KEKASIH HALAL ( Sudah Terbit )

KEKASIH HALAL ( Sudah Terbit )
Bagian 15


__ADS_3

Azizah tengah berdiri di balkon kamar. Angin malam berhembus cukup kencang. Khimar berwarna hitam panjang yang ia kenakan terayun-ayun oleh hembusan angin. Gadis itu menatap lurus ke depan. Pikirannya masih teringat akan sahabat karibnya, yaitu Aisyah. Yang tak ada kabar lagi, bahkan disaat ia menikahpun gadis itu tak datang. Kemana dia? Itu yang selalu dipertanyakan oleh Azizah.


Bahkan nomor telepon-nya pun sudah tidak bisa dihubungi lagi. Apa alasan Aisyah menghilang? Tapi Azizah tahu betul, jika dirinyalah alasan menghilangnya Aisyah. Jika saja, pernikahan itu tidak terjadi. Mungkin, saat ini gadis itu masih bisa bersama dengan sahabat dekatnya itu. Tapi apalah daya, ia tak bisa menentang keingin orang tuanya. Walau harus mengorbankan hubungan persahabatannya yang kini sudah hancur.


Bulir bening berhasil meloloskan diri. Jatuh membasahi pipi gadis mungil itu. Ia terisak, mengingat semua yang sudah terjadi. Tapi, nasi sudah menjadi bubur semuanya tidak mungkin bisa kembali seperti sedia kala.


"Andai saja, aku bisa menolak perjodohan itu. Maafkan aku Aisyah. Aku memang bodoh! Ini semua kesalahanku, maafkan aku." Azizah merutuk dirinya sendiri dengan air mata yang terus mengalir.


"Kamu kemana Syah? Kenapa kamu menghilang bak ditelan bumi. Bahkan, berpamitan padaku saja tidak. Kamu kemana? Aku merindukanmu." Gadis itu terus menangis seraya memandang fhoto kebersamaan dirinya dengan Aisyah di dalam galeri ponselnya.


Tanpa gadis itu sadari, ternyata Ghibran sudah datang dan tengah berdiri memandanginya dari belakang. Pemuda itu hanya terdiam merasa iba melihat Azizah bersedih. Ia pun sama terpuruknya dengan Azizah. Karena harus merelakan orang yang ia kagumi selama ini, yaitu Aisyah. Sahabat dari wanita yang kini menjadi istrinya.


Bahkan, Ghibran juga sama penasarannya. Kenapa Aisyah pergi tanpa berpamitan sebelumnya. Sebegitu hancurkah, gadis itu? Sebegitu terlukanya kah dia? Hingga harus pergi dan menghilang.


Tak terasa, air mata pun jatuh dari mata besar milik pemuda itu. Ia biarkan air mata itu terus membasahi pipinya sembari masih memandangi Azizah. Azizah masih belum menyadari kehadiran Ghibran di sana. Rasa bersalah kini semakin mendera diri Azizah. Ia merasa dirinya adalah orang pertama yang sudah menghancurkan sahabatnya sendiri.


"Ya, Allah," lirih Azizah seraya tertunduk lemah.


Ghibran menyapu air matanya yang semakin deras mengalir. Perlahan, ia langkahkan kaki mendekati Azizah yang masih tertunduk menggugu.


"Saya tahu, pasti kamu sedang memikirkan Aisyah," ucap pemuda itu seraya menatap lurus dan menyimpan kedua tangannya di atas pagar.


Azizah mengangkat wajah yang sudah basah oleh air mata dan mencoba menghapus air matanya, lalu menoleh pada Ghibran yang masih menatap ke depan.


"Ini semua salahku. Kalau saja, pernikahan ini tidak terjadi pasti Aisyah masih ada bersama kita." Azizah terus menyalahkan dirinya penyebab perginya Aisyah.


"Jangan terus menerus menyalahkan dirimu sendiri, ini juga salah saya. Kalau saja saya bisa menolak perjodohan kita. Mungkin, semuanya tidak akan jadi seperti ini." Ghibran menarik nafas kasar.


