
Ketika takdir tak menginginkan kita bersama orang yang dicinta, kita bisa apa? Bahkan semestapun tidak mengijinkannya. Menangispun tidak ada arti, karena tidak akan merubah keadaan yang sudah terjadi.
Cinta memang tidak harus memiliki, cinta tak harus selalu bersama, hanya keiklhasan yang mampu menutupi setiap luka yang dirasa. Walau itu masih sangat sulit, namun kita tak bisa menentang takdir yang sudah sang pencipta tetapkan.
"[Assalamualaikum Syah, sore nanti acara lamaran aku. Kamu datang yang Syah. Aku akan sangat bahagia jika kamu berkenan untuk hadir diacara lamaran aku, sore nanti.]"
Begitulah chat yang tertulis di handphone Aisyah. Ya, itu adalah chat dari Azizah yang ia kirimkan tadi pagi. Gadis itu hanya terus memandangi isi chat itu. ia kini dilanda dilema merasa bingung apa yang harus ia lakukan saat ini.
Haruskah ia datang atau tidak keacara lamaran sahabatnya itu? Jika ia tidak hadir, itu adalah hari spesial untuk sahabatnya. Namun jika dirinya hadir, mampukah ia melihat orang yang disayangi melamar sahabatnya sendiri, mampukah ia melawan semua perasaan yang mengganggu hatinya? Kini, hatinya tengah berkecamuk dengan segala rasa di hati. Rasa sakit, perih, bahkan hancur. Ya, kini hatinya hancur, sangat hancur.
"[Iya Zah, insyaallah aku akan hadir. Selamat yah, aku ikut bahagia(dengan emot tersenyum) semoga, acaranya dilancarkan Aamiin.]" Aisyah menekan tombol send pada layar handphonenya dan chatnya langsung tercentang dua terkirim pada nomor Azizah.
Namun, Azizah tidak segera membuka chat dari Aisyah walau disitu tertulis sedang online, mungkin ia tengah sibuk dengan rutinitasnya hari ini. Apalagi sore nanti akan ada acara lamaran dirumahnya.
Aisyah menarik nafasnya dalam dalam sembari memejamkan kedua tangannya.
"Kuatkan aku ya Allah," lirihnya pelan berusaha menenangkan dirinya sendiri walau sebenarnya hatinya tengah berkecamuk dengan luka yang ia rasakan.
Dug..dug..dug...
Terdengar suara bedug ditabuh. Ya, waktu sudah menunjukkan pukul 12:15 waktu shalat dzuhur telah tiba.
Suara azanpun terdengar dikumandangkan. Aisyah mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangan sembari mengucapkan hamdalah, lalu ia menyimpan handphonenya di atas nakas dekat tempat tidurnya dan iapun bangkit berdiri. Perlahan, ia melangkah menuju kamar mandi dan masuk untuk mengambil air wudhu.
\*\*\*
Kini, Azizah tengah disibukkan dengan rutinitasnya. Karena sore nanti akan diadakan acara lamaran. Azizah dan umi beserta kerabat dekatnya tengah sibuk mengerjakan bagiannya masing masing.
Azizah tengah membantu bibinya menyiapkan bahan makanan. Bibinya sengaja jauh-jauh datang dari kampung halaman suaminya, yaitu Lombok yang terkenal dengan pantainya yang Indah dan wisata yang banyak datang sejak kemarin sore agar bisa membantu mempersiapkan acara lamaran keponakannya itu.
Azizah terlihat melamun, entah ia sedang melamunkan apa hingga sang bibi merasa heran dan menegurnya pelan.
"Zah, kamu kenapa kok malah melamun?" tanya sang bibi sambil menepuk pundak Azizah, membuat Azizah sedikit terkejut dan sedikit kelabakan menjawab pertanyaan bibinya tersebut.
"Haaa.. kenapa bi, ada apa?"
"Kamu itu kenapa, kenapa malah melamun seperti tadi. Apa kamu sedang memikirkan sesuatu?"
"Tidak bi, aku tidak apa-apa, sungguh." Sambil melempar senyum berusaha meyakinkan bibinya.
