KEKASIH HALAL ( Sudah Terbit )

KEKASIH HALAL ( Sudah Terbit )
Bab 24


__ADS_3

Ditengah heningnya malam, seorang wanita berparas cantik dan hidung mancung menambah kecantikannya. Hijab panjang menjulur menari-nari diterpa sang angin malam. Waktu sudah menunjukkan dini hari. Namun, wanita itu masih terjaga berdiri di balkon kamarnya.


''Ghibran, apa kabarmu? Apa kamu sudah sembuh? Aku berdo'a kepada Allah, agar kamu cepat diberi kesembuhan. Semoga Allah mendengar semua do'a-do'aku. Ada Azizah yang akan menjaga dan merawatmu di sana. Aku yakin, dia pasti merawatmu dengan baik." Wanita itu tersenyum menatap bintang-bintang di langit yang indah.


''Azizah, maafkan aku. Maaf, karena aku harus pergi dari hidupmu. Lemah sekali aku ini, sungguh aku tak bisa melihat kebersamaan kalian berdua. Mungkin aku akan berdosa karena masih saja memikirkan dan mencintai seorang lelaki yang sudah menjadi suami orang." Wanita itu mengembuskan napas pelan seraya memejamkan kedua netranya sesaat, lalu kembali membukanya lagi.


"Tapi, aku bisa apa? Semakin mencoba untuk melupakannya perasaan itu malah kian nyata. Ya Allah, apakah aku salah mencintai? Jika memang salah, mengapa Engkau masih menitipkan rasa itu di hati ini hingga sekarang, kenapa?" lirihnya menjatuhkan tubuh ke atas lantai, tertunduk lemah. Bulir hangat sudah menganak sungai dinetranya.


Harus merelakan seseorang yang dicinta untuk sahabatnya sendiri, itu jauh lebih menyakitkan. Wanita itu harus apa? Saat ini hatinya juga terluka bukan? Tapi, tidak mungkin jika dirinya harus mengambil yang sudah menjadi milik orang lain. Ia hanya mencintai namun tak bisa memiliki. Tapi, sampai kapan dirinya harus tersiksa dengan perasaan itu? Entahlah.


* * *


Ghibran sudah siap dan rapi dengan mengenakan kaos berlengan panjang warna abu-abu tua. Pemuda itu tengah duduk di teras rumahnya menunggu Azizah yang masih merias diri di kamar. Ya, rencananya hari ini mereka akan mencari Aisyah. Ghibran yang terus meminta Azizah untuk cepat mencari keberadaan wanita itu.


"Lama sekali, dasar ya wanita, dandan aja lama banget," gerutu Ghibran seraya melihat jam ditangannya.


"Ayok, aku sudah siap."


Azizah sudah berdiri di hadapannya. Betapa terkejutnya pemuda itu. Ghibran terdiam, terpaku dengan penampilan Azizah pagi itu. Gamis syar'i dengan kerudung panjang hingga pinggang menambah kecantikan wanita itu.


Ghibran hanya terdiam terus memandangi penampilan Azizah tanpa berkedip sedikit pun.


Azizah bingung, sedikit mengernyitkan dahi melihat dirinya dari atas sampai bawah. Apa ada yang salah dengan tampilannya hari ini? Mungkin itu yang ia pikirkan.


"Ghibran, hello." Azizah melambaikan tangannya di depan wajah Ghibran. Namun, tetap saja pemuda itu masih asyik memandanginya. "Ghibran, hey, apa kamu mendengar aku?" Azizah bertepuk tangan cukup keras di hadapan pemuda itu. Terkejut, Ghibran akhirnya baru tersadar.


"Ha, ii—iya, kenapa?" tanya Ghibran langsung mengalihkan pandangannya.


"Kamu yang kenapa? Kenapa melihatku seperti itu, tadi?" Wanita itu sedikit memajukan dagunya seraya menengadahkan telapak tangan ke samping.


"Ah, tidak."


"Hmmm."


