KEKASIH HALAL ( Sudah Terbit )

KEKASIH HALAL ( Sudah Terbit )
Bagian 13


__ADS_3

Setiap orang pasti akan bahagia dihari pernikahannya. Apalagi jika menikahi orang yang dicinta. Lalu, bagaimana rasanya jika harus menikah bersama orang yang sama sekali tak kita cintai?


\* \* \*


Hari yang dinanti pun kini sudah di depan mata. Acara wisuda yang sudah terlaksana minggu lalu sudah dilewati dengan khidmat juga berjalan dengan lancar. Kini hanya tinggal menghitung jam pernikahan antara Azizah dan Ghibran, akan segera terlaksana.


Hiasan bunga juga segala pernak pernik pernikahan menghiasi setiap sudut di rumah Azizah. Kamar Azizah pun sudah dihias dengan seindah mungkin. Kini rumahnya sangat terlihat cantik.


Setiap orang pasti akan bahagia dihari pernikahannya. Apalagi jika menikahi orang yang dicinta. Lalu, bagaimana rasanya jika harus menikah dengan orang yang sama sekali tak kita cintai?


Itulah, yang kini dirasakan gadis berparas cantik, dengan mata yang sudah dihiasi bulu mata palsu yang sangat lentik. Azizah menatap dirinya pada sebuah cermin rias di kamarnya. Ia tatap dirinya yang kini sudah terpolesi make up. Bibir berwarna merah cabai, merah merona dipipinya menambah kecantikannya, juga sebuah siger dikepala semakin menambah aura kecantikan gadis itu.


Kebaya putih panjang menjulur nan cantik juga hijab yang menutupi dadanya. Membuat ia terlihat berbeda dari dirinya yang biasa. Kini, ia benar-benar tampil menawan dan Ayu di hari pernikahannya. Namun terlihat gurat kesedihan diwajah ayunya. Bulir hangat perlahan jatuh membasahi pipi mulus yang kini sudah terpoles make up tebal.


Rahma yang melihatnya, sedikit bingung. Yah, Rahmalah yang buat Azizah terlihat sangat cantik di hari spesialnya. Sengaja umi Azizah meminta Rahma untuk merias Azizah. Karena, kepandaian dan hasil kemarin yang membuat wanita paruh baya itu mempercayai Rahma untuk merias wajah Azizah. Tanpa harus menyuruh tukang rias.


"Kakak, nangis. Kenapa?" Rahma menatap wajah Azizah begitu lamat. "Aku tahu, kakak pasti menangis karena tangis bahagia kan?" sambungnya seraya tersenyum memperlihatkan lesung pipinya.


Azizah hanya tersenyum hangat, Rahma memeluk Azizah erat. Ia pun merasa bahagia atas pernikahan kakak sepupunya itu. Tanpa gadis itu tahu permasalah yang Azizah alami selama ini.


"Aku juga bahagi kak, sangat bahagia atas pernikahan kakak. Pernikahan kakak sudah di depan mata," ucap Rahma melepaskan pelukannya, seraya menghapus air mata yang hendak jatuh dimata dengan jari jemarinya.


Lagi lagi, Azizah hanya tersenyum dengan bulir hangat yang perlahan jatuh dipipinya. Lalu ia peluk kembali adik sepupunya itu. Yang kini sudah tumbuh dewasa dan sudah bisa menjadi wanita yang mandiri.


Aku tak tahu harus bahagia atau bersedih di hari pernikahanku ini, Ma. Karena hati ini pun tak merasakan kebahagiaan, melainkan rasa sakit.


Ujar Azizah dalam hatinya. Masih dalam pelukan Rahma.


"Kakak, tunggu di sini yah. Rahma mau siap-siap dulu." Rahma melepaskan pelukannya. Azizah hanya mengangguk pelan.


"Jangan menangis terus, nanti make up nya luntur," sambung Rahma sedikit menggoda, seraya pergi meninggalkan Azizah.


