
Pemuda itu mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, menahan cahaya sang mentari yang masuk menerobos celah di atas gorden. Ghibran membuka kedua mata, ia terkejut saat mendapati dirinya tengah berada disebuah ranjang besar. Tubuhnya ditutupi selimut tebal berwarna coklat.
Semalam, mungkin karena efek kelelahan. Pemuda itu tak terasa tertidur di ranjang. Tanpa melihat gadis itu sedikit pun bahkan untuk sekedar menyapa saja tidak. walau pemuda itu tahu, Azizah sudah menjadi istri sahnya.
Ghibran bangun dan duduk, menyandarkan kepala pada kepala ranjang yang terbuat dari kayu jati. Berwarna kecoklatan, dengan berbentuk bunga-bunga. Matanya melihat ke sekeliling dan berhenti pada satu tempat.
Kini kedua mata itu tengah memandangi gadis cantik berkulit putih yang masih tertidur, di sebuah sofa dibagian ujung sana dekat jendela. Yah, Azizah masih tertidur pulas beralaskan sebuah sofa berwarna abu-abu.
Setelah melihat suaminya tertidur semalam, Azizah pun ikut tertidur dan bingung harus tidur dimana. Akhirnya, ia memutuskan untuk tidur di sofa saja. Bahkan, kebaya yang gadis itu kenakan pun belum sempat diganti. Karena saking kelelahannya.
Ghibran terus memandangi gadis diujung sana. Tanpa disadari pemuda itu tersenyum- senyum sambil terus memandangi Azizah. Ia berdecak kagum melihat kecantikan Azizah.
"Benar kata orang, jika wanita terlihat lebih cantik saat ia tertidur."
Batinnya bicara seraya terus tersenyum memandangi Azizah yang meringkuk di sebuah sofa. Ghibran tersadar dari lamunannya, ia langsung mengalihkan pandangan lalu membuka selimut yang menutupi tubuh kekarnya. Ghibran melangkah menuju kamar mandi. Nanti saja membangunkan Azizah, pikir pemuda tampan itu.
***
"Hey, bangun. Azizah bangun." Ghibran berusaha membangunkan Azizah yang masih tertidur.
"Astagfirallahaladziim, bagaimana wanita ini bisa jadi istriku? Jam segini saja masih tidur pulas," gerutu Ghibran berbicara sendiri.
"Azizah, ayok bangun. Bangun!" Ghibran kembali membangunkan Azizah, tanpa menyentuh tubuh gadis di hadapannya sedikit pun.
Mendengar ucapan Ghibran yang sedikit keras. Perlahan Azizah membuka matanya, namun ia kembali menutup mata tarkala melihat seorang pria tengah berdiri di hadapannya hanya bertelanjang dada dengan sebuah handuk dipinggang.
"Astagfirallahaladziim," ucap Azizah terkejut seraya menyimpan kedua telapak tangan pada kedua matanya.
Melihat reaksi dari Azizah, Ghibran merasa kebingungan juga aneh. Ada apa? Apa yang salah? Mungkin itu yang ada di pikirannya. Menyadari dirinya hanya mengenakan handuk di pinggang. Ia langsung memakai sebuah kaos polos putih. Pasti karena gara-gara ini Azizah jadi bersikap seperti itu, pikir Ghibran.
"Saya sudah berpakaian. Ayok, cepat bangun!" Ghibran kembali membangunkan Azizah.
Azizah sedikit mengintip dibalik celah-celah telapak tangan miliknya. Memastikan apakah Ghibran masih belum memakai baju atau sudah memakai pakaian ditubuhnya.
Perlahan, gadis itu membuka telapak tangan yang menghalangi matanya. Akhirnya Azizah bisa bernafas lega. Melihat Ghibran sudah berpakaian, Ghibran hanya berdiri memandang aneh pada gadis itu.
"Kamu apa-apa-n, sih! Pake acara tidak pakai baju segala," gerutu Azizah.
"Iya, maaf. Saya tadi baru beres mandi, makanya cuma pake handuk doang," ucap Ghibran merasa bersalah.
"Kamu juga, jadi perempuan kok bangunnya siang," sambung Ghibran mengejek.
"Apa kamu bilang?" Azizah menatap kesal Ghibran.
"Iya, jadi perempuan kok bangunnya siang." Ghibran mengulang ucapannya. "Yaudah, sana mandi, gih. Udah siang," sambung Ghibran lagi, menyuruh Azizah mandi.
"Iya," singkat Azizah seraya bangun dan melangkah. Lalu tiba-tiba ia menoleh. "Awas! Jangan ngintip."
Azizah menoleh kembaki ke depan lalu melangkah menuju kamar mandi.
