tidak ditakdirkan untuk bersama. Lupakan aku lupakan semuanya, lupakan aku Ghibran!" teriak Aisyah, dan langsung berlari meninggalkan Ghibran dengan membawa lukanya. Terisak dalam tangisnya ditengah hujan yang begitu deras.


Sulit memang rasanya, ketika ia harus merelakan orang yang dicintai untuk sahabatnya sendiri dan itu setelah ia tahu tentang perasaan Ghibran terhadapnya. Kini Aisyah hanya bisa pasrah dan menerima semuanya.


Di tempat lain, kini Azizah dan Fahmi tengah meneduh disebuah caffe yang berada tidak jauh di tempat tadi. Azizah mulai merasa kedinginan dan merekatkan kedua tangannya menahan rasa dingin. Fahmi yang melihatnya merasa kasian, dan ia pun melepaskan jaket yang tengah dikenakan lalu memberikannya pada Azizah.


"Pakailah Zah." Sambil menyodorkan jaketnya, Azizah hanya menoleh dan tidak langsung mengambilnya.


"Ayo pakai Zah, aku tahu kamu kedinginan 'kan? Apalagi kamu habis hujan-hujanan tadi. pakailah Zah," pinta Fahmi.


Fahmi melempar senyuman pada Azizah dan Azizah pun membalasnya lalu segera mengambil jaket yang ada ditangan Fahmi lalu langsung mengenakannya pada tubuhnya yang sudah basah kuyup akibat kehujanan tadi.


"Terimakasih," ucap Azizah.


"Kok minumannya dilihatin aja Zah, ayok diminum. Mumpung masih hangat."


"Mmm, iya."


Azizah pun meneguk minuman di hadapannya sedikit demi sedikit begitu pun dengan Fahmi.


"Oiya, kamu kenapa Zah? Sepertinya kamu sedang ada masalah yah?" tanya Fahmi.


Azizah menyimpan minuman keatas meja dan tidak langsung menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh fahmi.


Aku tidak mungkin menceritakannya terhadap Fahmi, dia tidak boleh tau tentang itu semua.


Gumam Azizah dalam hatinya.


"Zah," panggil Fahmi.


Panggilan Fahmi membuyarkan lamunan Azizah dan ia sedikit terkejut.


"Ha.. iyaaa Mi."

__ADS_1


"Kamu kenapa? ditanya malah melamun. Kamu sedang ada masalah Zah?"


"Tidak ada, aku sedang tidak ada masalah apa-apa kok. Mungkin aku hanya sedikit stres karena tugas kuliah banyak sekali." Azizah mecoba meyakinkan kebingungan Fahmi.


"Kamu yakin Zah?"


"Iya, aku tidak ada masalah apa pun kok. sungguh." Azizah melemparkan senyumnya. Mencoba meyakinkan Fahmi kembali, Fahmi sedikit menari nafasnya sejenak.


"Hmmm.. yasudah, kalau sekarang kamu tidak mau cerita sama aku tidak apa. Tapi, kalau nanti kamu berubah pikiran aku siap kok, Zah untuk mendengarkan semua keluh kesah kamu." Fahmi tersenyum pada Azizah, Azizah pun membalas senyuman Fahmi.


Keheningan menghampiri diantara mereka berdua beberapa menit, tak ada lagi seucap kata yang terdengar diantara mereka.


"Diluar, hujan masih sangat deras, yah," ujar Fahmi memecah keheningan diantara mereka berdua.


"Sepertinya hujannya sampai malam, aku antarkan kamu pulang saja bagaimana, Zah?"


"Tidak usah Mi, aku bisa pulang sendiri kok."


"Tapi, diluar masih hujan deras Zah nanti kamu sakit. Atau kamu mau menginap saja di sini," ucap Fahmi sedikit menggoda hingga terlihat raut terkejut diwajah Azizah sembari tertawa kecil.


"Haa.. menginap? kamu ada ada saja, memangnya ini hotel."


"Ya tadi, bukannya kamu sendiri yang bilang kalau kamu bisa pulang sendiri sedangkan diluar masih hujan. Lantas, bagaimana kamu akan pulang Azizah? Mau tunggu sampai hujan reda begitu? hujan ini itu awet. pasti sampai malam."


"Iya sih, tapi aku tidak ingin merepotkan kamu."


"Aku sama sekali tidak merasa direpotkan Zah. justru aku sangat senang bisa mengantarkan kamu pulang." Fahmi tersenyum,


Azizah sedikit terkejut mendengar penuturan dari Fahmi. Ya walaupun ia merasa bahagia karena bisa diantarkan pulang oleh Fahmi.


"Jadi bagaimana?" Menatap Azizah, menunggu jawaban dari Azizah.


Azizah mengangguk pelan tanda ia setuju dan terlihat senyum bahagia diwajah Fahmi. Begitu pun dengan Azizah, mengulas senyum di bibirnya. Sejenak, dengan bersama Fahmi bisa sedikit melupakan masalah-masalah yang kini tengah ia Alami yang selalu mengganggu pikirannya selama ini.


• • • •


Aisyah pulang kerumahnya dengan basah kuyup, ia mengetuk pintu di rumahnya dan mengucapkan salam dengan suaranya yang sudah parau karena dari tadi hanya menangis.


"Assala..muuala...ikum." Aisyah sedikit kedinginan dan menggigil.


"Waalaikumsalam." Terdengar jawaban salam diambang pintu lalu pintu terbuka, Nurul terkejut saat melihat putrinya sudah basah kuyup dan terlihat sangat lemas.


"Aisyah, kamu kenapa nak? Kenapa basah kuyup seperti ini."


Aisyah langsung memeluk uminya sembari menangis, kini ia tengah menangis dipelukan uminya. Ya, hanya uminyalah tempat ternyaman untuk mengadukan segala keluh kesahnya setelah sang maha kuasa. Umi Nurul sedikit heran melihat perilaku putrinya itu.

__ADS_1


"Kamu kenapa nak? Ada apa? Ceritakan pada umi."


Aisyah hanya bisa menangis dipelukan uminya, Nurul pun membawa masuk Aisyah kedalam.


__ADS_2