KEKASIH HALAL ( Sudah Terbit )

KEKASIH HALAL ( Sudah Terbit )
Bagian 23


__ADS_3

~Cinta bisa datang pada siapa pun, tapi pada siapa kita akan memberikannya tak pernah tahu itu. Kebanyakan orang mencinta karena membenci. Setiap manusia berbeda-beda jalan cintanya, ada yang langsung jatuh cinta ada pula yang awalnya saling benci dan berubah jadi cinta. Mungkin, itulah yang kini menimpa kedua insan itu, Ghibran dan Azizah. ~


Pagi itu, Azizah tengah menemani Ghibran sarapan, perlahan wanita itu mengangkat sendok berisikan bubur. Namun, ada keraguan dalam dirinya. Ia tertunduk, hanya terus tertunduk tak mampu melihat wajah pemuda yang kini bersamanya.


"Ayok, suapi saya, kenapa kamu seperti malu-malu begitu. Bukankah kamu istri saya?" ucap Ghibran seraya melihat Azizah yang masih tertunduk.


"Ha, iya." Azizah menjawab penuh rasa ragu.


"Mana? Aaaa." Ghibran membuka mulutnya lebar-lebar. Azizah perlahan mendekatkan sendok berisi bubur kemulut Ghibran.


"Amm," ucap Ghibran memakan bubur yang baru saja disuapi oleh Azizah. "Mmm, tidak enak," lanjutnya menjulurkan lidah.


"Jelas tidak enak, kamu kan lagi sakit. Gimana, sih kamu," ujar Azizah memberitahu.


"Ah, iya kamu benar."


Kini, mereka saling diam tanpa mengeluarkan sepatah kata apa pun. Azizah masih menyuapi Ghibran, walau sebenarnya pemuda itu sangat tidak suka dengan bubur. Tapi kali ini dia harus memakannya untuk kesehatan dirinya.


Setelah selesai makan, Ghibran pun minum obat tentunya dibantu oleh Azizah. Rasa canggung begitu dirasakan oleh wanita itu. Menyuapi dan melayani Ghibran. Sebelumnya, ia tak pernah melakukan itu.


Saat Azizah hendak memberikan segelas air pada Ghibran tiba-tiba, pemuda itu mencekal tangan Azizah. Sontak, membuat wanita cantik itu terkejut dan menoleh pada Ghibran. Kini, mereka saling pandang satu sama lain beberapa saat. Rasa yang selalu mengganggu Azizah kini hinggap kembali. Jantungnya serasa berdesir dengan hebat menatap pemuda di hadapannya juga tangan yang masih digenggam oleh Ghibran.


"Biar saya saja," ucap Ghibran meraih gelas yang masih dipegang oleh Azizah seraya tersenyum lalu langsung meneguknya. Azizah hanya terdiam sembari memandangi pemuda itu.


"Kamu pikir, saya begitu lemah? Sampai tidak bisa minum sendiri," celetuk Ghibran seraya memandangi gelas itu.


"Alhamdulillah, kalau kamu sekarang sudah mulai pulih." Azizah tersenyum dan mengambil alih gelas yang dipegang oleh Ghibran.


"Apa, saya boleh bertanya sesuatu?" tanya Ghibran. Azizah yang tengah menyimpan gelas sedikit menoleh pada pemuda itu.


"Apa?" jawab Azizah.


"Kenapa kamu bisa menerima perjodohan antara kita berdua ini?" Mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Ghibran membuat wanita itu sedikit tertegun.


"Bahkan, saya sendiri tidak ingat kalau sudah menikah," lanjut Ghibran, terkekeh kecil seperti tengah mengejek dirinya sendiri.


"Aisyah," ucap pelan Ghibran menatap ke luar jendela. Azizah yang mendengar Ghibran menyebut nama Aisyah sedikit mendongak.