"Bibi tahu, kamu pasti sedang merasa deg degan 'kan, karena sebentar lagi hari yang spesial dalam hidupmu akan segera datang," ucap sang bibi dengan penuh rasa bahagia.
"Bibi juga dulu sama sepertimu nak. Itu hal yang sangat wajar bagi setiap perempuan yang akan segera menikah. Jangan terlalu dipikirkan yah, sayang," sambung sang bibi menjelaskan.
"Iya bi, sudah dzuhur. Apa kita tidak mau shalat terlebih dahulu?"
"Kamu duluan saja nak, nanti bibi aka menyusul."
"Baiklah bi, Azizah pamit mau shalat dulu yah."
Sang bibi hanya mengangguk pelan dan Azizahpun berlalu meninggalkan bibi beserta orang orang yang ada di sana. Sedangkan, sang umi sudah lebih awal berpamitan untuk shalat.
Jam sudah menunjukkan pukul 16:25, acara lamaran Azizah dan Ghibran akan segera dimulai. Azizah tengah merias diri di kamarnya dibantu oleh sepupunya yang tak lain adalah putri dari bibinya, yaitu bibi Zulaika.
Sang bibi memang membawa serta putri satu-satunya yang sangat cantik seperti dirinya. Ia hanya beda beberapa tahun lebih muda dari Azizah. Dan Ya, kini ia tengah kuliah mengambil jurusan kecantikan dan sudah pasti sudah mulai pandai memoles wajahnya.
Berbeda dengan Azizah yang lebih menyukai tentang keagamaan, maka penampilan Rahma sangat terlihat modis. Namanya NurArrahma zainatunnisa, nama yang Indah bukan? Sama seperti orangnya yang sangat terlihat cantik hari ini, memakai gamis cantik dibalut dengan hijab pashmina yang ia kenakan dengan gaya ala selebgram, menambah kecantikannya.
"Wah, kakakku hari ini terlihat cantik sekali," ucap Rahma sembari memeluk Azizah yang kini tengah duduk di kursi riasnya. Azizah hanya melempar senyum.
"Kamu ini bisa saja Rah."
"Aku serius kak, hari ini kakak sangat terlihat cantik, sungguh," ucap Rahma menjelaskan dan melempar senyum manisnya.
"Aku gak nyangka deh, kak. Sebentar lagi, kakak akan menjadi seorang istri. Aku bahagia banget, tapi aku juga sedih karena nanti kita gak bisa maen bareng lagi setelah kakak menikah nanti," sambung Rahma berkata panjang lebar.
"Kamu jangan bicara seperti dong Rah, kita masih bisa, kok untuk main bersama."
"Bagaiman bisa kakakku yang cantik?"
"Iya, karena setelah aku menikah aku akan tetap tinggal di sini bersama suami dan umi."
"Sunggh kak?" tanya Rahma penasaran dan Azizah hanya mengangguk pelan, lalu Rahma langsung memeluk Azizah dengan penuh rasa bahagia.
Azizah mengambil handhpone yang ada dimeja riasnya, ia mengecek pesan dari Aisyah yang baru sempat dibuka.
"[Alhamdulilah, aku tunggu yah Syah.]"
Azizah membalas chat dari Aisyah. Beberapa menit menunggu balasan dari Aisyah, namun tak ada balasan dari Aisyah. Azizah kembali mengirimkan chat kepada Aisyah bahkan sampai berulang kali. Namun tetap tidak ada balasan dari Aisyah. Rahma yang sejak tadi memperhatikan kelakuan saudara sepupunya itu, terlihat sedang gelisah merasa heran.
"Kak, kakak kenapa? Aku perhatikan dari tadi, sepertinya kakak terlihat sangat gelisah. Ada apa kak?" tanya Rahma penasaran.
"Aku perhatikan, dari tadi mengecek hp kakak terus. Kakak sedang menunggu kabar dari siapa, calon suami kakak kah?" sambung Rahma masih penasaran.
"Tidak, bukan itu Rah. Aku hanya sedang menunggu kabar dari sahabatku saja. Karena, sejak tadi aku chat dia tapi tak ada satupun chat aku yang ia balas," ucap Azizah menjelaskan pada Rahma.
