
Ghibran masuk ke dalam rumahnya dengan membawa beberapa plastik berisikan makanan untuk Azizah. Pemuda itu terkejut, karena mendapati kedua orang tuanya ternyata sudah kembali dari luar kota.
"Lho, nak kok kamu sudah pulang?" tanya sang umi menghampiri anak semata wayangnya.
"Sebenarnya, hari ini Ghibran tidak bekerja my," jawab Ghibran pelan. "Azizah sakit, my, by." Ghibran nampak sedih.
"Ya Allah, menantu umy sakit?" Aminah sangat terkejut mendengar kabar dari Ghibran. Pemuda itu hanya mengangguk. Pak Haryo yang sedari tadi hanya duduk di sofa, ikut menghampiri Ghibran.
"Azizah sakit apa nak?" tanya Haryo pada Ghibran seraya menepuk pelan bahu sang anak.
"Dia demam by, tadi badannya panas sekali." Ghibran tertunduk sedih.
"Apa kamu sudah memberikan Azizah obat, nak? Atau sudah dibawa ke rumah sakit?" tanya sang umy menggebu-gebu penuh kekhawatiran.
"Belum my, ini saya baru mau ngasih dia makan sama obat." Ghibran menunjukkan plastik yang dibawa olehnya.
"Tadi pagi, Ghibran sudah mengajak Azizah untuk pergi ke Dokter. Tapi, dia tidak mau. Wanita itu egois sekali, padahal kesehatannya sedang tidak baik," sambung Ghibran sedikit mulai kembali kesal, mengingat sikap Azizah tadi pagi.
"Yasudah, lebih baik sekarang kamu cepat beri Azizah makan dan obat. Nanti umy dan aby akan menyusul," perintah Aminah, Ghibran hanya mengangguk dan melangkah pergi.
"Ya Allah, semoga menantuku baik-baik saja," lirih Aminah.
"Aamiin, mungkin menantu kita kecapean my."
"Iya, aby benar. Karena, sudah beberapa hari ini Azizah hanya sendiri mengurus rumah ini." Aminah menoleh pada Haryo sang suami. Haryo hanya tersenyum teduh.
Ghibran membuka knop pintu dan ternyata Azizah masih tertidur. Pemuda itu menghampiri Azizah, tanpa menutup pintunya kembali. Ghibran duduk di sofa panjang tempat biasa Azizah tidur dimalam hari. Betapa jahatnya dirinya, membiarkan Azizah setiap malam menghabiskan malamnya di atas sofa itu. Sedangkan, dirinya tidur di atas ranjang yang dilapisi dengan kasur empuk. Ghibran terus merutuki dirinya.
"Tak tega rasanya, jika harus membangunkan wanita aneh itu," ucap pelan Ghibran memandang Azizah dari kejauhan.
"Pasti, kamu sangat kelelahan, sampai kamu harus jatuh sakit seperti ini." Lanjutnya terus memandang wanita berparas cantik itu yang tengah tertidur.
Perlahan, Azizah membuka kedua matanya dan langsung menoleh pada Ghibran yang tengah duduk disofa. Ghibran langsung menghampiri Azizah dan duduk di tepi ranjang, tepatnya disamping Azizah.
"Akhirnya, kamu bangun juga. Ayok, makan dulu habis itu minum obat," perintah Ghibran seraya membuka plastik berisi makanan.
"Kenapa, kamu tidak membangunkanku?" tanya Azizah.
"Tadi, kayaknya kamu nyenyak sekali tidurnya. Jadi, saya gak tega buat banguninnya," tutur Ghibran seraya tersenyum kikuk.
"Ayok, biar saya bantu." Ghibran membantu Azizah untuk bangun dari berbaringnya dan menjadi posisi duduk bersandar pada kepala ranjang.
"Sekarang, kamu harus makan." Ghibran menyodorkan sesendok bubur pada Azizah, Azizah melahapnya dengan pelan.
Pemuda berwajah tampan itu terus menyuapi Azizah dengan telaten. Azizah hanya tersenyum sembari terus memandang Ghibran yang tengah menyuapi dirinya.