"Siapa juga, yang mau ngintip," ucap Ghibran pelan.
Azizah mendengar ucapan Ghibran, ia kembali berhenti dari langkahnya, lalu menoleh ke belakang.
"Kamu berkata apa barusan?" tanya Azizah geram. Ghibran hanya menggeleng.
"Tidak, saya tidak berkata apa-apa. Sudah sana! Mandi dulu, bau tau." Ghibran sedikit terkekeh, menahan tawa.
Mendengar ucapan Ghibran, Azizah semakin geram lalu menoleh kembali dengan angkuh lalu melangkah pergi meninggalkan Ghibran. Ghibran masih terkekeh melihat sikap Azizah.
\* \* \*
Pemuda itu berdiri di balkon kamarnya. Ia menatap kosong lurus ke depan. Memandangi pemandangan Indah di pagi hari, menghirup udara yang masih terasa segar untuk di rasakan. Sang Mentari terlihat riang pagi ini, cahayanya terpancar hingga menyentuh wajah pemuda tampan, berkulit putih dengan lesung pipi menghiasi wajahnya.
"Sungguh segarnya, udara di pagi hari. Ini adalah awal yang baru, juga kisah baru dalam hidupku." Ghibran menarik nafas perlahan seraya tersenyum menatap langit pagi yang cerah.
__ADS_1
Krek ...
Terdengar suara pintu dibuka, gadis itu perlahan berjalan keluar dari kamar mandi. Ghibran menoleh, melihat pada gadis itu. Lagi-lagi, ia di buat takjub oleh kecantikan alami yang terpancar di wajah Azizah. Azizah terus menggosok-gosok rambut panjangnya yang tengah basah. Tanpa ia tahu jika dibalkon sana ada seorang pria yang tengah asyik memandanginya.
Ghibran terus tersenyum memandangi Azizah dari kejauhan. Rambut lurus, panjang, dan hitam berkilau membuatnya semakin takjub. Tetesan air yang sedikit membasahi wajah gadis itu pun tak luput dari perhatiannya. Ghibran tersadar dari lamunannya dan langsung mengalihkan pandangan.
"Astagfirallahal adziim," lirih Ghibran
Tiba-tiba Ghibran terbatuk, tenggorokannya terasa gatal. Suara batuk pemuda itu terdengar oleh Azizah, hingga wanita itu menghentikan aktivitas menggosok rambutnya.
Gadis itu tertegun, terdiam setelah mendengar suara batuk itu. Ia langsung menoleh dan terkejut mendapati seorang pemuda tinggi tengah berada di belakangnya sejak tadi. Buru-buru gadis itu menutup rambut panjangnya dengan handuk ditangan.
"Kamu!" Azizah sedikit salah tingkah melihat keberadaan Ghibran di sana.
"Kenapa?" tanya Ghibran bingung, seraya mengangkat tangan dan melebarkannya.
"Kenapa, kenapa! Sejak kapan kamu ada di sana? Dan kamu sedang apa di kamarku?" Azizah mulai kesal dan langsung membalikkan tubuhnya, membelakangi Ghibran yang masih berdiri.
Ghibran hanya memandang aneh gadis itu, lalu perlahan melangkah menghampiri Azizah. Mendengar suara langkah kaki pemuda itu, membuat hati Azizah tiba-tiba berdetak begitu kencang tidak beraturan. Entah apa yang tengah dirasakan oleh gadis itu.
"Kamu lupa, kalau kamu sekarang sudah menikah, dan apa kamu juga lupa sekarang kamu sudah memiliki seorang suami?" Ghibran berdiri tepat di hadapan Azizah, menatap aneh pada gadis itu.
"Dan satu lagi, apa kamu bilang tadi? Kamarku? Ini kamar saya, bukan kamarmu!" sambung Ghibran kesal.
Azizah hanya terdiam mematung seraya memilit ujung handuk di kepalanya. Mungkin gadis itu lupa kalau kini ia sudah menikah kemarin. Dan sudah mempunyai suami, yaitu Ghibran yang kini tengah berdiri di hadapannya. Dan berfikir bahwa sekarang dirinya tengah berada dikamarnya.
"Hah! Menikah? Suami?" Azizah melongo tak percaya atas ucapan Ghibran. Ghibran hanya mengangguk pelan.
"Iya, sejak kapan kamu jadi amnesia seperti ini?" tanya Ghibran memandang aneh pada Azizah.
"Ngapain kamu lihat-lihat? Oh ya ampun, kamu lihat rambut aku kan!" pekik gadis itu buru-buru menjadikan handuknya sebagai hijab.