__ADS_1
wanita itu bukan sedang menghawatirkan calon suaminya, Ghibran. Namun, ia tengah menghawatirkan sahabatnya, yaitu Aisyah. Azizah hanya takut, takut sahabatnya itu kenapa-napa. Karena, ia tahu saat ini adalah hal terburuk untuknya hal terberat baginya. Takut kalau, kalau sahabatnya itu akan melakukan hal yang tidak diinginkan.
Namun, gadis itu langsung menepis kecemasannya itu. Karena, selemah apapun Aisyah dia tidak akan mungkin melakukan hal yang konyol dalam hidupnya. Azizah sangat tahu itu, karena iapun sudah sangat mengenali sahabatnya seperti apa.
"Oh, aku tahu. Maksud kakak, Kak Aisyah 'kan?" ucap Rahma mencoba menerka orang yang Azizah maksud. Azizah hanya mengangguk pelan tanda setuju.
Rahma memang sudah mengenal Aisyah sejak dulu, karena ia pernah bertemu dengan Aisyah disaat berkunjung ke rumah Azizah dulu. Dan merekapun langsung dekat, juga sering menghabiskan waktu luang bersama. Bahkan, Rahma sudah menganggap Aisyah sebagai kakaknya sendiri, seperti halnya ia menganggap Azizah.
"Sabar kak, tenang. Kak Aisyah pasti sebentar lagi akan datang," ucap Rahma sambil melempar senyumnya dan Azizah hanya tersenyum getir.
Rahma tidak tahu apa yang sedang ia khawatirkan, karena memang Azizahpun tidak pernah menceritakan apa yang sedang ia alami saat ini.
Suara bunyi klakson terdengar diluar, tepatnya di halaman rumah Azizah. Mungkin keluarga Ghibran sudah datang dan acara lamarannyapun akan segera dimulai.
"Kakak dengarlah, sepertinya keluarga calon suamimu sudah datang. Apa kakak akan berdiam diri di sini saja?" tanya Rahma, sedikit menggoda kakak sepupunya itu.
Azizah hanya tersenyum dan iapun masih enggan untuk bangkit dari duduknya. Karena memang, ia tidak akan keluar kamarnya sebelum sang umi memanggilnya untuk keluar. Azizah masih dipenuhi rasa gelisah, masih menunggu balasan dari Aisyah dan sesekali ia mengecek handphone yang tengah dipegang sejak tadi.
Krek ....
suara pintu dibuka dan masuklah dua orang wanita paruh baya menghampiri Azizah dan Rahma. Umi dan bibinya terkagum-kagum melihat Azizah yang sangat terlihat cantik mengenakan gamis berwarna gold. Dipadu padankan dengan mute-mute dipinggiran tangannya. Hijab syar'i yang ia kenakan menambah kecantikannya hari ini.
Betapa tidak, karena hari ini ia sangat terlihat berbeda dari biasanya. Wajah Azizah sedikit dipolesi riasan oleh adik sepupu Nya itu. Bibir yang biasanya tak pernah diberi warna, kini Azizah terlihat sangat anggun dengan lipstik berwarna kalem yang Rahma pakaikan. Rahma merubah kakak sepupunya itu bak seorang putri yang sangat cantik.
"Subhanallah nak, putri umi cantik sekali," ucap sang umi terkagum-kagum melihat putri satu-satunya terlihat sangat cantik. Azizah hanya tersenyum, tersipu malu mendengar penuturan sang umi.
"Siap dulu dong yang dandanin," celetuk Rahma sambil menyengirkan giginya. Merasa puas dengan hasil yang telah dibuat olehnya. Membuat umi dan mamanya tertawa geli, begitupun dengan Azizah.
Candaan Rahma sedikit membuat hatinya terasa tenang atas kegelisahan yang dirasakan sejak tadi.
"Kamu ini nak," ucap Zulaika sembari mencubit pipi putrinya, Rahma.
"Iya, bu'le akui kamu sangat berbakat sayang. Hasilnya sangat luar biasa. Bu'le suka dengan hasilnya. Terima kasih yah, nak kamu sudah buat putri bul'e secantik ini."