Aku gak nyangka, cowok aneh ini ternyata tidak seburuk yang ku pikirkan. Dia ternyata, begitu perduli padaku. Sampe mau merawat aku seperti ini, ya Allah salahkah jika aku mulai merasakan sesuatu yamg berbeda padanya? Aku tahu, saat ini dia adalah suamiku. Tapi, dihatinya masih ada wanita lain, aku tahu itu. Bisakah, suatu saat nanti kami saling menyayangi? Astagfirullah, apa yang kamu pikirkan Azizah? ---wanita itu terus bersenandika dalam hatinya seraya terus memandangi Ghibran.
Ghibran yang mulai menyadari bahwa Azizah tengah melamun sedikit bingung dan langsung memanggil wanita itu.
"Azizah, hey. Kamu kenapa?" Tanya Ghibran sedikit bingung.
"Ha, tidak, aku tidak apa-apa kok." Azizah menjawab sedikit terbata-bata dan tersenyum kikuk.
"Yasudah, sekarang kamu minum obatnya dulu yah." Ghibran memberikan satu pil obat pada Azizah, Azizah meraihnya dan mengambil satu gelas air yang Ghibran berikan lalu langsung meminum obat tersebut.
"Sekarang, kamu istirahat, biar cepat sembuh," perintah Ghibran seraya tersenyum.
"Ghibran," panggil Azizah.
"Iya, ada apa Azizah? Apa kamu perlu sesuatu?" Tanya Ghibran. Azizah hanya menggeleng.
"Terima kasih, karena kamu sudah mau merawat aku seperti ini." Azizah melempar senyum, pemuda itu hanya mengangguk dan juga tersenyum.
Tanpa mereka tahu, ternyata Aminah dan haryo tengah memperhatikan mereka diambang pintu. Mereka terus tersenyum saling pandang berdiri didekat pintu kamar Ghibran. Aminah dan Haryo menghampiri Ghibran dan Azizah yamg tengah asyik saling pandang.
"Nduk," ucap sang umi, Ghibran bangkit dan membiarkan uminya untuk duduk dekat Azizah.
"Maafkan umi yah nak, pasti kamu kecapean yah." Aminah menggenggam erat tangan Azizah. "Maafkan umi, karena beberapa hari ini kesehatan umi kurang baik sampai tidak bisa membantumu nduk," sambung sang umi mertua merasa bersalah.
"Tidak umi, umi jangan menyalahkan diri umi. Ini semua salah Zizah, karena tidak bisa menjaga kesehatan diri sendiri." Azizah menggeleng cepat.
"Kamu ke Dokter saja yah, nduk." Pinta Aminah.
"Tidak usah, umi. Azizah baik-baik saja, lagipula tadikan Zizah udah minum obat. Pasti, besok juga sudah sembuh," tolak ramah Azizah.
"Yasudah, kamu istirahat yah nak," titah sang umi, Azizah hanya mengangguk dan tersenyum.
Sang umi mertua membantu Azizah untuk kembali berbaring dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Syafakillah sayang, menantu umi." Aminah mengecup lembut dahi sang menantu dengan penuh kasih sayang. Azizah hanya memejamkan kedua matanya, merasakan kasih sayang dari ibu mertuanya. Sang suami dan ayang mertuanya hanya tersenyum memandangi mereka. Lalu melangkah pergi meninggalkan Azizah yang sudah mulai tertidur kembali.
\*
"Ya, Allah yang maha Rahman dan Rahiim. Ampunilah segala dosa-dosaku, kedua orang tuaku. Berikanlah kesembuhan untuk Azizah, angkatlah penyakit dari tubuhnya. Berikanlah dia kesehatan lagi, Aamiin."
Pemuda itu mengusap kasar wajahnya seraya memejamkan mata. Yah, kini Ghibran telah usai mengerjakan shalat malamnya. Sudah menjadi kebiasaan untuknya. Tidak lupa juga, ia berdo'a untuk kesembuhan Azizah. Azizah yang masih terbaring lemah, terbangun dan melihat kegiatan yang tengah dilakukan oleh Ghibran. Terlukis senyum manis diwajahnya, melihat Ghibran yang tengah mendo'akannya.