Benar saja yang ia pikirkan bahwa pemuda itu pasti akan tetap mengingat sahabatnya itu, tapi tidak dengan dirinya.


Tiba-tiba, rasa nyeri menjulur di hati wanita itu tatkala mendengar ucapan Ghibran. Entah, mengapa dirinya begitu terluka dan tidak suka jika Ghibran menyebut nama Aisyah. Apakah, dirinya sudah mulai mencintai Ghibran? Namun hati belum sepenuhnya mengakui.


Kecelakaan yang dialami oleh Ghibran pun membuat dirinya menjadi teringat lagi pada perempuan yang ia kagumi, padahal hatinya mulai bisa melupakan rasa untuk Aisyah. Tapi, kini rasa itu kembali hadir. Walau rasa pada Azizah pun sudah mulai dirasakan sebelum kecelakaan yang menimpanya.


"Apa saya boleh jujur?" Ghibran memecah keheningan antara mereka berdua.


"Sejujurnya, saya mengagumi seorang wanita, dan ingin sekali menghalalkan wanita itu. Tapi, setelah saya tahu jika saya sudah dijodohkan bahkan sudah menikah keinginan terbesar itu harus saya kubur, dan apakah kamu tahu? Saya sudah menyakiti dia dengan cara menikah denganmu."


Tanpa menunggu jawaban, pemuda itu berucap panjang lebar. Azizah hanya bisa terdiam mendengarnya. Bulir hangat pun berhasil meloloskan diri dari kedua kelopak mata indahnya, tanpa disuruh. Wanita itu kembali teringat akan nasib sahabatnya, dan rasa bersalah pun seolah datang lagi didirinya.


"Tapi ... ah, yasudahlah semua sudah terjadi. Bukan begitu?" Ghibran menoleh pada Azizah. Wanita itu buru-buru menghapus air matanya agar Ghibran tidak melihatnya.


"Iya, aku tahu itu, bahkan sangat tahu," lirih Azizah. "Maafkan aku, karena sudah menghancurkan keinginan terindah dalam hidupmu tapi aku juga tidak ingin semua ini terjadi. Lantas, apa yang harus aku lakukan? Aku hanya ingin membuat orang tuaku bahagia, hanya itu," lanjut Azizah menuturkan perasaannya berusaha menahan sesak di dada agar air mata tidak tumpah lagi.


"Sudahlah, semua sudah terjadi," tutur Ghibran seraya menghembuskan napas pelan.


"Aku permisi." Azizah pergi ke luar meninggalkan Ghibran. Wanita itu duduk dikursi ruang tunggu, menangkupkan kedua tangannya. Kini, wajahnya sudah basah karena aliran air mata terus saja jatuh dikedua netranya.


"Kenapa rasanya begitu sakit, ya Allah? Hati ini terluka sekali saat Ghibran mengatakan dia harus mengubur keinginannya demi menikah denganku. Kenapa sakit sekali ya allah, kenapa? Bahkan, saat Ghibran menyebut nama Aisyah aku tidak suka mendengarnya, kenapa dengan hatiku ini, ya Rabbku?"


Wanita itu terus bersenandika sendiri merasakan kesakitan teramat dalam tanpa tahu apa sebabnya. Air mata semakin deras mengalir membasahi wajahnya.


Ghibran masih terdiam melihat ke arah jendela yang langsung memperlihatkan suasana di luar. Hiruk pikuk orang berjalan dilihat kedua matanya hingga terhenti pada seorang wanita berhijab yang tengah berdiri di luar.


"Aisyah, apakah itu benar Aisyah?" Matanya langsung berbinar saat melihat wanita yang dianggapnya adalah Aisyah.


"Aisyah, maafkan aku. Pasti, saat ini kau tengah terluka. Aku memang pengecut!" pekik Ghibran seraya memukul-mukul kasur yang tengah diduduki. Pemuda itu tak bisa lagi mengontrol emosinya, merasa bersalah pada Aisyah. Air mata tanpa disadari juga sudah mengalir dipipi. Azizah masih meringkuk di kursi ruang tunggu.