Azizah hanya memandang kepergian adik sepupunya itu. Hingga Rahma tak terlihat lagi keberadaannya.


"Andai, kamu tahu apa yang sebenarnya aku rasakan saat ini, Ma," ucap Azizah lirih memandang kepergian Rahma.


Di tempat lain, Ghibran tengah bersiap-bersiap. Kini ia terlihat sangat tampan juga gagah dengan jas berwarna hitam, dipadu padankan dengan kemeja putih polos di dalamnya, sebuah peci hitam menghiasi kepalanya.


Ghibran berdiri pada sebuah cermin panjang. Hingga terpampanglah seluruh tubuhnya dari atas hingga bawah. Ia pandangi dirinya yang sudah berpakaian rapi sebagai seorang calon pengantin.


"Azizah, hari ini sepenuhnya, sebentar lagi aku akan menjadi milikmu. Tapi, tidak dengan hatiku," ucap Ghibran pelan, menatap dirinya dicermin.


Krek ...


Suara pintu terbuka, terlihatlah di bibir pintu. Seorang wanita paruh baya dan seorang lelaki paruh baya tersenyum melihat ke arah Ghibran. Yah, mereka adalah Pak Haryo dan Umy Aminah, orang tua Ghibran. Ghibran menoleh dan tersenyum pada kedua orang tuanya. Mereka pun masuk menghampiri Ghibran yang masih berdiri di depan cermin.


"Putra umi sudah tampan dan rapi," ucap umi Ghibran tersenyum melihat putranya di depan cermin.


"Aby sangat bahagia nak, karena sebentar lagi kamu akan menjadi seorang suami. Jadilah Imam yang baik untuk istrimu kelak." Pak Haryo tersenyum seraya menepuk pelan bahu Ghibran.


Ghibran menoleh, menatap kedua orang tuanya silih berganti. Ia peluk sang Aby, dengan segala rasa yang berkecamuk dihatinya. Bulir hangat pun perlahan mulai menetes dari mata pria paruh baya itu. Rasa haru atas pernikahan putra satu-satunya itu kini menyelimuti kedua orang tua. Mereka pun berpelukan berdiri di depan cermin dengan segala rasa haru juga bahagia.


\* \* \*


"Sah.. sah.." ucap seorang penghulu, seraya masih berjabatan dengan seorang pria di hadapannya.

__ADS_1


"Sah." jawab orang-orang serempak.


"Alhamdulillahirabilalamiin."


penghulu itu pun memanjatkan sebuah do'a untuk sepasang pengantin baru itu. Acara akad nikah Azizah dan Ghibran berjalan dengan khidmat juga lancar. Semua orang yang berada di sana mendo'akan mereka berdua.


Suara hiruk pikuk terdengar hingga ke kamar gadis itu. Air matanya seketika luruh, setelah mendengar ijab qabul yang sudah diucapkan oleh Ghibran. Azizah masih berada di kamar, duduk di kursi riasnya ditemani oleh adik sepupunya, Rahma. Sengaja, ia tak duduk bersama Ghibran dibawah sana. Karena, sudah tradisi dikeluarganya ketika akad nikah berlangsung, sang mempelai wanita tidak boleh berada di samping mempelai laki-laki. Jadi, Azizah akan keluar jika sudah diperbolehkan, juga dijemput oleh uminya.


"Alhamdulillah," Rahma mengusap wajahnya dengan kedua tangan. "Selamat yah kak." Rahma langsung memeluk Azizah dengan penuh haru.


"Sekarang, kakak sudah sah menjadi istri Kak Ghibran," ucap Rahma bahagia seraya melepaskan pelukannya.


Azizah hanya terdiam, entah ia harus merasa bahagia atau bersedih untuk pernikahannya. Kini, gadis itu sudah sah menjadi istri Ghibran dan harus sepatutnya jika Azizah melupakan semua rasa yang selalu mengganjal dihatinya. Namun tak semudah itu. Semua yang sudah terjadi antara Ghibran dan Aisyah juga dirinya tak begitu saja bisa ia lupakan dengan mudah.