"Tapi, semua sudah terjadi. Tidak ada yang harus disesali dan merasa bersalah. Kamu tidak sepenuhnya salah Zah, saya juga salah. Orang tua kita juga salah karena terlalu memaksakan putra putrinya.


Tapi, perlu digaris bawahi. Allah sudah menakdirkan kita untuk bersama. Yah, walaupun saat ini kita belum bisa saling mengasihi. Saya juga sama terlukanya seperti Aisyah. Tapi, saya lebih berlapang dada dan, mungkin Aisyah belum cukup kuat untuk menerima semua kenyataan ini secara dewasa," sambung Ghibran panjang lebar.


"Sudah malam, lebih baik kamu cepat tidur. Tidak baik jika masih diluar malam-malam. Angin malam tidak bagus untuk kesehatan."


Ghibran menepuk pelan bahu Azizah, gadis itu hanya menatap tangan Ghibran yang tengah menepuk bahunya. Lalu Ghibran pergi meninggalkan Azizah.


Azizah hanya menatap sendu kepergian Ghibran masuk ke dalam kamar. Tanpa ia sadari, Gadis itu mengulas senyum di bibirnya terus memandangi kepergian pemuda itu. Mungkinkah gadis itu mulai merasakan perasaan berbeda pada suaminya?


Azizah sudah tertidur di sofa panjang berwarna abu-abu yang berada tidak jauh dari tempat tidur Ghibran. Wajahnya lesu, mungkin karena habis menangis hingga ia kelelahan dan tertidur dengan pulas.


Sementara Ghibran masih terjaga, ia belum bisa memejamkan matanya. Teringat akan kejadian tadi yang ia lihat. Melihat Azizah menangis mengingat Aisyah membuat pemuda itu pun semakin terluka.


Mereka memang sudah menikah. Namun, tidak seperti kebanyakan para pengantin baru ataupun sepasang suami istri lainnya. Mereka tidur secara terpisah, Ghibran yang tidur di ranjang miliknya dan Azizah tidur disebuah sofa panjang.


Terlebih, karena memang pernikahan mereka terjadi karena perjodohan. Dan tak ada rasa apapun, baik Azizah atau pun Ghibran. Ghibran yang mengagumi sosok Aisyah dan Azizah yang menyukai Fahmi. Namun, semua itu hancur untuk menuruti permintaan juga keinginan orang tua.


Ghibran menyandarkan kepalanya pada kepala ranjang. Ia menatap lurus ke depan, memikirkan Aisyah yang tiba-tiba menghilang. Kemana gadis itu pergi? Mungkin itu yang sedang ia pertanyakan. Pemuda tampan itu mengusap wajahnya kasar seraya mengembuskan nafas. Matanya melirik pada Azizah yang sudah tertidur pulas di sofa. Ia amati wajah Azizah yang tengah tidur dan terlihat nyenyak sekali. Namun, tak ada selimut yang menutupi gadis itu.


Ghibran melangkah membawa sebuah selimut dan mendekati Azizah yang tengah tertidur pulas. Lalu, ia tutupi selimut itu pada tubuh Azizah hingga menutupi leher gadis cantik itu. Lalu, Ghibran kembali melangkah menuju tempat tidurnya. Namun, ia tidak langsung tertidur. Malah kembali menatap Azizah dari kejauhan.


"Aku tahu, kamu pasti merasa bersalah atas kepergian Aisyah, Zah. Tapi, aku juga pun sama bersalahnya sepertimu dan aku sangat terluka Zah. Pernikahan ini memang tidak salah tapi kita yang salah. Harusnya, aku tak mengagumi Aisyah sedalam ini. Mungkin rasanya tidak akan sesakit ini. Harusnya aku tak mencintai wanita yang bukan jodohku. Saat ini, aku memang belum bisa mencintaimu dan aku juga tidak tahu apakah aku bisa mencintaimu?"


Ghibran bersenandika sembari masih terus memandangi Azizah yang tengah tertidur. Pemuda itu pun membaringkan tubuhnya lalu perlahan memejamkan mata, dan tertidur.