"Yasudah, ayok berangkat. Udah siang," ajak Ghibran berjalan menuju mobilnya. Azizah mengekori di belakang pemuda itu.


Azizah berjalan sedikit menunduk tiba-tiba, pemuda itu menghentikan langkahnya sontak Azizah menabrak tubuh Ghibran dari belakang hingga tak sengaja wanita itu melingkarkan kedua tangannya dipinggang Ghibran.


"Aduh," ringis Azizah. "Kamu itu apa-apaan, sih berhenti mendadak seperti tadi."Wanita itu melihat ke arah depan dan terkejut. Kini, dirinya tengah memeluk Ghibran dari arah belakang.


Azizah hanya melongo melihatnya begitu juga dengan Ghibran. Ghibran menoleh pada Azizah, wanita itu langsung menoleh pada pemuda itu. Mereka terdiam beberapa saat saling pandang satu sama lain.


"Maaf." Azizah langsung mengalihkan pandangan dan melepaskan pelukannya.


"Saya yang minta maaf karena sudah berhenti mendadak," ucap Ghibran mengakui kesalahannya.


Mungkin, jika pemuda itu sedang tidak hilang ingatan pasti akan marah-marah atau menggoda Azizah tapi ini tidak. Benar-benar semuanya terasa berbeda bagi Azizah. Wanita itu merindukan sikap Ghibran yang menyebalkan.


"Yasudah, ayok."


Mereka pun kembali melanjutkan langkah menuju mobil lalu masuk ke dalam mobil dan melaju pergi. Diperjalanan, tak ada oborolan apa pun antara mereka berdua. Hanya saling diam dan fokus sendiri-sendiri. Azizah melihat ke luar jendela, melihat pemandangan di luar. Ada yang menarik perhatiannya, dua orang wanita berhijab yang tengah duduk disebuah halte bus sedang bersenda gurau. Wanita itu jadi teringat akan sahabatnya yang kini entah ada di mana.


''Aisyah, seandainya ini semua tidak terjadi pasti saat ini kita masih bisa bercanda seperti mereka. Aku sangat merindukanmu, sahabatku. Harusnya, aku tak menerima perjodohan itu jika akhirnya harus menyakiti sahabatku sendiri. Tapi, aku janji sama kamu Syah. Sebentar lagi, kamu akan mendapatkan cintamu kembali. Aku berjanji.''


Azizah terus bermonolog dalam hati menatap ke luar. Walau ada rasa nyeri di hatinya saat mengatakan janji itu. Namun, ia tak boleh egois. Bukankah hanya Aisyah yang Ghibran cinta, lalu untuk apa lagi kehadirannya itu? Perlahan, wanita itu menarik napasnya pelan.


"Zah," panggil Ghibran membuyarkan lamunan wanita itu.


"Iya," jawab Azizah berpura-pura bersikap biasa, padahal tadi dirinya sedikit terkejut.


"Sekarang, tujuan kita mau ke mana dulu untuk mencari Aisyah?" tanya Ghibran fokus menyetir tanpa menoleh pada Azizah.

__ADS_1


"Aku pernah cari ke rumahnya, tapi kata tetangganya, Aisyah beserta keluarga sudah pindah ke luar negeri, " jelas Azizah memberitahu.


Mendengar pernyataan dari Azizah membuat Ghibran sangat terkejut dan tiba-tiba, langsung menghentikan mobilnya mendadak. Sontak, Azizah sangat terkejut dibuatnya.


"Astagfirullahaladziim," ucap pelan Azizah merasa kaget. Pemuda itu terdiam memegang setiran lalu menoleh pada Azizah seketika.


"Apa kamu bilang tadi? Luar negeri?" tanya Ghibran menatap Azizah lekat, Azizah mengangguk pelan.


"Iya, tapi aku yakin Aisyah masih ada di negara ini. Aku sangat yakin, Aisyah tidak pergi ke luar negeri."


"Kenapa kamu begitu yakin?"