__ADS_1
"Ya, Allah ternyata lelaki aneh ini, tidak seburuk yang kupikirkan. Apa aku tidak salah dengar, Ghibran berdo'a untukku? Baik sekali dia." Azizah bermonolog sendiri sembari tersenyum melihat kearah Ghibran yang duduk membelakanginya.
"Aamiin," lirih wanita itu, tersenyum. Seketika Ghibran menoleh pada sumber suara itu, lalu langsung menghampiri Azizah yang sudah terduduk diatas ranjang.
"Aku juga mau shalat." Wanita itu tersenyum menatap Ghibran yang masih berdiri.
"Tapi, kamu masih sakit Zah. Apa kamu kyat untuk berdiri?" Tanya Ghibran sedikit mencemaskan kesehatan Azizah yang memang belum benar-benar sembuh.
"Kan bisa sambil duduk, kalau gak sambil berbaring," tutur Azizah. "Bukankah, shalat itu tidak boleh ditinggalkan, walau tengah sakitpun?" Lanjut Azizah menatap lamat pada Ghibran.
"Yasudah, aku bantu buat wudhu yah."
"Gak usah, aku bisa sendiri kok Ran," tolak Azizah lembut.
"Kamu yakin?" Tanya Ghibran memastikan, Azizah hanya mengangguk seraya tersenyum.
Ghibran menghembuskan nafasnya, lalu mengangguk juga menyetujui keputusan Azizah. wanita itu tersenyum, perlahan ia turunkan kakinya keatas lantai dan melangkah kearah kamar mandi dengan pelan. Ghibran hanya memandang kepergian Azizah dengan sedikit rasa khawatir dalam dirinya. Entah kenapa, semenjak Azizah sakit, pemuda itu begitu sangat perhatian pada Azizah.
Selang beberapa menit, Azizah pun keluar dari kamar mandi. Mukena sudah Ghibran siapkan diatas ranjang. Namun, kemana pemuda itu? Dua sudah tidak ada didalam kamar itu. Azizah celingak celinguk seolah tengah mencari sesuatu, mungkin ia sedang mencari keberadaan Ghibran yang tiba-tiba menghilang. Wanita Ayu itu tersenyum tatkala melihat mukena yang sudah ada diatas ranjang.
"Ghibran, apa ini Ghibran yang lakukan?" Azizah tersenyum seraya memegang mukena yang sudah ia pegang. Lalu, matanya beralih melihat fhoto Ghibran yang tertempel ditembok. Seyuman kembali tergambar dibibirnya.
Pemuda itu tengah berdiri dibalkon, tangannya memegang erat pada pagar. Matanya terpejam, merasakan hembusan angin malam yang menerpa tubuhnya. Tak ada rasa dingin yang ia rasakan saat angin itu menjalari tubuhnya.
"Sudah malam, kamu kok gak lanjut tidur?" Tanya wanita itu berjalan menghampiri Ghibran. Ghibran membuka matanya lalu menoleh, melihat pada orang yang baru saja datang. Yah, ini tengah malam. Tetapi, mereka malah masih berada diluar.
"Azizah, kenapa kamu kesini?" Bukan menjawab pertanyaan dari Azizah, Ghibran malah balik bertanya.
"Ditanya malah balik nanya," gerutu Azizah menatap lurus ke depan.
"Tidur gih, kamu 'kan lagi sakit," tirah Ghibran juga melihat ke depan.
"Kamu juga tidur." Azizah balik memerintah.
"Aku masih mau disini."
"Aku juga."
Ghibran langsung menoleh pada Azizah yang masih melihat kearah depan. Tak ada lagi obrolan yang terdengar diantara kedua insan itu, keadaan menjadi hening sesaat. Azizah tertunduk sesaat lalu kembali mengangkat wajahnya.
"Dulu, aku ingin sekali menatap bintang dengan orang yang aku sayang, tapi ...." Azizah tidak melanjutkan ucapannya, ia kembali menunduk.