Perlahan, wanita itu bangkit berdiri dan kembali masuk ke dalam ruang rawat inap Ghibran. Betapa terkejutnya, saat melihat pemuda itu tak bisa mengendalikan diri lagi. Azizah segera menghampiri Ghibran dan berusaha menenangkannya.


"Apa yang kamu lakukan, Ghibran? Nanti kamu bisa terluka," tanya Azizah berdiri di samping ranjang.


"Biarkan saja, Aisyah lebih terluka." Ghibran terus memukul-mukul besi penyangga kasur. Tanpa perduli kini tangannya mulai mengeluarkan darah.


Deg!


Hati wanita itu berdenyut begitu kuat mendengar nama Aisyah yang Ghibran sebut. Sakit, terluka, kini hatinya begitu tak suka mendengar nama itu disebut oleh suaminya. Bulir bening kembali jatuh dikelopak matanya.


"Sudah, cukup!" Azizah memegang bahu Ghibran dengan keras, pemuda itu langsung menoleh dan berhenti memukul besi.


"Sebegitu cintakah kamu pada Aisyah? Apa dengan cara seperti tadi bisa mengembalikan Aisyah padamu, hah?! Ayok jawab!" bentak Azizah, Ghibran hanya mampu terdiam tertunduk.


"Tidak, justru dengan cara seperti tadi malah bisa membuat kamu kehilangan dia. Berhentilah bersikap bodoh!"


"Tapi, Aisyah begitu terluka, sangat terluka, dan itu karenaku," lirih Ghibran menyalahkan dirinya.


"Aku tahu itu, aku akan membantumu." Ghibran langsung menoleh pada Azizah.


"Maksud kamu?"


"Aku akan membantumu agar bisa mendapatkan Aisyah kembali."


"Apa! Benarkah?" Azizah hanya mengangguk.


"Tapi, kita sudah menikah bagaimana mungkin, aku bisa bersama Aisyah."


"Kamu tidak usah memikirkan pernikahan kita. Toh, pernikahan ini terjadi karena perjodohan dan bukan didasari oleh cinta. Sekarang, pikirkan saja kebahagiaanmu dengan Aisyah nanti."


"Kamu— kamu wanita yang baik. Terima kasih e— e ...."


"Azizah, panggil saja Azizah," potong Azizah.


"Terima kasih Azizah, terima kasih." Ghibran menggenggam tangan Azizah, wanita itu hanya tersenyum getir.

__ADS_1


Walau hatinya terluka tapi tetap berusaha untuk bersikap biasa saja. Bukankah, dirinya juga tidak mencintai pemuda itu? Jadi, kenapa harus terluka?


''Ya Allah, apakah keputusanku untuk menyatukan Ghibran dan Aisyah itu tepat? Aku tidak tahu harus bagaimana lagi karena saat ini yang ada di hati Ghibran pasti hanya Aisyah. Terlebih, kini dia mengalami hilang ingatan. Bahkan, Ghibran tidak mengingatku sedikit pun.''


Wanita berhijab itu terus bersenandika seraya menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong. Kini, Azizah tengah berada di balkon depan kamarnya. Setelah kejadian kemarin, membuat wanita itu dilanda kebingungan. Hatinya juga tak sepenuhnya menginginkan semua itu terjadi, bahkan kalimat yang kemarin diucapkan olehnya pada Ghibran pun keluar begitu saja tanpa kompromi.


Sakit, perih dan terluka, kini hatinya tergores oleh luka yang tak sengaja dibuat. Walau dirinya belum menyadari sepenuhnya jika mulai mencintai pemuda itu. Namun, hati kecilnya merasakan kesakitan teramat dalam. Bulir bening telah menghiasi wajah cantiknya. Tatapan kosong, membuat wanita itu tak memperdulikan suara-suara atau pun kehadiran seseorang di dekatnya.