Ke esokkan harinya, tepat pukul 04:35 Azizah terbangun dari tidurnya. Ia terkejut melihat selimut sudah menutupi tubuhnya. Seingat gadis itu, semalam ia tak memakai selimut. Lalu siapa yang memakaikan selimut itu? Azizah langsung menoleh ke arah Ghibran yang masih tidur.


"Mungkinkah, lelaki menyebalkan itu?" Batin Azizah berkata seraya terus memandangi Ghibran.


Gadis itu pun bangun dari sofa lalu langsung melipat selimut itu. Azizah melangkah menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu karena waktu subuh sudah tiba.


Tanpa membangunkan Ghibran, ia mengerjakan shalat subuh sendiri. Ditahiyyat terakhir Ghibran terbangun dan melihat Azizah yang tengah shalat. Azizah menengok ke sebelah kanan lalu kiri dan melafadzkan do'a.


"Yaa Rabbku, hanya kepada-Mu hamba meminta pertolongan. Tolong tunjukkanlah dimana Aisyah berada. Kembalikan lah dia ya Allah. Hamba tahu, hamba salah karena sudah menyakiti dua orang sekaligus. Berikanlah ketabahan di hati Aisyah, lindungilah dirinya dimanapun berada. Aamiin, ya rabbalalamiin." Azizah mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya.


"Kenapa kamu tidak membangunkan saya?" Suara Ghibran mengejutkan Azizah yang tengah terdiam. Gadis itu menoleh pada Ghibran yang sudah berdiri di sampingnya.


"Maaf, tadi aku lihat tidur kamu nyenyak sekali. Makanya, aku gak tega buat banguninnya," ucap Azizah pelan.


"Haduhh, inikah udah subuh sebentar lagi pagi. Harusnya, kamu bangunkan saja saya. Kalau seperti ini, bisa-bisa saya kesiangan," gerutu Ghibran seraya melangkah pergi menuju kamar mandi.


Azizah hanya tercengang melihat reaksi Ghibran. Yang memarahi dirinya karena tidak dibangunkan.


"Kayaknya, lelaki itu kumat lagi deh. Masa gara-gara gak dibangunin ampe marah-marah gitu. Kumat lagi ini mh, nyebelinnya. Dasar lelaki menyebalkan! Enak saja main marah-marahin aku. Belum tau dia, siapa aku. Emang dia pikir, dia itu siapa? Aby sama umy saja tidak pernah semarah itu memarahiku. Menyebalkan!" kesal Azizah, masih menatap pintu kamar mandi.


"Astagfirullahaladziim, sabar Azizah sabar. Lelaki itu sekarang sudah menjadi suami kamu. Kamu harus nurut sama dia dan jangan melawan. Lah, emang kenapa kalau aku lawan? Dia juga salah kok, marahin aku seenaknya," sambung gadis itu seraya bangkit dari duduknya.


Ghibran telah selesai dalam ritual mandinya. Ia keluar dari kamar mandi sambil menggosok-gosok rambutnya yang tengah basah. Tak seperti biasanya, jika selesai mandi hanya mengenakan handuk yang dililitkan pada pinggangnya. Pagi ini, pemuda itu justru sudah mengenakan kaos polos hitam dengan celana selutut berwarna cream. Mungkin, takut kejadian kemarin akan terjadi lagi. Saat Azizah melihat dirinya hanya bertelanjang dada.


Walaupun mereka berdua sudah menikah namun belum sepenuhnya menjadi sepasang suami istri seutuhnya. Karena masih ada jarak dan larangan diantara mereka, tentunya mereka sendiri yang membuatnya. Lucu memang kedengarannya.


Perlahan Ghibran melangkahkan kaki, matanya melihat ke sekeliling. Seoalah ia tengah mencari sesuatu. Yah, pemuda itu tengah mencari keberadaan Azizah. Namun, ia tak melihat Azizah di sana lagi.