"Iya, aku tahu, tapi sekarang kamu malah hidup bersama orang yang tidak kamu sayang," ujar Ghibran, Azizah langsung menengadah menatap Ghibran yang kini juga tengah menatap dirinya.
Perasaan apa ini? Kenapa jantungku rasanya gak karuan gini. Tatapan ini, dulu aku sangat tidak ingin menatapnya tapi sekarang, kenapa aku sangat menyukai tatapan ini?--- Azizah bergumam dalam hatinya, terus menatap Ghibran.
Entah, kini jantungnya tiba-tiba berdetak sangat kencang. Seperti gendang yamg bertalu-talu. Entah sejak kapan ia merasakannya, tapi ketika dirinya harus saling pandang seperti saat ini, perasaannya mulai tidak karuan. Apakah, Azizah mulai mencintai pemuda itu?
"Dingin?" Tanya Ghibran melihat Azizah, seperti tengah merasa kedinginan. Azizah menoleh dan menggeleng cepat.
"Maaf," lirih Azizah.
"Untuk apa?"
"Untuk semua yang terjadi, dan untuk Aisyah."
Pemuda itu hanya menghela nafasnya perlahan dengan terus melihat ke depan.
"Kalau, kalau kita tidak menyutujui perjodohan ini, mungkin kamu gak akan kehilangan Aisyah. Aku memang jahat! Sahabat macam apa aku ini? Bisa-bisanya, aku merebut kebahagiaan sahabatku sendiri." Azizah tersenyum getir, mulai menyalahkan dirinya sendiri.
"Sudahlah Azizah, semua sudah terjadi," lirih Ghibran masih menatap lurus kedepan.
"Jangan terus menyalahkan dirimu sendiri, aku tahu kamu juga terluka 'kan?"
Azizah hanya mengernyitkan dahinya, bingung dengan ucapan Ghibran tadi.
"Maksud kamu?"
"Aku tahu, kamu suka sama Fahmi 'kan?"
Azizah hanya terdiam mendengar penuturan dari Ghibran. Darimana pemuda itu tahu, jika dirinya menyukai Fahmi, bahkan sudah lama. Karena, ia tak pernah memberitahukan perihal perasaannya terhadap Fahmi, termasuk Aisyah. Lalu, bagaimana Ghibran bisa tahu perihal itu?
"Darimana kamu tahu itu?" Tanya Azizah mengintogerasi.
"Sikap kamu tidak bisa menutupi itu semua, Azizah. Lalu, kenapa kamu masih saja memikirkan perasaan orang lain, padahal hatimu pun juga tengah terluka?"
Azizah hanya diam tertunduk, tak mampu menatap Ghibran. Ghibran benar, hatinya juga sedang terluka tapi ia tak perduli dengan lukanya, wanita itu hanya terus terpikirkan nasib sahabat terbaiknya. Ia tak perduli jika harus kehilangan cintanya, tapi dirinya tidak bisa kehilangan sahabatnya.
"Kita ini sama terlukanya, sama-sama tidak bisa memiliki cinta kita. Tapi, Allah sudah menakdirkan kita untuk bersama walaupun yah, aku tahu kita belum bisa saling mencintai. Sudahlah, jalani hidup kita sekarang karena Allah sudah memberikanmu untukku dan aku untuk kamu." Ghibran memegang kedua bahu Azizah, menatap wanita itu begitu dalam. Azizah hanya terdiam.
"Ayok, tidur sudah malam," ajak Ghibran seraya melangkah pergi. Azizah masih terdiam disana, masih mencerna ucapan Ghibran barusan. Maksudnya apa? Kenapa pemuda itu berkata seperti itu. Apa Ghibran sudah mulai bisa mencintai dirinya?
Ghibran terhenti dari langkahnya, karena merasa Azizah tidak mengikutinya. Pemuda itu menoleh dan melihat kearah Azizah yang masih terdiam melihat dirinya. Ghibran menganggukkan kepala mengisyaratkan untuk mengajak Azizah, Azizah mengangguk cepat lalu berjalan menghampiri Ghibran.