Gadis itu menarik nafasnya pelan untuk menetralisirkan hatinya yang sudah tak bisa digambarkan lagi seperti apa. Terlebih, Aisyah pun tak terlihat kehadirannya diacara pernikahan Azizah. Sudah jelas, Azizah tahu pasti Aisyah takan pernah sanggup untuk melihat ini semua dengan matanya.


Walau semalam, ia sempat berkomunikasi dengan baik bersama Aisyah. Namun, ia tahu betul saat ini Aisyah pasti sedang menderita juga sangat terluka. Dan, itu semua karena dirinya.


"Maaf," lirih Azizah, tertunduk memejamkan kedua matanya dengan bulir bening mulai jatuh membasahi kedua pipi.


Rahma yang melihatnya, sedikit bingung juga aneh. Kenapa kakak sepupunya itu terlihat sangat sedih setelah ijab qabul diucapkan. Mungkin itu yang ada dalam pikiran gadis cantik itu. Rahma merasa, ada yang berbeda dengan Azizah. Namun, ia hanya memandangi Azizah di hadapannya yang tengah bersdih. Menurutnya, ini bukan waktu yang tepat untuk menanyakan hal itu pada Azizah.


"Sudah, kak. Kak Azizah jangan menangis terus," ucap Rahma seraya menghapus air mata Azizah.


"Lihat, make up nya kan jadi berantakan. Kakak jangan nangis lagi, yah," sambung Rahma langsung memperbaiki riasan wajah Azizah agar tidak rusak, karena terus-terusan menangis.


Azizah hanya mengangguk pelan seraya tersenyum getir. Bukan kebahagiaan yang saat ini ia rasakan justru ada rasa sakit, bahkan sangat sakit diulu hatinya. Rahma melihat itu semua. Namun ia berusaha tetap bersikap biasa saja.


****


Aisyah pergi seorang diri, karena uminya sudah lebih dulu pergi menyusul sang ayah. Sedangkan Ayah Aisyah, sudah lama menetap di Negara yang terkenal dengan hewan kangurunya. Yah, Aisyah pergi ke Australia.


Perlahan, ia berhenti dari langkahnya. Memegang ponsel ditangan, lalu memandangi fhoto Azizah yang tengah mengenakan kebaya putih dibaluti hijab berwarna putih yang menutupi hingga dada di sosial media milik Rahma, yang tak lain saudara dari Azizah.


Seketika air mata gadis malang itu luruh, membasahi pipi hingga jatuh membasahi layar ponselnya. Ada rasa nyeri di ulu hatinya, entah apakah ia sanggup untuk menerima kenyataan ini.


"Kamu terlihat sangat cantik, Zah. Selamat Zah, untuk pernikahanmu dan Ghibran," lirih Azizah, menatap fhoto Azizah dilayar ponselnya.


Maafkan aku Azizah, bukannya aku tak ingin menghadiri hari bahagiamu. Tapi, sayangnya aku tidak cukup kuat untuk melihat kamu bersanding di pelaminan bersama Ghibran. Maafkan aku, karena aku pun tak sempat untuk memberikan kabar padamu. Aku memang bukan sahabat yang baik Zah. Maafkan aku, aku sungguh tak bisa, aku takan sanggup melihat kenyataan ini. Aku pamit Zah, aku akan pergi meninggalkan negara ini juga meninggalkan sahabatku dan cintaku yang kini sudah menjadi milikmu seutuhnya.


gumamnya panjang lebar dalam hati seraya menatap lurus, menahan rasa sakit dan air mata yang mulai jatuh dari netranya.


Aisyah mngusap kasar wajahnya, seraya menghapus air mata yang sejak tadi menghiasi wajahnya. Matanya juga sembab karena semalaman terus menangis.


