
Gadis itu berjalan pelan menyusuri koridor kampus. Dengan segala rasa yang berkecamuk dalam hati dan pikirannya, ia berusaha untuk bersikap baik-baik saja. Membohongi setiap orang, perihal perasaannya.
Terlihat dari arah berlawanan seorang pemuda juga tengah berjalan pelan. Perlahan kaki-kakinya yang panjang ia langkahkan. Melewati kotak demi kotak keramik dibawahnya sebagai sebuah pijakan.
Bruk!
Gadis itu dan pemuda tadi bertabrakan. Buku-buku yang tengah di bawa gadis itu, jatuh berserakan. Cepat, gadis itu mengambil buku-bukunya yang sudah berantakan. Juga pemuda itu mengikuti, membantu membereskan buku-buku. Tanpa melihat satu sama lain. Mereka berdiri bersamaan.
"Maaf. Saya tidak seng ...."
Ucapan Ghibran terhenti tatkala melihat gadis di hadapannya. Gadis yang mengenakan gamis di tubuhnya dibaluti dengan hijab panjang menutupi sampai pinggang. Ciri hijab khasnya. Ya, kini Ghibran tengah berhadapan dengan seseorang yang dulu dia Cinta. Dan saat ini pun masih berusaha untuk melupakannya. Menepis semua rasa di hati menghilangkan rasa rindu. Yang selalu mengganggunya setiap hari. Namun semuanya percuma!
Begitu pun Aisyah, ia hanya bisa terdiam mematung. Melihat pemuda di hadapannya adalah Ghibran. Orang yang selama ini di kagumi dan ia cintai. Tak ada satu kata pun yang terlontar dari bibir mereka. Namun mata keduanya cukup mengartikan. Ada rasa sakit di sana, rasa kecewa, rasa perih dan tentang kehancuran hati. Mata mereka seolah sedang berbicara. Mengatakan semua rasa yang ada di dalam hati.
"Maaf, aku tidak sengaja."
Aisyah tersadar akan kejadian tadi. Ia tertunduk lemah namun berusaha tegar. Melangkah pergi menjauh dari Ghibran. Ghibran hanya bisa terdiam mematung tanpa melihat kepergian Aisyah. Aisyah terhenti dari langkahnya lalu perlahan ia menoleh.
Melihat sendu ke arah Ghibran yang masih berada disana. Berdiri mematung seorang diri, tak ada gerakan sedikit pun dari tubuhnya. Dan ia kembali melanjutkan langkahnya. Hingga tak terlihat lagi keberadaan wanita bergamis itu.
"Aisyah," ucap Ghibran lirih. Lalu menoleh membalikkan tubuhnya. Mencari keberadaan gadis itu. Namun, Aisyah sudah tidak terlihat lagi.
"Aisyah,"
Lirih Ghibran, lalu menjatuhkan tubuhnya. Duduk beralaskan lantai. Keadaan sepi membuatnya semakin larut dalam kesedihan. Menumpahkan segala perasaan yang mengganjal dalam hatinya selama ini.
Aisyah berlari menuju kamar mandi. Ia tatap wajah sendunya dibalik cermin. Kini air mata sudah membanjiri wajahnya yang Ayu. Tertunduk lemah tak berdaya. Bulir hangat semakin deras jatuh membasahi pipinya.
"Kuatkan aku, Ya Allah," ucapnya lirih, masih tertunduk dengan isak tangis.
Hati siapa yang tak terluka jika harus kehilangan orang yang amat dicinta. Terlebih, merelakannya untuk bersama sahabat sendiri. Sekuat apa pun hati menahan, mencoba melupakan semua perasaan. Namun tetap saja rasa itu selalu ada. Itulah yang saat ini Aisyah rasakan. Semakin ia mencoba melupakan Ghibran, semakin terluka hatinya, semakin hancur perasaannya. Sungguh, gadis yang Malang.
Ia basuh wajahnya yang penuh dengan air mata. Perlahan mengangkat wajah. Melihat dirinya pada cermin di hadapannya. Berusaha menguatkan diri sendiri, bersikap baik-baik saja. Walau hati tengah terluka. Sungguh, tak ada yang tahu perihal perasaannya saat ini.