\*
Satu bulan sudah, Azizah tinggal di rumah mertuanya. Itu tandanya, hari ini adalah hari terakhir Azizah dan Ghibran di rumah itu. Seperti yang sudah disepakati, jika setelah menikah mereka akan tinggal bersama Fatimah, umi Azizah di rumahnya. Namun, sebelum itu mereka berdua akan tinggal di rumah Ghibran selama sebulan.
__ADS_1
Azizah tengah disibukkan dengan kegiataannya pagi ini. Wanita cantik itu tengah sibuk memasukan beberapa pakaian miliknya ke dalam sebuah koper. Lalu, setelah selesai ia juga memasukan pakaian Ghibran kedalam koper yang sama. Sengaja Azizah tidak membawa semua pakaian Ghibran, karena ia tahu ini adalah rumah suaminya dan sewaktu-waktu pasti mereka akan datang ke sini.
Terpancar raut kebahagiaan diwajah Azizah, yang terus mengulum senyumnya. Hal itu dapat Ghibran tangkap saat pemuda itu telah selesai mandi.
"Hari ini, kelihatannya kamu sangat bahagia Zah." Ghibran melangkah seraya mengeringkan rambutnya dengan sebuah handuk. Azizah sedikit terkejut mendengar suara Ghibran, hingga dirinya berhenti dari aktivitasnya.
"Iya, itu sudah pasti. Karena, hari ini aku akan bertemu dengan bidadari tak bersayapku. Setelah sekian lamanya tidak bertemu," ucap Azizah melempar senyum, kembali memasukan pakaian ke dalam koper.
"Kalau misalnya, saya tidak ikut denganmu bagaimana?" tanya Ghibran, seraya menyisir rambut.
"Yah, aku, sih tidak masalah," Azizah menarik ret sleting koper, lalu melangkah menutup pintu lemari yang terus terbuka sejak tadi.
"Tapi, umiku pasti nanyain, belum lagi para tetangga. Mana suaminya? Kalau aku cuma datang seorang diri," lanjut Azizah kembali duduk di tepi ranjang yang berjarak sedikit jauh dari tempat Ghibran berdiri.
"Apa kamu tidak mau tinggal di sini, Zah? Apa kamu tidak nyaman tinggal di sini?"
Pertanyaan dari Ghibran membuat Azizah sedikit tertegun. Bukan dirinya tidak ingin terus tinggal di rumah mertuanya. Tapi, uminya di sana hanya tinggal sendiri. Azizah sangat beruntung, memiliki mertua sebaik Aminah dan Haryo. Apalagi sang ibu mertua, begitu menyayanginya seperti putri sendiri. Siapa yang tidak akan betah tinggal satu atap dengan mertua yang sangat baik.
"Aku nyaman, sangat nyaman tinggal di sini. Tapi, umi di sana hanya sendiri, tidak ada yang menemani. Aku gak tega, kalau harus ngebiarin umi tinggal sendirian."
"Umi kamu bisa tinggal di sini Zah, bareng kita dan juga umiku dan abi." Azizah menoleh pada Ghibran.
"Kamu benar, tapi umi pasti tidak akan mau. Yasudah, kalau kamu tidak mengizinkan kita untuk tinggal di sana, tidak apa-apa. Aku akan terima keputusanmu," ucap Azizah tertunduk dengan nada sedih.
"Kenapa?" tanya Ghibran bingung.
"Karena, kamu adalah suamiku. Walaupun, sejak awal kita sudah sepakat akan tinggal di rumahku. Tapi, kalau kamu tidak mau aku akan manut. Kamu adalah suami aku sekarang, jadi apapun yang akan kulakukan harus dengan izinmu," tutur Azizah menjelaskan.
"Tidak Azizah, kalau saya bersikap seperti itu, berarti saya sudah ingkar janji dong. Saya tadi cuma bercanda."
"Kamu itu yah, nyebelinnya gak abis-abis. Aku kira, kamu udah tobat," ucap Azizah melenggang pergi. Namun, tiba-tiba Ghibran langsung menarik tangan Azizah. Azizah terhenti dari langkahnya.