"Kemana, wanita cerewet itu pergi?" ucap Ghibran seraya celingak celinguk. Berhenti menggosok rambutnya.


"Apa, jangan-jangan dia marah lalu kabur. Karena tadi aku habis memarahinya? Ah, tidak mungkin. Yasudahlah, lebih baik sekarang aku shalat dulu."


Ghibran pun mengambil baju koko di dalam lemarinya, lalu mengenakan koko itu. Dan langsung mengerjakan kewajibannya sebagai seorang muslim yaitu, shalat fardhu subuh.


Azizah tengah berada di dapur seorang diri. Setelah ia selesai shalat subuh tadi, gadis itu langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Tak enak rasanya, jika harus umi mertuanya yang terus menerus menyiapkan sarapan. Sedangkan dirinya tak sedikit pun membantu. Menantu macam apa dia ini? Mungkin itu yang ada di benaknya.


Azizah asyik memasak sarapan pagi, mulai dari memotong-motong sayuran, menggoreng ikan juga telur. Bukan hal yang sulit baginya, karena ini sudah biasa ia lakukan di rumahnya sendiri. Senyum sumringah menghiasi wajah ayunya yang tengah fokus memasak.


Ghibran keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga satu persatu dengan kepala sedikit tertunduk. Hingga anak tangga terakhir, ia mengangkat wajah tampannya dan melihat Azizah tengah berada di dapur seorang diri.


"Sedang apa wanita cerewet itu, di dapur?" ujar Ghibran sedikit penasaran.

__ADS_1


Pemuda itu pun melangkah menuju dapur. Ia berjalan mendekat ke arah Azizah, dan berdiri tepat di belakang Azizah yang tengah mondar-mandir mengerjakan pekerjaannya.


"Sedang apa kamu di sini?" tanya Ghibran sedikit mengejek.


Mengetahui Ghibran berada di sana, Azizah hanya bersikap biasa saja bahkan nampak terlihat cuek padanya. Tak sedikit pun berusaha untuk menoleh pada Ghibran. Mungkin, masih kesal terhadap Ghibran karena sudah memarahinya subuh-subuh.


"Apa, kamu tidak bisa lihat? Aku sedang apa di sini?" Azizah balik bertanya dengan cuek.


"Memangnya, kamu bisa masak? Nanti, palingan yang ada masakannya asin," ledek pemuda tampan itu seraya terkekeh.


"Enak saja! Aku bisa masak, asal kamu tahu, yah!" ucap Azizah kesal sembari menoleh ke arah Ghibran.


"Oh, ya? Kamu yakin masakan kamu itu, akan enak?" tanya Ghibran tak percaya, sedikit mendekatkan wajahnya pada wajah gadis itu.


Entah apa yang tengah dirasakan Azizah. Mendapat perlakuan itu ia hanya bisa terdiam dan menatap wajah Ghibran yang seolah sedang mengejeknya. Kini, dadanya terasa berdetak lebih kencang dari biasanya. Entah apa yang tengah gadis itu rasakan saat ini. Perasaan cintakah atau hanya perasaan terkejut. Kini mereka saling pandang satu sama lain.


"Hah, yakinlah!" Azizah memalingkan wajahnya, membelakangi Ghibran dan sedikit memberi jarak antara mereka.


"Aku yakin, pasti masakan aku enak," sambungnya dengan mantap. Ghibran hanya tersenyum mengejek gadis itu.


Karena asyik berdebat dengan Ghibran. Azizah lupa, jika ia tengah menggoreng telur dadar. Dan terciumlah bau gosong makanan di hidung kedua insan itu.


"Kok, bau gosong yah?" tanya Azizah seraya mengendus-endus hidung.


"Iya," balas Ghibran.


"Astagfirullahaladziim! Telurnya." Azizah langsung teringat akan telur yang tengah di goreng. Lalu langsung membalikkan tubuhnya.


Azizah langsung mematikan kompor, namun telur dadar buatannya sudah gosong, berwarna hitam layaknya arang.