"Kamu kuat Aisyah, kamu pasti bisa melupakan dia. Pasti!"
ucapnya mantap berusaha meyakinkan dirinya sendiri. menarik nafas perlahan. Memberikan kekuatan untuk hatinya agar terlihat baik-baik saja dihadapan setiap orang.
Perlahan ia langkahkan kaki, keluar dari pintu kamar mandi. Kini, air mata pun tak terlihat lagi diwajahnya. Aisyah mengulas senyum di bibirnya seraya melangkah pergi.
****
"Aisyah,"
ucap Ghibran lirih. Matanya menatap lurus ke depan, ke arah kursi yang berada paling ujung urutan ketiga. Ya, itulah tempat duduk Aisyah. Ghibran terus menatap kursi kosong itu. Pemiliknya tak ada, hanya ada Azizah di sana. Di samping kursi Aisyah.
__ADS_1
Aisyah datang dengan buku-buku di tangannya. Lalu duduk menyapa sahabatnya, Azizah. Tak ada lagi gurat kesedihan diwajah gadis itu. Hanya senyum manis sesekali ia tampilkan. Ghibran terus menatapnya dari kejauhan.
Kejadian kemarin benar-benar belum hilang dari pikirannya. Tatkala ia bertabrakan dengan Aisyah dan hanya bisa terdiam mematung. Sungguh, sangat membuatnya semakin terluka.
"Andai saja, aku bisa merubah keadaan ini. Tapi aku tak bisa, sungguh! Maafkan aku Aisyah," ucap Ghibran lirih, masih memandang gadisnya itu. Ia tersadar dari lamunannya dan tertunduk lemah, menatap nanar ke bawah.
Terlihat seorang pemuda berumur tiga puluh tahunan memasuki ruangan kelas. Dan menyapa para mahasiswa/i. Lalu memulai kegiatan ajar mengajar.
\* \* \*
"Jodoh itu, unik yah," ucap seorang pria sembari mengulas senyum hangat di bibirnya.
"Unik, maksud kamu?" Azizah menoleh heran, mendengar ucapan Fahmi.
Kini Azizah tengah bersama Fahmi. Mereka berada di sebuah taman, menikmati indahnya sore hari. Azizah tak sengaja bertemu dengan Fahmi di sana. Kala itu, Azizah tengah duduk sendiri disebuah kursi dan entah kebetulan atau mungkin sudah ditakdirkan. Fahmi tengah melintas dan melihat Azizah di sana. Lalu ia langsung menghampiri Azizah yang tengah duduk seorang diri.
"Jodoh itu, rahasia Allah. Hanya Allah yang tahu perihal jodoh seseorang, sama halnya dengan sebuah kematian. Tak ada yang tahu kapan ruh kita akan meninggalkan jasad kita." Fahmi menatap lurus ke depan. Azizah hanya memandang Fahmi sekilas, lalu menatap lurus mengikuti Fahmi.
"Buktinya kamu dan Ghibran bisa berjodoh. Padahal, yang saya tahu kalian berdua itu tidak pernah ada akurnya," sambung Fahmi seraya tersenyum masih menatap ke depan.
"Iya, kamu benar. Bahkan, aku sendiri pun masih belum percaya. Aku dan Ghibran akan menikah dan menjadi sepasang suami istri. Aku tak pernah mengira, bahwa aku akan menikah dengan orang yang sama sekali tidak aku cintai," tutur Azizah panjang lebar menumpahkan isi hatinya.
Fahmi menoleh pada Azizah, terlihat diwajahnya gurat kesedihan. Bulir hangat pun mulai akan menetes dari mata pemuda itu. Namun, dengan sigap ia langsung menyeka menggunakan jari telunjuknya. Sekuat tenaga, berusaha menahan agar tak meneteskan air mata di hadapan gadis yang selama ini ia kagumi.
Azizah masih menatap lurus ke depan. Dengan segala rasa yang berkecamuk dihatinya. Rasa bersalah pada sahabatnya pun selalu ia rasakan dan mengganggu pikiran. Terlebih, sebentar lagi ia akan menikah dengan Ghibran. Dan harus melupakan perasaannya terhadap pria yang kini tengah bersamanya. Azizah terus berusaha menahan segala kesedihan yang dirasa. Ia tak ingin terlihat sedih di hadapan Fahmi.