"Nduk." Fatimah memegang lembut bahu Azizah. Namun, tak ada reaksi sedikit pun dari wanita itu mungkin masih larut dalam lamunannya.


"Nduk." Sekali lagi, Fatimah memanggil Azizah sambil memegang lembut bahunya. Tetap saja, tak ada respon apa pun dari Azizah dan membuat Fatimah khawatir.


"Kamu kenapa toh, nduk?" tanya Fatimah membalikkan tubuh Azizah. Wanita itu terdiam menatap lamat pada sang umi. Air mata sudah membasahi wajahnya, Fatimah sangat terkejut melihat keadaan putrinya itu.


"Umi," lirih Azizah langsung memeluk sang umi.


"Ada apa nduk?" tanya Fatimah merasa bingung. Namun, Azizah hanya terdiam dan terus menangis tanpa bersuara. "Kenapa sayang? Ceritakan saja pada umi, kenapa?" lanjut Fatimah kembali bertanya. Lagi, tak ada jawaban dari Azizah malah wanita itu semakin terisak dalam tangisnya.


"Menangislah nak, luapkan semua kesedihanmu, tangismu." Fatimah membelai lembut punggung Azizah. Azizah masih terus menangis dipelukan sang umi.


Di tempat berbeda, Ghibran sudah diperbolehkan pulang. Namun, karena kondisinya saat ini yang tidak memungkinkan untuk tinggal di rumah Azizah maka pemuda itu kembali tinggal di rumahnya sendiri. Tentunya bersama Azizah. Tapi, hari ini Azizah izin untuk pergi ke rumahnya hingga Ghibran kini seorang diri di kamar.


Perlahan, pemuda itu membuka laci di nakas kecilnya. Namun kosong, di dalamnya sudah tidak ada apa-apa lagi. Ghibran terkejut melihatnya. Ghibran tak ingat jika sebagian barang-barang miliknya telah dibawa ke rumah Azizah. Entah apa yang pria itu cari.


"Kemana buku itu? Saya ingat kok, bukunya disimpan dilaci ini tapi kenapa tidak ada?" Ghibran kebingungan melihat lacinya sudah kosong.


Mungkin buku yang tengah pemuda itu cari adalah buku yang diselipkan fhoto Aisyah di dalamnya, yang beberapa hari lalu dilihat oleh Azizah saat membereskan barang-barang Ghibran.


"Aisyah, bagaimana kabarmu? Betapa bodohnya aku! Kenapa, tidak sejak dulu mengatakan perihal perasaan ini padamu kalau akhirnya akan seperti ini. Keinginan terindahku adalah bisa menjadi suamimu, Syah. Tapi, setelah mengetahui kenyataan ini semua keinginan itu musnah!" Ghibran terus menyesali takdir dan kenyataan yang harus ia terima dalam hidupnya. Mimpi sejak dulu yang selalu diharapakan kini harus hancur begitu saja.


***


"Bagiamana, sudah sedikit tenang?" tanya Fatimah melepaskan pelukannya. Azizah hanya mengangguk pelan. "Sekarang, coba ceritakan pada umi hal apa yang membuatmu bisa menangis seperti tadi?" sambung Fatimah bertanya lagi.


"Tidak ada Umi," jawab Azizah berbohong.


"Jangan bohong, nak. Ayok, ceritakan saja sama umi."


"Tidak ada apa-apa Mi, sungguh." Azizah tersenyum meyakinkan uminya itu.


"Apa, ini soal Ghibran yang hilang ingatan?" Azizah langsung menoleh pada Fatimah.


"Bukan Umi, Azizah hanya sedang rindu pada Aisyah. Dimana dia sekarang, apakah Aisyah baik-baik saja?"


"Insyaallah, Aisyah pasti akan baik-baik saja, sayang."


