KEKASIH HALAL ( Sudah Terbit )

KEKASIH HALAL ( Sudah Terbit )
Bagian 18


__ADS_3

#POVGHIBRAN


Pagi ini, aku sudah terbangun dan tengah siap-siap untuk pergi bekerja. Badan pun sudah terasa enakan, tak mungkin aku terus berdiam diri di rumah. Tak biasanya, jam segini Aisyah masih tidur. Biasanya dia sudah bangun dan tengah disibukkan dengan pekerjaannya di dapur.


Kegiatan memakai dasi kuhentikan, karena aku rasa Azizah sedang tidak baik-baik saja. Dibalik kaca besar yang menempel di lemari, aku pandangi wanita itu. Ia masih tertidur. Tidak, bibirnya terlihat tengah gemetar. Ada apa dengannya? Kenapa Azizah? Itu yang kini aku pikirkan. Segera aku berbalik dan menghampiri Azizah.


"Zah, kamu baik-baik saja? Tumben, kamu masih tidur. Biasanya kamu sudah ada di dapur, Azizah."


Aku terus bertanya padanya, namun matanya tak mau terbuka. Aku mulai khawatir dengan Azizah. Apalagi melihat seolah dia tengah kedinginan. Akhirnya, kuberanikan diri untuk memegang dahinya dengan tangan.


"Astagfirullah, ya Allah panas sekali," ucapku terkejut dengan apa yang sudah aku rasakan.


"Sepertinya, kamu demam Zah. Ayok, kita berobat."


Aku hendak mengangkat tubuh wanita itu, namun mata Azizah perlahan mulai terbuka dan menatapku begitu lemah.


"Tidak usah, aku baik-baik saja," lirihnya pelan.


Sangat terdengar olehku, begitu lemahnya suara wanita ini. Dalam keadaan seperti ini, ia masih merasa baik-baik saja. Dasar aneh!


"Bagiamana mungkin, kamu berkata baik-baik saja, kamu demam Azizah. Ayok, kita ke Dokter."


"Aku baik-baik saja, Ghibran. Aku hanya kecapean, dengan istirahat sebentar pasti aku sudah pulih kok." Azizah tersenyum memandangku.


Dasar wanita aneh, untuk kesehatannya saja dia tidak perduli bagaimana dengan orang lain? Aku mulai kesal karena keegoisannya. Entah, dia merasa kuat atau tidak ingin menyusahkan aku mungkin. Entahlah.


"Kamu itu yah, lagi sakit aja tetep nyebelin. Dasar wanita aneh. Kamu harus pergi ke Dokter, sekarang!" ucapku menegaskan wanita egois ini.


"Aku baik-baik saja, Ghibran. Sungguh, lebih baik, sekarang kamu cepat berangkat. Nanti kamu telat lho."


Dalam situasi seperti ini, dia malah menyuruhku untuk tetap pergi bekerja. Ya Allah Azizah, wanita macam apa kamu ini. Aku tahu, aku memang belum menjadi suamimu seutuhnya. Tapi, sebagai lelaki yang bertanggung jawab tidak mungkin aku membiarkan istriku sendiri. Apalgi saat ini ia tengah sakit.


"Tidak, tidak. Saya tidak akan pergi ke kantor. Saya akan tetap di sini, menjaga kamu."


"Tidak usah Ghibran, aku tidak ingin merepotkan kamu."


"Merepotkan? Bukannkah saya ini suami kamu, Azizah. Jadi, sudah seharusnya saya merawat dan menjagamu di sini."


"Tapi Ghib ...."


"Tidak ada tapi tapi, hari ini saya tidak akan pergi ke kantor." Aku langsung memotong ucapan Azizah.


"Nanti saya akan memberi kabar pada asisten saya, agar dia dulu yang mengurus urusan kantor," sambungku menjelaskan.


Azizah hanya tersenyum lemah. Bibir pucatnya, mata sembab, sangat jelas terlihat olehku. Mungkin, karena terlalu banyak menangis, matanya begitu sembab. Aku tahu, ia masih memikirkan sahabatnya dan selalu menyalahkan dirinya sendiri. Padahal aku pun ikut andil dalam masalah itu.


Lelaki macam apa aku ini? Menyakiti dua orang wanita sekaligus. Aku memang mencintai Aisyah sejak dulu tapi itu dulu. Dan, saat ini aku sudah mulai melupakannya secara perlahan. Walaupun sangat sulit rasanya. Aku juga telah menyakiti Azizah, karena aku belum bisa menjadi seorang suami sepenuhnya.


Tanpa berganti pakaian, aku bergegas keluar kamar menuju arah dapur. Waktu masih kecil, kalau aku tengah demam umi selalu mengompresku agar panasnya turun. Apa salahnya, jika aku juga melakukan hal yang sama pada Azizah. Kenapa sepi? Oh aku lupa, umi dan aby ternyata sedang pergi ke luar kota dua hari yang lalu dan mungkin nanti sore baru akan kembali.