"Sebenarnya, tadinya setelah wisuda nanti. Saya ingin mengkhitbah seorang wanita yang sejak dulu saya kagumi." Azizah terkejut dan langsung menoleh pada Fahmi yang masih menatap lurus ke depan.
"Tapi, sepertinya. Rencana itu hanya akan menjadi angan-angan saja," sambung Fahmi, seraya tersenyum getir.
"Kenapa?" Azizah memandang heran juga penasaran pada Fahmi
"Sudahlah, tidak usah dibahas. Tidak penting," ucap Fahmi tersenyum getir. "Kalau, kamu Zah?" sambungnya, mengalihkan pembicaraan.
"Ha, kalau aku. Kamu tidak harus menanyakannya lagi, kamu pun sudah tahu. Setelah wisuda, aku akan menikah dan sudah pasti aku akan diam di rumah. Menjadi ibu rumah tangga dan seorang istri," tutur Azizah, seraya tersenyum getir dan sesekali menyeka air matanya yang akan terjatuh menetes.
Fahmi hanya tersenyum getir memandang Azizah. Kini, terakhir melihat wanita yang ia cinta sebagai wanita yang dikagumi. karena setelah ini, ia akan melihat Azizah sebagai seorang istri dari pria lain. Ada nyeri diulu hatinya. Kini ia harus merelakan wanita yang ia cintai dalam diam untuk pria lain. Namun, berusaha tegar dan menerima kenyataan pahit yang harus ia alami.
"Jadilah istri yang solehah juga baik. Pada suamimu kelak." Fahmi bangkit dari duduknya, Azizah hanya menoleh.
"Sekali lagi, selamat untuk pernikahanmu dan Ghibran. Aku pergi dulu," sambung Fahmi tersenyum seraya melangkah pergi.
Azizah hanya terdiam memandangi kepergian Fahmi. Belum jauh Fahmi melangkah, Azizah memanggil Fahmi kembali.
"Fahmi," panggil Azizah sedikit berteriak, berdiri melihat kepergian Fahmi. Fahmi menghentikan langkahnya lalu menoleh.
__ADS_1
"Terima kasih," sambung Azizah melempar senyum. Dan Fahmi hanya mengangguk pelan seraya mengulas senyum di bibirnya. Lalu melangkah pergi.
Fahmi pergi membawa rasa perih yang ia rasakan dihatinya. Meninggalkan Azizah seorang diri di sana. Azizah kembali duduk di kursi. Perlahan, Azizah meresapi perkataan Fahmi tadi yang mengatakan bahwa ia ingin mengkhitbah seorang wanita. Namun, pemuda itu urungkan niatnya. Tanpa memberitahukan alasanya apa. Apakah wanita itu adalah dirinya? Atau itu hanya perasaannya saja. Air mata luruh seketika membasahi pipi gadis itu. Kini, ia benar-benar terpuruk mengingat perkataan Fahmi tadi.
"Ya, Allah ...." ucapnya lirih seraya mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangan.
\* \* \*
Gadis itu, duduk termenung di sebuah kursi di halaman rumah. Tangannya memegang lemas secarik kertas putih. Sesekali, matanya melirik ke arah kertas ditangan. Tatapan kosong, menatap lurus ke depan. Pikirannya bercampur aduk, entah ia harus merasa bahagia atau malah bersedih? Disatu sisi ia memikirkan momen wisudanya, yang sebentar lagi hanya tinggal menghitung hari. Dan disisi lain, pikirannya hancur, memikirkan hari pernikahan sahabatnya pun sebentar lagi akan berlangsung.
Perlahan, bulir hangat jatuh membasahi pipinya yang putih mulus nyaris tak ada noda. Tatapannya masih lurus ke depan, dengan segala rasa yang berkecamuk dihati.
Ia pandangi kertas digenggamannya.
Apakah, keputusanku ini adalah keputusan yang tepat? Ya, Allah kuatkan hatiku menerima semua ini.
batinnya bicara. Menundukkan kepala, air mata luruh seketika diwajahnya.
Seorang wanita paruh baya datang, duduk di sampingnya. Mengelus pelan punggung Aisyah yang kini tengah bersedih. Aisyah langsung memeluk uminya, meluapkan segala kesedihan dipelukan sang umi. Kini, uminya pun sudah tahu penyebab anaknya bersedih, Aisyah tak bisa membohongi Uminya.