Aisyah melanjutkan kembali langkahnya yang sempat terhenti. Kini Aisyah mantap untuk pergi dari negara yang sudah membesarkannya sedari kecil. Pergi meninggalkan cintanya yang tak bisa bersama. Pergi dengan segala rasa sakit yang ia rasakan, dengan rasa kecewa dan juga hancur. Aisyah pergi dengan membawa kepedihan juga cintanya.


\* \* \*


Krek ...


Terdengar suara pintu terbuka. Seorang wanita paruh baya, mengenakan kebaya berwarna gold dibalut hijab hingga menutupi punggungnya. Masuk, dan menghampiri Azizah juga Rahma. Azizah menoleh, menyambut kedatangan uminya dengan sebuah senyuman.


"Alhamdulillah, sekarang putri umi sudah sah menjadi istri dari seorang pria," ucap Fatimah seraya menangkup wajah putrinya di hadapan.


Azizah hanya tersenyum haru, air mata mulai menghiasa wajah cantiknya. Azizah langsung memeluk Fatimah, menangis menggugu. Rahma hanya tersenyum haru melihat adegan antara ibu dan anak di hadapannya.

__ADS_1


Aku tahu kak, tangisan kakak bukan karena tangis bahagia. Mata kakak tidak bisa berbohong. Sangat jelas dimata kakak, kalau kakak saat ini tengah bersedih. Tapi, kenapa? Kenapa kakak bersedih di hari bahagia kakak. Sungguh, aku tidak mengerti dengan apa yang aku lihat tadi.


Rahma berbicara dalam hatinya, seraya tersenyum bahagia.


"Sudah, sudah. Apa kedua wanita di hadapanku ini akan tetap berpelukan di sini?" celetuk Rahma, memecah keheningan yang sempat terjadi antara mereka sedari tadi.


Azizah melepaskan pelukannya, lalu tersenyum dan menghapus air matanya. Begitu pun dengan Fatimah, terlihat sangat bahagia dan juga terharu.


"Sudah kak, jangan menangis lagi. Suami kakak sudah menunggu di bawah, kakak harus tersenyum seperti ini," tutur Rahma, meletakan kedua jarinya di bawah bibir Azizah membentuk sebuah senyuman dan Azizah hanya tersenyum.


"Benar yang dikatakan Rahma, nak. Ayok, segera temui suamimu," ujar umi Azizah. Azizah hanya mengangguk pelan.


Mereka pun keluar dari kamar Azizah. Azizah tertunduk menuruni anak tangga satu persatu. Fatimah dan Rahma menemani dikedua sisi. Semua mata tertuju pada mereka, terutama pada Azizah, sang pengantin wanita.


Ghibran memandangi kedatangan Azizah dari kejauhan. Kali ini, pertama kalinya ia melihat Azizah sebagai istrinya dan memberanikan diri untuk melihatnya. Terlihat rasa kagum diwajah pemuda tampan itu saat memandangi Azizah. Terbukti, matanya tak mengedip sama sekali memandangi Azizah.


"Kenapa? Istrimu cantik, yah? Sampai kamu tidak berkedip memandangnya," goda sang Ayah yang duduk di samping Ghibran. Ghibran hanya diam dan langsung mengalihkan pandangannya.


Azizah duduk di samping Ghibran, Ghibran masih tertunduk. Tak berani jika harus menatap Azizah dari dekat. Walaupun kini mereka sudah sah menjadi suami istri. Entah, kini perasaannya tak menentu tatkala ia harus memakaikan cincin pernikahannya pada jari Azizah.


Tangan Ghibran gemetar saat memakaikan cincin itu. Begitu juga dengan Azizah, ia pun merasakan hal yang sama. Entah malu, grogi, atau ada perasaan lain selain itu.


Azizah mencium punggung tangan Ghibran setelah mereka bertukar cincin. Ghibran mendaratkan sebuah kecupan di dahi Azizah. Walau rasanya itu sangat berat dan sulit. Namun, ia berusaha untuk terlihat biasa. Kedua pengantin itu saling melempar senyum satu sama lain.