Baiklah, ini kali pertama aku merawat orang yang sakit. Yah, semoga saja bisa. Apa yang harus aku lakukan pertama yah? Oh iya, aku butuh sebuah wadah kecil untuk menyimpan airnya. Waduh, dimana aku bisa menemukannya? Sungguh, aku tidak begitu paham soal urusan dapur apalagi peralatannya. Dimana umi dan Azizah meletakannya?

__ADS_1


Akhirnya, kutemukan juga. Buru-buru, aku segera menuangkan air hangatnya dan melangkah pergi menuju kamar. Segera kukompreskan pada Azizah yang matanya kembali terpejam. Dan tiba-tiba ia membuka mata, mungkin karena air kompresa mulai terasa olehnya.


"Ghibran, apa yang tengah kamu lakukan?" tanyanya begitu lemah.


"Diamlah. Dulu, saat saya demam umi selalu mengompres saya, makanya saya juga melakukan hal yang sama."


"Kenapa kamu melakukannya, untuk apa?"


"Pake nanya lagi, yah supaya panasnya cepat turun. Memangnya kamu tudak ingin sembuh?" Azizah hanya tersenyum melihatku yang masih sibuk mengompresnya.


"Saya sudah pernah bilang bukan? Jangan terus memikirkan soal Aisyah, akhirnya kamu jadi sampe sakit seperti ini 'kan. Saya tahu, kamu merasa bersalah, tapi yang lalu biarkanlah berlalu Azizah."


"Aku hanya takut Aisyah tidak baik-baik saja, saat ini Ghibran. Karena aku tahu, dia sangat mencintai kamu. Pasti hatinya sangat hancur. Aku memang jahat! Sahabat macam apa aku ini." Azizah mulai kembali bersedih.


"Sudahlah, kamu jangan terus menerus menyalahkan diri sendiri. Lebih baik sekarang kamu tidur. Saya akan pergi keluar sebentar, untuk beli makanan."


Aku bangkit dari dudukku dan hendak melangkah. Namun, tiba-tiba Azizah menarik lenganku pelan.


"Terima kasih," ucapnya pelan seraya tersenyum. Aku hanya mengangguk lalu pergi meninggalkan Azizah. Tak lupa memperbaiki selimut yang menutupi tubuhnya terlebih dahulu.


Untuk pertama kalinya, aku measa khawatir yang sangat luar biasa pada Azizah. Ada apa dengan diriku ya Allah? Kenapa, aku begitu perduli padanya. Apa aku mulai jatuh cinta padanya? Entahlah, aku pun tidak mengerti.


Aku pergi ke luar membeli makanan untuk Azizah. Pasti, wanitu itu belum makan apa pun sejak pagi. Tidak butuh waktu lama, aku pulang dengan membawa makanan dan juga obat untuk Azizah.


Ternyata umi dan abi sudah pulang. Mereka menyambut kedatanganku. Tatapan mereka aneh, kenapa? Mungkin heran melihatku jam segini masih ada di rumah.


"Lho, nak, kamu sudah pulang?" tanya umi padaku seraya melirik makanan yang aku bawa.


"Sebenarnya, hari ini Ghibran tidak bekerja mi," jawabku pelan. "Azizah sakit, mi, bi."


Aku melihat umi sangat terkejut mendengar kabar bahwa Azizah sakit. Sesayang itu kah umi padanya. Aku hanya mengangguk, mengiyakan pertanyaan umi. Abi yang sedari tadi duduk di sofa Juga ikut berdiri.


"Azizah sakit apa, nak?" tanya abi padaku seraya menepuk pelan bahu ini.


"Dia demam bi, tadi badannya panas sekali." Aku tertunduk sedih. Entah, mengapa aku bisa merasa sesedih ini. Tak tega rasanya, melihat Azizah terbaring lemas.


"Apa kamu sudah memberikan Azizah obat, nak? Atau sudah dibawa ke rumah sakit?" Umy bertanya menggebu-gebu penuh kekhawatiran.


"Belum mi, ini saya baru mau ngasih dia makan sama obat," ucapku seraya menunjukkan plastik yang aku bawa.


"Tadi pagi, Ghibran sudah mengajak Azizah untuk pergi ke Dokter. Tapi, dia tidak mau. Wanita itu egois sekali, padahal kesehatannya sedang tidak baik," sambungku sedikit mulai kembali kesal, mengingat sikap Azizah tadi pagi.


"Yasudah, lebih baik sekarang kamu cepat beri Azizah makan dan obat. Nanti umi dan abi akan menyusul." Aku hanya mengangguk dan melangkah pergi.


Aku membuka knop pintu dan ternyata Azizah masih tertidur. Aku menghampirinya tanpa menutup pintu kembali. Duduk di sofa panjang tempat biasa Azizah tidur dimalam hari. Betapa jahatnya diriku, membiarkan Azizah setiap malam menghabiskan malamnya di atas sofa itu. Sedangkan, aku tidur diatas ranjang. Jahat sekali aku.