Akhirnya, ia memutuskan untuk menceritakan semua permasalahan yang selama ini mengganggu hati dan pikirannya. Karena, hanya Umilah tempat untuknya bisa berkeluh kesah. Setelah berkeluh kesah di hadapan Sang pencipta.
"Sabar nak, kamu harus kuat. Umi tahu, ini sulit untukmu sayang. Tapi, percayalah Allah sudah memberikan takdir yang terbaik untukmu," ucap Umi Aisyah, masih memeluk erat anaknya. Aisyah hanya menangis menggugu dalam pelukan sang Umi.
"Iya, Mi," lirih Aisyah, melepaskan pelukan lalu menatap sang umi di hadapannya.
"Umi tahu, kamu adalah wanita yang kuat nak." Umi Aisyah mendaratkan sebuah kecupan hangat didahi Aisyah.
Aisyah hanya memejamkan kedua matanya. Merasakan kecupan hangat dari sang umi, merasakan kasih sayang uminya yang teramat ia sayangi. Kini, hanya Umilah sumber kekuatannya untuk dapat terus melanjutkan hidupnya yang sudah hancur, setelah ia harus merelakan orang yang ia cintai walau dalam diam.
Ghibran termenung, berdiri di balkon teras kamarnya, menikmati udara segar dipagi hari. Sinar mentari mulai masuk menyusuri isi kamarnya. Wajahnya ia tundukkan seraya menarik nafas pelan.
"Maafkan aku Aisyah, kini kita benar-benar tidak bisa bersatu," lirih Ghibran, menatap pepohonan di hadapannya.
"Sebentar lagi, hari pernikahanku dan Azizah akan dilaksanakan. Tapi, kenapa sedikit pun aku tidak merasa bahagia atas pernikahanku ini. Ya, Allah bisakah aku mencintai Azizah? Sedangkan, di hati ini nama Aisyah masih tersimpan begitu rapi."
Ghibran usap kasar wajahnya. Perlahan, ia tarik napasnya. Meluapkan semua rasa yang sedikit membuat hatinya sesak. Ia tatap kembali pepohonan di hadapannya dengan tatapan kosong.
Di tempat lain, Azizah dan Fahmi pun tengah merasakan kesedihan yang teramat dalam. Fahmi yang harus merelakan gadis pujaannya dipersunting oleh pria lain, tak lain teman dekatnya sendiri. Niatnya pun untuk menghitbah Azizah kini hanya menjadi sebuah angan-angan dan mimpi belaka. Rasa sakit, hancur, juga terluka semakin berkecamuk dihatinya. Bagaimana tidak, kini ia harus benar-benar merelakan pujaan hatinya bersama orang lain.
Pertemuan tempo hari pun adalah pertemuan untuk terakhir kalinya bersama Azizah. Karena, ia takan sanggup untuk melihat Azizah berdiri di pelaminan bersama pria lain. Terlebih, jika dirinya harus melihat saat ijab qabul nanti. Maka Fahmi memutuskan untuk pergi dari kota yang sudah membesarkannya setelah wisuda nanti. Pergi meninggalkan cinta juga masa lalunya.
Sementara Azizah, ia terus menangis sejak semalam. Entah harus bahagia atas pernikahannya yang tinggal menghitung hari atau bersedih. Tak pernah terpikirkan olehnya, akan menikah dengan orang yang sama sekali tidak ia cintai. Bahkan, harus mengubur dalam-dalam perasaannya terhadap Fahmi yang selama ini dipendam.
Juga rasa bersalah pada sahabatnya sendiri, Aisyah. Yang terus membuatnya bersedih dan tak pernah lupa akan hal itu. Kini hanya keikhlasan yang harus ia tanamkan dalam hatinya, menerima semua ketetapan dari Sang pemberi segalanya.
__ADS_1
Bukankah, cinta itu tak harus memiliki? Kita bisa memilih untuk mencintai siapa pun. Tapi, kita tidak bisa memilih siapa jodoh kita, karena jodoh sudah ada yang mengatur. Sekuat apa pun mencoba menolak, jika sudah ditakdirkan untuk berjodoh maka, kita tak bisa berbuat apa-apa lagi. Selain ikhlas dan menerima semuanya.