"Sama-sama bu'le, aku juga senang. Karena Kak Azizah adalah orang pertama yang aku rias," ucap Rahma dengan senyum bahagianya.
"Sudah, sudah, calon besan kita sudah datang dan sudah menunggu kita. Ayok, segera turun. sebentar lagi acaranya akan segera dimulai," ajak Zulaika, dan merekapun pergi keluar meninggalkan kamar.
Jantung Azizah tiba-tiba terasa berdegub kencang. Bagaimana tidak, hari ini adalah hari spesial bagi dirinya. Namun dibalik itu semua ada kesedihan dalam hatinya. Kesedihan yang teramat menyiksa batinnya, tatkala ia harus menikahi orang yang sahabatnya kagumi. Rasa bersalahpun selalu menghantui pkiran gadis itu. Ia sungguh merasa bersalah atas apa yang telah terjadi pada hidup sahabatnya, Aisyah.
Azizah berjalan menuruni tangga ditemani Rahma yang memegang tangannya, dan disusul oleh umi dan bibinya dibelakang.
Semua mata tertuju pada mereka, terutama pada Azizah. Namun, tidak dengan Ghibran, ia malah masih menundukkan kepalanya. Mungkin belum siap atau mungkin memang Ghibran tak pernah menginginkan hal ini terjadi pada dirinya.
Kenapa kamu tidak hadir Syah? Aku tahu Syah, ini sangat berat untukmu. Dan kamu pasti tidak sanggup melihatnya. Maafkan aku Syah, aku memang jahat.
Azizah terus menyalahkan dirinya, karena alasan ketidak hadiran Aisyah adalah dirinya. Ia berusaha bersikap tetap tenang agar tak ada yang curiga akan sikapnya saat ini.
Umi Aminah memakaikan cincin pada jari manis Azizah, memang bukan Ghibran langsung yang memakaikannya karena mereka belum mahram. Semua orang terlihat bahagia dan penuh haru menyaksikan adegan tersebut, namun tidak dengan Ghibran ataupun Azizah mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Selang beberapa jam kemudian, acara lamaran telah selesai dan para tamupun sudah berpamitan pulang. Hari pernikahan Azizah dan Ghibran sudah ditentukan, hanya menunggu waktu selama lima bulan mereka akan segera sah menjadi sepasang suami istri.
Memang cukup sedikit cepat, namun bagi para orang tua itu lebih baik. Tapi, dibalik itu semua Azizah maupun Ghibran harus menyelesaikan kuliahnya dulu yang sebentar lagi akan usai.
Gadis itu terbaring lemah tak berdaya dengan selang infus ditangan. Sang umi menemukannya sudah jatuh pingsan di dalam kamar dan kini ia masih belum sadar dari pingsannya. Aisyah jatuh sakit, sakit lamanya kembali menghampiri hingga ia dilarikan kerumah sakit.
Itulah alasan kenapa Aisyah tidak hadir dalam acara lamaran
Azizah dan Ghibran. Bukan karena ia tidak ingin ataupun tidak sanggup harus melihat sahabatnya bersama orang yang ia cintai. Tapi, karena sakit yang tiba-tiba datang.
Padahal sore itu, Aisyah sudah bersiap diri untuk pergi ke rumah Azizah. Namun naas, ia mengalami sakit kepala yang begitu hebat dan membuatnya pingsan.
Wajah gadis itu terlihat sangat pucat dari biasanya. Akhir-akhir ini, Aisyah memang jarang makan dan tidak memperdulikan kesehatannya. Mungkin karena ia terlalu larut dalam kesedihan yang ia rasakan saat ini.
Kenyataan pahit yang harus diterima dalam hidupnya. Tak bisa dipungkiri, bahwa hatinya belum bisa merelakan Ghibran sepenuhnya dan dirinya belum bisa melupakan perasaan cintanya terhadap Ghibran.
\* \* \*
Satu bulan berlalu, setelah acara lamaran yang dilaksanakan sebulan yang lalu, kini Azizah dan Ghibran tengah disibukkan dengan tugas-tugas skripsinya. Karena mereka kini sudah memasuki semester akhir, begitupun dengan Aisyah.