Ghibran hanya melongo, menatap Azizah aneh. Mungkin ia tak habis pikir, bagaimana bisa Azizah lupa dengan pernikahannya yang baru saja kemarin diadakan.
"Lho, memangnya kenapa? Bukankah saya ini suami kamu. Jadi, saya sudah berhak untuk melihat rambutmu bahkan lebih dari itu."
"Tidak, semalam tidak terjadi apa-apa diantara kita. Bahkan, sedikit pun saya belum menyentuhmu. Semalam saya sudah tertidur, jadi tidak mungkin kita melakukannya," tutur Ghibran menjelaskan, meyakinkan gadis di hadapannya bahwa diantara mereka tidak terjadi apa-apa.
"Kamu bohong!" pekik Azizah, menunjuk ke arah Ghibran.
"Bohong bagaimana maksud kamu? Saya sudah jelaskan, bahwa diantara kita tidak pernah terjadi apa-apa!" Ghibran mulai kesal atas sikap Azizah.
"Benarkah?" tanya Azizah pelan.
"Iya," ucap Ghibran cepat seraya melangkah menjauhi Azizah. Azizah hanya tertunduk dan menatap nanar ke bawah. Dengan terus memainkan ujung handuknya yang menutupi seluruh rambut.
"Walaupun kita sudah menikah, tapi saya belum bisa memberikan hak itu kepadamu. Walau kenyataannya, itu sudah menjadi hakmu. Tapi, jujur aku belum bisa. Maafkan saya." sambung Ghibran.
Azizah masih berdiri mematung, terdiam tertegun. Kini mereka saling membelakangi. Gadis itu tertunduk, kesedihan mulai menyelimuti hatinya saat mendengar penuturan dari Ghibran.
"Maafkan aku, mungkin aku belum terbiasa dengan keadaan ini. Dan aku juga minta maaf, karena aku pun sama. Aku belum bisa memberikan hakmu sebagai suamiku."
"Tak apa Azizah, kita tahu betul kalau kita menikah karena dijodohkan, juga tanpa cinta." Azizah mengangkat wajahnya lalu tertunduk lagi.
"Sekarang, bisakah kamu meninggalkan tempat ini dulu? Aku ingin berganti pakaian," pinta Azizah, masih membelakangi Ghibran. Ghibran menoleh.
"Baiklah."
Ghibran melangkah pergi menuju bibir pintu. Lalu, ia membukanya dan berlalu pergi meninggalkan Azizah yang masih tertunduk, tak berani melihat kepergian pemuda itu.
Azizah menjatuhkan tubuhnya hingga posisi duduk di atas lantai. Ia menangis menggugu mengingat semua yang sudah terjadi dalam hidupnya. Harus menikah karena perjodohan dan menyakiti sahabatnya sendiri, Aisyah. Kini ia benar-benar merasakan kesedihan yang teramat dalam.
\* \* \*
Gadis berparas cantik dengan khimar menutupi hingga pinggang rampingnya. Menuruni anak tangga, satu persatu dengan perlahan. Azizah melihat dari kejauhan, di meja makan tengah ada sebuah keluarga yang tengah menikmati sarapan pagi. Gadis itu mengulas senyum dibibir ranumnya. Walau masih terasa canggung, karena ini hari pertama ia akan menyantap makanan di pagi hari di rumah mertuanya.
__ADS_1
Perlahan, gadis itu melangkah menghampiri Pak Haryo dan Umi Aminah yang tengah menyantap sarapan. Ada Ghibran juga tentunya, di sana. Yang kini berstatus sebagai suami sah dari gadis cantik itu.
Umi Ghibran menoleh, melihat kehadiran Azizah. Ia tersenyum lebar menyambut menantunya itu. Lalu bangkit dari duduknya setelah berhenti dari aktivitas makan. Begitu juga dengan ayah dan anak itu, mereka melihat ke arah Azizah yang sudah berdiri di dekat meja makan.
Pak Haryo melempar senyum melihat Azizah tapi, tidak dengan Ghibran. Pemuda tampan itu masih asyik melahap sarapannya, tanpa memperdulikan kehadiran Azizah di sana.
"Eh, menantu umi sudah bangun. Ayok, sini kita sarapan bareng nak," umi Ghibran mengajak Azizah, lalu Azizah duduk di samping Ghibran yang acuh.
"Maaf, yah mi. Zizah tidak sempat bantu umi untuk menyiapkan sarapan," ucap Azizah merasa tak enak. Aminah hanya tersenyum.
"Ndak, apa-apa nduk. Umi mengerti, kamu pasti semalam sangat kelelahan."
"Ayok, cepat sarapan, nak," titah Pak Haryo.