"Karena, aku sangat mengenalnya dan aku tahu betul kalau Aisyah tidak pernah mau ke luar negeri menyusul abinya. Apalagi, beberapa minggu yang lalu sebelum kamu mengalami kecelakaan, aku seperti melihat Aisyah disebuah pom bensin saat aku habis dari toilet," ungkap Azizah panjang lebar meyakinkan Ghibran. Wanita itu tahu betul jika pemuda itu sangat terlihat kecewa bahkan terpukul mendengar Aisyah sudah tak ada di Indonesia lagi.


"Jadi, maksud kamu Aisyah tidak benar-benar pergi ke luar negeri?" tanya Ghibran menatap lamat pada Azizah. "Benarkah?" sambung Ghibran menyentuh tangan Azizah.


Wanita itu tertegun mendapat perlakuan seperti itu, Azizah hanya diam terus melihat ke arah tangannya yang digenggam oleh Ghibran.


''Ya Allah, apa ini? Tenang Azizah tenang, Ghibran tidak mencintaimu. Dia hanya sedang merasa bahagia jangan baper Nurazizah Asyifatunnazwa.''


"Apa benar seperti itu Azizah?" sekali lagi, Ghibran bertanya memastikan. Azizah hanya mengangguk dan langsung menarik tangannya dari genggaman Ghibran begitu juga dengan pemuda itu.


"Maaf, saya terlalu bahagia," ungkap Ghibran sedikit merasa tak enak dan malu. Azizah hanya tersenyum simpul. "Jadi, sekarang kita mau ke mana?" sambung Ghibran bertanya.


"Kita coba lagi ke rumah Aisyah, mungkin saja Aisya ada di sana."


"Baiklah," ucap Ghibran tersenyum antusias lalu menyalakan mesin mobil.


Dengan menempuh waktu 15 menit mereka berdua pun sampai disebuah rumah megah nan indah berlantai dua dan sebuah air mancur di depan rumah itu. Pagar yang menjulang tinggi dengan ujungnya seperti anak panah.


"Benar itu rumahnya?" tanya Ghibran.


"Iya, itu rumah Aisyah."


"Kita berdo'a saja sama Allah, ayok," ajak Azizah langsung membuka pintu mobil.


Namun, wanita itu lupa belum melepaskan seatbelt pada tubuhnya hingga Azizah sedikit kesusahan dan kembali menoleh ke belakang untuk membuka seatbelt itu. Tetapi, ternyata sudah ada tangan Ghibran di sana membantu melepaskan seatbelt ditubuhnya. Azizah hanya memandangi Ghibran yang tengah melepaskan seatbelt itu. Setelah terlepas, buru-buru wanita itu mengalihkan pandangan melihat ke arah depan.


"Terima kasih," ucap Azizah menoleh pada Ghibran, pemuda itu hanya tersenyum.


"Ayok," ajak Ghibran.


"Iya."


Azizah dan Ghibran pun keluar dari dalam mobil dan melangkah menuju arah rumah itu. Azizah menekan sebuah bel tapi tak ada tanda-tanda seperti ada orang yang akan membukakan pagar. Berkali-kali, wanita itu menekan bel tetap saja tidak ada satu orang pun yang keluar dari rumah itu. Sementara itu, seorang wanita tengah memperhatikan Ghibran dan Azizah dilantai atas di dalam kamar.


"Azizah, Ghibran, kenapa mereka ke sini? Ada apa? Apa mereka tahu, kalau aku ada di sini? Tidak, tidak. Mereka tidak boleh tahu aku ada di rumah ini. Maafkan aku Zah, Ghibran, aku tidak bisa menemui kalian sekarang." Wanita itu langsung menutup gorden dijendela kamarnya.


Azizah dan Ghibran masih menunggu di bawah berharap akan ada orang yang membukakan pagar. Ghibran terlihat pasrah dan lemas.


"Sudahlah, Azizah. Mungkin, Aisyah memang tidak ada di rumah ini," ujar Ghibran sudah pasrah.


"Tidak Ghibran, aku yakin Aisyah pasti ada di dalam. Dia sengaja menghindar dari kita, aku yakin Aisyah pasti ada di rumah ini."