"Umi," panggil Azizah.


"Iya sayang, kenapa?"


"Baru saja beberapa hari Zizah datang ke rumah ini dan tinggal di sini. Tapi, sekarang aku harus meninggalkan rumah ini lagi dan juga Umi. Maafkan Azizah ya, Mi?"


"Tidak apa-apa sayang. Ini kan untuk kesembuhan suamimu juga, umi mengerti kok."


"Tapi apa sayang?"


"Tidak apa-apa, Mi. Yasudah, aku siap-siap dulu ya Mi." Fatimah hanya mengangguk dan tersenyum.


Azizah pergi ke dalam kamar membereskan pakaian miliknya untuk dibawa ke rumah Ghibran. Kini, wanita itu harus tinggal lagi di rumah mertuanya sampai Ghibran sembuh dan ingatannya kembali.


Sore itu, Azizah dan Ghibran tengah berada di taman yang berada tidak jauh dari rumah Ghibran. Saat masih kuliah, mereka berdua sama-sama selalu menghabiskan waktunya di taman kampus, dan kini keduanya bisa merasakan itu lagi walau ingatan Ghibran belum kembali sepenuhnya. Mereka duduk beralaskan rerumputan hijau dikelilingi bunga-bunga cantik. Langit sore yang cerah pun seolah ikut mendukung, berwarna kejingga-jinggaan memperindah langit di sore hari.


"Zah," panggil Ghibran yang duduk sedikit jauh dengan Azizah.


"Iya," jawab Azizah tak menoleh.


"Apa, perkataanmu di rumah sakit tempo hari, sungguhan?" tanya Ghibran memastikan kembali.


"Ya, tentu saja," jawab Azizah cepat. "Tapi, setelah kamu benar-benar sembuh," lanjut Azizah menjelaskan. Ghibran terlihat bingung mendengar perkataan Azizah.


"Sembuh?" Menoleh pada Azizah yang masih terus memandang ke depan. "Bukankah, saya sudah sembuh? Buktinya, dokter memperbolehkan saya pulang 'kan?"


"Iya, tapi kamu belum sembuh sepenuhnya," jelas Azizah.


"Saya benar-benar tidak mengerti maksud kamu, saya sudah sembuh Azizah!"


"Apa, sebegitu besarnya cintamu pada Aisyah?" tanya Azizah mengalihkan pembicaraan.


"Ya, karena dia cinta pertama saya. Sebelumnya, saya sangat sulit untuk kagum pada seorang wanita bahkan untuk jatuh cinta. Tapi, saat melihat Aisyah, rasanya sangat berbeda. Dia mampu membuat hati ini luluh seketika, jantung berdetak tak beraturan."


Azizah hanya manggut-manggut mendengarkan ucapan Ghibran. Sebenarnya, ada rasa sakit di hatinya saat pemuda itu mengeluarkan perkataan itu. Menceritakan perihal rasa cinta Ghibran terhadap Aisyah, itu sangat membuat hati wanita itu tergores. Walau beberapa kali perasaan sakit itu ditepis. Namun, tetap saja tak bisa disembunyikan.


"Jadi, maksudnya, dirimu langsung jatuh cinta pada Aisyah?" Ghibran hanya mengangguk pelan. "Pantas, kamu begitu mencintainya. Karena memang, dia adalah satu-satunya wanita yang mampu membuatmu jatuh cinta pada pandangan pertama."


"Iya, saya sangat mencintainya walau dalam diam hingga akhirnya, saya tak bisa bersama dirinya."


"Lantas, apakah itu cinta yang sebenarnya?" tanya Azizah menoleh pada Ghibran. Beberapa saat mereka saling pandang.


"Maksud kamu?" Ghibran nampak bingung mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Azizah.