"Yah, gosong," lirih gadis itu mengangkat telur yang sudah gosong masih di wajan. Azizah langsung menoleh pada Ghibran yang sudah terkekeh geli.


"Ini semua gara-gara kamu," pekik Azizah, menyalahkan Ghibran.


"Lah, kok malah nyalahin saya."


"Iyalah, kalau kamu tidak datang ke sini dan gak ngajak aku berdebat. Pasti telurnya gak bakalan gosong."


"Goreng telur aja gosong, katanya bisa masak," ledek Ghibran seraya tertawa.


Azizah merasa kesal atas sikap Ghibran yang mentertawakan dirinya terus menerus. Ia geram, wajahnya kini sudah merah padam bak api yang tengah menyala-nyala.


"Kamu, ini yah!" pekik Azizah kesal.


"Kabuuuur!" Ghibran langsung berlari meninggalkan Azizah.


Azizah hanya memandang kepergian pemuda itu dengan rasa kesal di hatinya. Lalu, ia kembali menyelesaikan masakannya. Tanpa sepengetahuan mereka, ternyata Pak Haryo dan Umi Aminah tengah mengawasi mereka dibalik tembok. Mereka tekekeh melihat kelakuan pengantin baru itu.


"Lihat, by. Lucu sekali yah, mereka berdua," ucap umi Aminah.


"Ah, aby. Semoga saja, mereka bisa cepat saling mencintai, yah by?"


"Aamiin. Kita berdo'a saja my."


Mereka pun pergi meninggalkan tempat itu. Sementara Azizah masih fokus menyelesaikan masakannya. Walau rasa kesal masih menyelimutinya karena kelakuan Ghibran tadi. Terpaksa ia harus membuat telur dadar kembali.


\* \* \*


"Lho, nduk. Masih pagi sudah ada di dapur," ucap Umi Aminah menghampiri Azizah yang masih sibuk memasak.


"Iya mi, Azizah sedang membuat sarapan." Azizah menoleh pada umi mertuanya.


"Kenapa tidak membangunkan umy?" tanya umy Aminah.


"Tidak apa my, inikan sudah tugasnya Zizah. Lagipula, tidak enak kalau umi terus yang buat sarapan. Sekarang kan ada Azizah." Azizah tersenyum pada Umy Aminah.


"Hmm, yasudah. Sekarang kamu bersih-bersih dulu gih. Biar umi yang beresin ini semua."


"Tapi, mi ...." Belum sempat Azizah melanjutkan ucapannya, umi Aminah langsung memotong ucapan Azizah.


"Tidak ada tapi-tapian. Ayok, gih sana."


"Tapi mi. Tidak apa-apa mi, biar Zizah saja yang menyelesaikannya."


"Biar umi saja, tidak apa-apa. Sebentar lagi siang, kamu juga kan harus menyiapkan perlengkapan untuk suamimu kerja, nak."


"Ah, iya. Yasudah, kalau begitu Zizah bersih-bersih dulu yah mi."


Umi Aminah hanya mengangguk seraya tersenyum dan Azizah pun pergi meninggalkan dapur. Azizah masuk ke dalam kamar, dan mendapati Ghibran masih tertidur di ranjang.


"Apa! Dia tidur? Setelah apa yang tadi dia lakukan, enak sekali dia tidur. Lihat saja nanti, akan ku beri pelajaran!" Azizah mengambil handuk sedikit melirik pada Ghibran lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Ghibran membuka matanya lalu terkekeh pelan mendengar penuturan yang Azizah tadi katakan.


"Lihat saja nanti, akan ku beri pelajaran. Hahaa, dasar gadis cerewet." Ghibran menirukan ucapan Azizah lalu ia terkekeh kembali.


"Oh tidak! Kenapa aku bisa sebahagia ini? Kenapa, rasanya bahagia sekali membuat gadis itu merasa jengkel? Sungguh, aku tak mengerti," sambungnya merasa kejanggalan di hati.


Krek ...