"Iya, bi." Azizah tersenyum dan menoleh pada Ghibran. Sedari tadi, hanya dia saja yang sibuk dengan kegiatannya.
"Mi, By, Ghibran berangkat kerja dulu yah." Ghibran mengelap sudut bibirnya dengan lap di atas meja. Lalu berpamitan pada kedua orang tuanya.
"Tumben nak, ini masih pagi lho," ujar Aminah.
"Iya my, di kantor sedang banyak kerjaan. Jadi, sengaja saya berangkat lebih awal," tutur Ghibran menjelaskan.
Setelah lulus kuliah, Ghibran memang langsung di ajak untuk bergabung di salah satu perusahaan abinya. Beruntung sekali bukan? Disaat orang-orang harus susah payah mencari pekerjaan setelah wisuda. Pemuda itu dengan mudah mendapatkan pekerjaan.
Yah, walaupun bekerja di kantor bukanlah keinginan Ghibran. Ia lebih menyukai bidang fhotografi, namun sebagai anak yang baik dan juga tidak ingin mengecewakan orang tuanya. Lagi lagi, ia harus mengalah. Mengubur keinginannya menjadi fhotografer yang terkenal.
"Alhamdulillah, abi bangga padamu nak. Karena sekarang kamu sudah bisa menjadi orang yang lebih disiplin lagi. Tidak salah jika abi menyuruhmu untuk mengurus perusahaan abi." Pak Haryo menepuk pelan bahu Ghibran. Ghibran hanya tersenyum.
"Yasudah, saya pamit bi, my." Ghibran mencium tangan orang tuanya bergantian.
"Assalamualaikum," sambungnya, seraya melangkah.
Azizah hanya bisa tersenyum dan terdiam melihat pemandangan sebuah keluarga yang ia anggap sangat harmonis. 'Sungguh, beruntung Ghibran. Mendapatkan orang tua sebaik pak Haryo dan umi Aminah.' Ia bersenandika memandangi mereka.
"Wa'alaikum salam," ucap Azizah pelan, hampir tak terdengar. Seraya tertunduk, melahap sarapan paginya.
"Nak, tunggu," panggil Aminah, buat Ghibran berhenti dari langkahnya. Lalu menoleh kembali.
"Iya mi, kenapa?"
"Apa kamu tidak melupakan sesuatu, yang tertinggal, nak?" tanya Aminah.
Ghibran dibuat bingung atas perkataan uminya. Begitu juga dengan abinya yang bingung melihat tingkah istrinya itu. Apa maksud dari ucapan uminya, mungkin itu yang tengah ada dalam pikiran Ghibran. Azizah hanya tertunduk dan masih terdiam.
"Ghibran rasa, tak ada yang saya lupakan my," ucap Ghibran menduga-duga.
"Kamu yakin, nak?" tanya Umy Aminah memastikan. Seraya tersenyum.
"Iya, my," jawab Ghibran mantap. Dengan wajah yang bingung.
"Istrimu nak."
Deg!
Azizah terkejut, sontak ia langsung mendongahkan wajahnya setelah mendengar ucapan ibu mertuanya itu. Ghibran juga tak kalah kaget, hanya menelan ludah. Mungkin ia lupa, kalau saat ini pemuda tampan itu sudah menjadi seorang suami. Pak Haryo haya terkekeh geli.
"Ayok, nak. Salim sama suamimu," titah umi Ghibran pada Azizah.
"Nggih, my." Azizah hanya manut pada perintah ibu mertuanya. Lalu langsung bangkit dan menghampiri Ghibran yang masih berdiri tidak jauh dari letak meja makan.
Dua insan itu saling pandang satu sama lain. Mungkin, rasanya ini masih terasa canggung bagi mereka. Namun, mereka pasti akan terbiasa nantinya.
"Eh, eh, pengantin baru, malah saling padang. Nanti aja pandang pandangannya hihi."
Pak Haryo menggoda mereka. Hingga kini rasa malu menimpa kedua insan itu. Pipi Azizah memerah bak kepiting rebus. Ia tersipu malu dan tertunduk begitu juga dengan Ghibran yang langsung mengalihkan pandangan. Sang umi hanya terkekeh geli.
__ADS_1
Azizah meraih tangan Ghibran ragu-ragu. Lalu mencium punggung tangan Ghibran seraya berkata, "Hati-hati."
Ghibran hanya mengangguk dan tersenyum, Azizah ikut tersenyum. Ghibran berlalu pergi meninggalkan Azizah. Dan Azizah kembali duduk untuk meneruskan sarapannya setelah umi mertuanya itu menyuruh gadis itu untuk kembali makan.