"Iya, maksudku adalah, apakah itu cinta sebenarnya? Mencintai seseorang yang belum halal untuk kita, apa itu cinta yang sebenarnya? Bukankah, mencintai orang yang sudah jelas mahram dan sudah halal untuk kita itu adalah cinta yang sebenarnya. Karena, cintanya sudah jelas dimata kita dan dimata Allah," jelas Azizah panjang lebar menerangkan. Ghibran hanya terdiam


setelah mendengar penjelasan dari Azizah. Pemuda itu sejenak tertegun memikirkan perkataan Azizah. Ucapan wanita itu menyentuh hati dan pikirannya.


''Benar yang dikatakan oleh Azizah, cinta yang sebenarnya adalah mencintai seseorang yang sudah halal untuk kita, dan saya sudah memiliki itu. Kenapa, saya masih memikirkan wanita lain yang bukan mahram saya," gumam Ghibran dalam hatinya seraya terus memandangi Azizah yang masih melihat ke depan.


"Sudahlah, jangan dipikirkan." Ucapan Azizah membuyarkan lamunan Ghibran. "Tenang saja, kamu tidak perlu takut, aku pasti akan membantumu untuk mendapatkan Aisyah kembali." Azizah menoleh dan tersenyum pada Ghibran. Pemuda itu masih terdiam seolah lidahnya terasa kelu tak mampu mengatakan apa pun.


"Sudah sore, lebih baik kita cepat pulang sebentar lagi maghrib," ujar Azizah bangkit berdiri dari duduknya. Sementara Ghibran masih duduk tak mengikuti ajakan Azizah.


"Apa kamu akan tetap di sini saja, Ghibran?" lanjut Azizah bertanya.


"Kamu duluan saja," jawab Ghibran tak melihat pada Azizah. "Nanti, saya menyusul."

__ADS_1


"Hmm, yasudah, aku duluan." Azizah melangkah pergi. Sesekali, ia terhenti dari langkahnya dan menoleh pada Ghibran yang masih duduk di taman membelakangi dirinya, lalu setelah itu Azizah kembali membelakangi pemuda itu.


"Azizah, tunggu," panggil Ghibran menghentikan Azizah.


"Iya, ada apa?" tanya Azizah bingung, berhenti dari langkahnya tanpa menoleh pada Ghibran begitu juga pemuda itu.


"Kenapa kamu begitu tahu soal Aisyah?"


"Karena, Aisyah adalah sahabat baikku." Mendengar jawaban Azizah, sontak membuat Ghibran sangat terkejut.


"Apa ada pertanyaan lagi" tanya Azizah.


"Tidak ada, kamu boleh pergi."


"Yasudah."


Setelah kepergian Azizah dan sudah tak terlihat lagi keberadaan wanita itu Ghibran menoleh ke belakang. Namun, Azizah sudah pergi. Pemuda itu hanya mengembuskan napas dan mengusap wajahnya kasar.


"Aisyah adalah sahabat Azizah? Itu berarti, saya menikahi sahabat dari orang yang saya cinta," lirih Ghibran melihat ke belakang.


"Ya Allah, kenapa bisa seperti ini?" Mengusap wajah kasar, memejamkan kedua matanya.


Pemuda itu termenung memikirkan ucapan wanita berhijab kemarin. Matanya lurus menatap ke depan. Kini, pikirannya benar-benar terganggu karena pernyataan Azizah kemarin sore. Ada rasa ragu dalam hati Ghibran untuk meneruskan keinginannya itu.


Namun, rupanya rasa cintanya pada Aisyah yang selalu mendorong pemuda itu untuk mencari Aisyah. Terlebih, saat ini Ghibran tengah hilang ingatan jadi dia tidak akan mengingat apa pun yang sudah terjadi beberapa bulan lalu. Bahkan, pernikahannya saja Ghibran tak mengingat itu.


Pemuda berwajah tampan itu saat ini tengah dilanda keeogoisan dalam dirinya. Mendapatkan seseorang yang menjadi sumber kebahagiaan baginya dengan cara apa pun, akan ia lakukan. Tanpa Ghibran tahu bahwa ada hati yang terluka karena hal itu.