"Tidak Azizah, ayok kita pergi." Ghibran melangkah pergi menuju mobilnya.


"Apa hanya segitu rasa cintamu pada Aisyah?" Ucapan Azizah membuat pemuda itu menghentikan langkahnya lalu langsung menoleh pada Azizah.


"Maksud kamu?" tanya Ghibran menatap tajam pada Azizah.


"Iya, apa hanya segitu kesabaranmu? Apa kamu tidak ingin menunggu lebih lama lagi? Bukankah, kamu mencintai Aisyah? Tunggulah dulu, sebentar lagi," pinta Azizah.

__ADS_1


"Menunggu apa, siapa yang saya tunggu? Aisyah tidak ada di rumah itu. Ayok, lebih baik kita pergi." Ghibran berbalik dan melangkah menuju mobil langsung masuk ke dalam mobil.


Azizah masih berdiri dekat pagar rumah. Wanita itu sangat yakin, jika Aisyah ada di dalam rumah. Akhirnya, Azizah pun ikut masuk juga ke dalam mobil menyusul Ghibran. Pemuda itu hanya diam membisu, tak mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya. Azizah memandang iba pada Ghibran, terlihat diwajahnya rasa kekecewaan. Ketika hendak meninggalkan tempat itu, Azizah melihat ke arah luar dan seperti melihat seseorang di dalam rumah itu.


''Aisyah, apa itu Aisyah? Iya, benar itu memang Aisyah. Aku yakin, itu Aisyah.''


"Ghibran, lihatlah itu Aisyah." Azizah menggoyangkan tubuh Ghibran yang tengah menyetir. Seketika, Ghibran menghentikan mobil dan langsung menoleh pada Azizah.


"Mana? Mana Aisyah?" tanya Ghibran sangat antusias dengan wajah yang berbinar.


"Di sana, di dalam rumah itu." Azizah menunjuk ke arah dalam rumah itu.


"Mana, di mana Aisyah? Saya tidak melihat siapa-siapa di sana." Ghibran nampak kecewa karena tak melihat Aisyah.


"Ta—tapi, aku benar tadi lihat Aisyah di sana, kok. Sungguh, aku gak bohong," tutur Azizah yang terkejut sudah tak melihat siapa pun lagi di rumah itu, padahal jelas-jelas wanita itu melihat ada orang di dalam sana.


"Sudahlah Azizah, jangan buat saya terus berharap. Aisyah sudah pergi dan tidak akan kembali lagi." Ghibran kembali menyalakan mesin mobil.


"Tapi Ghi ...."


"Cukup Azizah!" bentak Ghibran memotong ucapan Azizah. Azizah nampak terkejut dan langsung diam. "Sudah Azizah, sudah. Cukup! Jangan berbicara lagi," sambung pemuda itu menatap lamat pada Azizah. Matanya terlihat berkaca-kaca mungkin karena menahan rasa kecewa, lalu kembali menyetir.


Azizah hanya bisa terdiam mendengar perkataan Ghibran tadi. Wanita itu menoleh pada Ghibran yang tengah fokus menyetir. Azizah tahu betul, jika pemuda itu pasti saat ini tengah kecewa. Azizah menatap begitu lamat pada Ghibran.


''Aku tahu, kamu pasti sangat kecewa saat ini Ghibran hingga kamu semarah itu. Maafkan aku Ghibran, karena belum bisa mempertemukan dia denganmu. Tapi, aku janji sebentar lagi aku akan menemukan Aisyah untukmu.''


Wanita itu hanya bermonolog sendiri di dalam hati seraya memandangi Ghibran yang tengah fokus menyetir dan terus melihat ke arah depan, tak sedikit pun menoleh padanya. Sakit, sangat sakit. Begitulah yang ia rasakan saat ini hingga air mata tak terasa jatuh membasahi pipi. Buru-buru, wanita itu menghapus air matanya lalu melihat ke arah luar.