Suara pintu dibuka terdengar dan keluarlah sosok gadis berparas ayu. Ghibran langsung pura-pura tidur kembali dan kini ia membalikkan tubuhnya membelakangi Azizah. Azizah yang sudah memakai sebuah gamis berwarna cream dibalut dengan hijab menutupi dadanya, duduk di meja rias. Gadis itu sengaja memakai gamis di kamar mandi. Karena, ia tahu betul di dalam kamar masih ada Ghibran.


Azizah menaburkan bedak bayi pada telapak tangannya lalu memoleskan pada wajah ayunya. Sedikit lipstik berwarna coklat keorangean menghiasi bibir mungilnya. Entah, sejak kapan ia mulai memakai lipstik di bibirnya. Terakhir, ia oleskan minyak telon untuk bayi lalu meratakan pada leher jenjang yg selalu ditutupi oleh hijab.


Diam-diam, Ghibran mengintip dibalik selimutnya. Matanya melihat Azizah yang tengah duduk di kursi rias. Sesekali Azizah sedikit menoleh padanya. Lalu, buru-buru pemuda itu berpura-pura tertidur kembali.

__ADS_1


Azizah bangkit dari duduknya lalu melangkah menuju lemari besar terbuat dari kayu jati berwarna coklat tua. Dengan motif bunga-bunga, mempercantik tampilan lemari milik Ghibran. Perlahan, gadis itu membuka pintu lemari dan mengeluarkan sebuah kemeja polos berwarna abu-abu. Lalu, ia letakan kemeja itu di atas kasur. Tidak lupa, celana hitam berbahan katun diletakan juga di sana. Dan, gadis itu pun pergi keluar dari kamar.


Setelah kepergian Azizah, Ghibran bangun dan menanggalkan selimut yang menutupi tubuhnya. Ia tatap kemeja dan celana yang sudah disiapkan oleh Azizah. Sebuah senyuman tersungging diwajahnya.


"Walaupun, kita belum benar-benar menjadi suami istri seutuhnya. Tapi, Azizah tidak lupa dengan kewajibannya. Ya Allah, bisakah aku melupakan Aisyah dan berusaha mencintai Azizah?"


Ghibran menarik nafasnya kasar seraya masih menatap kemeja dan celana di atas kasur miliknya.


Sementara itu, Azizah tengah sibuk menyiapkan sarapan pagi. Gadis itu menata tiap makanan yang ia bawa di dapur dibantu oleh umi mertuanya. Sangat telaten, melakukan pekerjaan itu, seulas senyum menghiasi wajahnya.


"Sudah beres nak?" tanya sang umi mertua.


"Sudah, mi," jawab Azizah menyimpan tumpukan piring di atas meja makan.


"Wah, sarapannya sudah jadi." Pak Haryo datang dan langsung duduk.


"Panggilkan suamimu, nak," titah umi Aminah.


"Nggih, mi."


Belum sempat Azizah melangkah, Ghibran sudah lebih dulu datang dan langsung duduk di kursi.


"Sobahul khoir by, My, Zah," sapa Ghibran, sedikit menoleh pada Azizah. Azizah hanya terdiam.


Apakah ia salah dengar, ada angin darimana pemuda itu juga menyapa dirinya. Gadis itu hanya terdiam setelah mendengar sapaan dari Ghibran. Sebenarnya, itu hal yang wajar. Tapi, entah kenapa baginya sapaan itu sangat berbeda. Entah apa yang tengah Azizah rasakan saat ini. Tapi, yang pasti saat ini ia sedikit merasa bahagia.


"Lho, kok malah melamun." Ucapan Umi Aminah membuyarkan lamunan Azizah yang sedari tadi hanya terdiam.


"Bo, ya cepet dilayani toh nduk, suami mu," sambung wanita sedikit paruh baya itu.


"Ha, iya mi."


Buru-buru Azizah langsung melayani Ghibran. Mulai dari menyimpan nasi di piring dan mengambilkan lauk pauknya.


"Ayok, nak. Ikut sarapan," ajak Pak Haryo, seraya memasukan makanan ke dalam mulutnya.