Kupandangi wanita itu yang kini terbaring lemah. Kasihan sekali dia, pasti karena terus memikirkan Aisyah. Aku tahu Zah, kamu merindukannya. Tapi, tolong jangan terus merasa bersalah.


"Tak tega rasanya, jika harus membangunkan wanita aneh itu," ucapku pelan memandang Azizah dari kejauhan.


"Pasti, kamu sangat kelelahan, sampai kamu harus jatuh sakit seperti ini." Aku terus memandang wanita yang tengah tertidur.

__ADS_1


Perlahan, Azizah membuka kedua matanya dan langsung menoleh padaku. Aku langsung menghampiri Azizah dan duduk di tepi ranjang, tepatnya disamping Azizah.


"Akhirnya, kamu bangun juga. Ayok, makan dulu habis itu minum obat."


"Kenapa, kamu tidak membangunkanku?" tanya Azizah seraya menatap wajahku.


"Tadi, tidurmu nyenyak sekali. Jadi, saya gak tega buat bangunkan," ucapku sedikit kikuk. Entah apa yang kurasakan. Melihat dia menatapku seperti itu, aku jadi salah tingkah begini. Ah, yasudahlah!


"Ayok, biar saya bantu." Aku membantu Azizah untuk bangun dari berbaringnya dan menjadi posisi duduk bersandar pada kepala ranjang.


"Sekarang, kamu harus makan." Aku mengambil bubur yang ada di atas nakas kecil yang baru saja kubeli tadi, lalu menyodorkan sesendok bubur pada Azizah, Azizah melahapnya dengan pelan.


Entah, ini hanya perasaanku saja atau bukan. Tapi, kumerasa saat ini, wanita ini tengah menatapku diam-diam sambil tersenyum-senyum. Kenapa dia? Lama, cukup lama dia terus memandangiku. Ah, bikin tengsin aja.


Aku mencoba memanggilnya, membuyarkan lamunan Azizah. Sangat jelas terlihat diwajahnya, terkejut? Tidak, tidak. Bukan hanya terkejut, tapi juga seperti salah tingkahm Ada apa dengannya? Aku hanya tersenyum lucu melihat tingkah istriku ini.


"Azizah, hey. Kamu kenapa?"


"Ha, tidak, aku tidak apa-apa kok." Azizah menjawab sedikit terbata-bata dan tersenyum kikuk.


"Yasudah, sekarang kamu minum obatnya dulu yah." Aku memberikan satu pil obat padanya. Gadis itu meraihnya dan mengambil satu gelas air yang kuberikan, lalu langsung meminum obat tersebut.


"Sekarang, kamu istirahat, biar cepat sembuh." Aku menyimpan kembali gelas dan obat itu. Tiba-tiba wanita itu memanggilku. Aku langsung menoleh padanya.


"Ghibran," panggilnya.


"Iya, ada apa Azizah? Apa kamu perlu sesuatu?" tanyaku sedikit bingung, Azizah hanya menggeleng.


"Terima kasih, karena kamu sudah mau merawat aku seperti ini." Azizah melempar senyum. Aku hanya mengangguk dan juga tersenyum. Ah! kupikir ada apa, ternyata cuma mau ngucapin terima kasih.


Kami berdua saling pandang dan tersenyum beberapa saat. Apa ini? Kenapa aku jadi betah memandangnya? Ya Allah, ada apa dengan hatiku?


"Nduk."


Ah! Sial. Kenapa umi harus datang diwaktu yang tidak tepat seperti ini. Aku menoleh dan langsung bangkit berdiri. Mempersilahkan umi untuk duduk di tempat yang kududuki tadi. Umi melangkah, menghampiri menantunya itu lalu duduk di samping Azizah.


"Maafkan umi yah nak, pasti kamu kecapean yah." Umi menggengam erat tangan Azizah. Aku melihat kekhawatiran yang teramat dalam di mats umi.


"Maafkan umi, karena beberapa hari ini kesehatan umi kurang baik sampai kamu harus mengerjakan pekerjaan rumah sendiri."


"Tidak umi, umi jangan menyalahkan diri umi. Ini semua salah Zizah, karena tidak bisa menjaga kesehatan diri sendiri." Azizah menggeleng cepat.


"Kamu ke Dokter saja yah, nduk."


"Tidak usah, umi. Azizah baik-baik saja, lagipula tadikan Zizah udah minum obat. Pasti, besok juga sudah sembuh."


"Yasudah, kamu istirahat yah nak."


Umi membantu Azizah untuk kembali berbaring dan menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Syafakillah sayang, menantu umi."

__ADS_1


Umi mengecup lembut dahi wanita itu dengan penuh kasih sayang. Azizah hanya memejamkan kedua matanya, merasakan kasih sayang dari umi.


Aku dan abi hanya tersenyum menyaksikan adegan mereka. Lalu melangkah pergi membiarkan Azizah untuk istirahat kembali. Terlihat, Azizah pun juga sudah mulai memejamkan matanya saat kami tinggal pergi. Semoga cepat sembuh Azizah.


__ADS_2