Sepanjang jalan, mereka terus saling diam tak ada yang memulai obrolan. Baik Azizah atau pun Ghibran hingga tiba-tiba, mobil yang ditumpangi mereka harus berhenti karena lampu merah telah menyala. Azizah yang tengah asyik melihat ke luar sedikit terkejut. Wanita itu kembali melihat pada Ghibran. Namun, pemuda itu masih saja diam.


''Ghibran hanya diam saja dari tadi. Begitu marahnya kah, dia padaku? Aisyah, kenapa kamu melakukan ini semua? Kenapa kamu seolah menghindar dariku, sahabatmu sendiri. Sebesar itukah rasa bencimu padaku? Aku tahu, aku memang salah. Aku sudah mengambil kebahagiaanmu darimu, maafkan aku, Aisyah. Tapi, aku janji aku pasti akan mengembalikannya padamu, Syah. Aku janji.''


Azizah berbicara dalam hatinya seraya memandangi Ghibran yang sedikit pun tak menoleh padanya hingga tersadar karena mobil sudah kembali berjalan. Lagi, bulir hangat mengalir begitu saja dari matanya. Wanitu itu mengalihkan pandangan ke arah luar lagi. Sekilas, Ghibran menoleh pada Azizah tanpa wanita itu tahu.


''Kenapa, aku merasa sedih melihat Azizah bersedih? Seolah aku juga merasakan apa yang tengah dia rasakan, kenapa? Aku memang kecewa karena tak bisa menemukan Aisyah. Tapi, mengapa aku juga sedih melihat Azizah menangis. Apa ucapanku tadi sudah melukainya?''


Pemuda itu terus begumam di hatinya, masih sambil menyetir. Azizah masih melihat ke luar jendela mobil. Akhirnya mereka pun sampai di rumah. Tak ada yang berkata, keduanya saling diam terus. Ketika Azizah hendak membuka pintu mobil, seketika Ghibran langsung menyentuh lengan wanita itu. Azizah langsung menoleh pada Ghibran. Mereka saling pandang beberapa saat.


"Biar saya saja," ucap Ghibran lalu ke luar dari mobil.


Azizah Hanya diam membisu. Ghibran membukakan pintu mobil untuk Azizah, wanita itu pun segera ke luar dari dalam mobil.


Ghibran lebih dulu pergi masuk ke dalam rumah tanpa mengatakan apa pun lagi pada Azizah. Wanita itu diam berdiri memandang kepergian Ghibran.


"Zah, kalian habis darimana toh. Kok, baru pulang?" tanya Aminah yang baru saja keluar dari arah dalam, Azizah langsung tersadar dari lamunannya.


"Kita habis silaturahmi sama teman-teman pas masih kuliah, Mi. Karena asyik ngobrol malah jadi lupa waktu dan tadi jalanannya macet banget, Mi." Wanita itu tersenyum. Terpaksa harus berbohong pada ibu mertuanya, tidak mungkin jika mengatakan yang sebenarnya pada sang ibu mertua.


"Oh, begitu. Tapi, itu suamimu kenapa? Kok, kelihatannya lagi kesal." Aminah kembali bertanya karena melihat sikap Ghibran yang aneh tadi.


"Oh, mungkin gara-gara macet tadi Mi. Yasudah, Azizah masuk dulu ya." Aminah hanya mengangguk dan Azizah pun pergi meninggalkan Aminah. Ada rasa penasaran dipikiran wanita berumur 40 tahunan itu melihat sikap aneh sang anak yang tak biasanya bersikap seperti tadi.


END


***Selesai!


Assalamualaikum ... sebelumnya saya mohon maaf karena kekasih halal versi noveltoon hanya sampai sini saja yah. Terima kasih sudah berkenan baca cerita kehaluan ini. 😁 Do'akan kekasih halal masih dalam proses penerbitan. Hayuk nabung dari sekarang, biar bisa peluk novelnya nanti. 😍


Sambil menunggu masa open PO nanti bakalan ada extra partnya kekasih halal.


Nantikan yah, jangan sampai ketinggalan!

__ADS_1


Thank's semuanya. 😍 love you 😘***


__ADS_2