"Duh, pengantin baru. Jangan di sini dong kalau mau saling pandang," celetuk seorang tamu di sana, melihat adegan antara mereka berdua.


Azizah dan Ghibran buru-buru mengalihkan pandangan mereka. Rasa malu kini menghampiri mereka berdua. Acara selanjutnya mereka meminta restu kepada para orang tua.


Pernikahan adalah keinginan setiap orang. Menjalankan sunahnya Rasul, termasuk beribadah kepada Allah Swt. Lalu, bagaimana rasanya berdiri di altar pelaminan bersama orang yang tak kita cinta?


_______________________________________________


Kini, kedua pengantin baru itu tengah berdiri di altar pelaminan. Menyalami para tamu yang silih berganti, tak hentinya berdatangan mendo'akan mereka berdua. Sesekali Ghibran juga Azizah melemparkan sebuah senyuman.


Padahal, hati mereka kini tengah terluka. Bukan kebahagiaan yang dirasakan saat ini. Melainkan, rasa sakit yang harus ditutupi. Berpura-pura atas rasa, berusaha bersikap baik-baik saja di hadapan semua orang.


Pernikahan adalah keinginan setiap orang. Menjalankan sunahnya Rasul, termasuk beribadah kepada Allah SWT. Lalu, bagaimana rasanya berdiri di altar pelaminan bersama orang yang tak kita cinta?


Itu yang kini dirasakan oleh kedua mempelai. Ada rasa canggung di hati juga rasa tak nyaman. Ingin rasanya, pergi meninggalkan tempat itu. Namun, lagi-lagi tak banyak yang bisa mereka lakukan. Selain pasrah dan ikhlas.


Sesekali Azizah melirik ke sekeliling, seolah tengah mencari sesuatu. Seraya bersalaman dengan para tamu, curi-curi ia melihat lagi. Namun, wajahnya semakin terlihat redup bak lilin yang akan padam.


"Dia benar-benar tak ada di sini," lirih Azizah, terduduk lemah di kursi pelaminan.


Ghibran hanya memandang sekilas pada Azizah. Lalu ia duduk disamping gadis cantik itu. Dengan tatapan kosong, melihat sekelilingnya mulai sepi. Para tamu mulai pergi meninggalkan pesta pernikahan mereka.


Acara resepsi mereka pun selesai dan berjalan dengan lancar. semua tamu undangan pun kini sudah pulang meninggalkan kediaman mereka. Tinggal rasa lelah yang saat ini mereka rasakan, setelah seharian berdiri menjamu para tamu.


Azizah duduk di kursi riasnya, menatap dirinya di depan cermin. Perlahan, gadis itu melepaskan sebuah siger dikepala. Lalu, menghapus make up tebal yang menempel diwajahnya. Terpampanglah kini, wajah Azizah sebenarnya. Wajah yang tanpa riasan sedikitpun, namun tetap terlihat cantik alami.


Krek ...


Terdengar suara pintu terbuka dan masuklah seorang pemuda tampan yang kini sudah menjadi suaminya. Azizah tak bergerak sedikitpun mendengar kedatangan Ghibran. Bahkan, ia tak menoleh sekedar melihat kedatangan suaminya. Azizah hanya diam dan menundukkan kepala.


Ghibran duduk di tepi ranjang, sedikit berjauhan dengan Azizah. Perlahan, ia pun membuka jas hitam yang sejak tadi dikenakan. Lalu, membuka satu kancing baju bagian atas kemeja putih polos miliknya. Panas? Mungkin itu yang ia rasakan. Ghibran hanya terdiam tak menoleh sedikitpun pada Azizah yang kini sudah sah menjadi istrinya.

__ADS_1


Tak banyak kata yang keluar dari mulut mereka di malam itu. Padahal, ini adalah malam pertama mereka berdua. Yang katanya, malam yang dinanti-nanti. Namun, tidak dengan Ghibran juga Azizah. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Bergelut dengan perasaan yang masih mengganjal di hati.


__ADS_2