"Apa pun, akan kulakukan untuk bisa bersama Aisyah kembali."


Tanpa sepengetahuan Ghibran, ternyata Azizah tengah berdiri dibalik pintu besar di rumah itu. Sedikit mengintip, memperhatikan pemuda yang tengah berdiri di tepi teras. Hatinya tiba-tiba, terasa amat sakit saat mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Ghibran beberapa detik lalu.


''Ada apa Azizah, kenapa? Kenapa kamu merasa bersedih. Bukankah menyatukan Ghibran dan Aisyah adalah keinginanmu sejak dulu? Kenapa harus bersedih, apa yang kau sedihkan?'


Wanita berparas cantik itu terus bermonolog sendiri dalam hati merasakan kesakitan yang teramat dalam. Namun, ia belum menyadari akan perasaannya pada Ghibran sebenarnya. Hatinya bagai ditikam besi panas. Perih, sakit, itu yang kini dirasakan olehnya. Air mata sudah menganak sungai menghiasai kulit putihnya. Tak kuasa lagi menahan tangis, hanya bisa menutup mulut dengan tangan sambil memperhatikan Ghibran dari kejauhan.


Azizah beranjak pergi tiba-tiba, Ghibran mencekal tangan wanita itu. Azizah terhenti dari langkahnya tak langsung menoleh. Rupanya, pemuda itu mengetahui keberadaannya di sana. Azizah hanya terdiam. Entah, tak biasanya wanita itu bersikap seperti itu. Biasanya, Azizah langsung melepaskan genggaman Ghibran dan marah-marah. Namun, kali ini tidak. Justru, dia terdiam terpaku seolah pasrah akan keadaan.


"Azizah," panggil Ghibran dan langsung melepaskan genggaman ditangan Azizah. Azizah menoleh sedikit tertunduk.


"Iya," jawab Azizah pelan.


"Kamu di sini? Kebetulan sekali, ada suatu hal yang ingin saya bicarakan sama kamu," tutur Ghibran.


"Soal apa?"


"Soal Aisyah."


Deg!


Ada rasa nyeri di hati wanita itu tatkala mendengar nama Aisyah yang Ghibran sebut. Tapi, dirinya bisa apa? Bukankah memang hanya Aisyah yang dicintai oleh Ghibran. Kini, Azizah memang sudah menjadi istri dari pemuda itu tapi cintanya hanya untuk Aisyah.


Buru-buru, Azizah mengusap air matanya takut Ghibran melihat itu semua. Nanti, apa yang harus dia katakan pada lelaki itu? Haruskah dirinya mengatakan jika saat ini sedang cemburu atau yang lebih tepat, terluka.


"Ayok, duduk di sini, Zah." Ghibran menunjuk sebuah kursi dari kayu jati di sampingnya. Azizah hanya manut dan duduk di samping Ghibran. "Saya baru tahu, kalau ternyata kamu adalah sahabat Aisyah dan sekarang malah jadi istri saya."


Apakah ia harus merespon ucapan Ghibran? Apa Ghibran perduli tentang dirinya? Saat ini, yang diinginkan oleh Ghibran adalah Aisyah bukan wanita lain apalagi dirinya.


"Kenapa diam saja?" tanya Ghibran melihat pada Azizah yang masih saja tertunduk.


"Dan, saya perhatikan dari tadi kamu menunduk terus. Angkat wajahmu, apa saya begitu menakutkan untuk dilihat?" lanjut Ghibran menoleh pada Azizah lalu menoleh lagi ke depan.


"Bukan seperti itu, tapi aku hanya sedang berusaha menjadi istri yang baik dan manut pada suamiku." Azizah masih tertunduk.


"Maksudmu?" Menoleh kembali pada Azizah.