Sore itu, Azizah dengan Aisyah sedang sibuk mengerjakan tugas skripsinya masing-masing disebuah taman yang berada tidak jauh dari rumah Azizah. Nampak mereka terlihat baik-baik saja walau sebenarnya ada yang mengganjal dalam hati dan pikiran mereka masing-masing.
Azizah pun sudah tahu alasan mengapa Aisyah dulu tidak hadir diacara lamarannya. Azizah sangat merasa bersalah akan hal itu. Karena ia tahu, pasti masalah mereka yang membuat Aisyah jadi jatuh sakit, rasa bersalah selalu menghantui pikiran Azizah selama ini.
"Syah, maafin aku yah. karena aku, kamu jadi sakit," ucap Azizah merasa bersalah.
Sementara Aisyah masih sibuk dengan laptopnya. Ucapan Azizah membuat Aisyah berhenti dari aktivitasnya dan menoleh ke arah Azizah yang sudah tertunduk sedih.
"Tidak Zah, aku sakit bukan karena itu," sanggah Aisyah menjelaskan sembari meraih tangan Azizah.
__ADS_1
"Aku sakit karena Allah yang berikan, bukan karena kamu atau masalah apapun. Mungkin, aku juga yang tidak bisa menjaga kesehatan, kamu jangan menyalahkan dirimu terus menerus Zah," sambungnya menjelaskan panjang lebar.
"Tapi Syah ...."
Aisyah langsung memotong ucapan Azizah dan meletakkan telunjuknya pada bibir Azizah seraya menggeleng pelan, lalu memeluknya dengan erat.
"Sudah Zah, kamu jangan terus-terusan menyalahkan dirimu sendiri. Kamu tidak salah, tidak ada yang salah dalam masalah ini Zah." Air mata Azizah mulai berjatuhan perlahan begitupun dengan Aisyah.
"Maafkan aku Syah. Tolong, maafkan kesalahan sahabatmu ini." Aisyah hanya terdiam memejamkan matanya menahan rasa kepedihan dihati.
"kamu tidak perlu minta maaf Zah, kamu tidak salah." Aisyah melepaskan pelukannya sembari menghapus air mata dengan tangannya.
"Aku juga minta maaf yah Zah, karena aku gak hadir diacara lamaran kamu."
"Gak apa-apa Syah, aku mengerti kok," ucap Azizah sambil melempar senyumnya.
"Oh ya Zah, kapan kamu menikah?"
"Empat bulan mendatang Syah, tepatnya setelah kita wisuda nanti." Aisyah hanya manggut-mangguk mendengar penuturan Azizah.
"Gak kerasa yah, sebentar lagi sabatku ini akan menjadi istri orang."
"Iya Syah, aku juga seperti mimpi. Kamu pasti akan datang kan, diacara pernikahan aku nanti?"
Aisyah mengangguk pelan,seraya tersenyum dan mereka berpelukan.
Di tempat lain, Ghibranpun tengah mengerjakan tugas skripsinya seorang diri di kamar. Matanya fokus menatap layar laptop yang ada dihadapannya, seraya jari-jari panjangnya yang tengah mengetik.
Krek ....
Terdengar seperti suara pintu dibuka. seorang wanita paruh baya yang mengenakan gamis syar'i dibaluti hijabnya, menutupi tubuh hingga keujung kaki masuk menghampiri Ghibran. Ghibran yang mengetahui kedatangan uminya itu segera menutup laptopnya buru-Buru, seolah ada yang tengah ia sembunyikan dari uminya.
Aminah duduk persis di samping Ghibran, dan langsung melempar senyum, senyum yang begitu meneduhkan setiap orang yang melihatnya.
"Sudah malam to lee, kenapa kamu belum tidur?"
"Iya mi, sebentar lagi sesesai."
"Memangnya tugasmu banyak sekali nak? Apa tidak bisa besok diselesaikannya."
"Sebentar lagi mi, ini lagi tanggung."
"Jangan tidur terlalu malam nak, kamu harus jaga kesehatanmu. Sebentar lagikan kamu akan menikah," ucap Aminah menasihati.
"Iya mi, sebentar lagi yah," jawab Ghibran sembari tersenyum.
"Yasudah, kamu sudah shalat isya belum lee?"