"Ada apa?" tanya Azizah menoleh.
"Mau kemana?" ucap Ghibran balik bertanya.
"Ke kamar mandi," jawab Azizah cepat.
"Mau ngapain?"
"Mau makan, mau mandilah." Azizah kembali berbalik, Ghibran hanya terdiam sedikit terkekeh, entah apa yang sedang ia tertawakan. "Kirain, ada apa-n. Dasar cowok aneh!" ucap Azizah pelan seraya melangkah menuju kamar mandi.
"Saya dengar yah, gak usah ngomongin orang ganteng."
Azizah berhenti tepat di depan pintu kamar mandi, lalu menoleh sesaat pada Ghibran yang tengah sibuk merapikan diri.
"Dasar cowok aneh!" umpat Azizah kesal lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Azizah menuruni satu persatu anak tangga, sang ibu mertua sudah menunggu dirinya di bawah. Sedangkan Ghibran tengah memasukan barang-barang untuk dibawa kerumah Azizah dibantu oleh supir juga sang abi.
Aminah melempar senyum melihat kedatangan sang menantu. Walau raut sedih masih bisa Azizah tangkap dari wajah ibu mertuanya itu.
"Nduk." Aminah langsung memeluk Azizah tatkala wanita itu sudah berada di hadapannya.
"Iya umi."
"Nduk, baik-baik di sana yah. Jangan lupa sering-sering ke sini," ucap Aminah melepaskan pelukannya.
"Iya umi, insyaallah. Umi juga baik-baik yah di sini, maaf karena Azizah tidak bisa menemani umi di sini."
"Iya sayang, tidak apa-apa, umi mengerti. Walaupun, sebenarnya umi tidak mau kamu pergi dari rumah ini. Karena, jujur dari dulu umi sangat menginginkan seorang putri. Alhamdulillah, sekarang umi sudah memilikinya." Aminah tersenyum sembari mengelus lembut pipi Azizah. Azizah tersenyum, merasa terharu lalu menciumi tangan sang ibu mertua.
"Terima kasih umi, Azizah sayang umi."
"Umi juga sayang kamu nak."
"Terima kasih, karena umi sudah begitu baik selama Azizah ada di sini. Azizah sangat beruntung bisa memiliki ibu mertua sebaik umi." Azizah mengenggam tangan Aminah, Aminah hanya tersenyum.
"Duh, yang mau berpisah, mellow banget. Galau nih, galau." Itu suara Haryo yang baru memasuki rumahnya bersama Ghibran. Azizah dan Aminah langsung menoleh pada sumber suara.
"Apa, sih abi ini. Malah ngeledek," protes Aminah, sedikit malu.
"Semua barang-barang sudah dimasukan ke mobil. Kita tinggal berangkat," ucap Ghibran ikut berbicara.
"Hmm, yasudah cepat berangkat, nanti kalian kemalaman," saran Haryo.
"Iya bi. Yaudah, Ghibran pamit, yah." Ghibran mencium tangan Haryo.
"Hati-hati, bawa mobilnya jangan ngebut-ngebut." Haryo memberi saran seraya menepuk pelan pundak Ghibran. "Jaga baik-baik menantu abi."
"Kamu baik-baik di sana, jaga istri juga ibu mertuamu," titah Aminah tatkala Ghibran hendak mencium tangannya.
"Iya mi."
"Mi, bi Azizah pamit yah." Azizah mencium tangan Haryo dan juga Aminah secara bergantian.
"Iya nduk, hati-hati yah. Salam sama umimu."
"Nggih bi, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
__ADS_1
Azizah dan Ghibran pun masuk ke dalam mobil lalu melaju dengan mobilnya. Sepanjang perjalanan tak ada obrolan apapun yamg menemani mereka. Ghibran yang sibuk menyetir dan Azizah yang malah memilih untuk tidur di jok belakang. Mungkin kelelahan, dan juga jarak rumah Ghibran ke rumah Azizah sedikit jauh.