"Maksudku adalah, bukankah jika seorang suami tengah menatap istrinya maka sang istri harus menundukkan wajah juga pandangannya sebagai tanda hormat dan manut pada suami," jelas Azizah menerangkan.


"Kalau begitu, sekarang angkat saja wajahmu itu. Anggap saja itu adalah perintah dari seorang suami pada istrinya," perintah Ghibran memandangi Azizah yang masih menunduk.


Apa Ghibran benar-benar tidak mengingat wanita di sampingnya itu? Sikapnya sangat berbeda tidak seperti Ghibran yang beberapa bulan lalu. Menyebalkan dan nyeleneh, juga cuek tapi saat ini diri pemuda itu sepertinya mulai berubah.


"Baiklah." Azizah mengangkat wajahnya perlahan. "Oh, iya bukannya tadi kamu mau mengatakan sesuatu. Ayok, katakan."


"Iya, saya cuma mau tanya apa Aisyah datang ke pernikahan kita?"


"Tidak."


"Kenapa?"


"Aku juga tidak tahu, tapi mungkin hatinya tak cukup kuat untuk melihat orang yang ia cinta bersanding dipelaminan bersama sahabatnya sendiri."


"Tunggu dulu, tadi kamu bilang apa? Kamu bilang orang yang dia cinta. Itu artinya, Aisyah ...."


"Ya, Aisyah juga mencintai kamu," potong Azizah memberitahu. Terlihat raut wajah Ghibran yang berseri-seri setelah mendengar ucapan Azizah barusan. "Maafkan aku, karena sudah menjadi penghalang untuk cinta kalian berdua," lanjut Azizah merasa bersalah dan bangkit berdiri hendak pergi. Namun, lagi-lagi Ghibran menghentikannya.


"Kamu mau ke mana?"


"Ke belakang, masih ada pekerjaan yang belum kuselesaikan tadi. Aku lupa," ucap Azizah berbohong, padahal semua sudah beres dikerjakan. Namun, untuk menghindar dari pembahasan soal Aisyah wanita itu harus membohongi Ghibran.


"Oh, yasudah."


Azizah melangkah pergi masuk ke dalam rumah meninggalkan Ghibran seorang diri di teras. Air mata sudah tak tertahan lagi, dan bulir hangat itu berhasil meloloskan diri. Azizah berlari menuju kamarnya tanpa melihat bahwa ada umi mertuanya yang tengah duduk di ruang tamu. Aminah merasa bingung melihat sikap Azizah seperti itu.


"Ada apa dengan Azizah?" Melihat bingung kepergian Azizah.


Azizah masuk ke dalam kamar Ghibran dan langsung menutup pintu serapat-rapatnya. Wanita itu perlahan menurunkan tubuhnya ke lantai dibalik pintu kamar. Air mata semakin deras mengalir dari kedua netranya.


"Ya Allah, sebenarnya aku ini kenapa? Kenapa, rasanya ini begitu menyakitkan kurasakan. Ada apa denganku? Bukankah dulu aku berniat untuk menyatukan mereka berdua. Lalu, kenapa disaat semua itu bisa kulakukan sekarang mengapa begitu sakit, mengapa? Tolong jelaskan, perasaan apa ini? Rasa apa yang sedang aku rasakan? Apa aku mulai mencintai Ghibran? Tidak mungkin, itu tidak mungkin."


Wanita itu semakin terisak dalam tangisnya. Kedua tangan memeluk kedua kaki. Tubuhnya mulai gemetar dan perlahan Azizah membaringkan tubuhnya di atas lantai dengan posisi miring.


Takdir macam apa yang tengah wanita itu alami. Disaat hatinya sudah mulai bisa menerima pernikahannya dengan Ghibran malah ada kejadian yang tak pernah terduga seperti saat ini. Mungkin, hanya dengan rasa ikhlas, hatinya bisa lebih merasa tenang.

__ADS_1


__ADS_2