"Belum mi," ucap Ghibran sedikit cengengesan.
"Hmmm.. yasudah, kamu selesaikan tugasmu dulu setelah itu jangan lupa shalat, lalu langsung tidur yah," ucap Aminah memperingati.
"Iya mi."
"Yasudah, umi ke kamar dulu yah."
Ghibran mengangguk pelan, Aminah bangkit dari duduknya lalu melangkah pergi meninggalkan Ghibran. Setelah kepergian uminya itu Ghibran bergegas menutup pintu lalu menguncinya dan kembali duduk di tempat tidur.
Ghibran kembali membuka laptopnya, dan terlihatlah di sana terpampang jelas fhoto seorang gadis cantik yang memakai kerudung. Ya, itu adalah fhoto Aisyah. Sejak tadi Ghibran terus memandangi fhoto gadis itu, tak sedetikpun ia berpaling dari fhoto itu.
Memang ia masih menyimpan fhoto Aisyah dilaptopnya, setelah fhoto yang dicuci dulu habis terbakar beberapa hari yang lalu. Sengaja Ghibran membakarnya, agar ia bisa melupakan Aisyah. Namun tidak, kenyataannya sampai saat inipun rasa itu masih ada dan tersimpan rapi dihatinya. Namun ia menyadari bahwa sebentar lagi ia akan menikah, dan tidak sepantasnya jika pikirannya masih memikirkan wanita lain.
"Astagfirullahaladzim ...." ucap Ghibran lirih, mengusap kasar wajahnya.
"Apa yang sudah aku lakukan? Sebentar lagi aku akan menikahi Azizah, tidah seharusnya aku memikirkan wanita lain. Maafkan aku ya Allah, maafkan hamba-Mu ini yang belum bisa menghilangkan rasa ini terhadap Aisyah."
Ghibran bangkit, lalu melangkah pergi masuk ke dalam kamar mandi. Laptop dan buku-buku masih berserakan di atas ranjangnya, mungkin Ghibran lupa untuk membereskannya terlebih dulu.
Ghibran keluar dari kamar mandi, lalu mengganti kaos yang ia kenakan. Ghibran memang lebih suka mengenakan kaos polos untuk tidur ketimbang harus memakai piyama. Kini, ia telah siap untuk shalat. Menggelar sajadahnya, lalu berdiri dan segera menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim.
"Allahuakbar ...." Ghibran memulai shalatnya, dan mengangkat kedua tangannya.
Selang beberapa menit, pemuda berwajah tampan itupun selesai menunaikan shalatnya. Mengucap salam, setelah tahiyat terakhir dilakukan.
"Assalamualaikum warahmatullahiwabarakatuh," ucapnya sambil menengok ke sebalah kanan lalu ke sebelah kiri.
Setelah selesai mengerjakan shalat, tak lupa ia memanjatkan do'a.
"Ya Allah yang maha pemurah lagi maha penyayang, kuatkanlah hati hamba agar bisa ikhlas menerima semua takdir yang telah Engkau berikan. Jika memang, Kau tidak memperkenankan hamba bersama Aisyah. Tolong hapuskan rasa ini, buanglah perasaanku ini terhadapnya. Berikan hamba keikhlasan untuk bisa melupakan dia ya Allah, dan jika Azizah adalah jodoh yang terbaik yang Engkau takdirkan untuk hamba. Maka, berikanlah hamba kekuatan agar bisa menerimanya sebagai bagian dari hidup hamba nanti. Aamiin."
Ghibran mengusap wajahnya dengan kedua tangan, lalu menatap kosong ke depan. Entah apa yang tengah ia pikirkan.
Mungkin memikirkan nasibnya saat ini, yang harus menikahi sahabat dari orang yang ia cintai.
Kini, hanya rasa ikhlas yang selalu ia tanamkan dalam dirinya. Berusaha tegar,kuat, dan bersikap baik-baik saja. Walau jauh dilubuk hatinya, ia sangat terluka akan perjodohan itu. Begitupun dengan Aisyah, dia adalah satu-satunya orang yang paling tersakiti dalam perjodohan antara Ghibran dan Azizah.
__ADS_1