"Iya, by." Azizah manut akan perintah aby mertuanya, ia langsung duduk di samping Ghibran. Dan langsung ikut makan.


"Oh, iya. Sarapan ini, semua Azizah yang masak lho by," tutur umi Aminah.


Mendengar penuturan dari umi mertuanya Azizah hanya terdiam dan makan. Sedang Ghibran, ia fokus memakan makanan di piringnya.


"Oh, yah? Pantas rasanya berbeda."


"Kenapa by? Masakan azizah tidak enak yah?" tanya Azizah sedikit gusar.


"Oh, tidak, tidak. justru, ini sangat enak sekali," jawab Pak Haryo seraya tersenyum, umi Aminahpun ikut tersenyum.


"Alhamdulillah, kalau umi sama aby suka sama masakan Zizah." Azizah tersenyum.


"Ohok.. Ohok.." Ghibran terbatuk-batuk, Azizah langsung memberikan segelas air pada Ghibran. Ghibran langsung meneguknya.


"Bo, ya hati-hati to lek, makannya," ucap Umi Aminah.


"Iya, kamu ini seperti anak kecil saja." Pak Haryo menimpali ucapan istrinya.


Azizah yang melihatnya sedikit terkekeh pelan. Melihat wajah pemuda itu yang sudah merah padam menahan rasa pedas. Sengaja gadis itu memberikan bumbu cabai agak banyak pada makanan milik Ghibran. Gadis itu tak kuasa menahan tawanya, ia menutup mulut dengan kedua tangannya.


"Kamu, kenapa lek?" tanya Pak Haryo.


"Tidak by, Ghibran tidak apa-apa. Hanya saja, makanannya sedikit pedas," tutur Ghibran melirik Azizah. Azizah hanya menahan tawanya melihat reaksi Ghibran.


"Pedas apanya, wong ini gak ada yang pedas, nak," sanggah sang umi.


"Mungkin, lidah Ghibran yang salah mi. Yasudah, Ghibran berangkat dulu." Ghibran bangkit berdiri, sedikit menoleh pada Azizah. Azizah masih menahan tawanya.


"Assalamualaikum," Ghibran mencium tangan kedua orang tuanya lalu pergi berlalu meninggalkan tempat itu.


Azizah mengikuti dari belakang dengan membawa tas kerja milik Ghibran. Tanpa pemuda itu ketahui.


"Ghibran, tunggu." panggil Azizah, Ghibran terhenti dari langkahnya lalu menoleh tanpa berkata apa-apa. Azizah langsung menghampiri Ghibran yang sudah ada di teras depan.


"Ini, tas kamu ketinggalan." Azizah menyodorkan sebuah tas hitam ke hadapan Ghibran.


"Terima kasih." Ghibran meraih tas itu lalu kembali melangkah. Namun, seperkian detik, ia menoleh kembali pada Azizah.


"Saya, tahu. Tadi pasti ulah kamu kan?" tuduh Ghibran.


"Maksud kamu?" Azizah pura-pura tidak tahu.


"Iya, kenapa makanan saya bisa pedas sedangkan yang lainnya tidak."


"Itu, balasan karena kamu sudah mengganggu aku tadi pagi."


"Ha, benar kan saya bilang. Kamu memang yang melakukannya. Dasar gadis menyebalkan! Lihat saja nanti, kamu akan dapat balesannya."


"Aku gak takut!"


"Kamu belum tahu, siapa Ghibran." Ghibran melangkah pergi berjalan menuju mobil.


"Aku gak takut!" teriak Azizah.


"Dasar gadis menyebalkan!" Ghibran tak kalah berteriak seraya masuk ke dalam mobil.


"Kamu yang lebih menyebalkan. Dasar lelaki menyebalkan!" Azizah kembali berteriak. Ghibran sudah pergi melaju dengan mobilnya.

__ADS_1


"Ini, baru permulaan Ghibran. Makanya jangan macam-macam, sama Azizah." Azizah tersenyum lalu masuk ke dalam rumah.


__ADS_2